NovelToon NovelToon
SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: DARAH DI DERMAGA TUA

​Malam semakin larut, namun suasana di ruang kendali siber klan Dirgantara justru semakin memanas. Cahaya biru dari puluhan layar monitor memantul di wajah Alana yang tampak tegang namun fokus. Di telinganya, sebuah headset taktis menangkap setiap suara napas, langkah kaki, dan desingan peluru dari tim elit yang dipimpin langsung oleh Arkano di Dermaga Tua.

​"Tim A, kalian masuk melalui sektor buta di sisi buritan kapal. Jangan gunakan lampu senter, gunakan sensor termal," instruksi Alana dengan suara yang tenang namun otoriter.

​Di layar utama, ia bisa melihat titik-titik hijau yang merepresentasikan anak buah Arkano bergerak merayap di atas kapal kargo bernama The Serpent. Di tengah-tengah titik itu, ada satu titik berwarna emas—itu adalah Arkano.

​"Diterima, Nyonya. Kami sudah berada di dek utama," suara Marco terdengar di sela-sela suara angin laut yang kencang.

​Alana jari-jarinya menari di atas keyboard, meretas sistem CCTV kapal kargo tersebut dalam hitungan detik. "Visual didapatkan. Ada dua penjaga di balik pintu kargo nomor tiga. Mereka membawa senjata otomatis kaliber berat. Arkano, jangan lewat jalur tengah. Itu jebakan."

​"Terima kasih, Sayang. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu," suara Arkano terdengar melalui saluran pribadi. Suaranya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun, malah terdengar seperti seseorang yang sedang menikmati permainan.

​Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba, layar monitor Alana berkedip merah. Sebuah peringatan sistem muncul: Signal Jammer Detected.

​"Sial! Mereka punya pengacak sinyal frekuensi militer!" Alana mengumpat pelan. Layar CCTV mulai dipenuhi bintik-bintik statis. Titik-titik hijau di radar mulai menghilang satu per satu. "Arkano! Bisa dengar aku? Arkano!"

​Hanya ada suara statis di telinganya. Alana merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia tahu apa yang terjadi jika komunikasi terputus di tengah wilayah musuh. Klan Black Cobra bukan hanya sekadar mafia jalanan; mereka memiliki peralatan yang setara dengan tentara bayaran internasional.

​"Kalian pikir bisa memutusku?" desis Alana.

​Ia tidak menyerah. Alana segera membuka protokol darurat yang pernah ia pelajari saat masih di intelijen pusat. Ia mencoba melakukan bypass melalui satelit cuaca yang sedang melintas di atas koordinat dermaga. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Di ruangan yang luas itu, Alana merasa sangat sendirian, namun tanggung jawab atas nyawa Arkano ada di pundaknya.

​Setelah tiga menit yang terasa seperti selamanya, sinyal kembali tersambung, meski tidak sempurna. Visual kembali muncul, namun apa yang dilihat Alana membuatnya terkesiap.

​Arkano terjepit.

​Di dek atas kapal, Arkano berdiri di tengah kepungan belasan anak buah Victor, pemimpin Black Cobra. Marco tampak terluka di lengannya dan mencoba memberikan perlindungan, namun mereka kalah jumlah. Victor, seorang pria dengan tato ular di sepanjang lehernya, berjalan keluar dari kegelapan sambil memegang sebuah detonator.

​"Jadi ini Elang dari klan Dirgantara?" suara Victor terdengar parau melalui mikrofon yang masih aktif di dekat Arkano. "Kau datang ke sini demi gudang yang kosong? Kau sangat bodoh, Arkano. Kapal ini sudah dipasangi bahan peledak. Begitu aku menekan tombol ini, kau dan istrimu yang cantik itu akan kehilangan satu sama lain selamanya."

​Alana menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia harus melakukan sesuatu. Matanya dengan cepat memindai skema kelistrikan kapal yang baru saja ia unduh.

​"Sistem bahan bakar... bukan. Sistem navigasi... bukan itu," gumam Alana cepat. Matanya kemudian tertuju pada sistem pemadam kebakaran otomatis yang terhubung dengan tangki gas CO2 cair di ruang mesin. "Itu dia!"

​Alana mematikan seluruh lampu di kapal tersebut secara paksa melalui sistem pusat. Kapal seketika menjadi gelap gulita.

​"Arkano! Gunakan kacamata night vision sekarang! Aku akan meledakkan katup gas CO2 di ruang mesin dalam tiga detik! Lari ke arah buritan!" teriak Alana melalui saluran darurat yang ia buat.

​Satu... dua... tiga!

​BOOM!

​Ledakan itu bukan ledakan api, melainkan ledakan tekanan gas dingin yang menciptakan kabut putih tebal di seluruh dek kapal. Dalam kegelapan dan kabut yang menyesakkan, anak buah Black Cobra mulai panik. Mereka menembak ke segala arah dengan buta.

​Melalui kamera inframerah yang masih berfungsi, Alana melihat titik emas—Arkano—bergerak dengan kecepatan luar biasa. Arkano memanfaatkan kekacauan itu untuk melumpuhkan musuh-musuhnya satu per satu dengan tangan kosong dan pisau taktisnya.

​"Satu di belakangmu, Arkano! Jam lima!" teriak Alana.

​Arkano berputar secepat kilat dan menghantamkan sikunya ke wajah lawan. Ia tampak seperti iblis yang menari di tengah kabut putih. Victor mencoba melarikan diri menuju sekoci, namun Arkano lebih cepat. Sebuah peluru tepat mengenai kaki Victor, membuatnya tersungkur di atas dek yang licin.

​Sepuluh menit kemudian, suara tembakan mulai mereda. Kabut CO2 mulai menghilang tertiup angin laut. Arkano berdiri di atas tubuh Victor yang sudah tidak berdaya, mengarahkan pistol tepat ke kepala pemimpin Black Cobra itu.

​"Alana, kau masih di sana?" tanya Arkano. Napasnya terdengar memburu, namun ada nada bangga dalam suaranya.

​"Aku di sini, Arkano. Aku tidak ke mana-mana," jawab Alana, suaranya bergetar karena lega. Ia menyandarkan punggungnya di kursi, merasakan seluruh energinya terkuras habis.

​"Kau menyelamatkan nyawaku lagi," Arkano terkekeh rendah. "Sepertinya aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu sekarang."

​"Selesaikan urusanmu di sana, Arkano. Aku akan menyiapkan tim medis untuk Marco," ucap Alana.

​Satu jam kemudian, rombongan Arkano kembali ke mansion. Arkano berjalan masuk dengan kemeja yang robek dan bercak darah di wajahnya, namun matanya berkilat penuh kemenangan. Ia melihat Alana berdiri di lobi, menunggunya dengan wajah cemas.

​Tanpa mempedulikan Marco atau pengawal lainnya, Arkano langsung menerjang Alana dan memeluknya dengan sangat erat. Ia membenamkan wajahnya di leher Alana, menghirup aroma wanita itu yang menenangkan sarafnya yang tegang.

​"Kau luar biasa malam ini, Nyonya Dirgantara," bisik Arkano.

​Alana membalas pelukan itu, melingkarkan tangannya di leher Arkano. "Jangan pernah lakukan itu lagi. Jangan pernah membuatku kehilangan sinyalmu."

​Arkano melepaskan pelukannya sedikit, lalu menangkup wajah Alana dengan tangannya yang kasar. "Victor sudah kita amankan. Black Cobra sudah hancur malam ini. Dan semua itu berkat kau. Kau bukan lagi hanya perisai informasiku, Alana. Kau adalah otak dari kekuasaanku."

​Arkano kemudian menarik Alana menuju ruang kerjanya. Di sana, ia mengambil sebuah kotak beludru kecil dari brankas rahasia. Ia membukanya, menampakkan sebuah cincin dengan berlian hitam yang sangat langka.

​"Berlian ini disebut The Night Star," ujar Arkano. Ia meraih tangan kanan Alana dan menyematkan cincin itu di jari manisnya. "Cincin pernikahan kita yang dulu adalah paksaan. Tapi yang ini... ini adalah simbol bahwa kau adalah penguasa klan Dirgantara bersamaku. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi keraguan."

​Alana menatap cincin itu, lalu menatap Arkano. Ia menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada pria yang seharusnya ia tangkap. Pengkhianatan Hendra telah mendorongnya ke pelukan Arkano, namun kekuatan dan perlindungan Arkano-lah yang membuatnya memilih untuk tinggal.

​"Apa kita benar-benar akan menjadi penguasa kota ini?" tanya Alana lirih.

​Arkano tersenyum miring, sebuah senyuman penuh ambisi. "Bukan hanya kota ini, Alana. Kita akan membangun kerajaan yang tidak akan berani disentuh oleh siapa pun. Polisi, mafia, atau pemerintah... mereka semua akan berlutut di depan kita."

​Alana mendekatkan wajahnya, mencium bibir Arkano dengan gairah yang meledak-ledak. Malam itu, di tengah keheningan mansion, mereka merayakan kemenangan mereka. Bukan sebagai musuh yang saling mengintai, tapi sebagai sepasang predator yang telah menemukan pasangannya.

​Namun, di tengah kemesraan itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Alana yang tergeletak di meja. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal yang hanya berisi satu kalimat:

​“Hendra bukan satu-satunya ular di kepolisian, Alana. Hati-hati dengan pria di sampingmu.”

​Alana melihat pesan itu sekilas sebelum Arkano menariknya kembali ke dalam ciuman yang lebih dalam. Alana memutuskan untuk mengabaikannya untuk saat ini, namun benih keraguan baru telah tertanam di sudut hatinya. Apakah Arkano benar-benar jujur padanya, ataukah ini semua hanyalah bagian dari rencana yang lebih besar?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!