Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Kelahiran Sang Bayang Berbisa
Berita tentang musnahnya Sekte Pedang Langit menyebar seperti wabah ke seluruh penjuru dunia persilatan.
Dalam satu malam, salah satu sekte besar yang dikenal dengan teknik pedang ortodoksnya rata dengan tanah.
Tidak ada api yang membumbung tinggi, tidak ada bekas pertempuran hebat yang menghancurkan gunung; yang ditemukan para penyelidik hanyalah ribuan mayat yang menghitam, membusuk dengan ekspresi ketakutan yang abadi, seolah-olah maut menjemput mereka dari dalam tubuh mereka sendiri.
Dunia persilatan gempar. Para ketua sekte besar berkumpul di Aula Aliansi Putih dengan wajah pucat.
"Tidak ada luka pedang, tidak ada bekas pukulan tenaga dalam," lapor seorang penyelidik senior dengan tangan gemetar. "Hanya ada sisa-sisa aroma bunga bangkai yang samar dan cairan hitam yang meluluhkan baja. Ini bukan perbuatan manusia... ini adalah kutukan."
Karena tidak ada yang tahu siapa pelakunya, dan hanya bayangan samar berjubah abu-abu yang sempat terlihat oleh beberapa pelayan yang selamat, dunia persilatan mulai memberi nama pada teror baru ini. Mereka menyebutnya: "Sang Arsitek Maut" atau "Iblis Tinta Ungu".
Sementara itu, di sebuah kedai kecil di perbatasan wilayah tengah, Xiao Chen duduk dengan tenang di sudut yang remang-remang. Ia sedang menyesap teh pahitnya, mendengarkan orang-orang di sekitar yang membicarakan "kengerian" di Gunung Jian dengan suara berbisik.
Xiao Chen kini terlihat lebih dewasa dari umurnya. Ia mengenakan pakaian kain kasar yang menutupi aura Qi-nya dengan sempurna, membuatnya tampak seperti pedagang gagal yang miskin.
Namun, di bawah meja, jarinya perlahan membelai sampul Kitab Racun miliknya yang kini terasa lebih hangat setelah menyerap esensi kehidupan dari seorang ahli Ranah Inti Bumi.
Satu nama telah dicoret, ribuan lainnya mengantre, batinnya dingin.
Tiba-tiba, tiga orang pria dengan seragam Sekte Harimau Besi masuk ke kedai dengan kasar. Mereka adalah faksi bawah yang terkenal sering menindas rakyat kecil.
"Hei, Pelayan! Berikan arak terbaikmu! Dan kau, pedagang miskin, minggir! Tempat ini milik kami!" teriak salah satu dari mereka sambil menggebrak meja Xiao Chen.
Xiao Chen bahkan tidak mengangkat kepalanya. "Meja ini cukup luas untuk kita semua. Duduklah jika ingin, tapi jangan mengganggu ketenanganku."
"Cih! Berani sekali kau bicara begitu pada murid Sekte Harimau Besi?" Pria itu meraih kerah baju Xiao Chen.
Namun, sebelum tangannya menyentuh kain baju Xiao Chen, pria itu tiba-tiba mematung. Wajahnya yang garang berubah menjadi pucat pasi. Ia merasakan dingin yang luar biasa menjalar dari ujung jarinya menuju jantung.
Xiao Chen hanya menatap cangkir tehnya. Tanpa ada yang menyadari, ia telah melepaskan "Racun Embun Kematian" melalui uap tehnya yang ia arahkan dengan sedikit kendali energi Qi.
"Lepaskan tanganmu, atau tanganmu tidak akan pernah bisa menggenggam pedang lagi," ucap Xiao Chen pelan.
Pria itu melepaskan cengkeramannya dengan gemetar. Ia melihat tangannya sendiri mulai berbintik hitam, dan rasa gatal yang tak tertahankan mulai menyebar. "K-kau... apa yang kau lakukan padaku?!"
Dua temannya yang lain hendak menghunus golok mereka, namun Xiao Chen hanya menjentikkan jarinya ke udara.
Sebuah getaran ungu halus menyebar di ruangan itu. Seketika, ketiga pria itu jatuh berlutut, memegangi tenggorokan mereka yang terasa tersumbat oleh duri-duri imajiner.
"Aku sedang tidak ingin membantai hari ini," kata Xiao Chen sambil meletakkan beberapa keping koin di atas meja. "Kembalilah ke sekte kalian. Beritahu ketua kalian, Lin Feng... bahwa hutang darah sepuluh tahun lalu di Desa Bambu Hijau akan segera ditagih."
Xiao Chen berdiri dan berjalan keluar kedai. Ketiga pria itu masih terengah-engah di lantai, tidak menyadari bahwa di punggung mereka kini terdapat tanda ungu kecil berbentuk tengkorak—sebuah penanda maut yang akan aktif dalam tiga hari ke depan.
Di luar, hujan mulai turun membasahi bumi. Xiao Chen menatap ke langit, membiarkan tetesan air mengenai wajahnya yang pucat.
"Julukan..." gumamnya sinis. "Mereka bisa memanggilku apa pun. Iblis, monster, atau arsitek maut. Bagiku, aku hanyalah seorang putra yang sedang menyelesaikan tugas terakhir dari orang tuanya."
Langkahnya membawanya menuju wilayah utara, tempat di mana sekte-sekte yang lebih kuat berada. Ia tahu, setelah Sekte Pedang Langit runtuh, faksi-faksi besar akan mulai waspada.
Ia membutuhkan racun yang lebih kuat, bahan-bahan yang lebih langka, dan mungkin... ia harus mencapai Ranah Langit agar bisa menghadapi para Leluhur Sekte yang sesungguhnya.
Dunia persilatan mungkin belum mengenal nama Xiao Chen, tapi mereka sudah mulai gemetar mendengar langkah kakinya yang tak bersuara.
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.