Yura bukanlah wanita lemah. Di dunia asalnya, dia adalah agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan setajam elang yang mampu mengendus pengkhianatan dari jarak terjauh. Namun, sebuah insiden melempar jiwanya ke raga Calista, seorang ibu susu rendahan di Kerajaan Florist.
Grand Duke Jayden, sang pelindung kerajaan, yang membenci wanita. Trauma menyaksikan ayah dan kakaknya dikhianati hingga tewas oleh wanita yang mereka percayai, membuat hati Jayden membeku. Baginya, Calista hanyalah "alat" yang bisa dibuang kapan saja, namun dia terpaksa menjaganya demi kelangsungan takhta keponakannya.
______________________________________________
"Kau hanyalah ibu susu bagi keponakanku! Jangan berani kau menyakitinya, atau nyawamu akan berakhir di tanganku!" ancam Jayden dengan tatapan sedingin es.
"Bodoh. Kau sibuk mengancam ku karena takut aku menyakiti bayi ini, tapi kau membiarkan pengkhianat yang sebenarnya berkeliaran bebas di depan matamu," jawab Calista dengan jiwa Yura, menyeringai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENANGKAPAN TIKUS GOT
Sore harinya, di aula utama Istana Florist tampak sangat megah, meja panjang dipenuhi dengan hidangan mewah dan lilin-lilin kristal yang menyala terang.
Para bangsawan dan menteri datang dengan wajah gelisah, saling berbisik tentang nasib Mantan Ibu Suri yang tiba-tiba menghilang.
Count Miller dan Baron Harry duduk berdampingan, wajah mereka sama-sama pucat pasi.
"Apa kau dengar kabar itu? Ksatria Suci tidak kembali semalam," bisik Baron Harry dengan suara bergetar.
"Diam lah! Kita hanya perlu bersikap tenang, Grand Duke Jayden tidak punya bukti kuat untuk menyeret kita," jawab Count Miller, meski tangannya gemetar saat memegang gelas anggur.
Di tengah-tengah ketegangan yang sedang menyelimuti hati para pengikut Isabella, tiba-tiba, pintu aula terbuka lebar.
Jayden masuk dengan langkah gagah, namun yang menarik perhatian semua orang adalah wanita yang berjalan di sampingnya.
Calista tidak lagi memakai pakaian pelayan yang lusuh, saat ini dia mengenakan gaun hitam pekat yang elegan dengan aksen perak, rambutnya disanggul rapi, membuatnya terlihat seperti ratu kegelapan yang siap menghakimi.
Jayden duduk di kursi utama, sementara Calista berdiri di sampingnya, menatap kerumunan itu seperti singa yang menatap sekumpulan kelinci.
"Terima kasih sudah datang, Tuan-Tuan," ucap Jayden, suaranya menggema, dingin dan berwibawa.
"Kita di sini untuk merayakan keselamatan keponakanku, Pangeran Mahkota Lorenzo Florist," lanjut Jayden, tegas.
Semua menteri bersorak canggung.
"Panjang umur Pangeran!"
"Namun, ada sedikit sampah yang mengotori perayaan ini, beberapa orang di ruangan ini tampaknya sangat kecewa melihat Pangeran Lorenzo masih hidup," ucap Calista, suaranya yang jernih memutus sorak-sorai itu.
Mendengar ucapan Calista, membuat aula mendadak sunyi senyap, bahkan Baron Harry hampir menjatuhkan gelasnya.
"Nona Calista, apa maksud ucapan Anda?" tanya seorang menteri netral dengan bingung.
Calista tersenyum manis, namun matanya menatap tajam ke arah Count Miller.
"Maksudku adalah, sangat sulit untuk merayakan sesuatu jika orang yang memerintahkan pembakaran paviliun masih duduk di antara kita dan meminum anggur terbaik kerajaan," jawab Calista, tanpa rasa takut.
"Ini penghinaan! Kau hanya seorang pelayan desa!" teriak Count Miller sambil berdiri, mencoba menggertak.
"Pelayan desa yang tahu tentang emas kapulaga milikmu, Count?" jawab Calista tenang.
"Masuk!"
Perintah Calista, entah pada siapa.
Tidak lama setelah itu, tiba-tiba pintu samping terbuka, Owen masuk menyeret ayah Calista yang sudah dalam keadaan terikat.
Pria tua itu langsung bersujud dan menunjuk ke arah Count Miller.
"DIA!"
"Dia yang memberikan emas itu padaku di gudang belakang! Dia bilang Ibu Suri ingin putriku mati bersama Pangeran!" teriak si pria tua dengan histeris.
Kericuhan pecah seketika, Count Miller mencoba lari, namun langkahnya terhenti saat dia merasakan sesuatu yang dingin menempel di lehernya.
Calista sudah berada di belakangnya dengan kecepatan yang tak terlihat oleh mata biasa, memegang belati emasnya tepat di nadi sang Count.
"Mau pergi ke mana, Tikus kecil? Perjamuan baru saja dimulai," bisik Calista di telinga Count Miller.
"Pasukan Bayangan! Amankan aula! Tidak ada satu pun pengkhianat yang boleh keluar hidup-hidup dari ruangan ini!" perintah Jayden berdiri, menghunuskan pedangnya ke arah Baron Harry yang juga mencoba kabur.
Dalam sekejap, para prajurit yang tadinya menyamar sebagai pelayan langsung mengeluarkan senjata mereka, membuat semua para menteri pengkhianat terkepung.
"Eksekusi langsung di sini, Jayden?" tanya Calista dengan nada bertanya yang santai, seolah sedang menanyakan menu penutup.
"Tidak! Seret mereka ke alun-alun kota besok pagi! Biarkan rakyat melihat siapa yang mencoba membunuh Raja masa depan mereka," jawab Jayden tegas.
Calista melepaskan Count Miller yang sudah, gemeteran dan hampir pingsan.
Bruk
Baron Harry jatuh pingsan, mungkin karena shock dengan kejadian ini.
"Pembersihan yang bagus, Jayden, sepertinya sekarang tahta Lorenzo sudah sedikit lebih bersih dari bau busuk," ucap Calista sambil tersenyum puas.
Jayden menatap Calista, lalu beralih ke para menteri yang tersisa yang kini menunduk ketakutan.
"Dan bagi kalian yang masih ragu ingatlah hari ini, Florist tidak lagi dipimpin oleh bayang-bayang seorang wanita tua, tapi oleh pedangku dan kecerdasan wanita ini," ucap Jayden, lantang.
Setelah perintah Jayden menggema, para prajurit bayangan bergerak cepat.
Mereka menyeret Count Miller, Baron Harry yang pingsan, dan beberapa pejabat lainnya keluar dari aula seperti menyeret karung beras.
Suasana yang tadinya penuh ketegangan perlahan berubah menjadi sunyi yang mencekam.
Para menteri yang tersisa masih terpaku di kursi mereka, tidak berani menyentuh makanan, apalagi bersuara.
Calista mengibaskan tangannya, membersihkan debu dari gaun hitamnya, lalu dia berjalan santai kembali ke sisi Jayden, lalu tanpa canggung, Calista mengambil sebuah apel merah dari piring buah di depan kursi Grand Duke dan menggigitnya dengan santai.
"Kenapa kalian semua tegang begitu?" tanya Calista sambil mengunyah.
"Ayo makan! Makanannya mahal, sayang kalau dibuang," lanjut Calista, seolah-olah, tidak pernah terjadi apa-apa.
Jayden melirik Calista yang sedang asyik makan apel di sampingnya, dia hanya bisa menggelengkan kepala melihat betapa santainya wanita ini setelah hampir saja menggorok leher seorang Count.
"Kalian boleh melanjutkan makan malam ini," ucap Jayden kepada menteri yang tersisa.
"Tapi ingat, siapa pun yang berani berbisik di belakangku atau mencoba menghubungi sisa-sisa pendukung Isabella, nasibnya akan lebih buruk dari Baron Harry," lanjut Jayden dingin, dan penuh intimidasi.
Mendengar itu, para menteri serentak mengangguk kaku dan mulai makan dengan gerakan mekanis.
"Kau benar-benar membuat selera makan mereka hilang, Jay," bisik Calista sambil menelan apelnya.
"Bukannya kau yang mulai dengan menodongkan pisau ke leher Count Miller?" jawab Jayden dengan bisikan yang sama.
"Itu namanya hidangan pembuka yang menggugah nyali," jawab Calista hanya menyeringai.
Perjamuan itu berakhir lebih cepat dari biasanya, tidak ada yang berani minta nambah.
Setelah aula kosong dan hanya menyisakan mereka berdua serta Owen, Jayden menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya ke kursi tinggi itu.
"Apa kau puas sekarang?" tanya Jayden.
"Belum," jawab Calista sambil memutar-mutar sisa apel di tangannya.
"Besok adalah eksekusi publik, itu adalah bagian terpenting. Rakyat harus tahu bahwa Pangeran mereka tidak bisa disentuh, dan setelah itu baru aku akan benar-benar puas," lanjut Calista, tersenyum miring.
Jayden berdiri dan berjalan menuju jendela besar aula yang menghadap ke arah kota Florist yang mulai gelap.
Terkadang aku merasa kau lebih cocok jadi penguasa daripada aku, Calista, strategimu, dan cara kamu menekan mental lawan, itu bukan sesuatu yang dipelajari di desa," ucap Jayden, menatap lurus ke depan.
Calista ikut berdiri dan berjalan ke samping Jayden, menatap pemandangan ibu kota di bawah sana.
Mengenai respon dan tanggapan lawan bicaramu itu adalah hal yang tidak dapat kamu kontrol.
Dengan kunci utama adalah jujur, percaya diri, memilih waktu dan tempat tepat, serta menggunakan cara yang halus tapi jelas.
Cara mengungkapkan perasaan setiap orang berbeda-beda, ada yang mengungkapkan secara langsung, ada juga yang mengungkapkan melalui surat atau chat agar tidak bertatap muka langsung.
Memang menyatakan perasaan termasuk hal yang berat dilakukan, karena kita tidak pernah tau apa respon atau tanggapan dari orang yang kita tuju...😘💚🥰💜😍💗
Peringatan keras adalah teguran serius dan tegas yang diberikan kepada seseorang atau pihak yang melakukan pelanggaran, menunjukkan kesalahan fatal dan menjadi sanksi etika atau disiplin yang berat sebelum sanksi lebih fatal untuk efek jera.
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam sanksi peringatan, mengindikasikan bahwa tindakan selanjutnya bisa lebih berat, seperti hukuman mati.