kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VION REYNALD TEWAS
Ibu Lestari tersenyum tipis melihat binar di mata putra sulungnya itu.
"Nah, itu Ibu buatkan ayam goreng lengkuas. Makan yang banyak, mumpung masih hangat," ucap beliau sambil menyodorkan piring saji ke depan vion.
Tanpa basa-basi atau ucapan terima kasih, vion langsung menyendok nasi ke piringnya. Detik berikutnya, ia makan dengan sangat lahap, seolah perutnya benar-benar sudah meronta selama seminggu ini.
Usai menghabiskan suapan terakhir, vion menyeka bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap tajam ke arah Pak ahmad.
Sang ayah baru saja meraih gelas kopinya, meniup perlahan uap panas yang masih mengepul tebal, sebelum menyesapnya dengan tenang.
Di sampingnya, kedua adiknya—rina dan reno—masih sibuk mengunyah makanan di piring mereka masing-masing dalam diam.
"Pak, kemarin itu habis pencairan dana proyek, kan?" tanya vion, suaranya terdengar menuntut.
Pak ahmad sedikit melirik ke arah vion, menaruh kembali gelas kopinya ke meja sebelum menjawab dengan suara berat.
"Iya, memang baru cair kemarin pagi. Tapi uangnya sudah Ibu pakai untuk melunasi bon kamu di pangkalan ojek dan bayar cicilan hape yang nunggak dua bulan."
Vion berdesis kasar, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan raut wajah yang langsung berubah mendung.
"Ah, masa nggak ada sisanya? Jadi, tetap beliin aku motor kan, Pak?".
Pak ahmad menghela napas panjang, mencoba memanggil sisa-sisa kesabaran yang hampir habis untuk menghadapi vion.
Beliau menatap anaknya dengan tatapan teduh namun lelah.
"Vion, kendaraan yang kamu minta itu harganya belasan, bahkan puluhan juta. Uang lima ratus ribu sisa gaji Bapak tidak akan cukup. Kamu sendiri tahu, upah harian Bapak hanya pas-pasan untuk mengisi piring kita setiap hari. Kamu—"
"Ya Bapak kan bisa minta kasbon dulu sama bos pengepul atau pinjam ke bank!" potong vion dengan nada tinggi dan ngotot, seolah meminjam uang semudah membalikkan telapak tangan.
"Masa buat anak sendiri saja nggak bisa diusahakan sih?!"
Pak ahmad kembali menghela napas, bahunya merosot. "Vion, dengerin Bapak dulu..."
BRAKK
"Ah, sudahlah! Capek aku di rumah ini! Lebih baik aku pergi saja!" teriak vion dengan wajah merah padam.
"Jadi anak di keluarga ini benar-benar sial! Apa-apa nggak ada, apa-apa susah! Nggak level!"
"Ya Allah, vion! Jaga bicaramu!" teriak Ibu Lestari yang seketika kehilangan selera makan, tangannya gemetar di atas piring.
Vion tidak peduli. Ia menatap kedua orang tuanya dengan tatapan yang penuh dengan kebencian dan rasa jijik.
"Aku juga malas punya orang tua seperti kalian! Miskin! Nggak bisa diandalkan!"
Setelah meludah dengan kata-kata kasar itu, Vion menyambar jaketnya dan melangkah keluar rumah dengan hentakan kaki yang keras. Dadanya sesak oleh emosi yang membara.
Ia bahkan tidak sudi menyentuh motor bututnya yang terparkir di teras, apalagi tangki bensinnya memang sudah kering kerontang. Ia memilih berjalan kaki, membiarkan kakinya melangkah tanpa tujuan pasti di bawah kegelapan malam.
Pikirannya yang dangkal hanya dipenuhi rasa iri dan harga diri yang terluka. Ia merasa dunia begitu tidak adil padanya.
Vion akhirnya menghempaskan pantatnya di atas beton pembatas jalan yang dingin di pinggiran desa. Suasana sangat sunyi, hanya ada suara jangkrik dan embusan angin malam.
Jalanan ini jarang dilalui orang jika sudah lewat jam delapan malam. Jika ia terus berjalan mengikuti aspal lebar di depannya, ia akan menembus kawasan hutan jati yang berbatasan dengan tebing curam, jalur utama yang menghubungkan desanya dengan hiruk pikuk kota.
Di sana, di balik gelapnya hutan itu, ia membayangkan kehidupan kota yang berkilau, jauh dari kemiskinan rumahnya yang menyesakkan.
Vion termenung dalam diam yang menyakitkan, berkali-kali ia merutuki nasibnya yang dianggapnya sebagai kutukan. Ia menjambak rambutnya dengan frustrasi, lalu bangkit dan menendang udara kosong dengan kaki gemetar.
Ia ingin menghancurkan apa saja yang ada di depannya, namun hanya ada kegelapan jalanan desa.
"Aaaaa! Kenapa hidupku begini?! Tuhan nggak adil! Bangsat! Sialan!" teriaknya memecah kesunyian malam, suaranya parau menantang langit.
JEDEEER!
Tiba-tiba, suara guntur menggelegar dahsyat, seolah langit baru saja dipukul oleh palu raksasa. Kilatan petir berwarna biru pucat sempat membelah angkasa, menerangi wajah vion yang penuh amarah selama satu detik sebelum kegelapan kembali menelan semuanya.
Alam seakan ikut murka mendengar umpatan pemuda itu. Namun, nyali vion sudah mati rasa; ia bahkan tidak berkedip, apalagi merasa gentar. Hatinya sudah terlalu panas untuk merasa takut pada petir.
Ia mendongak sesaat, menatap langit yang kini tampak makin pekat, lalu kembali menyeret langkahnya.
Langkahnya gontai, disetir oleh emosi sesaat yang membabi buta. Di kepalanya hanya ada satu rencana: pergi sejauh mungkin. Ia ingin membuat orang tuanya merasa kehilangan dan menyesal karena tidak mau mengupayakan mobil atau motor yang ia idamkan.
"Ya, ini jalan keluarnya. Aku harus menghilang selamanya," desis vion dengan napas yang memburu.
"Biarkan Bapak dan Ibu kebingungan. Biarkan mereka merasa bersalah seumur hidup karena telah mengabaikanku. Mereka tidak pernah benar-benar menyayangiku!"
Langkah kakinya membawa vion ke pinggiran desa, di mana lampu-lampu rumah penduduk mulai meredup digantikan oleh pekatnya malam. Namun, saat berdiri di hadapan mulut hutan yang hitam legam, keraguan sempat menyelinap di benaknya.
"Malam-malam buta begini, aku harus pergi ke mana?" bisiknya pada kesunyian.
Pikiran gelap mulai meracuni logikanya. Suara-suara aneh seolah berbisik di telinganya, memprovokasi keputusasaan yang sedang ia rasakan.
Gantung diri saja di pohon besar itu, bisik suara di kepalanya. Atau... lari sekencang mungkin dan terjunlah dari tebing hutan sana. Akhiri semuanya sekarang.
Suara-suara jahat itu terus berdengung, menenggelamkan nurani dan akal sehatnya. Logika vion benar-benar lumpuh. Dengan tatapan kosong dan hati yang membatu, ia memantapkan langkah, bersiap membelah semak belukar untuk masuk lebih dalam ke jantung hutan yang angker itu.
Namun, tepat sebelum kakinya menginjak tanah hutan yang lembap, sebuah kekuatan tak kasat mata menyambar pergelangan kakinya dengan kasar. Sesuatu yang dingin dan sangat kuat menyeret tubuhnya ke belakang, membuat punggungnya menghantam tanah dengan keras.
"Aaaagghh! Sakit! Lepaskan!" teriaknya histeris.
Suasana hutan itu terasa mencekam. Tiba-tiba, dari balik semak belukar yang rimbun, muncul kawanan makhluk dengan mata merah yang menyala.
Bukan anjing liar biasa, melainkan hewan buas berbulu hitam legam dengan ukuran tubuh yang tidak masuk akal—jauh lebih besar dan kekar daripada anjing penjaga gudang milik tengkulak di desanya.
Apakah itu serigala, atau sesuatu yang lebih mistis?Vion tak sempat berpikir.
Satu terkaman telak mendarat di kaki kanannya. Vion memekik kesakitan saat taring tajam itu menembus kulit dan menyeret tubuhnya ke tengah aspal yang dingin.
Tak berhenti di situ, kawanan yang lain ikut menyerbu. Tangan kiri dan bahunya digigit habis-habisan, bahkan satu terkaman kuat nyaris meremukkan tulang rusuknya.
Ia berusaha meronta, namun jumlah mereka yang banyak benar-benar mengoyak pertahanannya. Tubuhnya yang tadi dibanggakan kini hancur bersimbah darah.
Pandangan vion mulai goyah dan mengabur. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari setiap luka hingga menusuk ke ulu hati, membuatnya sesak napas.
Sebelum kegelapan benar-benar menelannya, ia hanya bisa melihat bayangan hitam besar yang masih mengelilinginya. Ia pun kehilangan kesadaran.
Namun, bagi seorang anak yang telah melukai hati orang tuanya dengan kata-kata kejam, kematian rasanya terlalu mudah sebagai sebuah pelarian.
"Uuugghhh ...." Sebuah lenguhan berat dan penuh penderitaan keluar dari tenggorokan vion yang terasa terbakar.