Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.
Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Koin dari Masa Depan
Cahaya lampu minyak di meja laboratorium bunker bergetar hebat saat Arlan meletakkan koin perak itu di atas piringan penganalisis logam. Koin itu tidak bersinar seperti logam pada umumnya; ia memancarkan denyut biru redup yang konsisten, seolah-olah ada jantung mekanis yang berdetak di dalamnya. Arlan masih bisa merasakan sisa amis darah di buku jarinya—darah yang baru saja ia gunakan untuk menghancurkan unit pengejar Eraser di lorong teknis.
"Kau yakin menemukan ini di dalam tubuh pengejar itu?" tanya Dante, matanya menyipit di balik kacamata pelindung.
"Koin ini muncul tepat setelah tubuhnya hancur menjadi abu hitam," jawab Arlan, suaranya masih sedikit parau. "Awalnya aku mengira itu koin memori biasa, seperti yang kutemukan di saku baju satpam atau milik tetanggaku dulu. Tapi koin ini... dia terasa panas."
Dante mendekatkan sensor pemindai frekuensi ke arah koin tersebut. Jarum indikator pada layar monitor analog melonjak liar, lalu jatuh ke titik nol secara berulang.
"Ada apa? Apa alatnya rusak?" Mira melangkah maju, tangannya menggenggam erat ujung meja.
"Bukan rusak, Mira. Alat ini tidak bisa membaca garis waktunya," Dante menghela napas panjang, wajahnya yang keras tampak semakin tua di bawah cahaya temaram. "Setiap materi di dunia ini memiliki jejak peluruhan atom yang tetap. Tapi koin ini... atom-atomnya berperilaku seolah-olah mereka belum pernah eksis di tahun 2026."
Arlan mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Lihat ukirannya, Arlan. Lihat dengan matamu sendiri," Dante menunjuk ke bagian tepi koin menggunakan pinset logam.
Arlan membungkuk, memfokuskan pandangan Echo-nya. Di sana, di bawah angka nominal yang pudar, terukir angka tahun yang sangat jelas: 2030. Di bawah angka itu, terdapat sebuah baris kalimat kecil yang ditulis dengan teknik grafir laser yang sangat halus: Jangan Berhenti.
Beban yang Melintasi Waktu
Suasana di dalam ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin, jenis dingin endotermik yang biasanya menandakan kehadiran peniru, namun kali ini sumbernya adalah ketakutan murni dari dalam batin mereka sendiri.
"Dua ribu tiga puluh?" suara Mira bergetar. "Tapi sekarang masih Januari 2026. Bagaimana mungkin sebuah benda dari empat tahun ke depan bisa ada di sini?"
"Inilah yang kutakutkan," bisik Dante. "Penghapusan realitas di Lentera Hitam bukan hanya soal ruang dan identitas. Mereka mulai melipat waktu. Jika mereka bisa mendatangkan objek dari masa depan, itu berarti masa depan itu sendiri sudah dikuasai oleh mereka."
Arlan merasakan koin di saku jaketnya—koin yang asli miliknya—seolah ikut bergetar merespons koin 2030 tersebut. "Pesan itu... Jangan Berhenti. Siapa yang mengirimnya? Dan kenapa melalui unit Eraser yang mencoba membunuhku?"
"Mungkin itu bukan kiriman, Arlan," Dante menatap Arlan dengan tajam. "Mungkin itu adalah anomali yang bocor. Saat kau menghancurkan Eraser A dengan darah murnimu, kau menciptakan lubang pada logika sistem mereka. Darahmu adalah virus yang merusak batasan dimensi. Koin ini mungkin terlempar keluar dari celah itu."
"Jika koin ini ada, berarti tahun 2030 itu ada," Arlan mencoba mencerna logika tersebut. "Tapi jika pesannya adalah 'jangan berhenti', apakah itu berarti aku berhasil... atau aku gagal?"
"Itu berarti kau masih punya pilihan," Mira menyentuh bahu Arlan. Tangan gadis itu terasa hangat, satu-satunya jangkar kenyataan yang dirasakan Arlan saat ini. "Kau melihat distorsi tahi lalat ibumu dulu dan kau memilih untuk lari. Kau melihat Sektor Tujuh dihapus dan kau memilih untuk melawan. Koin ini hanya pengingat bahwa perjalananmu belum selesai."
Visi di Balik Logam Panas
Tanpa sadar, Arlan mengulurkan tangannya, hendak menyentuh koin 2030 itu secara langsung.
"Jangan, Arlan! Kita belum tahu tingkat radiasi frekuensinya!" Dante mencoba memperingatkan.
Namun, jari Arlan yang masih memiliki bekas luka terbuka dari pertempuran di bunker tadi sudah menyentuh permukaan koin. Begitu cairan merah di ujung jarinya bersentuhan dengan ukiran angka 2030, dunia di sekitar Arlan mendadak pecah.
Suara bising dari laboratorium bunker menghilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Arlan tidak lagi berdiri di depan meja Dante. Ia berdiri di tengah-tengah jalanan utama kota Lentera Hitam, namun pemandangannya sangat berbeda. Tidak ada lagi lampu hijau-kebiruan. Langit di atasnya berwarna perak pucat, tanpa matahari, tanpa bintang.
Gedung-gedung tinggi tampak seperti pilar-pilar logam yang halus, tanpa jendela, tanpa pintu. Orang-orang berjalan di sekitarnya, namun mereka semua memiliki wajah yang sama—wajah yang rata, tanpa mata, tanpa mulut, seperti boneka yang belum selesai dicetak di pabrik manusia yang pernah ia lihat sebelumnya.
"Arlan..." sebuah suara berbisik dari balik angin yang berbau kimia tajam.
Arlan menoleh dan melihat dirinya sendiri. Versi dirinya yang lebih tua, dengan jubah hitam yang compang-camping dan lengan kiri yang sudah sepenuhnya berubah menjadi kristal bening. Arlan masa depan itu menggenggam sebuah koin yang sama, namun warnanya telah hitam pekat.
"Waktunya hampir habis," ucap versi dirinya itu. "Setiap koin yang kau kumpulkan bukan hanya memori, Arlan. Mereka adalah jangkar. Jika kau kehilangan satu saja, tahun ini akan menjadi kenyataan."
Visi itu bergetar hebat. Arlan melihat bayangan Mira di masa depan, berdiri membeku sebagai patung perak di tengah alun-alun kota, menjadi monumen duka yang abadi.
"Tidak!" teriak Arlan.
Kembali ke Realitas yang Rapuh
Arlan tersentak mundur hingga menjatuhkan kursi kayu di belakangnya. Ia terengah-engah, keringat dingin membanjiri dahinya. Tangannya yang menyentuh koin tadi terasa seperti terbakar, meninggalkan bekas kemerahan yang berpola seperti sirkuit.
"Arlan! Bicara padaku! Apa yang kau lihat?" Dante mengguncang bahunya.
Arlan menatap Mira dengan tatapan nanar, memastikan gadis itu masih bernapas, masih memiliki wajah, dan belum menjadi patung perak. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir bayangan kota mati di tahun 2030 dari benaknya.
"Aku melihat akhirnya," bisik Arlan. "Dunia di mana penyalinan sudah selesai. Tidak ada lagi manusia, tidak ada lagi warna. Hanya perak yang sunyi."
"Dan koin itu?" tanya Dante.
"Koin itu adalah peringatan," Arlan mengambil koin 2030 itu dengan kain pelapis, tidak lagi berani menyentuhnya dengan kulit telanjang. "Pesan 'Jangan Berhenti' itu bukan untuk menyemangatiku. Itu adalah perintah. Jika aku berhenti, jika kita hanya diam di bunker ini menunggu mereka datang, maka masa depan itu akan terkunci."
"Kita tidak punya banyak waktu lagi, Dante," Arlan melanjutkan, suaranya kini terdengar jauh lebih dingin dan berwibawa, mencerminkan evolusinya yang mulai meninggalkan sifat underdog-nya. "Eraser tidak hanya mencari darahku sekarang. Mereka mencari cara untuk memastikan garis waktu 2030 itu terjadi. Kita harus menyerang sebelum mereka sempat memperbaiki celah yang kubuat."
Dante terdiam, menatap peta kota yang penuh dengan tanda merah. "Menyerang ke mana? Balaikota terlalu kuat untuk kita yang sekarang."
"Bukan Balaikota," Arlan menunjuk ke sebuah titik di peta yang merupakan area gudang senjata Eraser di dimensi cermin. "Kita akan masuk ke tempat mereka menyimpan teknologi waktu ini. Kita akan mencuri masa depan kita kembali."
Mira menatap Arlan dengan cemas. "Masuk ke sana berarti kita harus menembus cermin sepenuhnya, Arlan. Kita belum pernah melakukannya secara tim. Risikonya... kita bisa terjebak di sisi yang salah selamanya."
"Aku sudah kehilangan ibuku, rumahku, dan duniaku yang lama," Arlan menatap Mira dengan mata yang penuh tekad sekaligus luka. "Aku tidak akan membiarkan masa depanmu berubah menjadi patung perak, Mira. Meskipun aku harus menghancurkan setiap cermin di kota ini."
Analisis Metalurgi Harapan
Dante kembali ke meja laboratorium, jemarinya yang lincah menekan serangkaian tombol pada pemindai molekuler yang lebih kecil. Ruangan itu hanya diterangi oleh pendar biru dari koin 2030 dan layar monitor yang menampilkan struktur atom yang bergejolak. Arlan berdiri di sampingnya, mengamati bagaimana grafik di layar tersebut tidak pernah membentuk pola yang stabil, melainkan terus bergeser seperti air yang mendidih.
"Lihat ini, Arlan," Dante menunjuk ke puncak gelombang frekuensi di layar. "Strukturnya belum mengeras sepenuhnya. Dalam istilah metalurgi dimensi, koin ini berada dalam status 'plastis'."
"Apa artinya bagi orang awam seperti aku?" tanya Arlan, matanya masih terasa pedih setelah visi mengerikan tadi.
"Artinya, masa depan yang kau lihat—kota perak dan Mira yang membeku—hanyalah salah satu kemungkinan," Dante berbalik, menatap Arlan dengan secercah harapan di matanya. "Koin ini dikirim atau terlempar ke sini justru karena masa depan itu belum terkunci. Jika masa depan 2030 sudah mutlak, koin ini akan memiliki struktur atom yang rigid dan dingin. Tapi koin ini panas, Arlan. Ia sedang berjuang untuk tetap ada."
"Jadi, pesannya memang benar," gumam Arlan, jemarinya mengusap bekas luka sirkuit di telapak tangannya. "Jangan berhenti. Jika kita berhenti berjuang di tahun 2026, maka struktur plastis ini akan mengeras menjadi kenyataan perak yang kulihat tadi."
"Tapi bagaimana kita melawan sesuatu yang bahkan belum terjadi?" Mira bertanya, suaranya menggema di antara pipa-pipa beton bunker.
"Kita tidak melawan masa depan," Arlan menyahut dengan tegas. "Kita melawan mesin yang sedang membangunnya. Dante, kau bilang Eraser sedang membangun Core baru di pusat kota, bukan?"
Dante mengangguk pelan. "Ya, sebuah inti pemrosesan yang jauh lebih besar dari yang ada di Balaikota. Mereka menyebutnya Arsitek."
"Maka koin ini adalah kuncinya," Arlan mengambil koin itu menggunakan pinset, memasukkannya ke dalam wadah timah kecil untuk meredam radiasinya. "Kita akan menggunakan frekuensi plastis dari koin ini untuk melacak koordinat gudang senjata mereka di dimensi cermin. Itulah tempat di mana mereka menyimpan cetak biru masa depan."
Paradox yang Menyesakkan
Malam itu, bunker Archivist terasa lebih sunyi dari biasanya. Arlan duduk sendirian di sudut ruang logistik, memandangi sepasang kunci rumah tua tanpa pintu yang selalu ia bawa. Kunci itu kini terasa lebih berat, seolah ikut memikul beban dari koin 2030 yang ia temukan.
"Kau memikirkan tentang dirimu yang di masa depan?" Mira muncul dari balik bayangan, membawa dua cangkir kopi yang aromanya tajam dan nyata.
"Dia terlihat sangat lelah, Mira," Arlan menerima cangkir itu, merasakan hangatnya menjalar ke telapak tangannya. "Lengannya... lengannya bukan lagi kulit dan daging. Dia sudah kehilangan kemanusiaannya demi mempertahankan koin itu."
"Tapi dia masih memiliki suaramu," Mira duduk di sampingnya, bahu mereka bersentuhan. "Dia masih mengenalimu. Itu berarti di tahun 2030 pun, kau tetaplah Arlan sang kurir yang keras kepala."
"Aku takut, Mira," Arlan menoleh, menatap mata gadis itu dalam-dalam. "Bukan takut mati. Aku takut jika semua pengorbanan kita hanya akan berujung pada dunia yang sunyi itu. Aku takut jika darah murniku tidak cukup untuk menghentikan mereka."
Mira meletakkan kepalanya di bahu Arlan. Di tengah Hampa Akustik yang terkadang merayap masuk ke bunker, detak jantung Mira adalah satu-satunya melodi yang membuat Arlan tetap waras.
"Darahmu mungkin hanya cairan merah bagi mereka," bisik Mira. "Tapi bagi kami, itu adalah janji. Selama masih ada satu orang yang bisa berdarah dan merasa sakit, maka dunia ini belum menjadi salinan."
Arlan memejamkan mata, menghirup aroma kopi dan aroma tubuh Mira yang nyata. "Terima kasih, Mira. Aku tidak akan membiarkan patung perak itu menjadi takdirmu."
Perintah Sang Komandan
Pagi harinya, suasana di markas Archivist berubah total. Tidak ada lagi keraguan yang menggantung di udara. Arlan berdiri di depan peta taktis besar, dikelilingi oleh Dante dan beberapa anggota tim inti lainnya. Arlan tidak lagi memakai jaket kurirnya yang lama; ia mengenakan rompi taktis Archivist dengan lencana perak yang ia temukan di Sektor Tujuh.
"Dante sudah mengonfirmasi koordinatnya," Arlan memulai, suaranya terdengar berat dan instruktif. "Gerbang dimensi cermin akan terbuka di titik nol stasiun bawah tanah saat pergantian shift patroli Eraser malam ini."
"Risikonya terlalu tinggi, Arlan," salah satu anggota bernama Kael menyela. "Jika kita masuk ke dimensi cermin, kita akan mengalami lag frekuensi yang hebat. Kita bisa gila sebelum sempat meledakkan gudang senjata itu."
Arlan menatap Kael dengan tatapan yang membuat pria itu terdiam. Itu bukan lagi tatapan pemuda yang bingung melihat tahi lalat ibunya yang berpindah posisi. Itu adalah tatapan seorang Komandan yang telah melihat akhir dunia.
"Kita sudah gila sejak hari pertama kita membiarkan mereka menyalin kota ini," jawab Arlan dingin. "Pilihan kita sederhana: masuk ke sana dan mencuri kembali masa depan kita, atau duduk di sini dan menunggu tahun 2030 menjemput kita dengan kematian yang sunyi."
Dante melangkah maju, meletakkan tangannya di meja. "Aku akan menyiapkan unit penstabil frekuensi. Mira akan menjadi navigasi akustik kita. Arlan, kau yang akan memegang koin itu sebagai kompas."
"Siapkan senjata kalian," perintah Arlan sambil menyampirkan tas logistiknya. "Pastikan perban kalian kencang. Jika ada yang terluka di dalam dimensi cermin, pastikan darah kalian tidak menyentuh refleksi kalian sendiri kecuali atas perintahku."
Arlan berjalan menuju pintu keluar bunker, diikuti oleh timnya. Sebelum melangkah keluar, ia menyentuh wadah timah di sakunya. Koin 2030 itu masih berdenyut panas, seolah-olah sedang memberikan hitung mundur bagi keberadaan mereka.
"Mari kita tunjukkan pada mereka," bisik Arlan pada dirinya sendiri, "bahwa kurir ini tidak pernah gagal mengantar paketnya. Dan hari ini, paketnya adalah kehancuran bagi setiap salinan yang mencoba mencuri hidup kita."