Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?
Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.
Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.
Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Ulang Tahun
Selama tiga minggu setelah pertemuan epik dengan Maggie, Kael menjadi kurang fokus dari biasanya.
Dia tetap menghadiri rapat, berkonsultasi dengan pengacara, dan meninjau ulang kesepakatan bisnis. Tapi pikirannya tidak benar-benar ada di sana.
Maggie mengirim pesan secara random. Kadang dia tidak membalas selama berhari-hari, lalu tiba-tiba mengirim serangkaian pesan pukul dua pagi.
Jelas hidupnya penuh tantangan dan dia ingin kembali merasakan kehidupan yang normal. Kael tidak yakin peran apa yang bisa dia ambil dalam situasi itu. Dengan jarak yang memisahkan mereka dan status baru Maggie sebagai Single Mom, jurang di antara mereka terasa mustahil untuk dilewati.
Keponakannya, Sierra, berulang tahun yang kelima, jadi Joann mengirim pesan berisi tanggal dan jam pestanya. Joann dan Monica juga sedang menantikan kelahiran anak berikutnya.
Kael suka menghabiskan waktu bersama mereka di akhir pekan. Itu memberinya gambaran tentang seperti apa kehidupan orang kebanyakan, saat dia tidak terus-menerus bepergian.
Pesta itu diadakan di sebuah butik anak yang memang dirancang khusus untuk acara seperti ini. Bagian depannya adalah toko yang dipenuhi kilau dan payet.
Saat Kael tiba, dia diarahkan ke sebuah ruangan di bagian belakang, tempat sekitar selusin anak perempuan duduk di meja bundar yang dihiasi cermin-cermin berlampu.
Semua anak itu mengenakan gaun Princes Disney. Beberapa penata rambut dan perias sibuk mengerjakan mereka, menyempurnakan penampilan masing-masing.
Joann berdiri di sudut ruangan dengan kamera super canggih di tangannya. Kael meletakkan hadiahnya di meja yang penuh kotak dan tas, lalu menghampiri Joann.
"Ini kelihatan di atas gaji mu."
Joann mengutak-atik beberapa tombol. "Kamu ngomong gitu kayak gaji kita paling kecil aja."
Dia memutar kamera untuk menatap lensanya. "Monica maksa aku berhenti pakai HP buat dokumentasiin kegiatan Sierra. Dengan bayi baru yang sebentar lagi lahir, aku mutusin buat ningkatin level dokumentasi."
Kael mengambil kamera itu. "Kalau kamu setel kamera ini di pengaturan otomatis, mending pakai HP aja deh. Karena secanggih apapun kamera kamu, tetap harus pintar-pintar orangnya."
"Kamu tahu cara pakai benda ini? Aku kira bakal lebih simpel."
"Aku pernah ambil dua kelas fotografi waktu kuliah."
Kael mengatur kamera ke mode pemrograman. Joann jelas tidak akan sanggup pakai mode manual sepenuhnya, tapi setidaknya peluangnya dapat foto bagus bisa lebih besar.
"Kalau kamu di luar ruangan dan banyak gerakan, kayak di playground, pakai mode S."
"S itu apa?"
"Prioritas shutter. Tapi enggak usah dipikirin ... ribet. Anggap aja S itu mode speed, buat hal-hal yang bergerak cepat."
"Oke."
"Kalau di dalam ruangan dan kebanyakan fotonya pose, pakai A."
"Terus A itu ...."
"Aperture. Tapi anggap aja A itu sendiri, hemm ... satu orang duduk siap difoto."
"Sip."
"Aku setel dua mode ini ke pengaturan dasar yang bisa nutupin kebanyakan situasi. Jangan diutak-atik dulu sebelum kamu benar-benar paham."
Kael mengubah beberapa pengaturan, lalu mengembalikan kamera itu pada Joann.
Joann mengambil satu foto.
CEKREKKKK
"Eh, lihat ini!"
Wajahnya langsung berbinar melihat hasilnya, lalu dia menjauh untuk menunjukkan foto itu ke istrinya.
Kael menyandarkan badan ke dinding dan memperhatikan para gadis kecil tertawa dan saling berseru kagum. Mereka bereaksi berlebihan setiap kali Joann memotret, sengaja berpose heboh. Kael senang bisa membantu.
Sierra melihatnya dan langsung melompat turun dari kursi, berlari ke arahnya.
"Om Kael!"
Sierra mengenakan kostum Moana. Rambut panjangnya yang gelap dikeriting dan mengembang, atasan oranye dan rok bertekstur itu pas sekali untuk anak yang setengah putri, setengah bocah liar.
Kael mengangkatnya. "Astaga, kamu berat juga sekarang. Umur lima tahun, ya!"
Sierra tertawa. "Minggu lalu Om juga gendong aku."
"Dan sekarang kamu makin gede."
"Om konyol."
Sierra menempelkan pipinya ke pipi Kael. Seketika bayangan Maggie muncul di kepalanya, terbaring di ranjang rumah sakit dengan bayinya yang bersandar di lehernya.
Keluarga Kael selalu berantakan, hampir sepanjang hidupnya. Dulu Joann pergi dan meninggalkannya bersama dua orang tua yang kacau. Lalu, setelah Kael lulus kuliah, Joann tiba-tiba muncul lagi dan memutuskan untuk berperan sebagai kakak.
Awalnya Kael menolak, masih menyimpan rasa kesal karena Joann sempat mengganti namanya dan bersikap seolah mereka tidak pernah ada.
Tapi Monica mengubahnya. Mereka melewati banyak hal setelah bayi Sierra ditinggalkan di penthouse mereka bersama secarik pesan, "Lakukan tes DNA, dia anakmu."
Saat Joann dan Monica bertunangan, Joann siap berdamai. Dengan fokusnya pada keluarga, dia juga menarik Kael masuk ke bisnisnya.
Kael yang paling sering bepergian, masih lajang, dan menikmati hiruk-pikuk hidupnya. Tapi dengan keponakannya sedekat ini, dikelilingi aroma hairspray dan masa kanak-kanak, dia bisa paham kenapa Joann mengubah prioritasnya.
"Saatnya fashion show kita!" Seorang perempuan ceria berambut hitam mengumumkan sambil bertepuk tangan meminta perhatian.
"Para putri dan anak-anak, silakan ke belakang panggung supaya semua orang bisa melihat penampilan kalian!"
Sierra membungkuk mendekat. "Om Kael bakal nonton, kan?"
"Pasti."
Sierra menatapnya. "Aku pingin ada Maui biar cocok sama Moana ku!"
"Maksud kamu manusia yang gede itu?"
"Iya!" Mata Sierra berbinar menatapnya.
Kael bahkan tidak bisa membayangkan harus melakukan itu. "Sayangnya Om enggak punya kostum!"
Perempuan ceria yang mengurus pesta pun mendekat. "Tentu saja kami punya kostum Maui!"
"Apa?"
Sierra melonjak-lonjak sambil bertepuk tangan. "Yay! Om Kael jadi Maui!"
Monica yang menyadarinya dan langsung menghampiri. "Oh, Sierra, kamu enggak boleh minta Om Kael begitu di depan semua orang!"
Perempuan penanggung jawab pesta itu menilai Kael, pandangannya berhenti di lengan dan dadanya yang tertutup kaus polo sederhana. Dia cantik luar biasa, dengan rambut keriting panjang berpilin dan kulit cokelat yang hangat.
"Kurasa dia bakal cocok," katanya.
"Please, Om Kael?" Sierra tersenyum dengan tangan saling bertaut.
Dan begitu saja, Kael digiring ke ruang ganti yang isinya cuma rok dari daun-daunan dan kalung tulang.
Untungnya boxer Kael berwarna hitam dan ketat. Semuanya tertutup rapi di balik rok daun itu. Lampu sorot dari langit-langit pasti akan menyorot dada telanjangnya.
Beginilah hal-hal konyol yang orang lakukan demi anak-anak.
"Siap?" suara perempuan itu memanggil.
Kael mendorong tirai. "Kayaknya siap."
"Cocok buat kamu." Dia menyerahkan gada besar yang dibawa Maui. "Semoga sukses."
...𓂃✍︎...
...Saat seseorang memperoleh sesuatu, seseorang lain mengalami kehilangan. Itu tandanya kebahagiaan seseorang terbentuk atas kemalangan orang lain....
...────୨ৎ────...
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .