NovelToon NovelToon
Halte Takdir

Halte Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.

Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.

Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.

Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?

Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GERBANG CAHAYA DAN TANAH LELUHUR

"Lo gila ya, Adrian! Itu lubang air, bukan jalanan!"

Viona berteriak histeris, jemarinya mencengkeram sabuk pengaman hingga buku jarinya memutih dan gemetar. Di depan mereka, genangan air raksasa di bawah jembatan layang itu tidak lagi tampak seperti sisa hujan biasa yang kotor oleh lumpur kota. Permukaannya bergejolak hebat, memancarkan pendar ultraviolet yang meliuk-liuk menyerupai tentakel cahaya yang lapar di bawah aspal yang retak. SUV hitam itu melaju dengan kecepatan di atas seratus kilometer per jam, lurus menghantam pusat pusaran air tersebut seolah-olah mereka sedang mencoba melakukan tindakan bunuh diri massal yang terencana.

"Tutup mulut lo dan pegangan yang kenceng, Vio! Ini prosedur standar kalau lo mau selamat dari penagih utang kelas kakap!" balas Adrian dengan nada bicara yang masih terdengar santai, meski peluh mulai membasahi pelipisnya. Tangannya dengan lincah menari di atas dasbor yang kini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi layar penuh kode biner yang berjalan cepat. Cahaya hijau neon memantul di permukaan kacamata hitam yang tetap ia pakai meskipun hari sudah gelap pekat.

ZRRRUUUUMMMM!

Suara benturan itu tidak terdengar seperti logam menghantam air. Alih-alih suara cipratan, yang terdengar adalah dengung frekuensi tinggi yang sangat menyakitkan, seolah-olah ribuan lebah sedang mengamuk di dalam gendang telinga Viona. Dunia di luar kaca mobil mendadak lenyap, digantikan oleh garis-garis cahaya yang memanjang tak terhingga. Viona merasakan tubuhnya ditarik ke segala arah, seolah-olah setiap atom dalam dirinya dipaksa melewati lubang jarum yang sangat sempit. Gravitasi menghilang secara brutal, menyisakan kekosongan yang menyesakkan di dalam perutnya, seolah jiwanya tertinggal beberapa detik di belakang raganya yang terlempar melintasi dimensi.

Dalam kegelapan total yang terasa seperti keabadian itu, bisikan ayahnya kembali terdengar. Suara itu bukan berasal dari luar, melainkan bergetar di dalam tengkoraknya sendiri, lebih jelas dan lebih hangat dari memori mana pun. “Viona... payung itu bukan cuma pelindung. Dia adalah alasan kenapa takdirmu masih tertulis. Jangan lepaskan, atau kamu akan hilang dari ingatan dunia.”

Satu detik. Dua detik.

Tiba-tiba, guncangan hebat menghantam SUV itu, membuat kepala Viona nyaris membentur kaca samping. Suara deru mesin kembali terdengar, namun kali ini bercampur dengan suara gemericik air yang sangat berbeda—bukan bising knalpot kota yang menyesakkan, melainkan suara air terjun yang jatuh dari tebing-tebing tinggi di kejauhan. Cahaya menyilaukan menusuk mata Viona saat ia mencoba membukanya. Saat ia berhasil menyesuaikan pandangannya, Jakarta sudah hilang sepenuhnya dari cakrawala.

Mereka kini berada di sebuah jalan setapak berbatu yang membelah hutan pinus pekat. Kabut tebal menyelimuti puncak-puncak pohon, menciptakan atmosfer yang dingin, lembap, dan purba. Hujan masih turun di sini, namun rintiknya terasa lebih berat, gerakannya lebih lambat, dan aromanya bukan lagi bau bensin, melainkan bau tanah hutan yang segar bercampur aroma pinus yang tajam. Di kejauhan, siluet pegunungan Parahyangan berdiri kokoh seperti raksasa yang sedang menjaga rahasia-rahasia tua yang terkubur zaman.

"Selamat datang di Jalur Hijau," Adrian mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat lega, lalu menyandarkan punggungnya ke jok mobil yang panas. Mesin SUV itu mengeluarkan uap dari kapnya, berderak seolah-olah baru saja menempuh perjalanan melintasi benua hanya dalam hitungan detik. "Kita sudah di luar jangkauan radar standar Ordo Chronos. Tapi jangan seneng dulu, Julian itu punya hidung anjing. Dia bakal nemuin celah frekuensi kita sebentar lagi."

Viona terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat mencoba meraup oksigen pegunungan yang tipis. Ia segera menoleh ke kursi belakang dengan panik. Elena masih memejamkan mata dengan wajah pucat yang tampak seperti porselen retak, sementara Riko tampak mulai siuman. Temannya itu memegangi kepalanya sambil mengerang pelan, wajahnya yang semula membiru karena "isapan" payung kini perlahan kembali normal, meski matanya terlihat sangat linglung.

"Aduh... kepala gue... Vio? Kita di mana? Kok ada pohon gede banget? Perasaan tadi kita masi di parkiran apartemen lo yang bau pesing itu," racau Riko dengan suara serak. Ia menatap ke luar jendela dengan mata melotot, memperhatikan pepohonan yang tampak bergerak pelan tertiup angin gunung yang membawa hawa mistis. "Ini... ini bukan Jakarta, kan? Vio, jangan bilang kita diculik alien dan sekarang ada di planet lain."

"Rik, tenang dulu. Nanti gue jelasin semuanya kalau kita sudah sampai di tempat aman. Lo nggak apa-apa, kan? Nggak ada yang luka?" Viona mencoba menenangkan sahabatnya itu, meski tangannya sendiri masih gemetar hebat saat memegang gagang payung biru yang kini terasa hangat merambat ke lengannya.

"Nggak apa-apa gimana? Gue ngerasa kayak baru aja dimasukin ke mesin cuci terus diperes sampai kering!" Riko mencoba duduk tegak, namun wajahnya kembali pucat saat melihat Adrian di kursi pengemudi. "Eh, ini siapa?! Kok gaya lo kayak karakter hacker nakal di film-film aksi yang sering gue tonton?"

"Nama gue Adrian, dan gue baru aja nyelamatin nyawa lo yang nggak seberapa itu dari penagih utang paling sadis di dimensi ini. Jadi, mending lo diem, tarik napas, dan jangan muntah di mobil gue karena jok kulit ini harganya lebih mahal dari gaji lo setahun," sahut Adrian tanpa menoleh. Ia sibuk memeriksa tablet digital yang terhubung ke dasbor, mengamati grafik gelombang yang terus bergejolak tidak stabil.

Viona menatap Adrian tajam, meminta kejelasan yang lebih masuk akal. "Adrian, cukup. Sekarang jelasin. Ayah gue... Nathan Mahendra. Lo bilang dia yang kirim lo. Gimana caranya? Ayah sudah meninggal sepuluh tahun lalu dalam kecelakaan di tol, Adrian. Gue sendiri yang lihat pemakamannya!"

Adrian mematikan mesin mobil, menyisakan keheningan hutan yang mencekam, hanya diinterupsi oleh rintik hujan yang menghantam atap logam. Ia memutar tubuhnya menghadap Viona, raut wajahnya yang biasanya santai kini berubah serius. "Vio, denger ya. Di dunia yang lo tahu, waktu itu kayak garis lurus. Dari lahir, hidup, terus mati. Tapi di Ordo Chronos, waktu itu komoditas. Kayak uang di bank, bisa didepositokan, bisa dikreditkan. Ayah lo bukan orang sembarangan. Dia itu salah satu 'Arsitek Waktu' senior yang mutusin buat membelot karena dia nggak setuju sama cara Ordo memanipulasi sejarah demi keuntungan segelintir orang kaya."

Viona tertegun, istilah itu terdengar sangat asing sekaligus mengerikan. "Arsitek Waktu? Maksud lo, Ayah bisa ngatur sejarah?"

"Dia tahu kalau Ordo bakal ngejar dia karena dia nemuin rahasia soal Koin Chronos. Makanya dia 'menabung' sebagian eksistensinya di dalam protokol darurat yang cuma bakal aktif kalau lo, satu-satunya ahli warisnya, berada dalam bahaya tingkat tinggi. Gue ini kurir independen yang kerja buat faksi pemberontak. Ayah lo sudah bayar gue sepuluh tahun lalu lewat deposit waktu yang baru cair tadi sore saat lo buka payung biru itu di halte Alfred. Payung itu adalah sinyalnya."

"Jadi Alfred... dia juga bagian dari rencana Ayah?" tanya Viona.

Adrian mengangkat bahu, sedikit ragu. "Alfred itu netral. Dia itu entitas purba, mungkin penjaga gerbang paling tua yang pernah ada. Dia kasih lo payung itu karena emang sudah kontraknya begitu. Tapi payung itu, Vio... lo harus tahu harganya. Nyokap lo bener soal satu hal: payung itu parasit. Dia butuh energi kehidupan buat tetep aktif menstabilkan realitas di sekitar lo. Alasan kenapa temen lo ini tadi sesek napas dan nyokap lo pingsan, itu karena payung itu nyedot aura mereka buat bikin perisai waktu tadi di lift. Dia nggak punya pilihan, antara nyedot dikit nyawa mereka atau biarin kalian semua dihapus dari garis waktu oleh Julian."

Viona melihat payung biru tua di pangkuannya dengan tatapan ngeri. Benda itu tampak biasa saja, kainnya kusam dan rangkanya sedikit bengkok, namun kini terasa jauh lebih berat, seolah-olah kain itu ditenun dari benang-benang takdir yang basah oleh darah. Rasa bersalah yang tajam menusuk hatinya. "Kalau gitu gue harus tutup payung ini, kan? Supaya mereka nggak makin parah dan mati pelan-pelan karena gue."

"Jangan!" gertak Adrian, matanya melebar memperingatkan dengan keras. "Kalau lo tutup payung itu sekarang, keberadaan lo bakal langsung kedeteksi sama radar Ordo. Lo itu kayak mercusuar di tengah laut gelap bagi mereka. Payung itu satu-satunya hal yang 'membungkus' frekuensi keberadaan lo supaya lo nggak dianggap 'sampah sejarah' yang harus dihapus. Ayah lo nuker seluruh sisa umurnya supaya lo tetep ada di garis waktu ini, Vio. Kalau payung itu ilang atau rusak, lo bakal dianggap nggak pernah lahir. Semua jejak lo di dunia ini bakal menguap seolah lo cuma ilusi yang lewat."

Viona merasakan dingin yang luar biasa menjalar di punggungnya. Kalimat itu—nggak pernah lahir—terasa lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri. Ia membayangkan dirinya lenyap, dan semua orang yang mengenalnya tiba-tiba lupa bahwa ia pernah ada. Bahkan ibunya, yang rela lumpuh demi melindunginya, tidak akan mengingat pernah memiliki seorang putri bernama Viona.

"Kita harus ke rumah lama," bisik Viona lirih, suaranya nyaris hilang ditelan bunyi angin yang menderu di antara celah pohon pinus. "Ibu bilang koinnya nggak ada di kotak kayu yang gue bawa. Dia bilang koinnya ada di... di dalam nadi gue."

Adrian mengernyitkan dahi, tampak terkejut sekaligus ngeri mendengar pernyataan itu. "Di dalam nadi? Itu gila. Kalau bener begitu, berarti Nathan Mahendra sudah ngelakuin eksperimen paling dilarang dalam sejarah Ordo. Dia nyatuin artefak waktu sama darah manusia sebagai brankas hidup. Pantesan Julian sampe turun tangan sendiri. Dia bukan mau nagih utang, dia mau ngambil 'perangkat' itu dari tubuh lo."

Mobil kembali melaju, merayap pelan di jalanan berbatu yang semakin menanjak dan terjal. Kabut semakin tebal, menghalangi pandangan hingga hanya tersisa beberapa meter di depan kap mobil. Viona mulai mengenali tempat ini. Dulu, setiap libur sekolah, ayahnya selalu membawanya ke rumah peristirahatan ini dengan mobil tua mereka. Sebuah rumah bergaya kolonial Belanda yang berdiri di puncak bukit, terisolasi dari dunia luar oleh hutan dan lembah.

"Vio, lo masi inget jalan ke ruang bawah tanah rumah itu? Ada sesuatu yang harus kita aktifkan di sana," tanya Adrian.

"Gue inget ada gudang di bawah dapur, tapi Ayah selalu kunci pintunya rapat-rapat. Dia bilang itu tempat nyimpen koleksi jam kunonya yang sensitif sama cahaya dan getaran," jawab Viona.

"Itu bukan jam biasa, Vio. Itu Chronometer. Alat buat menjaga konsistensi dimensi. Kalau Julian sampe nemuin kita sebelum kita nyampe sana, kita habis," gumam Adrian.

Tiba-tiba, suara raungan mesin kembali terdengar. Jauh di belakang, tapi bergema di antara pepohonan pinus yang rapat. Suaranya bukan seperti mesin bensin, melainkan seperti jeritan logam yang diseret di atas aspal dengan kecepatan tinggi yang mustahil.

"Sial! Dia sudah dapet celahnya!" Adrian mengumpat keras sambil membanting setir. Ia menginjak pedal gas lebih dalam, membuat SUV itu melompat-lompat kasar di atas jalan berbatu yang licin. "Julian pake pelacak esensi! Dia nggak butuh koordinat GPS lagi, dia cuma butuh bau rasa takut lo yang makin kuat!"

"Riko, pegangan! Adrian, cepetan!" teriak Viona saat mobil berbelok tajam di pinggir jurang yang tertutup kabut putih.

"Gue nggak mau mati di hutan antah berantah ini, Vio! Gue masi mau nikah sama anak kantin sebelah kantor!" Riko berteriak histeris di kursi belakang, tangannya mencengkeram erat sandaran kursi Elena seolah itu adalah satu-satunya pelampung di tengah badai.

Di spion samping, Viona melihat sebuah titik cahaya biru elektrik muncul dari balik kabut tebal. Titik itu bergerak sangat cepat, meliuk-liuk di antara batang pohon pinus tanpa kesulitan sama sekali. Itu Julian. Motor hitam besarnya melayang beberapa senti di atas tanah, membelah hujan dan meninggalkan jejak es beku di dedaunan yang dilewatinya. Julian tampak seperti malaikat maut modern yang tidak akan berhenti sebelum targetnya didapatkan secara utuh.

"Adrian, dia makin deket! Cahayanya mulai kelihatan jelas!"

"Gue tahu! Sedikit lagi! Gerbang depannya sudah kelihatan!"

Di ujung jalan yang menanjak, sebuah gerbang besi raksasa yang tertutup lumut dan karat muncul dari balik kabut. Gerbang itu tampak tertutup rapat dengan rantai besar yang melilitnya berkali-kali. Adrian tidak mengerem sedikit pun. Ia justru menekan sebuah tombol merah di lingkar kemudinya yang mengeluarkan arus listrik kecil.

"Payung lo, Vio! Arahin ke depan! Biarin energinya buka kunci magnetiknya!"

Viona segera mengarahkan ujung payung birunya ke arah gerbang. Secara ajaib, pendar biru dari payung itu memancar kuat, membentuk gelombang energi yang menghantam rantai besi tersebut. Rantai itu hancur berkeping-keping seolah-olah terbuat dari kaca yang rapuh, dan gerbang itu terbuka lebar dengan suara derit yang memilukan tepat saat SUV mereka melesat masuk ke halaman yang luas.

Mereka tiba di halaman depan sebuah rumah besar yang tampak megah namun angker. Dinding putihnya yang kusam dipenuhi akar rambat yang mencekik bangunan, dan jendela-jendela besarnya seperti mata hitam yang menatap dingin ke arah mereka. Begitu mobil berhenti mendadak di depan teras kayu, Adrian langsung melompat keluar dengan sigap.

"Bawa Nyokap lo masuk! Cepet! Gue bakal tahan dia di halaman ini! Riko, bantu Viona!" Adrian mengeluarkan sebuah perangkat berbentuk silinder dari sakunya yang kemudian memanjang menjadi tongkat listrik berpendar biru terang.

Viona dan Riko dengan susah payah membopong Elena yang masih lemas masuk ke dalam rumah. Bau kayu tua, lilin aromatik, dan debu langsung menyergap indra penciuman Viona, membawa kilas balik masa kecil yang menyesakkan dada. Di dalam sangat gelap, namun payung di tangan Viona memberikan penerangan biru yang cukup untuk melihat jalan melewati lorong berdebu.

"Vio, kita mau kemana?! Rumah ini serem banget, kayak rumah di film horor yang pernah kita tonton bareng!" tanya Riko dengan suara bergetar, matanya liar melirik ke arah lukisan-lukisan tua di dinding yang seolah matanya mengikuti gerakan mereka.

"Ke dapur! Ada pintu tangga ke bawah tanah di pojok dekat lemari makan!"

Saat mereka mencapai area dapur, suara dentuman keras terdengar dari luar, diikuti suara ledakan energi yang menggetarkan kaca jendela rumah. Julian telah sampai. Viona bisa mendengar suara benturan logam dan teriakan Adrian yang sedang bertarung mati-matian. Ia tahu Adrian, meski hebat, tidak akan bisa menahan penagih utang Ordo itu terlalu lama.

Viona menemukan pintu kayu kecil yang tersembunyi di pojok dapur. Ia menendangnya hingga terbuka, menyingkapkan tangga semen sempit yang menuju ke kegelapan di bawah sana. "Rik, bawa Ibu turun dulu! Gue tepat di belakang lo!"

Mereka turun dengan terburu-buru. Di bawah sana, ruangan itu ternyata tidak sekecil yang Viona ingat dalam memorinya. Ruang bawah tanah itu luas dan dingin, dipenuhi dengan ribuan jam dinding kuno yang semuanya berdetak secara bersamaan namun dengan ritme yang berbeda-beda. Suaranya memekakkan telinga, menciptakan harmoni detak jantung mekanis yang aneh dan membuat pening kepala. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja besi besar yang dikelilingi oleh kabel-kabel tembaga yang menjuntai.

"Letakkan Ibu di meja itu! Cepat!" perintah Viona dengan tegas.

Riko menurut dengan wajah bingung dan takut yang amat sangat. "Vio, lo mau ngapain? Lo bukan dokter, lo manajer pemasaran! Kenapa kita di sini?!"

Viona tidak menjawab pertanyaan Riko. Perhatiannya teralih pada sebuah cermin besar berlapis perak di ujung ruangan. Di dalam cermin itu, ia tidak melihat pantulan dirinya yang kucel dan basah. Ia melihat sosok ayahnya, Nathan Mahendra, sedang berdiri di ruangan yang sama namun tampak lebih muda dan mengenakan jas lab putih yang bersih.

"Ayah?" bisik Viona, mendekati cermin itu dengan tangan gemetar.

Pantulan Nathan di dalam cermin itu tersenyum sedih, seolah ia bisa melihat melintasi dimensi waktu yang memisahkan mereka. Ia mengangkat tangannya yang bercahaya, menunjuk ke arah pergelangan tangan kiri Viona di mana nadi birunya berdenyut hebat secara tidak wajar. "Waktunya sudah tiba, Viona. Utang itu harus dibayar, tapi bukan dengan nyawamu. Berikan koin itu pada sang Penjaga, dan tarik kembali ibumu dari kegelapan yang menjeratnya."

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan tenang terdengar dari arah tangga dapur. Julian muncul di ambang pintu ruang bawah tanah. Jas hujan transparannya kini sobek di bahu, menyingkapkan setelan jas hitam di bawahnya yang masih kering sempurna secara ajaib. Wajahnya yang pucat tampak penuh amarah yang terkendali. Di tangannya, ia memegang tongkat Adrian yang sudah patah menjadi dua. Adrian sendiri sudah tidak terlihat lagi keberadaannya.

"Drama keluarga yang sangat mengharukan, Nathan," ucap Julian dingin, suaranya memotong detak ribuan jam seolah waktu berhenti sejenak. Langkahnya bergema di atas lantai semen. "Kamu selalu punya rencana cadangan yang rumit, tapi kamu lupa kalau saya adalah akhir dari semua rencana. Viona, berikan tanganmu. Saya akan mengambil koin itu sekarang. Saya janji akan melakukannya dengan cara yang paling tidak menyakitkan... jika kamu berhenti melawan seperti anak kecil."

Viona mundur perlahan, punggungnya menabrak meja besi tempat ibunya berbaring lemas. Ia menggenggam erat payung birunya yang kini berpendar merah jambu—warna peringatan bahaya tingkat tinggi. "Jangan berani lo sentuh gue atau Ibu!"

Julian mengangkat belati peraknya yang kini dialiri arus hitam pekat. "Kamu pikir payung rongsokan itu bisa melindungimu di sini? Di ruangan yang penuh dengan pengukur waktu ini, payung itu cuma barang dekorasi yang tidak berguna. Kekuatan koin di dalam nadimu jauh lebih besar dari apa pun yang diberikan Alfred padamu. Berikan sekarang, atau temanmu ini akan menjadi tumbal pertama untuk menyeimbangkan kontrak."

Julian menjentikkan jarinya, dan tiba-tiba Riko terangkat ke udara secara gaib, lehernya dicekik oleh tekanan tak kasat mata yang sangat kuat. Riko menendang-nendang udara, tangannya mencakar-cakar lehernya sendiri yang kosong, wajahnya mulai membiru karena kehabisan oksigen dalam sekejap.

"Lepasin Riko, bajingan!" teriak Viona, air mata kemarahan mulai mengalir di pipinya.

"Koin itu, Viona. Sekarang! Atau dia mati dalam lima detik!"

Viona menatap pergelangan tangannya sendiri. Di bawah kulitnya yang tipis, ia melihat sesuatu yang berpendar emas murni, bergerak lincah mengikuti aliran darahnya seolah benda itu memiliki kehendak sendiri. Itu bukan sekadar koin emas; itu adalah jantung dari mesin waktu itu sendiri, kunci dari segala kemungkinan yang pernah ada.

Viona menatap Alfred yang mendadak muncul di sudut ruangan, lalu beralih ke Julian yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Ia menarik napas panjang, seolah seluruh udara di ruangan bawah tanah itu terserap ke dalam paru-parunya.

"Gue nggak mau jadi budak siapa pun, termasuk Ordo kalian yang busuk!" desis Viona dengan penuh keberanian.

Viona mengangkat pergelangan tangannya ke arah mulutnya sendiri. Pendar emas itu menembus kulitnya, membentuk kepingan cahaya kecil yang padat dan panas. Ia tahu risiko apa yang akan ia tanggung.

"Vio, jangan!" teriak Riko yang baru saja dijatuhkan secara kasar oleh Julian karena kaget melihat tindakan Viona.

Viona menelan cahaya itu dengan satu gerakan mantap.

Seketika, seluruh jam di ruangan bawah tanah itu berdetak dalam kecepatan yang tidak masuk akal, lalu secara serempak semuanya meledak dalam hujan roda gigi dan kaca yang berkilauan. Dunia di sekeliling Viona meluruh menjadi warna putih yang membutakan segalanya.

Di tengah kehampaan cahaya putih yang membutakan, Viona mendengar suara Alfred yang berbisik sangat dekat di telinganya: "Selamat datang di hari kemarin yang tidak akan pernah berakhir, Viona. Kamu tahu apa yang harus kamu tulis di telapak tanganmu sekarang?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!