Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamatan Berdarah
Tapi Leonardo tidak langsung membawaku pulang.
Di tengah perjalanan, ponselnya berdering.
Dia mengangkat dengan satu tangan sambil tetap menyetir.
"Apa?" tanyanya dengan nada tajam.
Suara Marco terdengar dari speaker. Panik.
"Don, ada masalah besar. Viktor Kozlov datang."
Leonardo mengerem mendadak. Mobil berhenti di bahu jalan.
"Apa maksudmu Viktor datang?" tanyanya dengan nada berbahaya.
"Dia datang dengan lima puluh orang tambahan," jelas Marco dengan napas berat. "Mereka datang dari arah berlawanan saat kita lagi di gudang Damian. Dan mereka... mereka ambil Nyonya."
Dunia terasa berhenti.
"APA?!" teriak Leonardo. "BAGAIMANA BISA?! NADIRA ADA DI MOBILKU!"
Hening sejenak.
Lalu aku sadar sesuatu.
Aku meraih belakang leherku lagi. Meraba chip itu.
Tapi terasa aneh. Terlalu menonjol. Seperti...
Aku tarik dengan paksa. Sakit. Tapi keluar.
Di tanganku ada chip kecil berlumuran darah.
Tapi ini bukan dari tubuhku.
Ini ditempelkan dari luar. Di kulit. Bukan ditanam di bawah kulit.
"Mereka... mereka tipu kita," bisikku dengan suara gemetar.
Leonardo menatapku. Lalu menatap chip di tanganku.
Wajahnya berubah. Dari marah jadi... mengerikan.
"ANDREY!" teriaknya ke ponsel. "LACAK SINYAL GPS YANG ASLI! YANG DITANAM DI TUBUH NADIRA! SEKARANG!"
Suara ketikan cepat terdengar dari seberang.
"Ketemu," jawab Andrey lewat suara robot. "Sinyal bergerak ke selatan. Menuju... menuju markas lama kita di distrik pelabuhan."
Markas lama. Tempat yang sudah ditinggalkan RED ASHES setahun lalu tapi masih punya ruang bawah tanah yang berfungsi.
"Sialan," umpat Leonardo. "Viktor tahu tentang tempat itu. Dia dulu pernah kesana untuk pertemuan."
Dia menatapku. Mata nya menyipit.
"Kalau kau bukan Nadira," ucapnya dengan nada sangat dingin. "Lalu siapa kau?"
Aku baru sadar.
Orang di sampingnya bukan aku.
Aku masih di van. Masih diculik.
Yang di samping Leonardo adalah... umpan.
"Aku... aku cuma disuruh duduk di sini..." ucap suara perempuan itu dengan aksen Rusia. "Mereka bayar aku... bilang cuma duduk diam dan jangan bicara..."
DOOORR!
Leonardo menembak langsung ke kepalanya.
Darah dan otak menyembur ke jendela.
Tubuh perempuan itu jatuh ke samping.
Leonardo keluar dari mobil. Membuka pintu penumpang. Menyeret mayat itu keluar dan membuangnya ke parit.
Lalu dia masuk lagi. Menelepon Marco.
"Kumpulkan semua yang masih bisa jalan," perintahnya dengan suara gemetar menahan amarah. "Kita ke markas lama. Sekarang. Dan kali ini aku tidak mau ada yang tersisa. Bunuh semua. SEMUA."
Dia menutup telepon. Lalu memukul setir berkali-kali sambil berteriak.
"SIALAN! SIALAN! SIALAN!"
Sementara itu, aku terbangun dengan kepala berdenyut sakit.
Pandangan kabur. Bau lembab dan besi berkarat menyerang hidung.
Aku coba gerakkan tangan tapi tidak bisa.
Terikat.
Terikat di kursi besi di ruang bawah tanah yang gelap.
Hanya ada satu lampu redup yang menggantung di atas kepalaku.
"Akhirnya bangun juga."
Suara itu membuat aku tersentak.
Dari bayangan muncul seorang pria tinggi besar. Rambut pirang pendek. Mata biru yang dingin. Bekas luka panjang dari dahi sampai pipi kiri.
Viktor Kozlov.
Bos mafia Ukraina yang aku pernah lihat di pesta waktu itu.
"Nyonya Valerio yang cantik," ucapnya sambil berjalan mengelilingiku. "Akhirnya kita bertemu dalam situasi yang lebih... pribadi."
"Dimana... dimana aku..." suaraku serak.
"Di neraka kecilmu sendiri," jawabnya sambil tertawa. "Atau lebih tepatnya, di ruang bawah tanah markas lama RED ASHES. Tempat yang dulu sering dipakai Leonardo untuk siksa musuh-musuhnya."
Dia berhenti di depanku. Berjongkok sampai mata kami sejajar.
"Dan sekarang tempat ini akan dipakai untuk siksa harta paling berharganya," bisiknya dengan senyum kejam.
"Leonardo... Leonardo akan datang..." bisikku sambil gemetar.
"Oh aku harap dia datang," balas Viktor sambil berdiri. "Aku sudah siapkan pesta penyambutan yang sangat spesial."
Dia memberi isyarat.
Dari sudut ruangan muncul puluhan orang. Semua bersenjata lengkap. Mengenakan rompi anti peluru. Helm tempur.
Ini bukan anak buah biasa.
Ini tentara bayaran profesional.
"Aku belajar dari kesalahan Damian," jelas Viktor sambil berjalan ke meja di sudut. Mengambil pistol dan memeriksanya. "Dia terlalu percaya diri. Pikir Leonardo akan datang dengan amarah buta dan ceroboh."
Dia memasang silencer ke pistolnya.
"Tapi aku tahu Leonardo lebih baik dari itu," lanjutnya. "Dia memang psikopat. Tapi dia psikopat yang cerdas. Jadi aku siapkan jebakan yang lebih... mematikan."
Dia berjalan kembali ke depanku. Menodongkan pistol ke kepalaku.
"Dan kau, sayang, adalah umpan nya."
Aku menutup mata. Bersiap untuk tembakan.
Tapi yang datang hanya suara tawa Viktor.
"Belum," ucapnya sambil menurunkan pistolnya. "Belum waktunya kau mati. Aku mau Leonardo lihat dulu. Aku mau dia lihat kau sebelum aku meledakkan otakmu di depan matanya."
Tiga puluh menit kemudian, suara ledakan terdengar dari atas.
BOOOM!
Gedung bergetar. Debu jatuh dari langit-langit.
Viktor tersenyum. "Dia datang."
Suara tembakan mulai terdengar. Semakin keras. Semakin dekat.
TAR TAR TAR TAR!
DOOOR DOOOR DOOOR!
Teriakan. Ledakan lagi.
Lalu hening.
Hening yang mencekam.
Pintu besi bawah tanah terbuka perlahan dengan bunyi berderit.
Dan Leonardo masuk.
Berlumuran darah dari kepala sampai kaki. Tapi tidak ada luka di tubuhnya. Semua darah orang lain.
Di belakangnya Marco dengan katana yang masih menetes darah.
Dan Andrey dengan laptop di satu tangan dan pistol di tangan lainnya.
Leonardo berhenti saat melihatku.
Mata nya melebar. Lalu menyipit penuh amarah saat melihat Viktor menodongkan pistol ke kepalaku.
"Viktor," ucapnya dengan suara rendah yang sangat berbahaya. "Turunkan senjatamu."
"Atau apa?" balas Viktor sambil menekan pistol lebih keras ke kepalaku. "Kau akan tembak aku? Tembak aku dan peluru otomatis keluar dari pistol ku ke kepala istrimu."
Leonardo berhenti melangkah. Mengangkat kedua tangannya dengan pistol masih di genggaman.
"Apa yang kau mau?" tanyanya dengan nada lebih tenang. Terlalu tenang.
"Aku mau kau mati," jawab Viktor. "Tapi sebelum itu, aku mau kau rasakan kehilangan seperti yang aku rasakan dua tahun lalu saat kau bunuh istriku."
Leonardo mengerutkan kening. "Istrimu bunuh diri. Dia loncat dari balkon."
"KARENA KAU!" teriak Viktor. Pistol nya bergetar di kepalaku. "Karena kau ancam bunuh anakku kalau dia tidak kasih informasi tentang operasi ku! Kau buat dia stress sampai gila! Kau yang bunuh dia!"
"Dia yang memilih lompat," balas Leonardo dengan nada datar. "Aku tidak dorong dia."
"KAU MONSTER!" Viktor mencekik leherku dengan tangan kiri sambil pistol masih di tangan kanan menempel ke kepalaku. "Dan sekarang aku akan ambil monster kesayanganmu! Aku akan bunuh dia pelan-pelan di depan matamu!"
Dia menarik pelatuk sedikit.
Klik pertama terdengar.
Leonardo tidak bergerak. Tapi aku bisa lihat sesuatu berubah di matanya.
Dari amarah jadi... kosong.
Kosong yang sangat menakutkan.
"Marco," ucapnya dengan bisikan. "Kiri."
Marco langsung bergerak.
Dengan kecepatan yang tidak manusiawi, dia melempar katananya.
SWOOOSH!
Katana melayang memutar di udara.
CRASHHH!
Menghantam tangan kanan Viktor.
Pistol terlempar. Tangan Viktor terpotong setengah. Darah menyembur.
Viktor berteriak kesakitan.
Dan dalam detik yang sama, Leonardo sudah ada di depannya.
BRAK!
Pukulan keras ke wajah Viktor. Tulang hidung hancur.
Viktor terjatuh ke belakang.
Marco sudah ada di sana. Mengangkat katana nya yang sudah dia ambil lagi.
"Jangan!" teriak Leonardo. "Dia milikku!"
Marco mundur.
Leonardo menarik Viktor dari lantai. Melemparnya ke dinding dengan keras.
BRAKK!
Viktor membentur dinding beton. Tulang rusuknya pasti retak.
Leonardo berjalan mendekat dengan langkah pelan. Seperti predator yang mendekati mangsa yang sudah terluka.
"Kau mau bunuh istriku," ucapnya sambil menginjak tangan Viktor yang masih utuh. "Kau mau buat aku rasakan kehilangan."
Dia menginjak lebih keras. Bunyi tulang retak terdengar.
Viktor berteriak.
"Tapi kau salah," lanjut Leonardo sambil berjongkok. "Karena aku tidak akan biarkan kau bunuh dia. Dan sekarang... sekarang aku akan buat kau rasakan neraka sebelum kau mati."
Dia mengambil pisau dari ikat pinggangnya.
Lalu mulai memotong.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Jari demi jari Viktor dipotong dengan presisi bedah.
Teriakan Viktor memenuhi ruang bawah tanah.
Tapi Leonardo tidak peduli. Wajahnya datar. Seperti sedang melakukan pekerjaan rutin.
Setelah semua jari tangan kanan habis, dia beralih ke jari kaki.
Darah menggenang di lantai.
Viktor sudah tidak berteriak lagi. Hanya mengerang lemah.
"Cukup..." bisikku dengan suara gemetar. "Kumohon... cukup..."
Leonardo berhenti. Menoleh ke arahku.
"Cukup?" ulangnya. "Dia mau bunuh kau dan kau bilang cukup?"
"Aku... aku tidak tahan lihat ini lagi..." air mataku jatuh. "Kumohon hentikan..."
Leonardo menatapku lama.
Lalu dia berdiri. Berjalan ke Marco.
Mengambil katana dari tangannya.
Berjalan kembali ke Viktor yang sudah setengah mati.
"Kau beruntung istriku punya hati yang lebih lembut dariku," ucapnya.
Lalu dengan satu ayunan cepat...
SRASSHH!
Kepala Viktor terpenggal bersih dari tubuhnya.
Menggelinding di lantai berlumuran darah.
Aku berteriak. Tidak bisa tahan lagi.
Leonardo membuang katana. Berjalan ke arahku.
Memotong tali yang mengikatku.
Aku langsung jatuh ke pelukannya sambil menangis sejadi-jadinya.
"Sudah selesai," bisiknya sambil mengusap rambutku. "Sudah aman. Tidak ada lagi yang akan ganggu kita."
Tapi aku tidak merasa aman.
Aku merasa hancur.
Hancur total.
Melihat begitu banyak pembunuhan. Begitu banyak darah. Begitu banyak kekerasan.
Dan yang paling mengerikan...
Semua itu dilakukan oleh orang yang bilang dia mencintaiku.
"Ayo pulang," ucap Leonardo sambil mengangkatku dalam gendongannya.
Marco dan Andrey sudah membersihkan jalan keluar. Membuang mayat-mayat yang menghalangi.
Kami keluar dari gedung yang sudah jadi rumah penyiksaan.
Udara luar terasa dingin. Tapi tidak cukup dingin untuk hilangkan rasa mual di perutku.
Leonardo membawaku ke mobil. Meletakkanku dengan lembut di kursi penumpang.
"Kau aman sekarang," ucapnya lagi sambil mengencangkan sabuk pengamanku. "Aku janji tidak akan ada lagi yang ganggu kita. Semua musuh sudah mati. Damian di penjara ku. Viktor sudah mati. Dan siapapun yang masih punya pikiran untuk sentuh kau... mereka akan pikir dua kali setelah lihat apa yang terjadi hari ini."
Dia mencium keningku dengan lembut.
Tapi aku tidak merasakan kehangatan.
Hanya dingin.
Dingin yang meresap sampai ke tulang.
Karena aku tahu sekarang.
Tidak akan pernah ada jalan keluar.
Selama Leonardo hidup, aku akan selamanya jadi miliknya.
Dan dia akan bunuh siapapun yang coba ambil aku.
Bahkan kalau itu artinya dia harus bunuh seluruh dunia.
Karena di mata Leonardo Valerio...
Aku bukan manusia yang harus dilindungi.
Aku harta benda yang harus dijaga dengan harga apapun.
Bahkan dengan lautan darah.