NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tak Terduga

Pewaris Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Percintaan Konglomerat / Konflik etika / CEO Amnesia
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Her midda

Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Malam ini Nyonya Tina sengaja mengundang anak-anaknya untuk makan malam bersama di kediaman Pradikta. Kediaman Pradikta kembali terang oleh cahaya lampu kristal yang menggantung megah di ruang makan utama.

Nyonya Tina berdiri di ujung meja panjang, senyumnya hangat namun menyimpan harap yang dalam. Undangan makan malam ini bukan sekadar jamuan---melainkan upayanya untuk merajut kembali kepingan keluarga yang lama tercerai oleh ambisi dan luka lama.

Satu per satu tamu hadir. Gibran datang bersama Rangga, langkahnya tenang, sikapnya dewasa. Karlina menyusul, anggun seperti biasa. Arya hadir dengan istrinya, wajahnya datar. Zane datang terakhir, dengan aura dingin yang selalu melekat padanya.

Saat semua telah duduk, Nyonya Tina memandang mereka satu per satu.

“Terima kasih sudah datang,” ucapnya lembut. “Aku hanya ingin kita makan bersama. Seperti dulu.”

Makan malam pun dimulai. Peralatan makan beradu pelan, obrolan ringan terdengar---tentang bisnis, cuaca, dan hal-hal kecil yang aman dibicarakan. Dari luar, segalanya tampak berjalan lancar.

Namun di balik senyum dan nada sopan, aura tegang masih terasa jelas.

Tatapan Arya sesekali beradu dengan Gibran---tajam, penuh dendam. Zane memperhatikan dari balik gelas minumnya, membaca setiap gerak dengan sikap dingin. Karlina berusaha mencairkan suasana, sementara istri Arya memilih diam, menyadari medan yang tak ramah.

Meski begitu, Gibran dan Arya sama-sama menahan diri.

Tak ada sindiran. Tak ada kalimat bernada tantangan. Mereka berbicara seperlunya, saling menghormati sebagai mana Kakak berdik. Bukan karena persaingan mereka telah usai---melainkan karena satu alasan yang sama. Mereka tidak ingin membuat Nyonya Tina sedih.

Beberapa kali Nyonya Tina tersenyum lega, mengira suasana ini adalah awal yang baik. Ia tak tahu, di balik meja makan yang rapi dan hidangan mewah itu, konflik lama masih berdenyut pelan---menunggu waktu yang tepat untuk kembali menyala.

Namun malam itu, setidaknya untuk sesaat, keluarga Pradikta duduk bersama. Bukan sebagai musuh. Bukan sebagai pemenang atau pecundang. Melainkan sebagai keluarga yang berusaha terlihat utuh, demi seorang ibu yang hanya ingin melihat anak-anaknya berdamai dan akur.

********

Setelah makan malam berakhir, suasana di kediaman Pradikta sedikit mencair. Di ruang tamu, Nyonya Tina duduk di sofa utama, dikelilingi Karlina, Arya, istrinya, dan Rangga. Tawa kecil sesekali terdengar, terutama ketika Rangga melontarkan cerita ringan yang sengaja ia pilih agar suasana tetap hangat.

“Kau ini memang selalu bisa mencairkan suasana,” ujar Nyonya Tina sambil menepuk punggung tangan Rangga lembut. “Entah kenapa, dari dulu aku sudah menganggapmu seperti anak sendiri.”

Rangga tersenyum sungkan. “Terima kasih, Nyonya. Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan.”

Arya melirik sekilas, wajahnya tetap datar. Karlina mengangguk kecil, sementara istri Arya memilih mengamati tanpa ikut banyak bicara.

Meski posisi Rangga di kantor hanyalah sekretaris, di mata Nyonya Tina, kedekatan dan kesetiaannya menempatkan pria itu pada posisi yang tak bisa diremehkan.

Sementara itu, di sisi lain rumah, Gibran melangkah menuju taman samping. Udara malam terasa sejuk, dedaunan basah oleh sisa hujan sore. Ia berdiri di dekat kolam kecil, menatap pantulan lampu taman di permukaan air. Di tempat itu, untuk pertama kalinya malam itu, ia bisa menarik napas tanpa harus menjaga ekspresi. Namun ketenangan itu tak bertahan lama.

“Sendirian saja?” suara Zane terdengar dari belakang, sarkastis seperti biasa.

Gibran menoleh tanpa minat.

Zane berdiri dengan tangan di saku celana, jasnya masih rapi, sorot matanya tajam dan penuh rasa ingin tahu yang dibungkus keangkuhan.“Pantas,” lanjut Zane sambil melangkah mendekat. “Ruang tamu terlalu sesak untuk seorang pewaris yang baru kembali ke tahta, ya?”

Gibran tersenyum tipis. “Aku hanya ingin udara segar.”

Zane terkekeh kecil. “Atau kau butuh waktu untuk menyesuaikan diri? Bertemu keluarga yang dulu dengan mudah menggantikan posisimu bukan hal yang menyenangkan, kan?”

Nada suaranya jelas usil, bermulut pedas, seolah sengaja memancing emosinya. Namun Gibran tetap tenang, menatap Zane tanpa emosi berlebih.

“Kalau kau datang hanya untuk memancing keributan,” ujar Gibran datar, “kau salah tempat.”

Zane menyeringai, matanya menyipit.

“Tenang saja. Aku hanya penasaran,” katanya pelan. “Seberapa kuat kau sekarang, Gibran Pradikta.”

Angin malam berembus pelan, membawa aroma tanah basah. Dua pria itu berdiri saling berhadapan di taman yang tampak damai---kontras dengan ketegangan tak kasatmata yang mulai mengeras di antara mereka.

Zane terkekeh pelan. Senyum miring di wajahnya, penuh niat yang sama sekali tidak baik.“Kau tahu,” ucapnya santai, “gadis pengantar makanan itu.”

Gibran menoleh perlahan. Tatapannya berubah, tipis namun tajam. Ia tahu siapa yang dimaksud Zane---dan Zane tahu betul itu.

Zane melanjutkan, jelas menikmati perhatiannya.“Asisten pesuruhku. Nadia.” Ia menyebut nama itu dengan nada sengaja diperlambat. “Sore tadi hujan deras. Kasihan juga, dia cuma bawa motor rongsokan.”

Ia terkekeh lagi, ekspresinya menyebalkan, seolah cerita itu hiburan yang sangat menarik.“Akhirnya aku antar pulang. Rumahnya… yah,” Zane mengedikkan bahu, “cukup membuatku terkejut.”

Jari Gibran mengepal tanpa sadar. Namun wajahnya tetap tenang, tak menunjukkan emosi apa pun.

“Kau sengaja bercerita?” tanya Gibran datar.

Zane meliriknya sekilas, senyumnya makin lebar.“Tentu saja. Kupikir kau perlu tahu.” Ia mendekat satu langkah. “Gadis itu penurut, Gibran. Terlalu penurut. Meski disuruh apa saja, dia tetap menurut. Bahkan ketika jelas-jelas kelelahan.”

Nada suaranya ringan, tapi setiap kata terasa seperti provokasi.“Dan kau tahu apa yang paling menarik?” lanjut Zane. “Dia tetap mengucapkan terima kasih. Bahkan setelah aku memperlakukannya seenaknya.”

Udara di taman terasa lebih dingin. Gibran menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras.“Jangan libatkan Nadia dalam permainanmu,” ucapnya pelan, namun tegas.

Zane tertawa kecil.“Permainan?” Ia menggeleng. “Aku hanya menceritakan fakta. Lagipula, sejak kapan kau peduli pada gadis pengantar makanan?”

Pertanyaan itu menggantung, tepat sasaran. Gibran akhirnya menoleh, menatap Zane dengan sorot mata yang jauh lebih gelap dari sebelumnya.

“Sejak aku tahu,” katanya dingin, “tidak semua orang pantas diperlakukan seenaknya."

Zane menyandarkan tubuhnya santai, sudut bibirnya terangkat miring--senyum khas yang selalu membuat orang ingin meninju wajahnya.

“Aku penasaran,” ucapnya akhirnya, nada suaranya sengaja dibuat meremehkan. “Apa gadis sesederhana Nadia itu tahu… asal usulmu?”

Gibran menegang. Rahangnya mengeras, namun ia memilih diam.

Zane terkekeh pelan, lalu melanjutkan dengan nada angkuh dan menyebalkan. “Bahwa kau sebenarnya berasal dari keluarga konglomerat? Bahwa kau adalah CEO perusahaan Pradikta?” Ia menggeleng pelan, seolah jawaban itu sudah jelas baginya. “Aku yakin tidak. Gadis itu terlalu polos untuk dunia sepertimu.”

Ia melangkah mendekat, menajamkan pandangan. “Aku bisa membacanya, Gibran. Cara kau bicara padanya, cara kau menjaga jarak… itu bukan sikap orang yang jujur. Kau menyembunyikan sesuatu darinya.”

Gibran akhirnya menoleh, menatap Zane dengan dingin. Namun Zane justru tersenyum lebih lebar, puas.

“Tenang saja,” katanya ringan, namun sarat ancaman. “Rahasiamu aman… untuk sementara. Tapi aku jadi bertanya-tanya--apa yang akan terjadi kalau suatu hari Nadia tahu siapa dirimu sebenarnya?”

“Jangan mencampuri urusanku, Zane,” ucapnya tajam. “Nadia tidak ada urusan dengan kita.”

Zane tertawa kecil, seolah ucapan itu hanya lelucon. “Oh ya? Menarik sekali,” sahutnya santai. “Kalau memang tidak ada urusan, kenapa kau terlihat terganggu?”

Gibran melangkah maju satu langkah. Aura tenangnya berubah menjadi tekanan. “Aku serius. Apa pun yang terjadi antara aku dan Nadia bukan bagian dari permainanmu. Jangan libatkan dia.”

Senyum Zane perlahan memudar, digantikan kilatan licik di matanya. “Permainan?” ia mengulang pelan. “Gibran, kau tahu sendiri… dalam dunia kita, tidak ada yang benar-benar di luar permainan.”Ia menepuk bahu Gibran dengan ringan, namun sarat makna. “Justru karena Nadia tidak tahu apa-apa, dia bisa menjadi titik terlemahmu.”

Tangan Gibran mengepal. “Sentuh dia,” katanya dingin, “dan kau akan berurusan denganku. Bukan sebagai keluarga. Bukan sebagai rival. Tapi sebagai musuh.”

Untuk sesaat, udara di antara mereka terasa menegang. Zane menatap Gibran lama, lalu terkekeh pelan.“Tenang saja,” ujarnya sambil melangkah pergi. “Aku hanya… penasaran. Tapi kau tahu aku---rasa penasaran sering kali membuatku ingin membuktikan sesuatu.”

Gibran menatap punggung Zane yang menjauh, perasaan tak nyaman mengendap di dadanya. Untuk pertama kalinya, ia sadar, melindungi rahasianya berarti melindungi Nadia dari badai yang mungkin akan datang.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!