Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.
Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.
Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Kiara baru saja kembali setelah mengantar ibunya ke parkiran rumah sakit. Ia memaksa sang ibu pulang lebih dulu, ibunya butuh istirahat, dan untuk malam ini, ia akan menjaga papanya bersama Alvar.
Saat Kiara melangkah masuk ke ruang rawat, suasananya sunyi, lampu redup, suara alat medis berdetak pelan. Papanya sudah tertidur, napasnya teratur, wajahnya tampak lebih tenang.
Pandangan Kiara kemudian jatuh ke sudut ruangan.
Alvar tertidur di sofa, tubuhnya sedikit miring, jaket masih melekat, wajahnya terlihat lelah. Perjalanan panjang dari desa ke Jakarta jelas menguras tenaganya. Dadanya naik turun pelan, alisnya sedikit berkerut seolah bahkan dalam tidur pun pikirannya belum benar-benar tenang.
Kiara berdiri beberapa detik, menatap pria itu tanpa sadar. Lalu ia mengambil selimut yang dibawanya dari rumah. Dengan langkah hati-hati, Kiara mendekat dan perlahan menyelimuti tubuh Alvar, berusaha tak menimbulkan suara sedikit pun. Tangannya merapikan selimut di dada Alvar.
Namun, saat ia merapikan ujung selimut di dada Alvar dan wajahnya begitu dekat mata itu tiba-tiba terbuka. Kiara terkejut, refleks ia mundur setengah langkah, napasnya tertahan.
Alvar menatapnya dalam diam beberapa detik. Matanya masih berat oleh kantuk, tapi sorotnya lembut.
“Maaf,” ucap Kiara pelan, hampir berbisik. “Aku … cuma mau nyelimutin.”
Alvar tak langsung menjawab. Ia justru menggeser tubuhnya sedikit, lalu duduk perlahan.
“Terima kasih,” katanya lirih.
“Aku ketiduran.”
Kiara mengangguk singkat, berusaha menjaga jarak.
“Papa aku sudah tidur, Mama juga sudah pulang.”
Alvar mengangguk. “Kamu capek.”
Bukan pertanyaan, sebuah pernyataan. Kiara hendak membalas, tapi tatapan Alvar membuatnya kehilangan kata.
“Aku nggak bermaksud…” Alvar berhenti sejenak, menurunkan suara.
“Kalau kehadiranku bikin kamu nggak nyaman, aku bisa keluar sebentar.”
Kiara menggeleng kecil.
“Nggak perlu. Kamu … boleh di sini.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat Alvar terdiam. Kiara melangkah menjauh ke sisi ranjang papanya, duduk pelan. Namun, sebelum benar-benar membalikkan badan, ia berkata lirih tanpa menatap Alvar,
“Terima kasih sudah mau menemani.”
Alvar tersenyum tipis, beberapa saat berlalu dia melihat Kiara duduk sambil menahan kantuk, kepalanya sesekali tertunduk lalu terangkat lagi dan Alvar bangun dari sofa. Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Kiara.
“Tidurlah, Kiara,” ucapnya pelan namun tegas. “Biar aku yang jaga Papa. Aku tahu kamu capek. Kamu butuh istirahat.”
Kiara menggeleng kecil. “Aku nggak apa-apa—”
“Kiara,” potong Alvar lembut tapi tak memberi celah.
“Kalau kamu nggak bangun sekarang, aku angkat kamu ke sofa.”
Ancaman itu membuat Kiara mendesah. Akhirnya ia berdiri juga, melangkah pelan menuju sofa. Alvar menggeser posisi, memastikan selimut rapi, lalu menatapnya dengan sorot serius yang hangat.
“Tidur,” katanya lagi.
“Bukan bengong sambil merhatiin aku dari jauh.”
Wajah Kiara memanas, dia cepat-cepat berbaring, membelakangi Alvar, menarik selimut sampai ke bahu. Punggungnya menghadap Alvar, tapi detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya.
Alvar tersenyum tipis melihat itu. Ia kembali duduk di kursi dekat ranjang Papa Kiara, menjaga dengan tenang. Di antara bunyi pelan alat medis dan napas orang-orang terkasih yang tertidur, malam itu berjalan perlahan, hangat, canggung, dan penuh perasaan yang belum sepenuhnya terucap.
Keesokan paginya, Kiara terbangun dengan kepala terasa ringan, tidurnya semalam terlalu nyenyak sampai ia sempat panik mengingat belum sempat mengecek kondisi papanya. Ia segera duduk, matanya masih setengah terpejam.
Namun, langkahnya terhenti dari balik tirai yang sedikit terbuka, Kiara melihat pemandangan yang membuat dadanya menghangat. Alvar berdiri di sisi ranjang, membantu Papa Kiara sarapan. Seorang suster baru saja mengantar nampan makanan, lalu pamit setelah memastikan semuanya siap. Alvar dengan sabar menyuapkan, sesekali mencondongkan tubuh agar papanya lebih nyaman, gerakannya tenang dan penuh hormat.
“Pelan-pelan, Pa,” suara Alvar terdengar rendah dan sopan.
“Masih panas.”
Rahmat tersenyum kecil, mengangguk patuh seperti anak kecil yang dinasehati.
Kiara berdiri diam, menyaksikan itu tanpa ingin mengganggu. Senyum tipis terbit di bibirnya, hangat dan jujur. Dalam hati, ia mengakui satu hal yang sejak dulu tak pernah berubah, Alvar memang selalu menghargai orang tua. Bukan dibuat-buat, bukan karena ingin dipuji, melainkan lahir dari kebiasaan dan hati yang tulus.
Pintu ruangan itu terbuka tepat saat Kiara hendak melangkah mendekat.
Kiara refleks menoleh, mengira ibunya yang kembali. Namun, dugaannya buyar ketika sosok Darius berdiri di ambang pintu, rapi dengan kemeja kerjanya, satu tangan membawa paper bag berisi makanan.
“Oh, ternyata Mas Alvar juga di sini,” sapa Darius santai, matanya langsung menangkap keberadaan Alvar di sisi ranjang Tuan Rahmat.
'Kalau nggak di sini terus aku harus di mana?' batin Alvar kesal, menatap Darius dengan tajam.
Alvar kembali menoleh, tatapan keduanya sempat bertemu, singkat, datar, tapi sarat sesuatu yang tak terucap.
Kiara melangkah mendekat ke arah Darius.
“Mas Darius...”
“Saya bawain sarapan,” jawab pria itu sambil tersenyum kecil.
“Tadi mau ke kantor, kepikiran kamu masih di rumah sakit. Takut kamu belum makan.” Ucapan itu terdengar sederhana. Namun, entah kenapa, rahang Alvar mengeras.
Tangannya mengepal pelan di sisi tubuh. Ada rasa panas yang naik ke dadanya dan asing, tak nyaman, dan jelas bernama cemburu. Tapi Alvar hanya bisa diam. Ia sadar, di ruangan ini ada ayah mertuanya. Ia tak punya hak untuk menunjukkan apa pun.
Rahmat tersenyum ramah.
“Wah, perhatian sekali. Terima kasih, Pak Darius.”
“Tidak apa-apa, Pak,” jawab Darius ringan.
Kiara menerima paper bag itu, lalu tanpa sadar melirik ke arah Alvar. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik. Kiara menangkap sesuatu di mata Alvar, bukan marah, bukan dingin, tapi ketegangan yang ditahan mati-matian.
Alvar mengalihkan pandangan lebih dulu, dia melirik makanan yang juga sudah dia beli di bawah untuk Kiara, makanan itu ada di nakas samping ranjang Rahmat.
outhor nih selalu aja g suka liat alvar seneng