Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karyawan Tetap dan Martabak Spesial
Matahari siang bersinar terik di luar jendela kaca NVT Tower, seolah ikut merayakan kemenangan kebenaran. Di dalam ruang rapat yang kini hening dan damai, Adi kembali duduk di kursinya, sementara Sifa masih duduk di hadapannya, memainkan jemarinya gugup.
"Sifa," panggil Adi, nadanya resmi namun hangat. Dia membuka sebuah map merah berlogo NVT. "Saya punya sesuatu buat kamu. Sebagai permintaan maaf dari perusahaan, dan sebagai apresiasi atas dedikasi kamu."
Adi menyodorkan map itu.
Sifa membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya, tertera Surat Keputusan (SK) dengan kop surat emas.
SURAT PENGANGKATAN KARYAWAN TETAP
Nama: Sifa Adistia
Posisi Baru: Asisten Manajer Operasional Logistik
Gaji Pokok: [Nominal yang membuat mata Sifa melotot]
"A-Asisten Manajer?" Sifa tergagap, hampir menjatuhkan map itu. "Mas Adi... ini nggak salah ketik? Sifa kan baru lulus SMA? Sifa cuma anak magang?"
Adi tersenyum, menggeleng. "Di NVT, kita tidak melihat ijazah semata, Sifa. Kita melihat skill, integritas, dan problem solving. Kamu membuktikan kamu punya ketiganya. Kamu menemukan arsip yang hilang, kamu menghadapi krisis keracunan dengan berani, dan... yah, kamu punya 'asisten digital' yang sangat efisien."
Adi melirik jam tangan Sifa sambil tersenyum penuh arti. Dia tahu rahasia kecil itu, meski tidak pernah mengatakannya secara gamblang.
"Tuh, kan. Gue bilang juga apa. Potensi karir lo: Meroket," komentar Chrono bangga.
"Dan ini," Adi menyodorkan sebuah amplop tebal. "Bonus khusus dari dana operasional CEO. Buat ganti kerugian moril kamu selama ditahan kemarin, dan... buat beli motor yang uang tabungannya kamu pake bayar rentenir."
Sifa membuka amplop itu sedikit. Isinya gepokan uang merah yang tebal. Cukup untuk beli motor baru, nebus ijazah, dan modalin Ibu usaha jahitan.
Air mata Sifa menetes. Bukan air mata sedih, tapi air mata syukur yang meluap-luap.
"Mas Adi... makasih banyak..." isak Sifa. "Sifa nggak tau harus bales pake apa..."
"Bales pake kerja yang bener. Dan tetep bawain saya nasi goreng tiap hari," canda Adi, menyodorkan tisu.
Sore harinya.
Mobil sport Adi berhenti mulus di depan mulut Gang Senggol. Kehadiran mobil mewah itu langsung memancing perhatian tetangga. Anak-anak kecil berkumpul menonton, ibu-ibu mengintip dari balik gorden.
"Mas Adi beneran mau mampir? Rumah Sifa jelek lho, Mas. Sempit," Sifa mengingatkan lagi, sedikit minder.
"Rumah itu bukan soal luas bangunannya, Sifa. Tapi siapa yang tinggal di dalamnya," jawab Adi santai, mematikan mesin mobil. Dia keluar, menenteng dua kantong kresek besar.
"Itu apa, Mas?"
"Martabak manis spesial keju cokelat. Sama buah-buahan buat Ibu kamu. Katanya lagi batuk kan? Pir bagus buat pereda batuk."
Hati Sifa meleleh. Adi mengingat detail kecil tentang ibunya.
Mereka berjalan masuk gang. Sifa di depan, Adi mengekor di belakang sambil menyapa ramah setiap tetangga yang lewat.
"Sore, Bu. Mari, Pak," sapa Adi sopan. Tidak ada raut jijik atau sombong di wajahnya meski sepatunya menginjak becekan gang.
Sampai di depan rumah Sifa. Pintu terbuka.
Ibu sedang duduk menjahit, wajahnya masih terlihat cemas sisa semalam. Begitu melihat Sifa muncul di pintu, Ibu langsung melempar kain jahitannya.
"Sifa!" seru Ibu, berlari memeluk putrinya erat-erat. "Alhamdulillah... kamu pulang, Nduk! Ibu khawatir banget! Kamu nggak apa-apa? Polisinya jahat nggak?"
"Sifa baik-baik aja, Bu. Semuanya udah beres. Sifa nggak bersalah," Sifa membalas pelukan ibunya, menenangkan. "Dan liat, Bu. Siapa yang Sifa bawa."
Ibu melepaskan pelukan, menoleh ke belakang Sifa.
Mata Ibu membelalak melihat pria tinggi, gagah, dan tampan yang berdiri sambil tersenyum sopan.
"Assalamualaikum, Bu," sapa Adi, langsung menunduk dan mencium tangan Ibu dengan takzim. Punggung tangan Ibu yang kasar dicium oleh bibir seorang CEO triliuner.
Ibu terpaku, bingung dan haru. "Waa... waalaikumsalam... Ini... ini Den Adi ya? Bosnya Sifa?"
"Panggil Adi saja, Bu. Saya temannya Sifa," jawab Adi rendah hati. "Maaf baru sempat main ke sini. Saya bawakan martabak kesukaan Ibu."
"Ya Allah... repot-repot amat, Den... eh, Nak Adi. Masuk, masuk. Maaf rumahnya berantakan, panas," Ibu buru-buru mempersilakan masuk, menyeka kursi plastik dengan ujung daster.
Mereka duduk bertiga di ruang tamu sempit itu. Adi duduk di kursi plastik, Sifa dan Ibu di tikar. Suasana canggung di awal perlahan mencair saat Adi dengan lahap memakan martabak dan memuji jahitan Ibu.
"Jahitan Ibu rapi sekali," puji Adi, memegang kemeja yang sedang dijahit Ibu. "Kalau Ibu mau, NVT butuh vendor seragam baru tahun depan. Saya bisa rekomendasikan Ibu."
Tangan Ibu gemetar saking senangnya. "Beneran, Nak Adi? Wah... Ibu seneng banget..."
Sifa menatap pemandangan itu dengan hati penuh. Mimpinya terwujud. Ibunya bahagia, karirnya aman, dan pria yang dia kagumi ternyata pria yang sangat membumi.
Setelah Maghrib, Adi pamit pulang.
"Saya pamit dulu ya, Bu. Besok Sifa harus kerja pagi, jabatan baru tanggung jawab baru," kata Adi.
"Iya, hati-hati ya Nak Adi. Makasih banyak udah jagain Sifa," mata Ibu berkaca-kaca.
Sifa mengantar Adi sampai ke depan mobil di ujung gang. Langit malam sudah gelap, dihiasi bintang-bintang yang jarang terlihat di Jakarta.
"Mas Adi..." panggil Sifa sebelum Adi masuk mobil.
"Ya?"
"Makasih ya. Buat semuanya. Buat hari ini. Buat Ibu."
Adi tersenyum, menyandarkan tubuhnya di pintu mobil. Dia menatap Sifa lekat-lekat.
"Sifa, dengerin saya," kata Adi serius. "Mulai sekarang, kamu nggak sendirian lagi. Ada saya. Ada Ibu. Dan ada..." Adi melirik jam tangan Sifa. "...teman kecil kamu itu."
Sifa tersenyum lebar. "Chrono, Mas."
"Ah, iya. Chrono. Salam buat dia. Bilang makasih udah bikin celana Pak Surya meledak. Itu hiburan terbaik tahun ini."
Sifa tertawa renyah. "Siap, Mas. Nanti disampein."
"Ya sudah. Masuk sana. Istirahat. Sampai ketemu besok di kantor, Bu Asisten Manajer," goda Adi.
"Siap, Pak CEO."
Adi masuk ke mobil, menyalakan mesin. Mobil sport itu melaju pelan meninggalkan gang, membawa pergi pangeran berkuda besi itu.
Sifa berdiri melambaikan tangan sampai lampu belakang mobil menghilang di tikungan.
Dia mengangkat pergelangan tangannya. Layar Chrono menyala biru lembut.
"Happy Ending unlocked," kata Chrono. "Status Misi: Selesai. Lo udah dapet kerjaan, duit, dan cowok idaman. Gue boleh pensiun nggak nih? Mau liburan virtual ke server Mars."
"Enak aja!" tolak Sifa sambil tertawa. "Perjalanan kita masih panjang, Chrono. Masih banyak petualangan seru nungguin kita. Kamu nggak bosen kan jadi temen aku?"
"Hmm. Sebenernya bosen sih denger curhatan lo tiap malem. Tapi... yah, siapa lagi yang mau ngerawat User ceroboh kayak lo kalau bukan gue?" jawab Chrono dengan nada tsundere (pura-pura cuek tapi sayang).
Sifa tersenyum, mencium layar jam tangannya sekilas.
"Makasih, Chrono. You are the best."
Sifa berbalik, berjalan pulang ke rumah kecilnya yang kini terasa sebesar istana. Di dalam saku celananya, ada kunci masa depan yang cerah. Dan di hatinya, ada keyakinan baru bahwa keajaiban itu nyata. Bukan karena sihir, tapi karena keberanian untuk menjadi diri sendiri.
Dan begitulah kisah Sifa, gadis biasa dengan jam tangan luar biasa, menutup babak pertamanya dengan sempurna.