NovelToon NovelToon
Kultivator Tinta Surgawi

Kultivator Tinta Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Coretan Pertama yang Membunuh

Udara di sekitar sumur tua itu mendadak berat, seolah oksigen telah digantikan oleh partikel abu yang menyesakkan. Jeritan Xiaolian bukan lagi suara manusia di telinga Guiren, itu adalah frekuensi tajam yang mengiris sisa-sisa kewarasannya.

Di balik kain penutup matanya, Visi Qi Guiren berdenyut liar. Dunia perak yang ia lihat tidak lagi menunjukkan pemandangan, melainkan peta anatomi yang mengerikan. Tiga siluet energi kuning di depannya memiliki titik-titik cahaya yang berpendar di persendian, leher, dan belakang telinga, titik-titik di mana kehidupan terikat pada daging.

"Tolong, lepaskan adikku… ," desis Guiren lagi.

Penjarah yang menindih Xiaolian menoleh, menyeringai meremehkan. "Kau masih ingin bermain sok pahlawan, orang buta? Kau bahkan tidak bisa melihat arah kencingmu sendiri."

Pria itu kembali fokus pada Xiaolian, tangannya yang kasar merobek ujung jubah adiknya. Suara kain terkoyak itu menjadi pelatuknya.

Guiren menerjang.

Ia tidak bergerak seperti seorang pendekar. Ia bergerak seperti binatang yang terluka, serampangan, penuh keputusasaan, dan buta. Penjarah kedua mencoba menghalaunya dengan tawa, namun Guiren merunduk, membiarkan bahunya dihantam, dan tangannya yang menggenggam kuas melesat maju.

Kuas itu tidak membelai kertas. Ia menusuk.

Melalui Visi Qi, Guiren melihat titik cahaya di pangkal tenggorokan pria itu. Ujung kuas kayu yang tumpul namun keras menghantam titik tersebut dengan seluruh berat tubuhnya.

Bukan suara bambu yang patah, melainkan tulang rawan yang hancur. Pria itu tidak berteriak, suaranya tertahan menjadi bunyi serak yang mengerikan saat ia mencoba menghirup udara yang tidak lagi bisa masuk. Cairan hangat nan kental dan berbau amis menyembur, membasahi wajah dan tangan Guiren.

Guiren gemetar. Ia tidak melepaskan kuasnya. Ia terus mendorong hingga tubuh pria itu tumbang ke tanah, kejang-kejang dengan mata melotot.

"Sial! Dia membunuh Li!" Penjarah ketiga menghunus parang, wajahnya pucat pasi melihat rekannya meregang nyawa oleh sebatang alat tulis.

Guiren tidak menunggu. Rasa mual yang hebat merayap di perutnya, tapi ia tahu jika ia berhenti sekarang, Xiaolian akan mati. Ia berputar, gerakannya kikuk karena rasa sakit di bahunya. Kali ini, ia melihat titik di balik telinga penjarah yang masih menindih Xiaolian.

Ia menusukkan kuas itu kembali. Kali ini tidak langsung tepat sasaran. Ujung kayu itu hanya merobek pipi dan telinga pria tersebut. Darah menyiram punggung tangan Guiren. Penjarah itu melolong kesakitan, melepaskan Xiaolian dan mencoba mencengkeram leher Guiren.

Mereka bergumul di tanah yang kotor. Bau keringat, kotoran, dan darah segar memenuhi indra penciuman Guiren. Penjarah itu jauh lebih kuat, jemarinya mencekik leher Guiren hingga pandangan Visi Qi-nya mulai berkedip-kedip gelap.

Dalam kegelapan yang hampir merenggut nyawanya, Guiren merasakan aliran "tinta" dingin di meridiannya mengalir deras ke ujung jemarinya. Dengan sisa tenaga, ia menghujamkan kuas kayu itu sekali lagi, berkali-kali, ke arah dada dan leher siluet di atasnya.

Suara itu kotor. Suara daging yang dikoyak secara paksa oleh kayu tumpul. Tubuh di atasnya mendadak lemas, memberikan beban mati yang menindih dadanya. Suara napas yang menggelegak pelan terdengar untuk beberapa detik sebelum akhirnya sunyi sepenuhnya setelah penjarah yang membawa parang lari ketakutan.

Guiren mendorong tubuh itu menjauh. Ia merangkak mundur, tangannya mencakar tanah, mencoba menjauh dari hawa panas mayat di depannya.

Ia tersungkur ke samping dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Cairan kuning dan pahit keluar, bercampur dengan isak tangis yang tidak bisa lagi ia tahan. Tubuhnya berguncang hebat. Ia bisa merasakan sisa darah yang mulai mendingin di wajahnya, mengeras seperti kerak tinta yang gagal.

"Kakak... ."

Suara itu lirih, bergetar, tapi nyata. Guiren tersentak. Rasa jijik pada dirinya sendiri sesaat tergeser oleh insting purba untuk melindungi. Ia meraba-raba ke depan, mengabaikan mayat di dekat kakinya.

"Lian’er? Kau terluka? Di mana yang sakit?" Tangan Guiren yang gemetar menyentuh bahu adiknya.

Xiaolian terduduk memeluk lutut. Pakaiannya robek di bagian bahu, memperlihatkan kulit yang memar. Wajahnya pucat pasi, matanya masih membelalak menatap mayat yang baru saja dibunuh kakaknya. Namun, saat merasakan tangan Guiren, ia tidak menjerit. Ia tidak mundur.

Xiaolian meraih tangan Guiren yang berlumuran darah. Ia tidak peduli pada amisnya.

"Aku... aku baik-baik saja," ucap Xiaolian, suaranya pecah namun dipaksa tegar. "Mereka... Ayah dan Ibu... mereka sudah tidak ada, Kak?"

Pertanyaan itu menghantam Guiren lebih keras dari pukulan fisik manapun. Ia menarik Xiaolian ke dalam pelukannya, mendekap kepala adiknya ke dadanya agar gadis itu tidak perlu melihat mayat-mayat itu lagi. Guiren melepas jubah luarnya sendiri yang kotor namun utuh, lalu menyelimutkannya ke tubuh Xiaolian yang gemetar.

"Maafkan aku... aku terlambat," bisik Guiren, suaranya serak. Ia memeriksa wajah adiknya dengan ujung jari, memastikan tidak ada luka fatal. "Ayah dan Ibu... kita harus melanjutkan perjuangan mereka... dengan bertahan hidup."

Xiaolian terisak di dada Guiren, tapi tangannya mencengkeram erat punggung baju kakaknya. Ia tidak histeris. Di usia enam belas tahun, dunia memaksanya menjadi dewasa dalam satu malam. Ia tahu jika ia hancur sekarang, kakaknya yang buta ini juga akan hancur bersamanya.

"Aku mengerti," ucap Xiaolian, menyentuh leher Guiren yang memar bekas cekikan. "Kita harus pergi. Orang yang lari tadi... dia bisa kembali membawa temannya."

Guiren mengangguk, menghapus sisa air mata dan darah di pipinya. Adiknya benar. Tidak ada waktu untuk meratapi moralitas yang hilang. Ia berdiri dengan goyah, lalu membantu Xiaolian bangkit.

Ia menuntun Xiaolian menuju sisa-sisa rumah keluarganya yang hanya tinggal kerangka kayu dan tumpukan barang yang setengah hancur. Ia mengambil sebuah obor kecil yang terjatuh dari tangan penjarah, apinya masih menyala redup di tanah.

"Kakak, apa yang akan kau lakukan?" tanya Xiaolian. Ia memegangi jubah Guiren di tubuhnya erat-erat.

Guiren tidak langsung menjawab. Ia "melihat" sisa-sisa rumah itu melalui energi merah api yang berkobar dalam visi batinnya. Di sana ada kenangan suara Ibu yang memanggilnya makan, ada aroma tembakau Ayah. Jika ia membiarkan ini tetap ada, ia akan selalu menoleh ke belakang.

"Rumah ini sudah mati bersama mereka, Lian-er," kata Guiren. Suaranya tidak lagi serak, melainkan dingin dan datar. "Kita tidak bisa meninggalkan jejak. Jika orang-orang itu kembali, mereka tidak boleh menemukan apa pun selain abu."

Ia melemparkan obor itu ke tumpukan jerami dan kayu kering di beranda.

Api menyambar dengan cepat, rakus melahap kayu tua yang kering. Panasnya menerpa wajah mereka. Guiren berdiri di sana, merasakan hawa panas itu membakar air mata terakhir yang tersisa di sudut matanya. Ia sedang membakar jembatan menuju kehidupan normalnya. Mulai detik ini, ia bukan lagi anak pelukis desa. Ia adalah pelarian. Ia adalah pembunuh.

Xiaolian menggenggam tangan Guiren. Genggamannya kuat, tidak lagi seperti anak kecil yang minta tuntunan, tapi seperti rekan yang saling menguatkan.

"Ke mana kita pergi?" tanya Xiaolian pelan, matanya memantulkan kobaran api yang menghanguskan masa lalu mereka.

Guiren berbalik, memunggungi api yang mulai membumbung tinggi. Di dalam sakunya, koin perak Paviliun Yama terasa dingin dan berat, sebuah kompas terkutuk yang menunjuk ke satu arah.

"Ke utara," jawab Guiren, langkahnya kini memiliki bobot baru. "Ke Kota Qing-He."

Malam itu, dua sosok berjalan menjauh dari cahaya kebakaran, ditelan oleh kegelapan hutan yang pekat, meninggalkan masa kanak-kanak mereka menjadi abu di belakang.

1
anggita
mampir ng👍like+iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!