"Kau pikir aku akan menyentuhmu? Aku lumpuh."
Ucapan dingin Elzian Drystan di malam pertama mereka langsung dibalas senyum miring oleh istrinya.
"Otot betis kencang, tidak ada atrofi, dan pupilmu melebar saat melihatku. Kau tidak lumpuh, Tuan. Kau hanya pembohong payah."
Dalam detik itu, kedok Ziva Magdonia sebagai istri 'tumbal' runtuh. Dia adalah ahli bedah syaraf jenius yang mematikan. Rahasia Elzian terbongkar, dan kesepakatan pun dibuat: Elzian menghancurkan musuh yang mencoba membunuhnya, dan Ziva memastikan tidak ada racun medis yang bisa menyentuh suaminya.
Namun, saat mantan kekasih Elzian datang menghina, Ziva tidak butuh bantuan.
"Hidungmu miring dua mili, silikon dagumu kadaluarsa... mau kuperbaiki sekalian?"
Bagi Ziva, membedah mental musuh jauh lebih mudah daripada membedah otak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Pembersihan Staff
".Bukan saya! Sumpah demi Tuhan, Pak! Saya tidak tahu apa-apa!"
Pelayan muda itu meraung histeris. Tubuhnya gemetar hebat di sudut ruangan, wajahnya basah oleh air mata dan ingus. Dia memeluk lututnya sendiri, berusaha mengecilkan tubuhnya dari tatapan membunuh Elzian.
Dua orang pengawal bertubuh kekar, yang entah muncul dari mana, sudah berdiri di belakang pelayan itu. Salah satunya, pria botak dengan bekas luka di pelipis, mencengkeram lengan kurus si pelayan dan menyeretnya paksa untuk berdiri.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah," perintah Elzian dingin. Matanya tidak berkedip, hitam pekat seperti lubang tanpa dasar. "Buat dia bicara. Aku tidak peduli caranya. Patahkan jarinya satu per satu kalau perlu."
"Ampun, Pak! Ampun! Sumpah saya cuma—"
"Tunggu."
Satu kata itu meluncur tenang dari bibir Ziva, memotong teriakan panik si pelayan.
Ziva melangkah maju, mengangkat tangannya memberi isyarat pada pengawal untuk berhenti. "Jangan kasar begitu. Kekerasan fisik itu kuno. Lagipula, teriakan dia terlalu bising. Bisa-bisa tetangga lapor polisi karena dikira kita sedang menyembelih kambing."
Pengawal itu menoleh ragu ke arah Elzian. Elzian mengangkat alisnya sedikit, lalu mengangguk singkat. Pengawal itu melepaskan cengkeramannya, membiarkan pelayan itu jatuh terduduk kembali di lantai karpet.
Ziva mendekat perlahan. Suara hak sepatunya yang mengetuk lantai marmer terdengar seperti hitungan mundur kematian bagi si pelayan. Ziva berjongkok tepat di depan wajah gadis yang ketakutan itu.
"Siapa namamu?" tanya Ziva lembut. Terlalu lembut.
"S-Sari, Nona... nama saya Sari..." jawabnya tergagap.
"Nah, Sari. Dengar baik-baik." Ziva mengulurkan tangannya, menyentuh dagu Sari dan memaksanya mendongak. Jemari Ziva dingin, membuat Sari semakin menggigil. "Aku dokter bedah. Aku tahu persis bagaimana tubuh manusia bekerja. Dan aku tahu kau baru saja melakukan kesalahan fatal. Bukan pada suamiku, tapi pada dirimu sendiri."
Sari menatap bingung. "M-maksud Nona?"
Ziva meraih tangan kanan Sari, membalik telapak tangannya. Dia menunjuk ujung-ujung jari Sari yang terlihat kemerahan.
"Kau meracik bubuk arsenik itu tanpa sarung tangan, kan?" tanya Ziva dengan nada prihatin yang dibuat-buat. "Kau pikir mencuci tangan pakai sabun saja sudah cukup?"
Sari mengangguk patah-patah. "S-saya sudah cuci tangan tiga kali..."
Ziva mendecakkan lidah, menggelengkan kepala dramatis. "Bodoh sekali. Arsenik trioksida itu partikelnya mikroskopis. Sangat halus. Saat kau memegang kemasannya, saat kau menuangnya ke kopi, serbuk halus itu masuk lewat pori-pori kulitmu. Langsung ke pembuluh darah kapiler."
Mata Sari membelalak lebar. Napasnya mulai memburu.
"Kau tahu apa yang terjadi dalam dua puluh empat jam ke depan?" bisik Ziva, mendekatkan wajahnya. Dia mulai mendongengkan teror medis karangannya.
"Pertama, ujung-ujung jarimu akan mulai membiru dan mati rasa. Itu tanda racunnya sudah menyebar. Lalu, rambutmu akan rontok segenggam demi segenggam setiap kali kau menyisir."
Ziva menekan perut Sari pelan, membuat gadis itu tersentak.
"Di sini... lambungmu akan mulai terkikis. Kau akan muntah. Bukan muntah makanan, tapi muntah darah hitam pekat. Kerongkonganmu akan terasa panas seperti disiram air keras sampai berlubang. Kau akan mati perlahan sambil memegang lehermu yang hancur dari dalam. Sakitnya luar biasa, Sari. Jauh lebih sakit daripada dipatahkan jarinya oleh pengawal suamiku."
Wajah Sari kini sepucat kertas. Bibirnya gemetar hebat tanpa suara. Ketakutan akan kematian yang mengerikan jauh lebih efektif daripada ancaman fisik.
"T-tapi... Nona dokter, kan? Nona bisa tolong saya, kan?" isak Sari putus asa. Dia bersujud di kaki Ziva, memegang ujung celana Ziva. "Tolong saya, Nona! Saya nggak mau mati! Saya masih punya adik kecil!"
"Aku punya penawarnya," kata Ziva datar, menarik kakinya menjauh. "Suntikan Dimercaprol. Bisa menetralisir racun itu sebelum menghancurkan ginjalmu. Tapi obat itu mahal. Kenapa aku harus memberikannya pada orang yang mau membunuh suamiku?"
"Saya bicara! Saya akan bicara semuanya!" teriak Sari histeris, air matanya tumpah ruah. Dia menoleh ke arah Elzian, lalu kembali ke Ziva. "Saya dipaksa! Ada orang suruhan Nyonya Besar... Ibu tiri Pak Elzian! Dia menemui saya di pasar kemarin. Dia bilang kalau saya nggak taruh bubuk itu, adik saya yang sekolah akan diculik! Ampun, Pak! Ampun, Nona! Saya cuma takut!"
Hening. Pengakuan itu menggema jelas di ruang tengah yang luas.
Ziva berdiri tegak, wajahnya kembali datar tanpa ekspresi. Dia menatap Elzian sambil mengangkat bahu. "Tuh kan. Lebih cepat daripada menyiksa, lebih bersih, dan tidak perlu repot membersihkan darah di lantai."
Elzian menatap pelayan itu dengan sorot mata yang sulit diartikan. Dingin, keji, tapi juga puas. Dia menoleh pada kepala pengawalnya.
"Kau dengar itu, Raka?"
"Siap, Pak," jawab pengawal botak itu tegas.
"Bereskan dia. Pastikan dia tidak pernah bisa bicara lagi di kota ini. Buang ke pulau terluar atau manapun, asal lenyap dari pandanganku," perintah Elzian tanpa nada. "Dan untuk Ibu Tiri..."
Elzian mengetukkan jarinya di meja kerja, ritme yang pelan namun mengancam.
"Kirimkan 'hadiah' ke kediaman utama. Cari bangkai tikus paling besar yang bisa kau temukan, masukkan ke dalam kotak kado paling mahal, dan kirimkan atas namaku. Tulis di kartunya: 'Tikusmu tersesat. Aku kembalikan.'"
"Dimengerti, Pak."
Raka dan satu pengawal lainnya langsung menyeret Sari yang masih menangis memohon obat penawar.
"Nona! Obatnya! Tolong obatnya!" jerit Sari saat diseret keluar pintu.
"Minum susu beruang dua kaleng dan kau akan sembuh! Aku cuma menggertakmu soal kulit dan rambut rontok, dasar bodoh!" seru Ziva kesal sambil mengibaskan tangan.
Pintu tertutup. Hening kembali menyelimuti ruangan.
Ziva menghembuskan napas panjang, lalu berjalan menuju sofa untuk mengambil buku medisnya yang tergeletak di lantai. Dia memeriksa sampul bukunya yang sedikit penyok karena menghantam cangkir tadi.
"Sayang sekali, bukunya lecet," gumam Ziva.
"Kau..."
Suara Elzian membuatnya menoleh. Pria itu masih duduk di kursi kerjanya, tapi tubuhnya kini condong ke depan. Dokumen di mejanya basah oleh kopi, tapi dia tidak peduli.
Elzian menatap Ziva lekat-lekat. Tidak ada lagi tatapan meremehkan atau curiga seperti saat malam pertama mereka. Yang ada kini adalah tatapan menilai—tatapan seorang predator yang baru saja menemukan mitra berburu yang sepadan.
"Kau menyelamatkan nyawaku," ucap Elzian pelan, suaranya berat dan serius.
Ziva mengangkat bahu acuh tak acuh. "Itu bagian dari kontrak. Kau mati, aku janda miskin yang dikejar lintah darat. Aku rugi."
Elzian menyeringai. Seringai tulus yang pertama kali ia tunjukkan. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada.
"Satu poin untukmu, Istriku."