NovelToon NovelToon
Our Hurt Story

Our Hurt Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: zaniera99

Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie

Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.

Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.

Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?

Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"

Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8:Tega

Arif memang memiliki sebuah "bakat" alami yang sangat menyebalkan. Dia seolah-olah memiliki radar yang mampu mengendus kapan situasi sedang tegang atau kapan benteng pertahanan seseorang mulai retak. Dia tahu dengan sangat tepat kapan aku sedang sendirian dan tidak memiliki siapa pun untuk membela atau berdiri di belakangku.

Sore itu di dalam kelas, dugaanku tepat sasaran. Syasya dan Hilya sudah lebih dulu angkat kaki menuju kantin tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Biasanya, jangankan ke kantin, hendak ke toilet saja mereka akan menyeretku ikut serta, konon atas dasar persahabatan yang tak terpisahkan. Namun hari ini... aku diperlakukan seolah-olah aku adalah makhluk halus—ada namun tak terlihat. Aku sedang menunduk, mencoba menyibukkan diri merapikan buku-buku latihan ke dalam laci meja yang sempit, ketika tiba-tiba meja kayu itu bergetar hebat.

GEDEBUKK!

Satu gebrakan tangan yang kuat mendarat di atas mejaku.

"Lihatlah dirimu, sudah dikucilkan ya? Kasihan sekali... kelihatannya seperti kucing kurap yang dibuang majikannya," sebuah suara sinis menyapa gendang telingaku.

Aku tidak perlu mengangkat wajah untuk mengetahui siapa pemilik suara itu. Aroma minyak rambutnya dan nada suaranya yang menjengkelkan sudah cukup memberi tahu bahwa itu adalah Arif. Di belakangnya, Farhan berdiri tegak, menjadi penonton setia drama sore ini. Arif ini kalau sehari tidak mencari masalah denganku, rasanya hidupnya tidak lengkap. Dia ibarat parasit yang tumbuh subur dengan melihat orang lain menderita.

"Mau apa lagi kamu, Arif?" tanyaku tanpa menatap wajahnya. Aku mencoba menjaga nada suaraku agar tetap datar, meskipun di dalam hati, Tuhan saja yang tahu betapa aku ingin berteriak.

"Galak sekali... mentang-mentang ada kakak kelasmu yang menjagamu di kamar asrama, sudah berani ya sekarang? Sudah punya taring?" Arif tertawa mengejek. "Tapi aku lihat, teman-teman sekelasmu ini sepertinya sudah membuangmu ke tempat sampah. Kasihan sekali Hanie kita ini... sendirian, tidak punya teman, tidak punya pelindung."

Suara tawa Arif dan Devian membuat telingaku terasa panas dan berdengung. Dia menarik kursi di depan mejaku tanpa izin, lalu duduk menghadapku dengan gaya yang sangat angkuh. Senyumannya yang miring itu... sungguh, hatiku terasa sangat sakit melihatnya.

"Kamu tahu tidak kenapa orang tidak suka berteman denganmu? Kenapa kamu ini terlihat seperti 'beban'?" Devian Azka merendahkan suaranya, mendekatiku hingga aku bisa mencium aroma napasnya yang menyebalkan. "Karena kamu itu 'suram', Hanie. Kulit gelap, muka selalu seperti mau menangis. Ditambah lagi, nama ayahmu pun aneh. Nama ayahmu itu, kalau aku panggil di tengah lapangan saat upacara, pasti orang mengira aku sedang memanggil nama hantu atau jin tanah."

Darahku mulai mendidih. Dia boleh menghinaku, dia boleh memaki aku, tapi ketika dia mulai membawa-bawa nama ayahku, itu sudah melampaui batas. Kali ini dia tidak berteriak, tapi dia bicara tepat di depan wajahku. Perlahan, tenang, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya berbisa layaknya racun yang meresap hingga ke tulang.

Aku menggenggam ujung kerudung sekolahku dengan kuat hingga buku-buku jariku memutih. "Jangan kalian pernah libatkan ayahku, . Dia tidak pernah mengganggu hidupmu. Kalian menghinaku, aku bisa sabar, tapi jangan ayahku."

"Eh, sudah pintar marah? Ingat ya Hanie, Kak Qasrina tidak ada di sini sekarang untuk menyelamatkanmu. Dia tidak akan muncul dari balik pintu itu untuk jadi 'superhero'-mu. Syasya dan Hilya pun sudah muak melihat mukamu yang sok suci itu. Kamu sendirian saja di sini, paham tidak?"

Arif kemudian meraih botol minumku yang terletak di atas meja. Dia memutar-mutar tutup botol itu dengan jari-jarinya yang panjang, seolah-olah dia sedang sangat bosan dan aku hanyalah mainannya.

Aku melirik ke arah Farhan di sebelahnya. Aku melihat Farhan seperti ingin membuka mulut, seperti ada sedikit rasa bersalah di wajahnya, namun akhirnya dia memilih untuk bungkam. Dia hanya memerhatikan dengan pandangan kosong. Itu sebenarnya yang lebih menyakitkan daripada ejekan Arif. Orang yang melihat kezaliman terjadi di depan mata, namun memilih untuk diam seribu bahasa. Mereka juga adalah bagian dari masalah itu.

"Sudahlah, Arif dan Devian. Kamu pergi saja ke tempat lain. Aku masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan," aku mencoba bersikap tegas meskipun aku tahu suaraku sudah mulai bergetar halus, pertanda benteng emosiku hampir runtuh.

"Pekerjaan apa? Pekerjaan jadi kuli?" Dengan satu gerakan cepat yang tak terduga, Arif melemparkan botol minumku tepat ke dalam bakul sampah di sudut depan kelas. "Pergi ambil kembali. Sekarang! Kalau kamu tidak ambil, tas sekolahmu yang akan aku buang ke sana.Devian cuba menahan Arif."

Aku terpaku. Seluruh tubuhku kaku. Rasa panas mulai menjalar dari leher ke wajah, dan aku tahu mataku sudah mulai digenangi air jernih yang sewaktu-waktu akan tumpah. Saat inilah aku merasakan betapa kerdil dan hinanya aku di dunia ini. Aku menoleh ke sekeliling kelas. Ada beberapa teman sekelas yang masih tersisa, namun masing-masing menundukkan kepala, pura-pura sibuk dengan ponsel pintar atau buku di depan mereka. Mereka tidak ingin terlibat. Mereka tidak ingin menjadi sasaran Arif dan Devian selanjutnya.

Aku menarik napas sedalam mungkin, mencoba mencari sisa-sisa kekuatan yang masih tersisa. Aku merogoh saku baju kurungku, dan ujung jariku menyentuh permukaan licin cermin kecil itu. Cermin yang menjadi saksi segala kesedihanku. Aku tidak ingin menangis di depan Arif. Aku tidak ingin memberinya kepuasan dengan melihatku hancur.

"Tunggu saja, Arif,Devian.. Suatu hari nanti kamu akan merasakan apa yang aku rasakan. Kamu akan tahu betapa perihnya ketika harga dirimu diinjak-injak," bisikku hanya di dalam hati, sebuah janji yang aku tanam dalam-dalam.

Aku bangkit dari kursi dengan langkah yang berat. Aku berjalan ke arah tempat sampah itu dengan kepala tertunduk, membiarkan anak rambut yang keluar dari kerudung menutupi sebagian wajahku. Rasa harga diri yang diinjak-injak itu... Tuhan saja yang tahu betapa hancurnya hati seorang gadis bernama Nur Hanie pada saat itu. Dunia seolah-olah menjadi gelap, dan aku berdiri di tengah-tengahnya, sendirian.

1
gempi
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!