Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam hari
Tuan putri mulai merasa nyaman setelah meluruskan kakinya di dalam kereta. Dia menatap pelayannya dan bertanya, “tidak apa-apa bukan jika aku sedikit tidak sopan?”
“Sama sekali tidak tuan putri.”
Pelayan itu menjawab dengan sedikit kebingungan. Dia lalu menatap jendela dan melihat pepohonan. Sementara tuan putri mengingat tentang buku puisi yang di bawanya lalu membuka halaman yang di sukainya.
Dia ingat tentang pemberontakan orang-orang dua puluh tahun yang lalu dan ingat juga tentang Yun Leng dengan segudang puisi-puisinya.
Dalam peperangan menggunakan pusi sebagai kode adalah cara elegan untuk menyembunyikan strategi dari musuh. Yun Leng juga menggunakannya untuk kode pemberontakan demi menarik orang-orang terpelajar. Namun akhirnya semuanya gagal dan mereka akhirnya di eksekusi.
Tuan putri mulai melupakan puisinya jika bukan buku puisi ini. Dia memikirkan makna dalam salah satu puisi dengan judul Di bawah pohon pinus bunga ungu dengan isi:
Di bawah pohon pinus tua Dua ekor burung merajut sarang.
Di bawah bunga pinus ungu bernaung anak dan ibu burung
Sepasang matanya seperti bunga.
Di bawah gugur bunga Sepasang mata bunganya juga berguguran
Dia merasa ini tidak indah tapi memiliki makna kesedihan yang dalam. Tuan putri penasaran bagaimana rupa putri Yun Leng ini. Dia juga penasara bagaimana kemampuannya. Menghela nafas dan memandang keluar, ternyata kemampuan Yun Leng di wariskan ke putrinya.
Tuan putri lalu bertanya sembari menaruh bukunya, “Apa kamu ingin sang biksu dan gadis itu bersatu di alam lain?”
“Tentu saya yang mulia. Namun karena tidak ada kepastian jadi saya merasa tidak punya pegangan yang kuat untuk memastikanya. Jika ini cerita asli, maka itu tragis, tapi jika bukan maka penulisnya memiliki bakat. Yang mulia saya menyukai anda bercerita seperti ini. Walaupun ada rasa sedikit tidak nyaman.”
Tuan putri menatap pepohonan. Dia melihat Tupai yang melompat-lompat hingga matahari seperti bunga. “sepertinya kamu cukup mengenang.”
Tuan putri berhenti dan pelayan itu berterima kasih.
Perlahan-lahan matahari mulai menurun dan menjadi malam. Mereka menginap. Tuan kusir memberi makan kuda-kudanya dan pelayan itu menjaga tuan putri di depan pintu.
Mereka menyewa penginapan yang cukup indah dan nyaman. Sedikit orang yang menginap dan tuan putri merasa nyaman dengan itu. Dia duduk di mejanya dan membaca buku puisi itu lagi.
****
Sementara itu di atas atap yang lebih jauh, seorang pria berpakaian hitam sedang menarik busurnya. Dia memfokuskan diri menargetkan mangsanya. Tangannya sedikit gemetar dan fokusnya goyah. Angin malam bertiup kencang.
Di bawah suasananya sunyi dan tidak ada seorang pun.
Menurut pangeran, dia harus membunuh tuan putri dengan segala cara. Walaupun ini sangat berbahaya dia akan mencobanya. Dan lagipula membunuh adalah pekerjanya.
Dia menarik nafas dalam-dalamm dan perlahan-lahan merasakan angin yang mulai berhembus pelan.
Dari kejauhan, di jendela tuan putri sedang duduk dan terlihat tenang membaca bukunya.
Dia harus cepat, jika tidak akan ketahuan. Menjaga tubuhnya agar tetap tenang, tangannya yang tidak gemetar dan mengatur ritme pernafasannya. Akhirnya dia mendapatkan ketenanganya dan ingin melepaskan anak panahnya, sebelum seseorang pria berkata dari belakangnya.
“Maaf, aku tadi memberi makan kuda, jadi sedikit terlambat.”
Pembunuh itu menaikkan alisnya dan matanya sedikit memicing. Dia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya dan berpikir sudah ketahuan.
Menurunkan busurnya dan berbalik, seorang pria duduk di salah satu atap rumah sembari meminum arak dari botol labunya. Dia lalu menatap pria berpakaian hitam itu dari bawah topi capilnya.
Ketika pria itu melihat tuan kusir ini, dia melambaikan tangannya dan muncul sebuah pedang lengkap dnegan sarungnya yang berwarna hitam.
Kusir itu menatapnya sebentar dan menaruh botol labunya. Dia merenggangkan tubuhnya lalu berdiri. Menghela nafas lalu berkata, “Kamu tidak sabaran sekali. Mengapa kita tidak berbicara banyak hal lagi sebelum bertarung? Misalnya tentang wanita atau.... Istri orang. Baiklah-baiklah, kamu ternyata bukan orang yang suka banyak bicara.”
Ketika kusir itu selesai berbicara, tubuh pembunuh itu mengeluarkan aura hitam dan tekanan gravitasi meningkat, menghancurkan atap rumah itu. Dia segera mengambil ancang-ancang dan melesat. Dalam sekejap muncul di depan kusir. Menarik pedang dan memutar tubuhnya segera mengayunkannya.
Botol labu yang di taruh sedikit bergetar dan langsung melesat, menangis serangannya. Pria kusir megambilnya, meminum araknya lalu menatap pembunuh itu dengan kebencian.
Segera mengayunkan pukulannya.
Pembunuh itu segera menghindar dan mendarat di atap. Kusir itu duduk dan meminum araknya.
Pembunuh itu memperhatikannya dan keheranan, mengapa orang di depannya ini sangat tenang? Apa yang membuatnya seperti ini?
Namun tidak lama sebelum dia melangkah, ledakan besar muncul di belakangnya, jauh sekali di bukit. Pohon-pohon tumbang dan tanah hancur seperti ada sesuatu yang menghantamnya. Pembunuh itu terkejut dan memperhatikannya.
Dan jauh di depan gebang desa seorang gadis berusia 12 tahun menatap bukit berlubang dengan tatapan tenang.