NovelToon NovelToon
Penerus Warisan Dewa

Penerus Warisan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:39.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.

Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.

Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.

Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.

“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”

Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Jari Pemutus Kehidupan

Paviliun Warisan berdiri megah di pusat Puncak Awan Dalam. Bangunan berlantai lima yang terbuat dari kayu gaharu hitam itu memancarkan aura kuno yang menekan. Di sinilah seluruh fondasi bela diri, seni rahasia, dan catatan Dao milik Sekte Awan Hijau disimpan selama ribuan tahun.

Lin Xuan melangkah melewati pelataran batu giok menuju pintu masuk. Di ambang pintu, seorang Tetua berambut putih acak-acakan duduk tertidur di kursi goyang. Sepasang matanya tertutup rapat, dan napasnya terdengar lemah seperti manusia fana yang hampir mati.

Namun, saat Lin Xuan melangkah dalam radius tiga meter darinya, Mata Batin Lin Xuan menangkap fluktuasi Qi yang sedalam lautan tanpa dasar.

"Jangan tatap dia terlalu lama," peringat Gu Tianxie dari dalam cincin. "Tua bangka itu berada di ranah Core Formation tahap akhir. Dia menyembunyikan Niat Pedangnya di balik aura sekarat."

Lin Xuan menundukkan pandangan, menangkupkan kedua tangan memberi hormat, lalu meletakkan token Murid Dalamnya di atas meja kecil di samping sang Tetua.

Tetua itu tidak membuka mata, hanya menggumam pelan. "Lantai pertama. Waktumu dua jam. Hanya boleh menyalin satu gulungan."

Lin Xuan berjalan masuk. Lantai pertama Paviliun Warisan dipenuhi rak-rak kayu yang menjulang hingga ke langit-langit. Ribuan gulungan bambu, buku kulit binatang, dan lempengan batu giok tersusun rapi.

Sebagai Murid Dalam yang baru menembus Foundation Establishment (di mata publik, ia hanya Qi Condensation Lapisan 6 yang berstatus Murid Dalam Biasa), ia hanya memiliki akses ke lantai pertama.

"Apa yang kita cari?" tanya Lin Xuan dalam hati, matanya memindai deretan teknik elemen api dan air yang tidak berguna baginya.

"Seni pedangmu sebelumnya terlalu merusak dan gerakannya terlalu lebar. Kau butuh teknik pembunuh jarak dekat yang memusatkan kekuatan Asura mu ke satu titik ekstrem," jelas Gu Tianxie. "Abaikan teknik yang mengandalkan manipulasi Qi jarak jauh. Cari teknik bela diri tingkat tinggi yang tidak utuh atau cacat."

Lin Xuan mengangguk mengerti. Teknik yang sempurna biasanya membutuhkan elemen spesifik. Teknik cacat sering kali ditinggalkan karena memiliki syarat fisik yang mustahil dipenuhi oleh kultivator biasa.

Ia menyusuri lorong-lorong berdebu di sudut paling gelap paviliun.

Setelah hampir satu jam mencari, matanya tertuju pada sebuah lempengan batu giok hitam yang retak di bagian ujungnya. Lempengan itu diletakkan sembarangan di rak paling bawah, tertutup debu tebal.

Lin Xuan mengambilnya dan mengalirkan sedikit Qi ke dalamnya untuk membaca prasasti mentalnya.

[Seni Jari Pemutus Kehidupan]

Tingkat: Bumi Tingkat Rendah (Tidak Utuh)

Deskripsi: Memadatkan seluruh Qi Dantian dan kekuatan fisik ke ujung jari telunjuk. Satu tusukan menembus perisai Qi, menghancurkan meridian, dan memutuskan esensi kehidupan lawan.

Syarat: Tulang jari sekeras baja murni. Jika digunakan oleh kultivator dengan tulang fana, jari dan lengan pengguna akan hancur menjadi debu akibat ledakan tenaga dari dalam.

Mata Lin Xuan berbinar dingin. Ini dia.

Teknik Tingkat Bumi sangat langka di sekte kecil seperti Awan Hijau. Kebanyakan murid hanya mempraktikkan teknik Tingkat Kuning atau Hitam. Teknik ini ditinggalkan karena tidak ada kultivator yang mau menukar nyawa lengan kanannya hanya untuk satu tusukan jari.

Namun bagi Lin Xuan, yang memiliki Tulang Besi Hitam di tahap puncak, tulang jarinya jauh melampaui baja murni.

"Pilihan yang bagus," Gu Tianxie terkekeh. "Dengan energi dari sembilan pilarmu dan kepadatan tulangmu, jari telunjukmu akan menjadi senjata pembunuh yang lebih mematikan daripada pedang artefak manapun."

Lin Xuan membawa lempengan giok itu ke meja penyalinan, memindahkan isi tekniknya ke dalam gulungan bambu kosong miliknya, lalu melangkah keluar dari Paviliun Warisan.

Saat Lin Xuan berjalan menuruni bukit menuju tebing utara, ia melihat kerumunan murid berpakaian Murid Langsung sedang berkumpul di Arena Tarung Puncak Dalam. Suara benturan senjata dan sorakan riuh terdengar memecah ketenangan pagi.

Lin Xuan tidak berniat ikut campur, hingga telinganya menangkap sebuah nama.

"Zhao Yun, kau hanya tikus yang beruntung diangkat oleh Tetua Feng! Berani-beraninya kau menolak tantangan Tuan Muda Wang?!"

Langkah Lin Xuan terhenti. Ia berbalik dan berjalan menembus kerumunan.

Di atas panggung batu, Zhao Yun berdiri terengah-engah. Seragam putih Murid Langsungnya robek di bagian bahu, meneteskan darah segar. Ia memegang pedang panjang yang dikelilingi oleh pusaran Qi elemen angin.

Di hadapannya, berdiri seorang pemuda berwajah bengis dengan jubah Murid Dalam senior. Namanya Chen Fei. Ia adalah anjing peliharaan Wang Long yang paling setia, dengan kultivasi Foundation Establishment lapis kedua satu tingkat penuh di atas Zhao Yun yang baru memadatkan pilar pertamanya.

Wang Long sendiri duduk di kursi di pinggir arena. Lengan kanannya masih dibalut perban tebal, matanya menatap Zhao Yun dengan senyum penuh kekejaman. Karena ia tidak bisa membalas dendam pada Mu Chen secara langsung akibat peringatan Tetua Mo, ia memutuskan untuk menyiksa satu-satunya orang yang pernah memanggil Mu Chen dengan sebutan 'Saudara'.

"Zhao Yun," suara Chen Fei menggema, penuh ejekan. "Aku hanya memintamu untuk berlutut dan mengakui bahwa temanmu, Mu Chen, adalah sampah pengecut yang bersembunyi di guanya. Lakukan itu, dan aku akan mengakhiri duel persahabatan ini."

Zhao Yun meludah ke lantai, darah merah bercampur ludahnya. Mata pemuda elemen angin itu menyala penuh tekad yang keras kepala.

"Mu Chen mungkin dingin, tapi dia bukan pengecut sepertimu yang hanya berani menjilat sepatu Wang Long!" teriak Zhao Yun. "Aku adalah Murid Langsung Puncak Angin Puyuh! Aku lebih baik mati di arena ini daripada tunduk pada anjing gila!"

Kata-kata itu membuat raut wajah Wang Long berubah gelap. "Chen Fei! Patahkan kedua kakinya! Biar Tetua Feng tahu bahwa murid kesayangannya ini hanyalah ranting rapuh!"

"Sesuai perintah, Tuan Muda!"

Chen Fei menerjang maju. Qi elemen logam menyelimuti lengannya, mengubah kedua lengannya menjadi sekeras baja. Ia mengabaikan tebasan pedang angin Zhao Yun, membiarkan bilah itu hanya menggores jubahnya, lalu menghantamkan tinju bajanya tepat ke tulang rusuk Zhao Yun.

KRAK!

"Ugh!" Zhao Yun memuntahkan darah, terlempar ke belakang dan jatuh berguling-guling di atas panggung batu. Pedangnya terlepas dari genggamannya. Ia berusaha bangkit, namun rasa sakit di tulang rusuknya membuatnya kembali jatuh berlutut.

"Selesai sudah," Chen Fei tertawa sinis, melangkah santai ke arah Zhao Yun yang tak berdaya. Ia mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi, berniat menginjak lutut Zhao Yun hingga remuk.

Penonton menahan napas. Tidak ada yang berani menghentikan eksekusi ini. Wang Long didukung oleh klan yang kuat, dan duel ini telah disetujui secara resmi.

Namun, tepat sebelum sepatu Chen Fei menghantam lutut Zhao Yun, sebuah batu kerikil kecil melesat dari arah kerumunan.

Batu itu tidak memancarkan cahaya Qi yang mencolok, namun meluncur dengan kecepatan yang merobek udara seperti anak panah pusaka.

BUK!

Batu kerikil itu menghantam titik saraf di belakang lutut kaki penyangga Chen Fei dengan presisi yang mengerikan.

"Argh!" Chen Fei kehilangan keseimbangan seketika. Tendangannya meleset, dan ia jatuh tertelungkup dengan posisi yang sangat memalukan, wajahnya menghantam lantai arena hingga hidungnya patah berdarah.

Keheningan melanda seluruh arena.

Wang Long melompat dari kursinya. "Siapa yang berani ikut campur dalam duel suci?!"

Kerumunan murid terbelah dengan sendirinya.

Dari balik lautan manusia itu, Lin Xuan berjalan pelan. Topi caping bambunya menutupi sebagian matanya, jubah hitamnya berkibar pelan ditiup angin Puncak Dalam. Tangannya bersedekap dengan santai.

Zhao Yun mendongak, matanya yang buram karena darah membelalak. "M-Mu Chen... kenapa kau ke mari? Lari..."

Lin Xuan bahkan tidak melirik ke arah Zhao Yun. Ia berjalan menaiki tangga arena, langkah kakinya tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

"Mu Chen!" raung Wang Long, wajahnya memerah karena amarah yang akhirnya menemukan sasarannya. "Kau berani menampakkan diri setelah bersembunyi seperti kura-kura! Kau melukai Chen Fei dari belakang! Penjaga Arena, tangkap dia!"

Diaken penjaga arena yang sejak tadi diam, melangkah maju. "Mu Chen, ikut campur dalam duel orang lain adalah pelanggaran serius."

Lin Xuan berhenti di tengah arena. Ia melirik Chen Fei yang sedang merangkak bangun sambil memegangi hidungnya yang patah berdarah.

Lalu, Lin Xuan menatap lurus ke arah Wang Long dan sang Diaken. Suaranya terdengar datar, sangat tenang, namun dipenuhi hawa dingin yang menusuk tulang.

"Aku tidak ikut campur dalam duelnya," kata Lin Xuan pelan.

Ia menggeser pandangannya ke arah Chen Fei.

"Aku datang ke sini untuk mengajukan tantangan duel hidup dan mati kepada Chen Fei."

Lautan murid tersentak kaget. Suara bisikan meledak bagaikan sarang lebah yang ditusuk.

Duel Hidup dan Mati?

Antara Murid Dalam biasa Qi Condensation Lapisan 6 melawan Lapisan 2 Foundation Establishment?

Apakah pemuda bernama Mu Chen ini sudah gila karena meridiannya cacat?

Chen Fei menghapus darah dari wajahnya, tertawa keras meski suaranya sengau. "Kau? Menantangku duel hidup dan mati? Hahaha! Meridian kananmu bahkan sudah hancur! Tuan Muda Wang, izinkan saya membunuh sampah ini sekarang juga!"

Wang Long tersenyum lebar. Rencananya memancing Lin Xuan keluar ternyata berhasil dengan sempurna. Jika Lin Xuan yang menantang, maka kematian pemuda itu di atas arena adalah legal sepenuhnya. Bahkan Tetua Mo tidak akan bisa ikut campur.

"Terima tantangannya, Chen Fei," perintah Wang Long, matanya berkilat penuh kemenangan. "Patahkan lehernya perlahan."

Diaken penjaga arena mengerutkan kening. "Mu Chen, kau yakin? Begitu Papan Kematian ditandatangani, sekte tidak akan menghentikan pertarungan hingga salah satu jiwa padam."

"Buat papannya," jawab Lin Xuan tanpa mengubah nada suaranya sedikit pun.

Di dalam benaknya, Gu Tianxie tertawa puas. "Bagus, Lin Xuan! Jadikan anjing ini kelinci percobaan pertama untuk Jari Pemutus Kehidupan mu!"

Lin Xuan memutar Qi di dalam Dantian nya. Sembilan pilar hitamnya bergetar pelan, siap melepaskan badai darah yang akan membuat seluruh Puncak Awan Dalam menyadari, bahwa Hantu Malam tidak pernah benar-benar tidur.

1
saniscara patriawuha.
hancurrrkannnnn mangh suannnn
saniscara patriawuha.
gassssddd...
saniscara patriawuha.
sikattttt manggg suannnn
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Jooossss 👍
REY ASMODEUS
selamat datang tingkatan baru... selamat datang sang azura dan selamat menikmati kehancuran wahai benua tengah. 🤣🤣🤣
Budi Wahyono
5 mawar untuk lin xuan
REY ASMODEUS
ini namanya konspirasi pertandingan tingkat dewa🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
gasdddd deuiiiii anuuuu kenceungggh..
Bisri Ilhamsyah
mantap ceritanya
REY ASMODEUS
Thor aku serakah. up lqgi 12 bab boleh ? 🙏🙏🙏🙏🤭🤭🤭
Sang_Imajinasi: kita gas besok
total 1 replies
REY ASMODEUS
aku suka gayamu azura🤣🤣🤣🤣,
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnnnnn.....
Sang_Imajinasi: siap💪
total 1 replies
REY ASMODEUS
merinding bosku. ini baru azura sang pembantai. biarkan pion maju kedepan sedangkan sang bayangan menari dengan rima berdarahnya di balik bayangan
saniscara patriawuha.
krakkkkkk bunyi yanggg gurih gurih renyahhhh....
saniscara patriawuha.
gassssss polllll deuiiii...
saniscara patriawuha.
sukatttttt mangggg suannnn...
REY ASMODEUS
sekte kabut ilusi. kalian slaah kasih nama harusnya sekte ilusi suka ngibul🤣🤣🤣
Arinto Ario Triharyanto
silent.... mematikan....itu benar mantap Thor... lanjutkan 💪
saniscara patriawuha.
sikatttt sampeee lumattt
saniscara patriawuha.
gasssssd pollllll
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!