Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Kecemburuan
“Dia tewas… bukan karena kecemburuan.”
“Mereka salah. Aku yang diburu.”
Dua puluh tahun kebohongan menghantamnya. Sepanjang hidupnya, desa dan sanak saudara—bahkan sebagian dirinya sendiri—yakin Sumiati mati karena depresi, tak mampu menghadapi obsesi spiritual Yosef. Kisah itu manis, masuk akal secara tragis. Sekarang, narasi itu hancur berkeping-keping. Itu adalah alibi.
Sumiati adalah korban ritual yang gagal. Yosef, yang Yohan benci karena dianggap gila, sebenarnya seorang pria yang menyadari kengerian tindakannya, lalu tewas diburu. Keduanya martir, dimanipulasi oleh ‘Mereka.’
“Mereka siapa, Ayah?” bisik Yohan.
***
Yohan memutuskan menyerang langsung ke alibi. Cerita palsu terkuat selalu dimulai dari mulut warga yang ketakutan. Ia pergi keluar. Sambil pura-pura mencari barang kebutuhan, Yohan menyapa tiga atau empat tetangga lama di sepanjang jalan setapak Yalimo.
Ibu Rasya yang biasanya cerewet, seketika bungkam saat Yohan menyebut nama Sumiati.
“Kupikir itu masa lalu. Semua orang di sini bergerak cepat melupakan kecelakaan, kan, Bu?” tanya Yohan, nadanya dibuat ringan. Ia sengaja memakai kata ‘kecelakaan,’ alih-alih ‘bunuh diri.’
Ibu Rasya buru-buru menunduk.
“Ah, Yohan, aku… aku tidak begitu ingat detailnya. Waktu itu memang geger. Mereka bilang, dia terlalu kota untuk menerima kehidupan di hutan ini.”
“Terlalu kota? Bukankah Ibu dan Ayahku harmonis sekali sampai beberapa bulan terakhir?”
“Sumiati cinta damai. Sayangnya, cintanya lebih kuat pada ketenangan desa daripada kepada suaminya yang selalu memaksanya mendaki dan… ikut-ikut ritual aneh.” Ibu Rasya mencengkram lengannya.
“Yohan, Nak. Kami mengasihanimu. Lebih baik kau jangan ganggu arwahnya. Mereka yang tewas karena hati yang patah itu sangat kuat dendamnya.”
“Kalau begitu aku harus bicara langsung dengan distributornya,” gumam Yohan.
Ia melangkah cepat menuju kediaman Marta. Wanita itu, sejak gagalnya penjualan, bersikap layaknya seorang yang otoritasnya dihina. Marta duduk di ruang depan rumahnya, wajahnya terpancar keseriusan ketika melihat Yohan masuk tanpa diundang.
“Aku sudah bilang padamu, Yohan, tidak ada pertemuan di luar formalitas kantor kecamatan.” Suara Marta tebal dan rendah, memperingatkan potensi ancaman.
“Masalahmu belum selesai, kau masih menakuti pembeli, dan sekarang kau datang lagi ke sini mencari masalah?”
Yohan berdiri tegak di depan Marta, menjabat tangannya ke udara, memutus interaksi fisik.
“Masalahku hanya satu, Marta. Dan itu bukan pembeli. Itu kebohongan yang dijajakan di sini,” Yohan memulai.
“Dua puluh tahun yang lalu, Ibu saya Sumiati meninggal karena bunuh diri akibat Ayah saya yang obsesif. Itu versi resminya. Benarkah?”
Marta mengeraskan rahangnya.
“Apa yang kau cari di balik abu, Yohan? Kebenaran itu menyakitkan, dan itulah harga yang harus dibayar ibumu karena masuk ke ritual yang tak ia mengerti.”
“Aku membaca ulang beberapa catatan warisan yang Ayah simpan. tentang Janji Darah, tentang Perisai Darah. Ritual itu mengerikan, tapi Ayah menyebutnya ‘tugas suci.’ Ia meyakinkan bahwa dia bertindak untuk melindungi Yalimo. Benarkah Yosef mati sebagai pahlawan?”
Marta tertawa, tawa yang sinis dan berderak.
“Yosef adalah fanatik yang mengikat istrinya tanpa kehendaknya! Itu bukan pahlawan, itu kegilaan! Kamu sama gila dengan dia jika kamu berpikir ada kebenaran di sana. Berhentilah!”
Yohan menunjukkan ketahanan yang ia pelajari dari pertemuannya dengan roh: melawan ketakutan. Ia mendekat, matanya menatap Marta secara tajam, mencari keretakan dalam benteng kepercayaan diri wanita itu.
“Aku setuju, metode Ayah gila. Tapi jurnal itu disembunyikan. Aku penasaran, Marta. Kenapa seluruh desa mempertahankan kisah kematian ‘karena hati yang patah’? Kenapa ada halaman yang dirobek? Apakah karena dia sempat menulis sesuatu seperti… ‘Mereka salah. Aku yang diburu’?”
Marta tiba-tiba terdiam, semua sisa darahnya terasa terlepas dari wajahnya. Jendela retakan muncul dan menyebar di wajah Kepala Desa yang biasanya kuat itu.
“Dari mana kamu… mendapatkan hal seperti itu?” suaranya terperosok ke dalam bisikan berbahaya.
Yohan menyadari ia memukul sasaran yang tepat, namun ia harus menjaga jaraknya. “Itu bukan pertanyaan. Itu konfirmasi, Marta. Kamu terlibat dalam penyembunyian ini, entah karena kamu benci dengan cara Ayahku atau karena kalian yang mengorbankan Ibuku agar Yalimo—tepatnya—tetap bisa dipertahankan dari korporasi di perbatasan. Dan yang konyol adalah, aku, si Pewaris Sombong, mencoba menyelesaikan kekacauan itu dengan menjualnya!”
“Diam! Itu tidak ada hubungannya dengan korporasi, tidak ada hubungannya dengan batas! Kami hanya menjaga kedamaian Yalimo!” Marta kini berdiri, menunjuk Yohan dengan tangan gemetar.
“Kau harus hentikan penyelidikan gila ini! Yosef membuat masalahnya sendiri, dan dia tewas. Sudah. Itu bukan urusanmu, Nak! Janji Darah sudah menelan satu jiwa. Jangan bangkitkan yang kedua!”
Ancaman Marta terasa jauh lebih kejam. Ia menyiratkan bahwa di balik kebohongan 'bunuh diri' terdapat konspirasi pembunuhan yang menyelimuti upaya Marta mempertahankan Yalimo.
“Ancaman macam apa itu? Dendam yang lebih buruk?” Yohan mendesak, menunjukkan bahwa ancaman Marta memicu rasa ingin tahunya, bukan ketakutannya.
“Jangan jadi pahlawan bodoh, Yohan! Kamu datang ke sini hanya untuk menjual warisan dan bebas. Ambil warisan kotamu, dan pergilah! Atau dendam yang dibangkitkan Ayahmu itu—karena kami melawannya—akan menelan semua orang di sini! Kami sudah mencoba menghentikannya. Aku, tetua yang lain! Jika kau sentuh lagi rahasia Janji Darah itu, kami akan bertindak adat melawanmu! Aksesmu ke desa akan ditutup, barang-barangmu akan dianggap najis. Ini peringatan terakhir!”
Yohan hanya mengangguk pelan, menunjukkan pengabaian yang total terhadap ancaman finansial atau logistik.
“Aku menghargai ketakutanmu. Tapi kamu sudah memberiku konfirmasi, Marta. Ayah diburu, dan Ibu tidak bunuh diri. Selamat menikmati jabatanmu,” ujar Yohan dingin. Dia membalikkan badan, berjalan menjauhi Marta tanpa melihat ke belakang. Ancaman itu memberinya validitas baru: dia bukan saja melawan roh, dia melawan struktur kuasa manusia yang berkonspirasi.
***
Yohan kembali ke rumah. Energi Marta memudar seiring ia memegang Jurnal Yosef yang kini menjadi peta perangnya.
Kebenaran tidak akan kutemukan dengan bicara pada manusia ketakutan. Hanya benda bisu dan alamlah yang akan membocorkannya.
Ia membalik halaman ke belakang, di bagian yang Yosef sibuk membuat sketsa ritual, sebelum Yosef menulis "mereka salah." Yosef, di akhir hidupnya, pasti meninggalkan jejak pelarian, jejak upaya menuntut keadilan, atau jejak pembatalan.
Yohan kembali mengingat kata Sumiati: "Pusaka." Mungkin Yosef juga menyembunyikan bukti bahwa Sumiati benar-benar ingin lepas, di samping harta yang ingin diikatkan ke tanah.
Matanya tertuju pada sebuah halaman kecil yang ditandai dengan tinta emas kering di sudut bawah. Itu hanya daftar inventaris acak yang ditulis tergesa-gesa: ’Lempengan perunggu, kotak jati merah, rambut ikatan, peta K-Sumi.’
Yohan mengernyit. K-Sumi? Itu jelas singkatan untuk Kamar Sumiati. Kenapa ia menuliskan inventaris ini persis di masa akhir hidupnya?
Ia berlari menuju kamar ibunya. Itu masih dingin. Pintu terkunci ganda, sama seperti ia meninggalkannya. Tidak ada perabot, hanya cermin bobrok, sebuah rak buku kecil yang kosong, dan tempat tidur besi tua.
“Kotak jati merah…”
Kotak? Yohan memeriksa rak buku itu. Tidak ada apa-apa, hanya ukiran. Dia menekan permukaan kayu, berharap ada laci tersembunyi seperti di meja Ayahnya. Kosong. Tembok kamar itu tebal.
Lalu, Yohan teringat cara Yosef menyembunyikan laci rahasia: selalu membutuhkan keakraban pada kebiasaan Sumiati. Ibunya suka menata rambutnya sebelum tidur, dan rambutnya sangat panjang. Ibunya juga memiliki kebiasaan meninggalkan sebuah boks kecil di dekat cermin. Tapi boks itu, selama ini Yohan ingat, selalu terletak di bawah laci rias—laci yang dibuang atau dibakar di masa lalu.
Ia berlutut. Tangannya merayap di bawah lantai kayu kamar Ibunya, yang sebagian papan lantainya telah longgar oleh rayap. Dia menarik salah satu papan yang bergerak lebih mudah. Aroma lembab dari tanah dan jamur segera naik ke hidungnya.
Tepat di bawah titik itu, tersimpan kotak kayu berwarna merah gelap, sangat berat untuk ukurannya yang kecil, seolah kayu jati yang ia bayangkan.
Jantung Yohan berdentum kuat. Akhirnya, petunjuk material yang aku butuhkan.
Dia mengangkat kotak itu ke atas. Tidak ada kunci. Yohan menggunakan ujung pisaunya dan menusuk penahan yang sepertinya terbuat dari kawat halus. Setelah dorongan yang keras, penutupnya terbuka, berdecit panjang seolah keberadaannya diprotes oleh udara di dalam rumah.
Kotak itu berisi tiga barang. Persis seperti yang dicantumkan Yosef dalam jurnal, item yang harus disembunyikan dan dipertahankan sebagai 'Kunci'.
Pertama, seikat rambut Sumiati, hitam legam, diikat oleh benang merah tua. Item kedua adalah jimat perunggu (disebut Yosef lempengan perunggu), sebuah lempengan bulat berukir pola abstrak Yalimo. Ia mengeluarkan aura dingin, tetapi memiliki getaran yang kuat.
Ketiga: sebuah kertas tebal, lecek, berwarna kecoklatan yang telah dilaminating secara primitif (mungkin dengan lilin). Itu adalah Peta K-Sumi. Peta itu sederhana, mencantumkan garis besar sungai kecil di Yalimo, beberapa formasi batuan besar, dan di perbatasan tanah warisan Yohan, sebuah simbol tunggal: siluet sebuah batu persembahan berlumut, di mana Yohan di mimpinya melihat Ibunya terikat. Yosef menandai lokasi itu dengan tanda silang merah, dan menulis, "Janji Darah Bermula Di Sini."
Yohan tersentak. Dia memiliki semua yang ia butuhkan untuk mulai bergerak melampaui kebohongan dan melangkah ke tempat spiritual Yalimo berdenyut. Batu Persembahan itu akan memberikan jawaban tentang Ayahnya dan Pusaka. Dan jimat ini, ia rasakan, adalah kunci untuk menembusnya.
Ia menahan napas, menempelkan jimat perunggu ke pipinya, mengambil semua keberanian dan rasa ingin tahu yang tersisa. Besok, ia harus pergi ke sana. Malam ini, ia tidur di samping kotak itu, dengan bau kapur barus kering dan petunjuk teror baru.
Permainan baru saja dimulai.