Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.
Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.
Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.
Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepuluh
Hhuff!!
"Kamu kenapa, mas?
Deg...
"Astaga, kamu ngangetin aja sih! Kenapa coba tiba-tiba nongol gitu, bikin orang kaget aja." sentak Aris sambil mengusap dada.
Karena masih kepikiran dengan perkataan ibunya, membuat Aris terkejut ketika membuka pintu tiba-tiba Shafira sudah berada di depannya.
Shafira melongo karena tiba-tiba Aris langsung membentaknya, padahal Shafira hanya bertanya karena melihat suaminya yang terlihat gelisah.
"Lah, kamu sendiri yang kagetan kenapa malah nyalahin orang!" balas Shafira ketus.
"Ya, gimana Mas gak kaget, Mas masuk kamu udah didekat pintu gini."
"Aku emang udah mau keluar, mau nyiapin makan malam. Kamu aja yang aneh gitu, kamu gak lagi nyembunyiin apa-apa kan, Mas? Biasanya orang cepat kagetan kalau lagi ada yang ditutupin, kamu juga kelihatan gelisah gitu." ujar Shafira sambil menyipitkan matanya.
"A-apa sih, kamu jangan curigaan gitu, Mas cuma lagi capek aja. Udah ah, Mas mau mandi, udah gerah ini." dengan cepat, Aris langsung menyambar handuknya dan pergi ke kamar mandi. Ia tidak mau terlihat semakin gugup didepan Shafira.
"Aneh!" gumam Shafira, dan saat akan menutup pintu kamarnya, matanya tak sengaja tertuju pada tas kerja suaminya.
Mungkin karena ingin menghindarinya, Aris meletakkan tas kerjanya sembarangan diatas kasur. Tidak seperti biasa yang isinya dikeluarkan dulu dan disembunyikan.
Shafira segera memastikan suaminya sudah masuk kamar mandi lalu menutup pintu kamarnya lagi. Segera dibukanya tas kerja Aris, dan terlihat ada dua buah handphone didalam tas tersebut. Shafira segera mengambil handphone Aris yang baru kali ini ia lihat.
"Nah, ini pasti handphone yang dipakai kontekan sama selingkuhannya. Niat juga kamu Mas, sampai punya dua handphone gini." gumam Shafira sambil menghidupkan handphone Aris yang ternyata memakai sidik jari.
Ck!
"Kenapa pakai dikunci segala sih." umpat Shafira kesal. Ia yakin di handphone suaminya, banyak bukti perselingkuhannya dengan wanita itu.
Shafira segera menaruh kembali handphone Aris ke dalam tas, dan matanya langsung tertuju pada dompet suaminya, dompet yang sama sekali tidak pernah ia pegang.
Shafira menyeringai, segera diambilnya kartu ATM Aris dan ia tukar dengan kartu ATMnya yang sudah rusak. Ide dadakan untuk membuat suaminya yang pelit dan itu sedikit senam jantung.
"Nggak sia-sia aku nyimpan ATM rusak ini, sekarang ada gunanya juga." gumam Shafira terkekeh, lalu dengan cepat menyimpan ATM Aris ditempat yang aman, dan ia segera keluar kamar untuk menyiapkan makan malam.
"Aduh.. kira-kira berapa ya pin ATM nya." ujar Shafira yang saat ini berada di ATM. Untung saja tidak ada orang selain Shafira sendiri, sehingga Shafira tidak terburu-buru.
"Coba tanggal lahir mas Aris, deh."dengan tangan gemetar, Shafira mencoba memasukkan pin ATM menggunakan tanggal lahir Aris. Dan matanya langsung membulat saat pin yang ia masukkan langsung tepat.
"Woww.. Empat puluh juta?" Shafira berdecak kagum melihat nominal di rekening suaminya itu. Tidak menyangka suaminya mempunyai tabungan sebanyak ini. Dan ia hanya dijatahi uang sebesar 20 ribu sehari untuk kebutuhan rumah.
"Keterlaluan kamu, Mas. Punya uang puluhan juta, tapi kasih uang belanja cuma 20 ribu sehari dan dimakan lima orang. Benar-benar dzolim kamu." gerutunya, merasa sedikit sakit hati karena sifat pelit suaminya.
Selama menikah, ia sama sekali tidak pernah dibelikan selembar pakaian pun oleh suaminya itu, padahal pakaiannya kebanyakan sudah lusuh semua.
"Gak dosa kan, ya. Kalau ambil uang suami diam-diam. Suaminya juga selama ini medit, dan sudah dzolim pada istri." gumamnya, sedikit ragu.
Dan setelah berpikir cukup lama, ia akhirnya mengambil uang di rekening Aris. Shafira tidak mengambil semuanya, ia hanya mengambil 30 juta saja dan menyisakan 10 juta.
Ia yakin, kehilangan uang 30 juta sudah cukup untuk membuat Aris syok berat.
"Maaf ya, Mas. Anggap saja ini sebagai kompensasi karena selama ini kamu sudah berbohong, dan berani selingkuh di belakangku."
Sebelum pulang, Shafira mampir ke warung bakso langganannya dengan Vinna yang ada di dekat taman.
"Mang, baksonya satu ya sama es teh."
"Eh, tumben sendirian aja. Neng Vinna nya gak ikut?" tanya si mamang yang biasa melihat Shafira dan Vinna datang bersama.
"Nggak, Mang, kebetulan saya tadi ada urusan dan mampir kesini." jawab Shafira tersenyum.
Sebelum manyuao baksonya, Shafira lebih dulu mengambil foto bakso dan es tehnya lalu ia kirim pada Vinna.
Shafira:
"Enaknya..."
Shafira terkekeh, ia sengaja mengirim foto bakso pada sahabatnya itu, yang sangat doyan dengan makanan berkuah tersebut.
Vinna:
"Ihh, Lo kok gak ngajak-ngajak, sih!"
Shafira:
"Gue abis keluar terus mampir kesini sekalian pulang."
Vinna:
"Darimana?"
Shafira:
"Ada deh..."
Vinna:
Mengirim emoji jari tengah.
Shafira tertawa, lalu membalas pesan Vinna, yang akan mengirimkan bakso kerumah Vinna menggunakan ojek.
Disaat sedang berbalas pesan dengan Vinna.
Shafira mendapatkan kiriman foto dari Bi Sari, tetangganya yang ada didekat rumah orang tuanya.
Bi Sari hampir setiap hari mengirim foto proses pembangunan rumahnya agar Shafira tahu sudah sejauh mana perkembangannya.
Sudah sebulan lebih, dan tinggal 80% rumahnya akan jadi. Karena suami Bik Sari paman Ilham memperkerjakan banyak orang dan Shafira setuju saja agar rumahnya cepat selesai.
"Alhamdulillah... Nanti kalau aku udah keluar dari rumah yang bagai neraka itu, aku bisa langsung tempati rumah ini." gumam Shafira, merasa bersyukur karena diberikan rezeki lebih sehingga bisa sampai membuat rumah yang lebih bagus dan lebih besar dari rumah mertuanya.
Shafira pun langsung pulang setelah menghabiskan baksonya, tak lupa ia juga membelikan Vinna dan ia kirim menggunakan ojol yang mangkal tidak jauh dari lapak bakso.
Sesampainya dirumah Shafira melihat ada motor asing yang terparkir di depan rumah mertuanya.
"Tumben ada tamu datang kerumah." ujar Sahfira sambil berjalan memasuki rumah.
"Waah, terima kasih banyak ya, Sayang. Kamu repot-repot sekali bawain ibu oleh-oleh banyak gini, tas sama bajunya bagus banget, ibu suka." ucap Bu Ratna dengan senyum sumringah.
"Gak repot kok, Bu. Sekalian kemarin Fela pulang kerumah ibu untuk kasih tahu kalau ibu sama Mas Aris minggu ini mau datang kerumah untuk melamar Fela. Jadi Fela gak enak kalau gak bawain ibu oleh-oleh." jawab Fela disertai senyuman.
"Kamu perhatian sekali sama ibu, beda jauh dengan menantu ibu itu. Dia mana pernah beliin ibu apa-apa. Bisanya cuma jadi beban aja dirumah ini." ucap Bu Ratna, mulutnya lancar sekali saat membanding-bandingkan menantu dan calon menantunya.
Fela semakin bangga terlihat dari senyumannya yang tidak luntur-luntur.
"Ibu udah gak sabar mau lihat kamu dan Aris menikah. Besok minggu ibu sama Aris pasti datang. Kenapa kamu gak minta antar Aris aja datang kesini?" ucap Bu Ratna lagi.
"Mas Aris kan masih dikantor, Bu. Lagia Mas Aris nggak tahu kalau Fela mau datang kesini. Mas Aris selalu melarang aku buat main ke rumah ibu. Katanya takut kalau sampai istrinya curigam" ujar Fela mengadu.
"Ibu juga heran, kenapa si Aris takut sekali kalau istrinya tahu. Lagian wajar kan laki-laki kalau mau menikah lebih dari satu kali. Ibu malah berharap kalau Aris pisah aja sama istrinya itu. Ibu selalu dibuat darah tinggi sama dia. Udah gitu, kerjaannya keluyuran gak jelas." ucap bu Ratna, ia dengan semangat menjelek-jelekan sang menantu didepan Fela.
"Ya ampun.. apa jangan-jangan Mas Aris dulunya kena pelet ya sama Shafira, biasanya orang-orang kampung kan begitu. Banyak yang pakai pelet." timpal Fela semakin memanasi situasi.
"Kenapa ibu gak kepikiran kesana, ya. Kamu benar juga, pasti ini si Shafira pakai pelet. Makanya Aris tuh susah untuk dikasih tahunya." seru Bu Ratna yang mulai terpancing.
"Ibu tenang aja, nanti kalau Fela udah jadi istrinya Mas Aris. Fela akan buat si Shafira nggak betah dan memilih untuk pisah dengan Mas Aris." ucap Fela dengan penuh percaya diri.
"Nah pinter kamu, nanti ibu yang paksa Aris untuk bawa kamu tinggal disini aja, jangan ngontrak lagi. Kita buat si Shafira nggak betah jadi istrinya Aris, dengan begitu kamu bisa jadi satu-satunya istrinya anak ibu." ucap Bu Ratna, disertai senyuman liciknya.
Shafira yang tadinya ingin masuk kedalam rumah jadi urung saat mendengar percakapan keduanya. Ia mengepalkan kedua tangannya, berusaha meredam emosi.
"Siapa juga yang betah jadi menantu dikeluarga ini. Udahlah suami medit punya mertua titisan Fir'aun pula!. Kalian tenang aja, sebelum kalian usir pun, aku emang udah mau pergi dari rumah ini. Tunggu aja tanggal mainnya!" gumam Shafira menyeringai, lalu matanya tak sengaja tertuju pada motor milik Fela yang terparkir disamping rumah.
Seketika Shafira pun menemukan ide cemerlang untuk memberikan pelajaran pada si pelakor untuk melampiaskan emosinya, karena mau melabrak pun, ia enggan.
Shafira segera berjalan pelan mendekati motor Fela, karena motornya terparkir disamping rumah jadi orang yang ada didalam rumah tidak bisa melihat keberadaannya.
Shafira dengan cepat mengempiskan ban depan dan belakang motor milik Fela.
"Rasain lo pelakor, ini sedikit pelajaran dari seorang istri sah!" gumam Shafira, tersenyum puas saat melihat kedua ban motor milik Fela kempes dengan sempurna.