(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jantung Naga yang Tertidur
Langkah Han Luo tidak rata. Suara seretan sepatunya bergema pelan di sepanjang lorong kristal merah itu.
Setiap kali dia melangkah, bilah pedang patah yang kini menjadi pengganti lengan kirinya bergoyang, menarik jaringan otot dan benang bayangan yang menjahitnya ke tulang selangka. Rasa ngilu yang tajam menusuk hingga ke ubun-ubun, tapi Han Luo memaksa dirinya mengabaikannya. Dia mengunci kesadarannya di balik tembok kebekuan mental dari Sutra Hati Es Abadi.
"Posturmu condong ke kiri," komentar Su Qingxue dari belakang, suaranya sedingin es. Dia masih memapah Long Tian. "Beban logam itu merusak titik gravitasimu. Jika Jenderal Wu menyerang dari kanan bawah, kau tidak akan punya waktu untuk memutar tubuhmu. Kau akan terbelah dua sebelum bisa menangkis."
"Terima kasih atas analisis gratisnya, Putri Iblis," balas Han Luo serak. Napasnya pendek-pendek. "Aku tidak berniat menari dengannya."
"Tuan Mo..." Long Tian akhirnya bersuara, kesadarannya mulai pulih berkat daya tahan tubuh naganya, meski dadanya masih hancur. Dia melihat bilah pedang yang menancap di bahu Han Luo. Mata pemuda itu berkaca-kaca. "Lenganmu... kau melakukan itu demi kita?"
"Aku melakukan ini agar aku tidak mati," potong Han Luo dingin, menolak narasi kepahlawanan yang coba disematkan Long Tian padanya. "Simpan empatimu. Kau butuh setiap tetes energi untuk bernapas."
Lorong kristal merah itu semakin lama semakin melebar. Bau amis darah purba berubah menjadi aroma udara dingin yang sangat tajam, mengingatkan Han Luo pada Kolam Suci di Benua Selatan, namun ribuan kali lebih pekat.
Mereka melangkah melewati sebuah lengkungan batu raksasa yang menyerupai tulang rusuk.
Dan di sana, labirin itu berakhir.
Mereka berdiri di tepi sebuah kawah bawah tanah yang sangat luas. Di tengah kawah itu, ditopang oleh pilar-pilar es alami yang terbentuk selama ribuan tahun, melayang sebuah bongkahan raksasa.
Ukurannya sebesar rumah tiga lantai. Warnanya biru kehitaman, dilapisi lapisan es abadi. Dan yang paling mengerikan... bongkahan es itu berdenyut.
DUM... DUM...
Setiap denyutannya melepaskan gelombang kejut dingin yang membuat dinding kristal di sekitarnya retak halus.
[Jantung Naga yang Tertidur] Pusat energi Reruntuhan Keempat.
"Ini..." Su Qingxue menahan napas, matanya membelalak penuh ketamakan. "Ini bukan sekadar jantung monster biasa. Tekanan energinya... luar biasa."
Han Luo tidak terpesona. Matanya memindai lingkungan kawah dengan cepat. Lantai kawah dipenuhi stalagmit es tajam. Suhu di sini mendekati nol mutlak; jika bukan karena sirkulasi Qi konstan, darah mereka sudah membeku menjadi padat.
"Kita tidak punya waktu untuk mengagumi pemandangan," kata Han Luo, berjalan ke pinggir kawah. Dia menunjuk ke arah celah sempit di balik stalagmit raksasa di sisi kiri. "Nona Suci. Bawa Hei Long ke sana. Gunakan Seni Tirai Ilusi Berdarah-mu ke titik maksimal untuk menyembunyikan kalian berdua. Jangan keluar apa pun yang terjadi."
Su Qingxue mengerutkan kening. "Kau menyuruhku sembunyi? Dan kau?"
Han Luo berbalik. Mata kanannya menatap lurus ke arah lorong tempat mereka datang.
"Jenderal Wu mengikuti jejak darahku. Dia buta karena dinding labirin ini, tapi begitu dia dekat, dia akan merasakan energi jantung naga ini.”
"Dengan satu tangan dan pedang karatan di bahumu?" Su Qingxue mencibir, tapi ada nada ketegangan di suaranya. "Itu bukan umpan, Tuan Mo. Itu namanya bunuh diri yang tidak estetik."
"Lakukan saja!" bentak Han Luo.
Su Qingxue mendecih, tapi dia segera menyeret Long Tian menuju celah stalagmit. Sebelum dia mengaktifkan ilusinya, dia menatap Han Luo satu kali lagi.
"Jika kau mati," kata gadis iblis itu, "Aku akan mengambil cincinmu, semua hartamu, dan membiarkan mayatmu dimakan naga ini."
"Aku tidak mengharapkan kurang dari itu darimu," jawab Han Luo.
Sreett. Kabut merah menutupi Su Qingxue dan Long Tian, menyatu sempurna dengan bayangan es. Mereka menghilang dari pandangan.
Han Luo kini sendirian.
Dia berjalan ke tengah kawah, tepat di bawah Jantung Naga yang melayang. Tekanan gravitasi dari jantung itu membuat lututnya hampir bengkok.
Dia mengambil napas dalam-dalam. Tangannya yang tersisa mencabut Pedang Teratai Darah. Bilah pedang di tangan kanannya, dan bilah pedang rongsokan yang menancap di bahu kirinya. Sebuah postur bertarung yang asimetris, cacat, dan menyedihkan.
"Ayo, Jenderal," bisik Han Luo pada kegelapan. "Ambil nyawaku."
Lima menit kemudian, keheningan kawah itu pecah.
BLAAARRR!
Dinding kristal di ujung lorong meledak hancur menjadi serpihan debu.
Dari balik kepulan debu itu, Jenderal Wu melangkah masuk. Zirah hitamnya berasap. Matanya yang merah menyala menatap langsung ke arah kawah, dan senyum buas mengembang di wajahnya yang penuh bekas luka.
Di tangannya, dia memegang Mata Iblis Es yang kini bersinar terang, beresonansi liar dengan Jantung Naga raksasa di atas mereka.
"Akhirnya..." suara Jenderal Wu bergemuruh, mengguncang stalagmit es di kawah. "Pusat dari Reruntuhan Keempat. Dan lihat siapa yang menyambutku di sini."
Jenderal Wu menatap Han Luo yang berdiri sendirian di tengah kawah.
Tawanya meledak. Tawa yang merendahkan dan penuh ejekan.
"Hahahaha! Apa-apaan bentukmu itu, Tikus? Kau menjahit sepotong rongsokan ke bahumu yang buntung? Kau pikir kau menjadi senjata? Kau hanya terlihat seperti lelucon yang rusak!"
Han Luo tidak membalas provokasi itu. Dia memusatkan Qi-nya, menghitung jarak. Tiga puluh meter. Dua puluh meter.
"Serahkan gagang pedang itu sekarang," Jenderal Wu mengangkat pedang besarnya yang memancarkan aura merah pekat Jiwa Baru Lahir. "Atau aku akan mencincangmu begitu halus hingga anjing pun tidak mau memakan sisa dagingmu."
"Kau terlalu banyak bicara untuk orang yang sedang berdiri di atas kuburannya sendiri, Jenderal," ucap Han Luo dingin.
Mata Jenderal Wu menyipit. Kemarahannya meledak.
"MATI!"
Jenderal Wu menerjang. Kecepatannya tidak masuk akal. Dalam sekejap mata, dia sudah melintasi jarak dua puluh meter, mengayunkan pedang besarnya untuk membelah tubuh Han Luo secara horizontal.
Han Luo tidak mencoba menangkisnya dengan pedang di tangan kanannya. Dia tahu itu percuma. Kekuatan Jiwa Baru Lahir akan mematahkan tulang tangannya seketika.
Sebaliknya, Han Luo menggunakan kelainan gravitasinya. Dia membuang tubuhnya ke arah kiri dengan posisi yang tidak wajar, menggunakan berat bilah pedang di bahunya sebagai jangkar.
WUSH!
Pedang raksasa Jenderal Wu membelah udara kosong tempat dada Han Luo berada sedetik yang lalu.
Tapi serangan itu terlalu cepat. Han Luo tidak bisa menghindar sepenuhnya. Pinggiran aura pedang Jenderal Wu menghantam bahu Han Luo.
TANG! KRAK!
Bilah pedang yang dijahit di bahu Han Luo berbenturan dengan pedang Jenderal Wu. Logam beradu logam. Jahitan benang bayangan dan daging di bahu Han Luo robek seketika. Rasa sakit yang mematikan meledak, darah menyembur dari bahunya, dan tulang selangkanya remuk.
Han Luo terlempar sejauh sepuluh meter, menghantam tanah es dengan keras.
"Uhuk!" Han Luo memuntahkan darah segar, pandangannya berkunang-kunang.
Pedang patah di bahunya kini bengkok ke belakang, merobek dagingnya sendiri.
"Hanya itu?!" Jenderal Wu berjalan mendekat dengan santai, menyeret pedang besarnya di atas es. "Hanya menghindar satu kali dengan mengorbankan sisa bahumu? Kau benar-benar sampah."
Jenderal Wu berdiri tepat di atas Han Luo yang terkapar. Dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk eksekusi akhir.
Tapi Jenderal Wu tidak menyadari satu hal.
Saat Han Luo terlempar tadi, pedang patah di bahunya yang bergesekan dengan pedang Jenderal Wu telah menciptakan percikan energi. Dan di tempat Han Luo terkapar sekarang, adalah titik tepat di bawah dasar Jantung Naga yang Tertidur.
Han Luo mendongak, menatap Jenderal Wu dengan mata kanannya yang dipenuhi darah, namun tak ada ketakutan di sana. Hanya tatapan seorang penipu yang baru saja menyelesaikan trik sulapnya.
"Kau... tidak memperhatikan lingkunganmu, Jenderal."
Tangan kanan Han Luo, yang sedari tadi menyembunyikan Pedang Teratai Darah di bawah tubuhnya, tiba-tiba menusuk ke atas.
Bukan menusuk Jenderal Wu.
Han Luo menusukkan Pedang Teratai Darah miliknya lurus ke atas, menembus lapisan pelindung es dan menusuk ujung bawah bongkahan Jantung Naga raksasa yang melayang tepat di atas mereka.
JLEB!
Sesaat, waktu berhenti.
Jenderal Wu mengerutkan kening. "Apa yang kau..."
DUMMMMMMMMM!
Detak jantung yang sangat keras meledak, menciptakan gelombang suara fisik yang meremukkan gendang telinga.
Jantung Naga yang Tertidur telah dilukai. Sistem pertahanan purba dari monster yang sudah mati itu bangkit seketika.
Seluruh kawah bergetar hebat. Jantung raksasa itu memancarkan cahaya biru yang menyilaukan mata, memindai ancaman terbesar di sekitarnya.
Han Luo segera mengaktifkan Teknik Pernapasan Kayu Mati hingga batas absolut, membuat aura kehidupannya menjadi nol. Bagi Jantung Naga, Han Luo kini hanyalah sebuah batu mati di lantai.
Sebaliknya, Jenderal Wu yang sedang melepaskan aura Jiwa Baru Lahir-nya secara penuh dan memegang Mata Iblis Es yang beresonansi kuat... menjadi target ancaman terbesar.
"Sialan!" Jenderal Wu menyadari jebakan ini. Dia mencoba melompat mundur.
Terlambat.
Dari permukaan Jantung Naga itu, ditembakkan sebuah pilar cahaya biru kehitaman lurus ke arah Jenderal Wu.
Napas Naga Es: Suhu Nol Mutlak.
Pilar cahaya itu menghantam Jenderal Wu secara telak.
"AAAAAAAAAAAARGH!"
Raungan Jenderal Wu terdengar mengerikan. Aura Jiwa Baru Lahir-nya yang membara seperti api, padam seketika ditelan oleh kekuatan alam purba. Lapisan es hitam merambat dari dada Jenderal Wu, membekukan zirah, kulit, darah, dan organ dalamnya secara real-time.
Jenderal Wu mencoba mengayunkan pedangnya untuk memecahkan es itu, tapi lengannya membeku di tengah udara.
Dalam waktu lima detik, monster Jiwa Baru Lahir yang menakutkan itu berubah menjadi patung es hitam yang berpose dengan wajah menjerit penuh teror.
Di bawah patung itu, Han Luo terbaring dalam genangan darahnya sendiri yang mulai membeku. Tubuhnya menggigil hebat, hampir mati karena efek samping ledakan es dari Jantung Naga.
Han Luo menatap patung es Jenderal Wu melalui pandangannya yang kabur. Dia tersenyum lemah.
"Sudah kubilang... di Reruntuhan ini... aku yang akan mengambil segalanya darimu."
Kesadaran Han Luo akhirnya menyerah pada kegelapan.
tpi gw demen....