NovelToon NovelToon
Di Ulang Tahun Ke-35

Di Ulang Tahun Ke-35

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ama Apr

Di malam ulang tahun suaminya yang ke tiga puluh lima, Zhea datang ke kantor Zavier untuk memberikan kejutan.

Kue di tangan. Senyum di bibir. Cinta memenuhi dadanya.

Tapi saat pintu ruangan itu terbuka perlahan, semua runtuh dalam sekejap mata.

Suaminya ... lelaki yang ia percaya dan ia cintai selama ini, sedang meniduri sekretarisnya sendiri di atas meja kerja.

Kue itu jatuh. Hati Zhea porak-poranda.

Malam itu, Zhea tak hanya kehilangan suami. Tapi kehilangan separuh dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Tubuh Zavier seketika merosot. Semua kata seakan tertahan di tenggorokan. Semua sangkalan mendadak menghilang dari kepala.

Niatnya untuk mengatakan rencana pernikahannya dengan Elara, ternyata membawa bencana. Kejahatan yang dua hari ini ia sembunyikan ... ternyata terbongkar juga dengan cara tak terduga.

"M-Ma-ma ... A-Arin ... m-maafkan aku?"

Jeritan Arin dan Rindu mengudara lagi. Bukan jeritan kemarahan saja, tapi bercampur dengan kepedihan.

Semua yang menyaksikan momen itu hanya bisa menitikkan air mata dan mengusap dada.

Sedangkan Elara, membatu dengan seluruh tubuh yang gemetar hebat.

Semua impian yang baru saja ia rajut, seketika hancur berhamburan entah ke mana. "Zavier membunuh papanya? Berarti dia akan dipenjara. Lalu ... bagaimana dengan nasibku? Bagaimana dengan rencana pernikahan kami?" Elara membatin gusar. Napasnya tercekat, air mata nyaris jatuh, namun ia tahan karena tak mau terlihat lemah di depan keluarga besar Zavier dan juga Zhea.

"Aku tidak bermaksud menghilangkan nyawa Papa. Aku kelepasan. Ak-"

"Cukuuuup!" Lengkingan Rindu memutus perkataan terpatah-patah dari mulut Zavier. "Apa pun alasannya ... kau sudah membunuh suamiku! Dasar anak durhaka! Membusuk lah kau dalam penjara!" jeritnya membahana sampai menimbulkan gema.

"Nggak, Ma! Aku nggak mau masuk penjara! Tolong jangan laporkan aku ..." Zavier merangkak, menghampiri ibu dan adiknya dengan berlinang air mata. Dia bersujud, namun Rindu dan Arin sama sekali tak tersentuh.

"Bawa dia ke kantor polisi, Mas! Bawa dia keluar dari rumahku ..." Suara Rindu menggaung parau.

"Nggak, Ma! Aku nggak mau masuk penjara!" Zavier memberontak ketika Sandi dan kedua anaknya menarik tubuhnya untuk berdiri. "Om, Bang Wili! Bang Wildan ... ampuni aku! Aku nggak mau dipenjara ... tidaaaak!" Namun berontakan dan permohonan maaf itu sia-sia belaka.

Tubuh Zavier tetap diseret oleh mereka bertiga, bahkan dua satpam di rumah itu ikut memeganginya, mengikat tangannya dengan tali.

"Lepaskan aku! Lepas!" Zavier tak berhenti meronta. Dan Elara, sang kekasih hatinya ... akhirnya meraung sambil mengejar Zavier.

"Masss ... bagaimana dengan pernikahan kita?"

Pertanyaan itu menggantung di udara, karena Zavier sudah dimasukkan ke dalam mobil milik Sandi.

"Masss ...!" Elara terjatuh, bersimpuh di halaman rumah keluarga Dinata. Air matanya pecah. "Mass ... jangan tinggalkan aku!" raungnya memelas.

Tapi tak ada satu pun yang peduli, malah tanpa diduga ... salah satu kerabat Rindu menyiramkan air ke tubuh Elara, membuat gadis itu menjerit tak terima.

"Aaa ...! Kenapa kamu menyiramku wanita tua?!"

"Karena pelakor sepertimu memang pantas disiram!" balas wanita bergamis hitam itu dengan wajah murka. "Masih untung itu air biasa. Seharusnya kau disiram menggunakan air comberan!" lanjutnya mengejek sambil menjambak rambut Elara kemudian menghempasnya kuat-kuat.

"Aaa ... sakiit!" Elara meringis kesakitan, memegang kepalanya yang nyut-nyutan.

"Huuhhh! Dasar nggak punya malu!" ejek kerabat yang lainnya.

"Kasihan deh nggak jadi dinikahin! Calon suaminya malah dipenjara."

"Kalian memang pasangan yang cocok. Satu nggak punya urat malu dan satunya lagi pembunuh!"

"Tetap ya, istri sah yang menang! Hidup Zhea!"

"Sana pergi! Lonte kayak lo nggak pantes ada si sini! Menjijikan!"

"Susul tuh calon suami lo ke penjara! Temani dia di dalam sel! Katanya cinta!"

Makian, cemoohan dan amukan itu membuat Elara benar-benar kehilangan harga diri dan tak berkutik.

Dengan langkah tertatih, ia menggeret langkahnya keluar dari area kediaman keluarga Dinata.

Dan sebelum keluar, ia melihat Zhea mengangkat jari tengah ke arahnya sambil tersenyum sinis.

"Brengsek! Kenapa semua jadi begini?! Kenapa aku yang menderita?!" Sambil melangkah tak tentu arah, Elara membatin penuh amarah. Semua impian dan harapannya sudah benar-benar porak-poranda.

Mimpinya untuk menjadi nyonya Zavier Dinata dan menguasai seluruh harta lelaki itu hanya tinggal angan-angan semata. "Kenapa Zavier harus membunuh ayahnya? Kenapa dia begitu bodoh? Kalau sudah begini ... aku tidak mau berhubungan lagi dengan dia. Aku tidak mau terseret kasusnya. Sesegera mungkin, aku harus mengakhiri hubunganku dengan Zavier." Elara mempercepat langkah, menghampiri tukang ojek yang mangkal di pinggir gapura perumahan mewah itu.

_____

Ruang tunggu kantor polisi sore itu tampak ramai, tetapi hening tiba-tiba ketika pintu utama terbuka.

Sandi masuk dengan langkah berat, wajahnya pucat menahan emosi. Di belakangnya, Wili dan Wildan mengapit Zavier, yang kedua tangannya gemetar dan wajahnya pucat karena tekanan.

Aroma kopi dingin dan kertas laporan memenuhi ruangan. Para polisi yang sedang sibuk menoleh, merasa ada sesuatu yang besar sedang terjadi.

"Pak ... kami ingin melaporkan sebuah tindak pidana ..." Suara Sandi bergetar saat ia mendekati meja penyidik yang sedang bertugas.

Petugas mengangkat wajah, matanya langsung menangkap ketegangan di wajah Sandi. "Silakan duduk dulu, Pak. Dan silakan jelaskan apa yang terjadi."

Sandi menelan ludah. "Ini soal ... pembunuhan yang dilakukan oleh keponakan saya sendiri."

Wili anak sulung Sandi, membuka tas laptop milik Zhea dan meletakkan di atas meja. "Ini bukti rekaman kamera tersembunyi di kantor perusahaan almarhum Om saya, Pak. Mohon disaksikan, Pak." Wili membuka laptop tersebut, lalu menyalakannya dan mengklik file yang berisi rekaman Soni dan Zavier.

Zavier berdiri terpaku. Wajahnya tegang, napasnya tersengal. "Om ... kenapa harus seperti ini? Masalah ini masih bisa kita bicarakan secara kekeluargaan," gumamnya lirih, namun tak berdaya.

"Kekeluargaan apa, Zavier? Perbuatanmu sudah melanggar hukum!" bentak Sadi murka.

Petugas menatap Zavier dengan sorot bertanya, lalu memanggil dua anggota untuk membawa mereka ke ruang pemeriksaan.

Lampu neon putih menyoroti ruangan sempit itu, menambah tekanan suasana.

Petugas memutar kursi, mengklik rekaman video di laptop tadi.

Suara langkah kaki, suara argumen tertahan, dan kemudian ... di layar, terlihat jelas Zavier mendorong Soni hingga tersungkur dan dahinya membentur meja, lalu tubuh itu jatuh membentur lantai.

Zavier panik, dia berdiri kaku berbelas-belas menit, hingga akhirnya berjongkok perlahan, mengguncangkan tubuh ayahnya dengan tangan.

Ketika video berhenti, ruangan itu terasa membeku. Hanya suara napas putus-putus Zavier yang terdengar.

"Bukti ini sudah sangat jelas, Pak Zavier. Anda mendorong ayah anda sendiri hingga menyebabkan beliau dilarikan ke rumah sakit dan akhirnya meninggal dunia," ucap petugas polisi itu dengan nada datar, namun tajam.

Zavier menunduk, pundaknya bergetar menahan tangis dan ketakutan. "Aku ... aku tidak bermaksud membunuh Papa, Pak. Kami bertengkar ... dan aku ... hilang kendali."

Sandi menutup wajahnya dengan kedua tangan, tidak sanggup menatap keponakannya sendiri.

Wili mengepalkan tangan, menahan emosi campur aduk antara marah dan sedih.

Wildan, yang empat tahun lebih muda dari Wili dan Zavier, hanya menunduk, tak berani menatap siapa pun.

Petugas mengangguk pelan. "Baik, Pak Sandi, kami akan memproses sesuai hukum. Saudara Zavier, mulai detik ini Anda kami tahan untuk penyelidikan kasus dugaan pembunuhan terhadap Pak Soni: ayah kandung anda sendiri."

Polisi mendekat dengan borgol di tangan.

Zavier mundur satu langkah, wajahnya panik. "Om ... Bang Wili ... Bang Wildan ... aku nggak mau masuk sel. Aku mau pulang! Kita kan keluarga ..." Suaranya memohon, putus asa.

Namun Sandi hanya berkata pelan, suaranya pecah. "Kita memang keluarga, Zavier. Tapi Papamu pantas mendapatkan keadilan ..."

Polisi memasang borgol di kedua pergelangan tangan Zavier.

Besi itu dingin, berat, seakan menyegel takdirnya.

Zavier menangis tanpa suara.

Sandi berpaling, tak sanggup melihat lebih lama. Meski ia benci pada Zavier, tapi sisi lain hatinya sedikit merasa iba.

Wili memejamkan mata, sementara Wildan memeluk dirinya sendiri, tubuhnya gemetar.

Ketika Zavier digiring keluar ruangan, seluruh kantor polisi menatap adegan itu dengan campuran simpati dan keterkejutan. Lagi-lagi kasus seorang anak yang menghilangkan nyawa orang tuanya sendiri.

_____

Rumah keluarga Dinata sore itu terasa berat, seolah seluruh udara membawa duka dan kelelahan.

Rindu duduk di ruang keluarga sambil mendekap figura berisi foto suaminya seraya dipeluk oleh Zhea.

Sementara Arin duduk di lantai bersandar pada sofa, matanya kosong menatap ke arah karpet. Dari samping, Windi: istri Sandi memeluknya.

Tak lama, pintu depan terbuka.

Sandi bersama kedua anaknya masuk dengan langkah pelan. Tanpa berkata apa-apa, Sandi mengangguk pada Rindu ... memberi tanda bahwa semuanya sudah dilakukan.

Rindu menutup mata dan menarik napas panjang, seolah mencoba menjaga hatinya agar tetap utuh. "Bagaimana ... Mas?" tanyanya lirih.

Sandi mengangguk. "Zavier resmi ditahan. Polisi sudah melihat rekaman itu."

Arin mengusap wajahnya keras. Meski ia sudah tahu, mendengar kalimat itu langsung terasa seperti palu godam menghantam dadanya.

Zhea menunduk, air matanya kembali jatuh. Bukan karena Zavier jadi tersangka, tapi karena prihatin, nasib ayah mertuanya begitu tragis.

Sementara itu, kini Rindu tidak menangis. Air matanya entah sudah habis, atau hatinya sudah terlalu patah untuk mengeluarkannya. Ia hanya berkata pelan, tetapi tegas. "Syukurlah. Memang begitu seharusnya. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya." Tangannya gemetar memegang figura foto Soni. Nada suaranya dingin, seolah menggambarkan betapa hancurnya hati seorang istri sekaligus seorang ibu. "Meski Zavier lahir dari rahimku ... tapi aku tak sudi lagi menganggap dia sebagai anak. Biarlah dia mendekam di penjara selamanya ..." Rindu menunduk, bahunya bergetar. "Ya Allah, ampuni hamba ..."

Arin menatap ibunya lama. Lalu beranjak dan memeluk Rindu dengan kuat. "Ma, aku benar-benar nggak kuat. Aku benci Zavier! Aku sangat membencinya ..."

Zhea termangu, menyaksikan kesedihan dan kekecewaan yang dirasakan seluruh keluarga besar Dinata, lalu ia membatin lirih, "Zavier ... bukannya aku tak punya rasa simpati, tapi inilah akhirnya ... yang bertepuk tangan dan tertawa di akhir kisah ini adalah aku. Kau ... dan pelacurmu itu kalah. Kalian hancur. Allah Maha Adil, pengkhianatan yang kau lakukan pada pernikahan kita dibayar tunai oleh Allah. Tapi kenapa harus Papa Soni yang menjadi korban, kenapa bukan kau dan pelakor itu saja yang mati? Tapi tunggu saja, bukan hanya kau yang akan mendekam di penjara ... simpananmu itu juga akan kutuntut pasal perzinaan."

Suara Sandi terdengar memecah keheningan sesaat itu. "Besok, kita dipanggil polisi sebagai saksi. Mereka butuh keterangan darimu ... Rindu, Arin dan kamu, Zhea ... sebagai pemilik laptop itu."

Ketiganya mengangguk lemah.

"Bukan hanya kalian bertiga saja yang dipanggil, si Elara juga ikut dipanggil karena tadi dalam keterangannya ... Zavier bertengkar dengan Soni karena si Elara juga. Sesuai dengan dugaan yang tadi siang kusampaikan ... jika Soni memecat Elara dan Zavier murka.

"Astagfirullah ... Zavier ..." Rindu menatap foto suaminya yang ia dekap sejak tadi. "Ternyata anak durhaka itu lebih membela pelacurnya dan tega menghilangkan nyawamu, Mas ..."

Lampu ruang keluarga redup, dan untuk pertama kalinya, mereka betul-betul merasakan bahwa keluarga mereka tak akan pernah sama lagi.

_____

Koridor kantor polisi nampak lengang sore itu. Bau kertas, debu, dan kopi basi mengambang di udara.

Seorang wanita berparas cantik namun tegang melangkah cepat, dialah Elara.

Tumit sepatunya berketuk keras di lantai, menandakan keresahan yang ia bawa.

Petugas menoleh. "Nama anda siapa dan mau membesuk siapa, Bu?"

"Nama saya Elara Putri. Saya ingin membesuk tahanan bernama Zavier Dinata."

Petugas itu terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Silakan ke ruang kunjungan. Tapi waktu terbatas."

Elara masuk dengan langkah tergesa.

Di dalam sel, Zavier duduk dengan pakaian yang sudah kusut. Rambutnya acak-acakan, matanya merah karena terus menangis dan menahan amarah.

Ketika seorang petugas masuk dan mengatakan jika Elara datang membesuk, wajah Zavier langsung berubah lega dan bahagia. "Elara ..." Suaranya pecah, ia berdiri terburu-buru. Lalu keluar dengan cepat.

Ketika sampai di ruang kunjungan, ia langsung berlari untuk memeluk Elara, namun gadis itu malah mundur dan berseru. "Jangan mendekat, Mas!"

Zavier terhenyak, hatinya sontak berdenyut nyeri. Larangan itu membuat Zavier tertegun, kemudian perlahan duduk. Tangannya gemetar.

Elara menghela napas panjang. "Mas, aku tidak menyangka kalau kamu nekat membunuh Pak Soni."

Zavier memejamkan mata. "Aku tidak sengaja, Ela. Aku emosi karena Papa tetap kukuh mau menurunkan jabatanku. Dan lagi, dia terus menghinamu. Aku tak terima dan refleks mendorongnya."

"Lalu sekarang bagaimana dengan nasibku, Mas? Bagaimana dengan pernikahan kita?" Elara mengepalkan tangannya.

Zavier menggeleng lemah. "Aku tidak tahu, Ela. Jangankan memikirkan rencana pernikahan kita ... nasibku saja aku tidak tahu. Berapa lama aku akan mendekam di dalam penjara," ucap Zavier rapuh dan putus asa. "Elara, sayang ... tolong jangan tinggalkan aku. Kamu satu-satunya orang yang aku punya saat ini. Semua keluargaku sudah meninggalkanku dan membenciku."

Elara tertawa pendek ... tawa getir yang tidak ada manisnya sama sekali. "Maaf, Mas. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa lagi membersamaimu. Kedatanganku ke sini adalah untuk mengakhiri hubungan kita. Aku mau putus dari kamu."

Zavier membeku. Tatapannya kosong seperti orang yang kehilangan tanah pijakan. "Ela ... apa yang kamu katakan barusan? Kamu pasti bercanda kan?"

Elara menggeleng cepat. "Aku tidak bercanda, Mas Zavier. Aku serius. Aku mau putus dari kamu. Aku tidak mau berhubungan lagi dengan lelaki kriminal seperti kamu. Selamat tinggal."

Zavier terdiam. Wajahnya membeku seperti patung. Tidak ada air mata. Tidak ada teriakan. Hanya mata yang kosong ... seolah nyawanya dicabut seketika.

1
Yunita Sophi
betul kata zhea menghancurkan diri sendiri dan rumah tangga orang...
Arin
Alhamdulillah akhirnya Pak Gusti sadar sebelum ajal menjemput.....
@Mita🥰
ya itu wajar mas kita sebagai manusia gak sedih sama orang yang jahatin kita ..tapi tidak boleh dendam ....
Yunita Sophi
pantesan anaknya jd perempuan murahan... ibunya matre
Ama Apr: hehe wkwk
total 1 replies
Yunita Sophi
menyesal itu pasti Zavier... apa berguna ? tentu tidak 🤣🤣🤣
Ama Apr: menyesalnya di akhir sih
total 1 replies
Yunita Sophi
🤣🤣🤣🤣🤣 aq tertawa untuk pelakor nya... rasain luh 😄😄😄
Ama Apr: hihihahaha
total 1 replies
Yunita Sophi
jelas Elara sll menurut i kemauan nya lembut dan bisa memuaskan nafsu Zavier.... krn di belum jd istri kamu belum morotin harta kamu sampai ludah... liat aja udah dapat semua semua kejelekan nya pasti kluar...
Ama Apr: iya, itu cuma sementara ya. klo istri kan udh psti menerima semua kekurangan
total 1 replies
Yunita Sophi
aq suka cara Zhea membalas sakit hati nya... semoga terungkap pembunuh nya... apa masih ada CCTV Zhea bagus itu klo masih ada..
Ama Apr: lanjut kk
total 1 replies
Yunita Sophi
😄😄😄😄😄 knp marah Zavier itu kan perempuan yg kamu pilih... semoga cepat terungkap si Zavier yg membunuh... biar batal nikahin si pelakor yg gak tau diri
Ama Apr: sipp kk
total 1 replies
Arin
Apa.....???? Masih nyalahin Gantari karena sudah menyebabkan dirimu masuk penjara huh..... masih gak sadar juga... Insaf woy.... keburu ajal menjemput seperti istrimu...
Arin: Semoga deh....
total 2 replies
Yunita Sophi
thor jgn biarkan Zavier selamat dan bahagia dgn si ulet nangka... semoga pak Sony selamat
Ama Apr: lanjut kk🫰
total 1 replies
Yunita Sophi
anak DURHAKA pengaruh dari pelakor KEJI... penjarakan Zavier dan tarik semua aset nya biar tau rasadia dan pelakor nya...
Ama Apr: siap kk
total 1 replies
@Mita🥰
kalian. ....

iya ini kami ...🫣🫣🫣
Ama Apr: hehe iya, marah2 lg nggak tuh aki2
total 1 replies
Yunita Sophi
bikin mereka dua penghianat itu hidup sengsara... klo bisa miskin kan mereka sampe jd gembel thor...
Ama Apr: sip kk, lanjut
total 1 replies
Yunita Sophi
gimana gak menangis liat orang baik di khianati kurang apa coba Zhea jd istri 😭 suami nya gatel dan pelakor nya rayuan nya hebat krn liat Zavier kaya raya...
Ama Apr: huhu iya kk
total 1 replies
Yunita Sophi
doa yg tulus akan jadi kenyataan... semoga
Ama Apr: aamiin
total 1 replies
Yunita Sophi
kebanyakan orang hamil dan sehabis melahirkan pasti gendut... dan jarang dan krn dia sibuk mengurus bayi nya... tp tunggu beberapa bulan lg dia akan berubah seperti dulu lagi..😄
Ama Apr: betul, intinya hrs saling mengerti antara suami dan istri. Terutama suami yg hrs sabar
total 1 replies
Yunita Sophi
1 thn berhianat berarti Zhea baru mulai hamil dong... dasar suami luknat semoga dapat balasan yg lebih menyakit kan..
Ama Apr: pasti kk
total 1 replies
Yunita Sophi
nikmati kebahagiaan palsu mu Zavier... sebentar lg kamu akan bebas dari Zhea...
Ama Apr: iya 🥹
total 1 replies
Yunita Sophi
umur sih masih termasuk remaja.. tp wih pengalaman nya luar biasa si Elara... apa pun akan di lakukan asal cowok merasa di manjakan dan terikat..
Ama Apr: begitulah gundik
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!