NovelToon NovelToon
Fattah Possessive Badboy

Fattah Possessive Badboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kapten cantik

DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!

"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.

Ngerti?"

"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"

"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________

Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.

Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.

Kecuali satu...

Aqqela Calista.

Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.

Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Harus Menikah

Geng motor XLOVENOS berkumpul di basecamp mereka, setelah Oliver sang ketua memerintahkan mereka merapat.

"Jadi, ayah Aqqela udah meninggal? Terus sekarang, cewek gue kerja jadi pelayan club buat penuhin kebutuhannya sehari-hari?"

Anggota inti geng XLOVENOS yang memberi laporan, mengangguk.

"Anjing!" umpat Oliver menendang meja kasar.

Rahang Oliver mengeras samar. Merasa menjadi pacar bodoh selama dua bulan ini, karena tak tau apa-apa tentang Aqqela.

Bagaimana bisa kekasihnya melewati masa-masa sulit itu sendirian?"

"Dimana club-nya?"

"Seventeen club, Oliv."

"Cabut!" Oliver meraih kunci motornya, sementara anggota yang lain mengangguk patuh, mengidupkan motor masing-masing.

Barisan motor besar itu membelah jalanan ibukota.

Melihat jaket kebanggaan dengan logo Serigala di punggung yang terkenal di Jakarta Pusat itu, membuat tidak ada siapapun yang berani menegur.

XLOVENOS. Terkenal akan kehebatan bela diri, balapan liar dan sulit di kalahkan.

Tiba di club, Oliver di hadang satpam penjaga.

"Mohon maaf, apa ada KTP?"

Langit melepaskan helm fullface-nya membuat satpam melebarkan mata.

"Xlo-venos?"

"Ck, awas lo!" Oliver mendorongnya kasar.

Pintu utama di buka anggotanya, membuat seluruh perhatian tertuju ke mereka.

"Woi, XLOVENOS ke sini anjir."

"Oliver ganteng banget ya ampun!"

"Pangeran-pangeran darimana ini, heh?"

"Oliver parah sih, manisnya nggak ada obat."

Oliver melangkah tidak peduli menghampiri seorang bertender.

"Mana cewek gue?" tanya Oliver dingin.

"Cewek?" Axel kebingungan.

"Dimana Aqqela? Gue harus ketemu dia."

Axel membulatkan mata, tidak menyangka bahwa Aqqela adalah kekasih dari ketua Xlovenos, geng motor yang di takuti di Jakarta Pusat.

Jika di Jakarta Selatan ada Levian yang di pimpin Fattah, maka di sini ada Xlovenos.

"Dia udah resign dari kemarin. Gue nggak tau dia dimana sekarang," jawab Axel gemetar.

"Brengsek!" umpat Oliver.

Adit yang sedang menegak birnya ikutan melirik ke kumpulan remaja itu.

"Lo cari Aqqela?" Adit tersenyum miring. Bagian kepala kirinya di perban karena kejadian tadi.

Oliver menoleh, "Kenapa? Lo tau cewek gue?"

Adit menghisap rokok di tangannya.

"Tadi tau, karena hampir gue tidurin anaknya. Tapi cewek lo jual mahal. Dia kabur, nggak ta-"

BUGH!!!

"ANJING LO!" sentak Oliver murka sambil melayangkan pukulan keras ke rahang Adit.

"Woi-woi, apa-apaan nih?!" seru teman-teman Adit.

"Bangsat!" Oliver menendang keras perut Adit sampai terpental.

"Heh, anak kecil nggak usah berani ya lo!" sentak Zou.

Anak-anak Xlovenos lain ikut menghajar teman Adit yang ingin memukul Oliver. Para pria dewasa itu kewalahan menghadapi bocah SMA yang menyerang mereka kini.

Seluruh anak Xlovenos bahkan memporak-porandakan club itu, membuat para perempuan berteriak ketakutan.

PRAKKK!!

Bunyi pecahan gelas terdengar dimana-mana.

Apalagi saat Oliver menghantamkan tongkat baseball ke beberapa meja.

Adit tersentak saat lehernya di cengkram kuat oleh Oliver.

"Dimana cewek gue, sialan?" bentak Oliver murka.

Adit mengerang kesakitan, "G-gue nggak tau. Dia lari dari apartemen gue waktu-"

"Bajingan lo!" Oliver membabi-buta Adit dengan pukulan, membuat Adit mengerang kesakitan.

Oliver menatapnya tajam, "Kalau sampai cewek gue kenapa-napa, lo mati di tangan gue. Ngerti lo?"

Oliver mengangkat jari tengahnya ke Adit, lalu melirik teman-temannya.

"Cabut!"

Mereka langsung pergi setelah membuat kekacauan hebat di club.

***

Pintu besar rumah keluarga Fernandez di buka.

Mata Amanda membulat syok melihat putranya datang dengan penampilan berantakan sambil membawa seorang gadis pingsan di gendongannya.

"Fattah, kamu kenapa berantakan banget gini?

Terus ini siapa?" tanya Amanda panik.

"Aku nggak bisa jelasin apa-apa sekarang. Bisa bantu aku, mi?" ucapnya serak.

"Ya udah, ayo-ayo bawa masuk!" kata Amanda.

Fattah segera membawa tubuh Aqqela ke kamar tamu, kemudian meletakkannya di atas ranjang.

"Itu, kamu cariin baju ganti sama kotak P3K di kamar mami, ya!"

Fattah menurut, berlari keluar kamar, sedangkan ibunya segera memakai stetoskop dan memeriksa keadaan Aqqela.

"Mi, ini baju sama kotak P3K-nya," kata Fattah memasuki kamar.

"Makasih, ya!"

Fattah menatap wajah Aqqela yang tampak pucat, "Dia nggak papa, kan? Cuma pingsan aja kan, mi?"

"Dia demam tinggi." Amanda membantu membersihkan kaki Aqqela yang terluka dan membalutnya.

Fattah tersentak, "Demam?"

Dia mendekat sambil menyentuh kening Aqqela yang panas, membuat Amanda terkejut.

"Panas banget. Mi, tapi ini nggak papa, kan? Nggak parah, kan?"

ya?" Amanda mengangkat alis, "Dia pacar baru kamu, gitu?"

"No." Fattah menggeleng.

"Tapi kamu suka dia?"

"Ya nggak, lah. Gila aja." Fattah merunduk kesal, meraih plester demam, kemudian menempelkannya ke kening Aqqela.

"Ck, tsundere." Amanda mendengus pelan.

"Sayang, kamu ngapain malah di sin-eh, itu siapa?"

Keduanya menoleh ke arah Jordan-ayah Fattah yang masuk.

"Temennya Fattah. Pingsan dia," jawab Amanda.

Jordan membelalak melihat Aqqela di sini.

Matanya kemudian menoleh galak ke Fattah yang tampak kalem saja.

"O-oh...temennya Fattah?" Jordan sok manggut-manggut.

"Iya, kalian keluar dulu, ya! Biar aku gantiin bajunya."

"Ayo Fattah, papi juga mau ngomong sama kamu."

Fattah hampir berteriak saat telinganya di jewer kasar Jordan dan di tarik keluar.

"Loh-loh, kenapa Fattah di jewer gitu?" omel Amanda.

"Nggak papa, sayang. Ini cuma bentuk kasih sayang ke anak," jawab Jordan manis, sambil menutup pintu.

"Aw, sakit, pi!" ringis Fattah.

"Apa-apaan kamu, hah? Kenapa bawa Aqqela kemari? Kamu mau papi ribut sama mami kamu, hah?" tanya Jordan galak.

"Aku bingung harus bawa Aqqela kemana."

"Terus gimana kalau Aqqela bangun dan ngadu ke mami soal papanya? Kamu mau orang tua kamu cerai, hah?"

Fattah memutar bola matanya jengah. Sudah hapal dengan ayahnya yang bucin akut ke maminya.

"Pokoknya papi nggak-"

"Fattah, kamu nggak ganti baju?" Amanda keluar kamar, membuat suaminya kicep.

"Eh, sayangku!" kata Jordan manis, merangkul pundak Amanda membuat wanita itu memicingkan mata.

"Kenapa? Habis bikin salah ya kamu, makanya sok manis gini?" tanyanya curiga.

"Ya enggak, dong. Suka banget nuduh-nuduh

Amanda mendengus dan menatap Fattah, "Kamu itu loh, udah lama nggak pulang ke rumah, sekalinya pulang bawa gadis pingsan. Nggak kamu apa-apain, kan?"

Fattah menggeleng, "Enggak."

"Syukurlah. Ya udah, kamu ganti baju, ya!

Mami masakin makanan dulu, buat kamu sama temen kamu."

ya!" Fattah mengangguk pelan, "Aku ke atas dulu,

"Iya. Cium mami dulu tapi!" kata Amanda meraih kedua pipi Fattah dan menciumi wajah putra sulungnya gemas.

Fattah bergegas menaiki tangga. Tak peduli sama lirikan maut papanya.

***

Fattah duduk di kursi sebelah ranjang, memperhatikan Aqqela yang masih terlelap nyenyak, dengan plester demam di keningnya.

"Fattah!"

"Iya?" Fattah menoleh.

"Kamu gitu banget ngelihatinnya? Katanya nggak suka?" goda mamanya.

"Apa sih, mi? Siapa juga yang ngelihatin?" gerutu Fattah tak senang.

Amanda terkekeh, "Ini minyak kayu putihnya.

Kamu bantu usapin, ya! Mami mau keluar dulu," kata Amanda menyodorkan botol hijau bening.

"Hah? Sekarang? Oh iya." Fattah mengangguk menerimanya.

"Di jagain, ya! Kalau udah bangun, kasih tau mami!"

"Iya."

Ibunya berbalik badan, meninggalkan kamar.

Kepala Fattah tertoleh ke Aqqela. Diam-diam menggigit bibir samar. Kemudian, Fattah menuangkan beberapa tetes minyak ke tangannya, lalu mengusap ke leher putih Aqqela yang panas.

"Demamnya tinggi banget, nggak turun-turun dari tadi," gumam Fattah.

Tangannya naik ke sisi kening dan mengusapnya dengan minyak sambil memijitnya pelan-pelan, sementara matanya tak lepas dari Aqqela yang masih memejamkan mata.

Cantik.

Tapi kantung matanya, menjawab sebanyak apa penderitaan yang dia alami selama ini.

"The fuck!" umpatnya.

Fattah berusaha membentaki hatinya berkali-kali, agar lebih kuat.

"Ingat, Aqqela cuma anak pembunuh dari cewek lo. Lo nggak perlu terlalu kasihan sama kehidupan menyedihkannya."

Fattah menghembuskan napasnya kasar,

"Cepetan bangun! Kenapa gue malah jadi ngurusin lo terus akhir-akhir ini?"

Walau setelahnya, kelopak matanya tanpa sadar menyayu, memandang wajah pucat itu.

"Dan lo harus bangun, biar bisa maki-maki gue setelah itu, karena udah gagalin usaha bunuh diri lo."

Hujan di luar, di tambah bunyi petir yang menggelegar, membuat Fattah menguap beberapa kali, efek mengantuk.

Sebelum akhirnya, dia memilih menidurkan kepalanya di sisi ranjang, dengan posisi tangan tanpa sadar memeluk Aqqela.

Ceklek!!!

Amanda mengintip kecil. Agak kaget. Walau bibirnya tanpa sadar menyunggingkan senyum kecil.

***

Aqqela bergumam pelan, merasa kelopak matanya terasa berat. Dia mengerutkan kening, saat mencium minyak kayu putih.

Perlahan, kelopak mata itu benar-benar terbuka sepenuhnya.

Raut wajah Aqqela berubah melihat Fattah tidur pulas di dekatnya.

"Heh!" Aqqela mengetuk-ngetuk pelan kepala Fattah membuat cowok itu mengerjap-ngerjap.

"Lo udah bangun?"

"Gue dimana?"

"Rumah gue. Di Jaksel."

Mata Aqqela langsung membulat sepenuhnya, "Jaksel? Lo gila?"

Fattah cuma mengangguk.

"Gue mau pulang." Aqqela menyibak selimut, tapi jidatnya di dorong cepat oleh Fattah agar kembali tidur.

"Nggak ada. Lo tetep harus di sini!"

Aqqela mengeraskan rahang samar, "Gue udah pernah bilang, kan? Nggak usah sok peduli sama gue!"

"Gue nggak peduli sama lo," balas Fattah tak terima.

"Terus kenapa lo selamatin gue tadi? Mau sok pahlawan, hah? Lo justru rusak semuanya tau nggak," kata Aqqela marah.

Fattah tersenyum sinis, "Gue nggak akan biarin lo mati dengan mudah. Ngerti lo?"

"Kenapa sih lo tuh jahat banget? Belum cukup ya selama ini? Lo mau apalagi sebenarnya dari gue?"

"Tetep di sini! Dan jangan bikin gue marah!" kata Fattah dingin, lalu bergerak keluar membuat Aqqela mengerutkan kening dan merubah posisinya jadi duduk.

Tidak lama, sosok wanita cantik memasuki kamar dengan tergesa, membuat Aqqela kaget.

"Syukurlah, kamu udah bangun. Tante periksa dulu, ya!" kata Amanda ramah, membuat Aqqela mengulum bibir agak canggung.

Matanya melirik Fattah yang melongok kepo. Lalu saat tatapan keduanya bertemu, Fattah segera menatap gadis itu tajam.

Sumpah, nggak jelas banget.

"Alhamdulillah, demamnya udah turun Fattah," kata Amanda.

"Aku nggak nanya," balas Fattah datar membuat ibunya mendelik.

Amanda mencibir, dan tersenyum ke Aqqela, "Habis ini kamu makan, ya! Tante suapin. Oh iya, kalau bingung, tante ini mamanya Fattah. Jadinya kamu nggak usah takut! Ya?"

Mata Aqqela melebar samar. Tubuhnya tanpa sadar bergetar, entah kenapa tiba-tiba merasa cemas dengan dirinya sendiri.

Jadi, dia benar-benar di rumah keluarga monster itu?

"Sebentar ya, tante ambil makanan dulu," kata Amanda beranjak keluar.

Bibir Aqqela bergetar. Lidahnya tampak kelu, memandang Fattah yang masih berdiri di sebelahnya.

"Gue pengen pulang aja," katanya serak.

Fattah mendecak, "Elo aja belum sembuh."

"Gue nggak mau di sini lama-lama. Gue pengen pulang," kata Aqqela sambil mendorong Fattah yang menghalangi.

Fattah dengan cepat menahan tubuh Aqqela dari belakang, membuat gadis itu meronta-ronta meminta di lepaskan.

"Awas Fattah! Gue mau pulang. Gue takut di sini. Gue nggak mau ketemu sama monster itu lagi."

"Monster apa, sih?" bentak Fattah.

"Bokap lo. Gue takut sama dia. Tolong, ampuni gue! Gue janji nggak akan perpanjang kasus ini lagi. Demi Tuhan, gue udah kalah dari kalian," katanya histeris.

Tangis Aqqela seketika pecah di sana membuat Fattah menelan ludah getir. Entah kenapa ikut merasakan ketakutan gadis itu.

"Enggak, enggak, bokap gue nggak akan berani apa-apain lo. Ya?" kata Fattah dengan lembut.

"Kenapa itu?" Sosok Jordan yang di takuti malah muncul.

Aqqela membelalak dan bersembunyi di belakang Fattah dengan tubuh gemetar ketakutan.

Tangannya mencengkram kaos belakang Fattah tanpa sadar.

"Pi, jangan ke sini, deh! Anaknya takut sama papi," omel Fattah.

"Dia pikir papi hantu?"

"Ck, sana pi! Makin nangis nanti dia," kata Fattah kesal.

Jordan mengangkat alis dan langsung menurut pergi, walau sempat protes.

Membuat Fattah segera berbalik badan dan mendudukkannya lagi.

"Sssttt, udah-udah, jangan nangis! Papi gue udah nggak ada."

Fattah menghapus air matanya dan menyodorkan air minum padanya, membuat Aqqela menerimanya.

"Jangan takut sama nyokap gue! Dia nggak tau apa-apa soal waktu itu. Dan jangan ngadu soal apapun! Gue nggak mau orang tua gue berantem."

apa. Aqqela mengulum bibir, tidak menjawab apa-

Amanda memasuki kamar, mulai menyuapkan makanan ke Aqqela dengan telaten.

"Aku mau ketemu papi dulu."

Fattah bergegas keluar menemui papanya di ruang kerja.

Ceklek!!!

"Apa? Habis ngusir papi malah ke sini."

Fattah mendengus, "Aku mau ngomong penting soal Aqqela."

Gerakan Jordan mengetik di keyboard langsung berhenti. Pria itu melirik ke Fattah dengan alis terangkat.

"Kenapa?"

"Aku pengen bawa Aqqela tinggal di apartemen."

"No. Papi nggak setu-

"I don't care. Setuju atau nggak setuju, aku tetep bakal bawa dia ke Jaksel. Papi kan punya kuasa. Bantuin aku biar Aqqela nurut sama aku! Dia udah terlanjur benci aku."

"Tapi papi nggak setuju. Apalagi biarin kamu tinggal sama dia. No, papi khawatir dia jahat ke kamu karena masih dendam."

"Oh, ya udah. Aku ngadu ke mami soal masalah Michael."

Jordan membelalak lebar, "Heh, jangan sembarangan kamu, ya! Kamu mau papi di hajar mami kamu?"

Fattah memicingkan mata dan berdiri, "Pilihan papi." Dia beranjak pergi, "MAMI, FATTAH MAU NGO-"

"EHHHHH!!" tahan Jordan berdiri cepat dan menarik tangan Fattah, "Jangan aneh-aneh kamu, ya! Fine, papi bantu. Tapi jangan ngadu!" katanya panik.

"Serius?"

"Dan ada satu syarat. Kamu boleh tinggal bareng Aqqela di apartemen, tapi kamu harus nikahin dia. Tinggal bareng tanpa ikatan pernikahan, no. Itu nggak bagus."

"A-apa?"

***

1
Amanda Safira
Mirip cerita Natusa&Rhysaka di pf sebelah kak, Aku termasuk followers penulisnya 😂
Langit Biru
kamu terinspirasi dari sinet agz ya? semangat menulis nya, ntar kalau udh tamat aku kemari lagi😍
Kapten Cantik: Terima kasih kk suportnya🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!