NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa Kehampaan

Reinkarnasi Dewa Kehampaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.

Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.

Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.

Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.

Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.

Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.

Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.

Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Menolak, Kehampaan Menerima

Dalam upayanya menghindari kepungan Klan Ye, Ye Chenxu terpaksa bergerak lebih jauh ke arah barat, memasuki wilayah abu-abu yang dikenal sebagai Zona Pemburu Bebas.

Tempat ini adalah rumah bagi para pelarian, tentara bayaran tanpa tuan, dan kultivator pengembara yang tidak terikat hukum klan mana pun.

Di sini, satu-satunya hukum yang berlaku adalah hukum rimba, yang kuat hidup, yang lemah menjadi pupuk bagi tanaman roh.

Saat ia sedang melewati sebuah ngarai sempit yang berlumut, sesosok bayangan tiba-tiba melesat dari balik bebatuan.

TRANGG!!!

Ye Chenxu menangkis sebuah sabit hitam besar dengan belati kasarnya. Penyerangnya adalah seorang pria paruh baya dengan bekas luka melintang di matanya.

Namanya adalah Mo Yan, seorang kultivator pengembara berdarah dingin yang telah mencapai tahap menengah Pengolah Tubuh.

“Kepalamu bernilai seribu emas, bocah,” ucap Mo Yan dengan seringai predator.

Tanpa banyak bicara, ia kembali menerjang. Di dunia bawah, pertanyaan adalah buang-buang waktu, yang penting adalah siapa yang tetap berdiri.

Pertempuran itu sangat brutal dan timpang. Mo Yan bukan seperti murid klan yang manja, ia adalah petarung yang lahir dari ribuan pertempuran jalanan.

Tekniknya, Sabit Roh Hitam, sangat efisien dan mematikan. Setiap ayunannya membawa angin tajam yang mampu membelah batu.

Ye Chenxu berjuang keras. Tubuhnya yang sudah luka mencapai batasnya. Kehampaan di dalam dirinya terasa seperti api yang membakar dari dalam, sulit dikendalikan.

Tiba-tiba ...

KRAKK!!!

Tendangan keras Mo Yan menghantam dadanya dan mematahkan dua tulang rusuknya. Ye Chenxu terkapar di tanah, memuntahkan darah segar yang membanjiri tanah berdebu.

Pandangannya mulai memudar, suara napasnya terdengar seperti hembusan angin di gua kosong.

“Sayang sekali. Kau punya bakat, tapi dunia ini tidak punya tempat untuk mereka yang belum tumbuh,” Mo Yan mengangkat sabitnya tinggi-tinggi, siap untuk memisahkan kepala Ye Chenxu dari tubuhnya.

Di ambang kematian, naluri bertahan hidup sang Dewa Kehampaan mengambil alih. Ye Chenxu mengabaikan rasa sakitnya, mengonsumsi sisa-sisa energi di meridiannya untuk memicu ledakan kecepatan singkat.

Ia berguling ke samping, lalu dengan gerakan putus asa, ia melemparkan dirinya ke arah tebing yang curam.

Di bawah tebing itu terdapat Hutan Terlarang Pegunungan Hitam, sebuah wilayah yang bahkan ditakuti oleh para tetua klan sekalian pun.

Tempat itu diselimuti aura kacau, dipenuhi siluman tingkat tinggi, dan energi alam yang sangat brutal hingga mampu menghancurkan pikiran seorang kultivator biasa.

Mo Yan berhenti di tepi jurang, menatap ke bawah ke arah kabut hitam yang menelan sosok Ye Chenxu. Ia meludah ke samping sambil menyarungkan sabitnya.

“Orang gila ... masuk ke sana sama dengan bunuh diri. Setidaknya aku tidak perlu repot-repot memenggalnya. Karena hutan itu akan memakannya hidup-hidup.”

Setelah memastikan bahwa pemuda itu akan tewas, Mo Yan segera pergi dari sana.

Sementara itu, Ye Chenxu mendarat di tumpukan dedaunan busuk yang tebal, namun dampak jatuhnya tetap membuat ia kehilangan kesadaran selama beberapa waktu.

Saat terbangun, tahu-tahu ia berada di neraka yang sesungguhnya.

Energi di Hutan Terlarang ini sangat liar. Udara terasa seperti asam yang membakar tenggorokannya.

Tetapi memang inilah yang dibutuhkan. Dalam kondisi sekarat, ia mulai memaksakan Sutra Kehampaan untuk bekerja dua kali lebih keras.

Roh Dewa Kehampaan di dalam jiwanya membimbingnya dengan sangat keras, tanpa belas kasihan sedikit pun.

“Jika tubuh ini hancur, biarlah dia hancur. Kau harus membangunnya kembali dari debu kehampaan!”

Selama beberapa minggu, Ye Chenxu hidup seperti binatang. Ia memakan tanaman beracun untuk melatih ketahanan tubuhnya, bertarung dengan siluman-siluman kecil di ambang kematian, dan menyerap energi kacau di sekitarnya.

Tubuhnya berkali-kali hancur, otot-ototnya robek, tulangnya retak, namun setiap kali pulih, fondasi kultivasinya mengalami transformasi yang mengerikan.

Dia bukan lagi sekadar mengolah tubuh, tapi mulai mengubah hakikat tubuh fananya menjadi wadah kehampaan.

Di tengah meditasi berdarah di bawah sebuah air terjun hitam, Ye Chenxu terjatuh ke dalam kondisi bawah sadar. Dalam penglihatannya, ia melihat bayangan ibunya dan melihat rantai yang mengikat tangannya.

Ye Chenxu juga melihat luka cambukan di punggungnya, dan kesedihan di mata ibunya yang sayu.

Suatu kemarahan yang belum pernah dirasakan oleh sang Dewa Kehampaan meledak. Ini bukan sekadar amarah ego, ini adalah amarah dari cinta seorang anak yang teraniaya.

“Klan Ye ...” bisik Ye Chenxu. Suaranya tidak lagi terdengar manusiawi, melainkan seperti gemuruh badai di kejauhan.

“Kalian menggunakan ibuku sebagai senjata. Maka aku akan menggunakan keberadaan kalian sebagai tumbal kebangkitanku. Aku akan membakar namamu dari sejarah, sampai tidak ada satu debu pun yang tersisa untuk mengenang kalian.”

Darah menetes dari telapak tangannya saat ia mengepalkan tangan begitu keras. Sumpah itu terpatri dalam jiwa dan menyatu dengan esensi kehampaan.

Kabut di Hutan Terlarang itu tiba-tiba berputar dan membentuk pusaran raksasa yang tersedot ke arah satu titik.

Di tengah pusaran tersebut, Ye Chenxu berdiri perlahan. Pakaiannya yang lama telah hancur, digantikan oleh jubah hitam yang tampak menyatu dengan kegelapan di sekelilingnya.

Rambutnya kini sedikit lebih panjang, menutupi sebagian wajahnya yang kini tampak lebih dewasa dan tajam.

Matanya bukan lagi mata manusia. Mata itu tenang, namun kosong, dan sangat dalam, seperti lubang hitam yang mampu menelan seluruh cahaya harapan.

Aura di sekelilingnya kini stabil. Ia telah mencapai puncak tahap awal Pengolah Tubuh dan kini berdiri tepat di ambang tahap menengah.

Kekuatannya saat ini, jika dibandingkan dengan saat ia membunuh Ye Feng, berkali-kali lipat lebih mematikan.

***

Kabut kelam menggantung rendah di antara barisan pepohonan raksasa yang batangnya meliuk-liuk seperti tubuh naga yang tersiksa.

Di tempat ini, hukum alam seolah berhenti berlaku. Tidak ada suara burung yang menyambut fajar, tidak ada desir angin yang menggoyang dedaunan.

Ye Chenxu tergeletak di atas tanah yang dingin dan lembap. Darah merah pekat merembes ke tanah hitam, bercampur dengan cairan bening beraroma tajam dari tumbuhan hutan yang pecah tertindih tubuhnya.

Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup pecahan besi yang membara, menyayat paru-parunya dari dalam.

Di hadapannya, akar-akar pohon hitam mencuat dari tanah seperti cakar iblis yang haus akan nyawa, melilit batu-batu raksasa yang diselimuti lumut berwarna merah darah.

Aura kehancuran mengalir tanpa henti dari pusat hutan, menekan jiwanya dengan berat ribuan ton.

Kesadaran Ye Chenxu naik-turun bagaikan pelampung di tengah badai samudra. Di dalam tubuhnya, kekacauan batin lebih mengerikan daripada luka luarnya.

Meridian-meridiannya berdenyut tidak stabil, membengkak karena tekanan energi eksternal yang liar, seolah-olah hendak meledak dan menghancurkan seluruh sistem sarafnya kapan saja.

Setiap gerakan kecil, bahkan hanya kedipan kelopak mata, memicu rasa sakit yang membakar hingga ke sumsum tulang.

Dia bisa merasakan sisa-sisa kehidupan yang ditarik keluar oleh tanah hitam di bawahnya.

Jika berhenti bernapas lebih lama sedikit saja, jiwanya yang telah melintasi reinkarnasi ini bisa lenyap selamanya menjadi bagian dari keheningan hutan.

Namun, di tengah jurang keputusasaan itu, suara kuno dari Dewa Kehampaan kembali bergema di lautan kesadarannya. Suara itu tidak membawa belas kasihan, hanya kebenaran yang dingin.

“Jika kau ingin hidup, berhentilah menolak. Dunia ini telah membuangmu, maka biarkan kehampaan menerimamu.”

1
Mommy Dza
Menarik ditunggu kelanjutannya 👍💪
Mommy Dza
Semakin sulit rintangannya💪
Mommy Dza
Kasihan Ibunya Chenxu 😩
Mommy Dza
Bayangan kehampaan yg menanen jiwa dalam diam 💪
Mommy Dza
tekanan adalah tungku terbaik untuk menempa emas sejati ❤️
Mommy Dza
Up 💪
Mommy Dza
Menarik 👍👍💪
Mommy Dza
Semangat up author 👍💪
Mommy Dza
Selamat datang pewaris 💪
Mommy Dza
Semangat author 👍💪
Mommy Dza
Chenxu semakin kuat 👍💪
Semangat
Mommy Dza
Ditunggu up nya 👍
Mommy Dza
Pembantaian dimulai 💪
Habiskan
Mommy Dza
Terus bergerak maju
Ye Chenxu 💪💪
Mommy Dza
Up 👍💪
Mommy Dza
Ceritanya menarik 👍💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya
Mommy Dza
Ye Chen Xu berhitung mundur
satu....

tunggu pembalasanku 🤭
Nanik S
Ibunya masih didalam penjara
Nanik S
Shiip
Nanik S
Semakin baik aku matu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!