NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Sarapan Penuh Duri

​​"Cek lagi! Saya tidak mau dengar alasan 'file corrupt' atau 'ketinggalan di printer'. Pastikan lampiran garansi bank itu asli dan stempel basahnya terlihat jelas!"

​Teriakan Kairo menggema di seluruh lantai satu mansion mewah itu, memantul di dinding marmer yang dingin.

​Pukul enam pagi. Matahari bahkan belum sepenuhnya naik, tapi suasana di ruang makan keluarga Diwantara sudah sepanas wajan penggorengan.

​Kairo berdiri di ujung meja makan panjang. Satu tangannya memegang ponsel yang ditempelkan erat ke telinga, sementara tangan lainnya sibuk mengacak-acak tumpukan dokumen yang berserakan di atas meja makan—menggeser piring sarapan yang belum tersentuh.

​Wajah CEO muda itu kusut. Lingkaran hitam menggantung di bawah matanya, tanda jelas bahwa dia tidak tidur semalaman. Kemeja putihnya yang mahal sudah terpasang di badan, tapi kancing teratasnya masih terbuka dan dasinya tergeletak menyedihkan di atas kursi.

​"Dengar, Reza. Kalau sampai kita didiskualifikasi gara-gara masalah administrasi sepele seperti salah materai, saya pastikan kamu dan seluruh tim legal angkat kaki dari gedung hari ini juga!" ancam Kairo dengan napas memburu.

​Di seberang telepon, Reza—asistennya yang malang—pasti sedang gemetar lututnya.

​"Ya, Pak! Siap, Pak! Semua sudah dicek tiga kali!" suara Reza terdengar samar-samar dari speaker ponsel.

​Kairo mematikan sambungan telepon dengan kasar. Dia melempar ponselnya ke meja, nyaris menghantam cangkir kopi hitam yang sudah dingin.

​"Sialan," umpat Kairo sambil memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. "Kenapa semuanya terasa tidak beres pagi ini?"

​Ini adalah hari penentuan. Tender proyek Jalan Tol senilai dua triliun rupiah.

​Bukan sekadar uang. Ini soal harga diri. Lawannya adalah PT. Megah, perusahaan milik Pak Gunawan yang sudah bersumpah akan melihat Kairo hancur. Jika Kairo kalah hari ini, reputasi Diwantara Group akan terjun bebas. Investor akan lari. Dan Kairo akan dicap sebagai CEO muda yang gagal mempertahankan warisan ayahnya.

​Beban dua triliun itu menekan pundaknya seperti beton basah.

​"Bi Imah! Mana air putih?!" teriak Kairo lagi, kerongkongannya terasa kering kerontang.

​Bi Imah yang sedang mengelap meja dapur di kejauhan tersentak kaget, buru-buru menuang air ke gelas kristal.

​Namun, sebelum Bi Imah sempat mengantar gelas itu, suara langkah kaki ringan terdengar menuruni tangga utama.

​Tap.Tap.Tap.

​Bukan langkah kaki yang terburu-buru atau panik seperti langkah Kairo dan para stafnya pagi ini. Langkah itu santai, pelan, dan penuh irama.

​Kairo menoleh dengan wajah masih tegang.

​Elena turun dari lantai dua.

​Pemandangan itu sungguh kontras dengan kekacauan di ruang makan.

​Elena mengenakan setelan piyama sutra berwarna champagne yang berkilau lembut tertimpa cahaya lampu kristal. Rambut panjangnya yang hitam pekat digerai bebas, terlihat halus dan wangi seolah dia baru saja keluar dari iklan sampo.

​Wajahnya? Segar bugar. Kulitnya glowing sehat, pipinya merona alami. Tidak ada kantung mata, tidak ada kerutan stres. Dia terlihat seperti putri tidur yang baru saja bangun setelah istirahat nyenyak selama sepuluh jam penuh.

​Elena berjalan menuju meja makan sambil menguap kecil yang elegan, menutup mulutnya dengan punggung tangan.

​"Pagi," sapa Elena singkat. Suaranya serak-serak basah khas bangun tidur, terdengar sangat santai—terlalu santai.

​Dia menarik kursi di seberang Kairo, duduk dengan nyaman, lalu mengambil selembar roti tawar gandum.

​Kairo menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya. Dia sedang berjuang menahan serangan jantung karena stres, sementara istrinya terlihat seperti sedang liburan di villa Bali.

​"Pagi?" ulang Kairo sinis. "Cuma itu? Kau tidak lihat jam berapa sekarang?"

​"Jam enam lewat sepuluh," jawab Elena tanpa melihat jam dinding. Dia mengambil pisau oles, menyendok selai kacang tebal-tebal, dan meratakannya di atas roti dengan gerakan pelan yang menyebalkan. "Waktunya sarapan. Kenapa? Kau mau aku menyapamu pakai pantun?"

​"Sora!" bentak Kairo, kesabarannya setipis tisu. "Hari ini tender tol! Tender dua triliun! Dan kau turun dengan muka bantal seolah-olah hari ini hari Minggu?"

​Krrrukk.

​Suara renyah roti tawar yang digigit terdengar jelas di ruangan yang hening itu.

​Elena mengunyah dengan nikmat. Dia menelan kunyahannya, lalu menatap Kairo dengan mata jernihnya.

​"Aku tahu hari ini tender," kata Elena tenang, menjilat sedikit selai kacang di sudut bibirnya. "Terus kenapa kalau tender? Apa aku harus ikut lari keliling meja makan sambil teriak-teriak supaya kau merasa didukung?"

​"Setidaknya tunjukkan sedikit empati!" Kairo menggebrak meja pelan. "Suamimu mau perang, Sora! Perang besar! Nasib ribuan karyawan ada di tanganku hari ini. Bisa tidak kau pasang muka prihatin sedikit? Atau minimal tanya persiapanku bagaimana?"

​Elena meletakkan rotinya kembali ke piring. Dia menatap Kairo dari ujung rambut sampai ujung kaki.

​Kairo terlihat kacau. Rambutnya yang biasanya rapi dengan pomade kini sedikit berantakan karena dia jambak sendiri tadi. Keringat dingin membasahi keningnya.

​"Kau jelek kalau lagi stres," komentar Elena jujur.

​Mata Kairo melotot. "Apa?!"

​"Kau jelek, Kairo. Mukamu tegang, urat lehermu keluar semua. Persis orang yang lagi nahan buang air besar," lanjut Elena tanpa rasa bersalah. Dia mengambil cangkir tehnya, menyesapnya pelan. "Dan untuk menjawab pertanyaanmu... tidak, aku tidak perlu tanya persiapanmu. Karena aku tahu kau pasti sudah menyiksa semua stafmu sejak jam tiga pagi. Jadi buat apa aku tanya lagi?"

​"Ini bukan soal menyiksa staf! Ini soal perfeksionisme!" bela Kairo. Dia mulai mondar-mandir lagi di ujung meja. "PT. Megah itu licik. Gunawan pasti punya rencana kotor. Kemarin intelijen bilang mereka sangat percaya diri. Kalau mereka menang, habis kita. Saham bakal anjlok. Dividen tahun ini batal cair."

​Kairo berhenti, menatap Elena dengan putus asa.

​"Kau paham tidak sih konsep 'bangkrut', Sora?"

​Elena mengambil gigitan kedua dari rotinya. Mengunyahnya pelan, menikmati rasa gurih kacang di lidahnya.

​"Paham," jawab Elena setelah menelan. "Bangkrut itu artinya uang habis. Aset disita. Kita pindah dari rumah ini ke kontrakan tiga petak."

​"Nah! Itu kau tahu!" seru Kairo. "Jadi kenapa kau santai sekali?!"

​Elena mengangkat bahu ringan.

​"Memangnya kenapa kalau bangkrut?" tanya Elena dengan nada datar yang menusuk. "Kita masih punya tangan dan kaki. Otakmu juga masih jalan—walaupun agak lemot kalau lagi panik begini. Kalau kalah tender, ya sudah. Paling kita cuma jatuh miskin sedikit."

​"Jatuh miskin sedikit?!" suara Kairo melengking tinggi, nadanya pecah saking syoknya.

​"Dua triliun itu bukan 'sedikit', Sora! Itu angka nol-nya ada dua belas! Kau pikir cari uang segitu gampang?! Kau pikir bisa dapat dua triliun dari jualan tas bekasmu?!"

1
Rossy Annabelle
next,,seruuuu iih🤯
Savana Liora: #terbit🤭
total 3 replies
wwww
ayok ges ramaikan novelnya seru loh ceritanya 😍
Savana Liora: iyaa ayok mari mari sinii
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!