Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Sarapan Penuh Duri
"Cek lagi! Saya tidak mau dengar alasan 'file corrupt' atau 'ketinggalan di printer'. Pastikan lampiran garansi bank itu asli dan stempel basahnya terlihat jelas!"
Teriakan Kairo menggema di seluruh lantai satu mansion mewah itu, memantul keras di dinding marmer yang dingin. Pukul enam pagi, matahari bahkan belum sepenuhnya naik, namun ruang makan keluarga Diwantara sudah sepanas wajan penggorengan.
Kairo berdiri di ujung meja makan panjang, satu tangan menempelkan ponsel erat ke telinga, sementara tangan lainnya sibuk mengacak-acak tumpukan dokumen yang menenggelamkan piring sarapan.
Wajah CEO muda itu kusut. Lingkaran hitam menggantung di bawah matanya, tanda jelas ia tak tidur semalaman.
Kemeja putih mahalnya terpasang asal-asalan, kancing teratas terbuka, dan dasinya tergeletak menyedihkan di atas kursi.
"Dengar, Reza. Kalau sampai kita didiskualifikasi gara-gara masalah administrasi sepele seperti salah materai, saya pastikan kamu dan seluruh tim legal angkat kaki dari gedung hari ini juga!" ancam Kairo dengan napas memburu.
Di seberang telepon, Reza—asistennya yang malang—terdengar gemetar mengiyakan semua perintah bosnya. Kairo mematikan sambungan dengan kasar, melempar ponselnya ke meja hingga nyaris menghantam cangkir kopi dingin.
"Sialan," umpatnya sambil memijat pelipis yang berdenyut hebat.
Hari ini adalah hari penentuan. Tender proyek Jalan Tol senilai dua triliun rupiah. Ini bukan sekadar uang, ini soal harga diri. Lawannya adalah PT. Megah, perusahaan milik Pak Gunawan yang bersumpah akan melihat Kairo hancur. Jika kalah hari ini, reputasi Diwantara Group akan terjun bebas, investor akan lari, dan Kairo akan dicap sebagai anak manja yang gagal mempertahankan warisan ayahnya. Beban dua triliun itu menekan pundaknya seperti beton basah.
"Bi Imah! Mana air putih?!" teriak Kairo lagi, kerongkongannya kering kerontang.
Namun, sebelum Bi Imah sempat datang, suara langkah kaki ringan terdengar menuruni tangga utama. Tap. Tap. Tap. Langkah itu santai, pelan, dan penuh irama, sangat kontras dengan kekacauan di ruang makan.
Kairo menoleh dengan wajah tegang.
Elena turun dari lantai dua mengenakan setelan piyama sutra berwarna champagne yang berkilau lembut. Rambut hitam panjangnya digerai bebas, halus dan wangi seolah baru keluar dari salon. Wajahnya segar bugar, kulitnya glowing sehat tanpa jejak stres sedikit pun. Dia terlihat seperti putri tidur yang baru saja bangun setelah istirahat nyenyak sepuluh jam penuh.
Elena berjalan menuju meja makan sambil menguap kecil yang elegan. "Pagi," sapanya singkat dengan suara serak-serak basah khas bangun tidur. Ia menarik kursi di seberang Kairo, duduk nyaman, lalu mengambil selembar roti gandum.
Kairo menatap istrinya tak percaya. Ia sedang berjuang menahan serangan jantung, sementara istrinya terlihat seperti sedang liburan di vila Bali.
"Pagi?" ulang Kairo sinis. "Cuma itu? Kau tidak lihat jam berapa sekarang?"
"Jam enam lewat sepuluh," jawab Elena tanpa melihat jam dinding. Ia mengoles selai kacang tebal-tebal dengan gerakan pelan yang menyebalkan. "Waktunya sarapan. Kenapa? Kau mau aku menyapamu pakai pantun?"
"Sora!" bentak Kairo, kesabarannya setipis tisu. "Hari ini tender tol! Tender dua triliun! Dan kau turun dengan muka bantal seolah-olah hari ini hari Minggu?"
Krrrukk. Suara renyah roti tawar yang digigit terdengar jelas di ruangan hening itu. Elena mengunyah dengan nikmat, menelan, lalu menatap Kairo dengan mata jernihnya.
"Aku tahu hari ini tender," katanya tenang, menjilat sedikit selai di sudut bibir. "Terus kenapa? Apa aku harus ikut lari keliling meja makan sambil teriak-teriak supaya kau merasa didukung?"
"Setidaknya tunjukkan sedikit empati!" Kairo menggebrak meja pelan. "Suamimu mau perang, Sora! Perang besar! Nasib ribuan karyawan ada di tanganku. Bisa tidak kau pasang muka prihatin sedikit? Atau tanya persiapanku bagaimana?"
Elena meletakkan rotinya kembali ke piring. Ia menatap Kairo dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kairo terlihat kacau; rambut berantakan, keringat dingin membasahi kening.
"Kau jelek kalau lagi stres," komentar Elena jujur.
Mata Kairo melotot. "Apa?!"
"Kau jelek. Mukamu tegang, urat lehermu keluar semua. Persis orang yang lagi nahan buang air besar," lanjut Elena tanpa rasa bersalah, lalu menyesap tehnya. "Dan untuk menjawab pertanyaanmu... tidak, aku tidak perlu tanya persiapanmu. Karena aku tahu kau pasti sudah menyiksa semua stafmu sejak jam tiga pagi. Jadi buat apa aku tanya lagi?"
"Ini bukan soal menyiksa staf! Ini soal perfeksionisme!" bela Kairo, kembali mondar-mandir. "PT. Megah itu licik. Gunawan pasti punya rencana kotor. Intelijen bilang mereka sangat percaya diri. Kalau mereka menang, habis kita. Saham anjlok. Dividen batal cair."
Kairo berhenti, menatap Elena dengan putus asa. "Kau paham tidak sih konsep 'bangkrut', Sora?"
Elena mengambil gigitan kedua dari rotinya, mengunyah pelan seolah menikmati setiap detiknya. Ia tahu persis kenapa PT. Megah begitu percaya diri—karena Elena sendiri yang memberikan mereka strategi bunuh diri itu. Kemenangan Kairo sudah ada di dalam saku piyamanya, tapi suaminya yang paranoid ini tidak perlu tahu dulu.
"Paham," jawab Elena setelah menelan. "Bangkrut itu artinya uang habis. Aset disita. Kita pindah dari rumah ini ke kontrakan tiga petak."
"Nah! Itu kau tahu!" seru Kairo. "Jadi kenapa kau santai sekali?!"
Elena mengangkat bahu ringan. "Memangnya kenapa kalau bangkrut?" tanyanya dengan nada datar yang menusuk. "Kita masih punya tangan dan kaki. Otakmu juga masih jalan—walaupun agak lemot kalau lagi panik begini. Kalau kalah tender, ya sudah. Paling kita cuma jatuh miskin sedikit."
"Jatuh miskin sedikit?!" Suara Kairo melengking tinggi, nadanya pecah saking syoknya mendengar ketidakpedulian istrinya.
Kairo mencengkeram pinggiran meja, menatap Elena dengan mata melebar. "Dua triliun itu bukan 'sedikit', Sora! Itu angka nol-nya ada dua belas! Kau pikir cari uang segitu gampang?! Kau pikir bisa dapat dua triliun dari jualan tas bekasmu?!"
msih nunggu dimna elena alias sora mengungkapkan jati dirinya ke kairo, dripd trus berbohong yg ada nnti kairo kecewa, gk buruk jg klo jujur kairo kan bucin psti bsa nerima apa adanya 💪