"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Kontaminasi Bibir dan Noda di Dada
Mobil Rolls-Royce milik Calvin melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai sepi. Di kursi belakang, suasana jauh lebih panas daripada suhu udara di luar.
Calvin berusaha duduk setegak mungkin, tapi Nirbita—yang kesadarannya sudah terbang ke awan—tidak bisa diam. Ia terus menggeliat, merasa suhu tubuhnya naik akibat alkohol.
"Pak Bos... Kak Calvin... kenapa mukanya ganteng banget sih kalau lagi marah?" racau Nirbi dengan suara serak yang menggoda.
"Diam, Nirbita. Duduk yang rapi atau saya ikat kamu dengan sabuk pengaman," ancam Calvin, meski suaranya sedikit bergetar.
Bukannya takut, Nirbi justru melakukan tindakan nekat. Dengan gerakan cepat yang tak terduga, ia merangkak dan langsung naik ke pangkuan Calvin.
Deg!
Sopir pribadi Calvin di depan refleks melirik ke spion tengah dan hampir saja menginjak rem mendadak. Matanya terbelalak melihat asisten mungil itu kini duduk menyamping di atas paha bosnya yang terkenal anti-sentuh.
"Nirbita! Turun!" Calvin mencoba mendorong bahu Nirbi, tapi gadis itu justru melingkarkan lengannya di leher Calvin dengan tenaga yang luar biasa kuat.
"Enggak mau! Kak Calvin wangi... aku mau cium wanginya lebih deket..."
Tanpa aba-aba, Nirbi menarik tengkuk Calvin dan mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir pria itu. Mata Calvin membelalak. Ia mencium aroma anggur merah bercampur cokelat. Awalnya ia hendak memberontak, tangannya sudah bersiap mendorong Nirbi menjauh untuk menyelamatkan jas mahalnya dari kuman.
Namun, saat bibir lembut Nirbi mulai bergerak secara amatir dan jujur, pertahanan Calvin runtuh. Rasa cemburu melihat Arga memeluk Nirbi tadi meluap menjadi gairah yang tak terbendung.
Calvin membalas ciuman itu. Tangannya yang biasanya hanya menyentuh benda-benda steril, kini meremas pinggang Nirbi, menariknya lebih rapat hingga tidak ada jarak di antara mereka. Ia melumat bibir Nirbi dalam dan lama, seolah ingin menghapus jejak siapa pun yang pernah mendekati gadis itu.
Suasana di dalam mobil menjadi sangat intens. Suara napas yang memburu memenuhi kabin mewah tersebut. Nirbi mulai terengah-engah, kepalanya terasa semakin berat dan gelap. Akhirnya, ia ambruk. Kepalanya terkulai di pundak Calvin, dengan bibirnya yang masih basah menempel tepat di urat leher Calvin.
Perjuangan Sang Pria Normal
Calvin mematung. Napasnya masih pendek-pendek. Ia bisa merasakan hembusan napas hangat Nirbi di lehernya, dan posisi Nirbi yang duduk di pangkuannya membuat Calvin berada dalam situasi "bahaya".
Sebagai pria normal, tubuhnya memberikan reaksi yang jujur. Ia tegang, sangat tegang.
"Pak... kita sudah sampai di basement," suara sopir terdengar sangat amat sungkan, seolah-olah ia baru saja menginterupsi ritual suci.
"Buka pintunya," perintah Calvin dengan suara rendah yang tertahan. Ia mencoba menahan hasratnya yang menggebu-gebu, mengutuk dirinya sendiri kenapa bisa lepas kendali dengan gadis mabuk ini.
Hadiah Terakhir di Atas Dada
Calvin menggendong Nirbi keluar dari mobil. Ia berjalan cepat menuju lift pribadi, ingin segera membaringkan Nirbi di kasur agar ia bisa mandi air dingin untuk menenangkan pikirannya.
Namun, saat mereka baru saja memasuki ruang tamu penthouse yang serba putih dan bersih itu, tubuh Nirbi tiba-tiba menegang.
"Ugh... Kak... perutku..."
Calvin berhenti melangkah. "Nirbita? Kamu kenapa—"
Hoeeekkk!
Dalam satu detik, dunia Calvin seolah berhenti berputar. Nirbi muntah tepat di dada Calvin. Cairan cokelat, sisa wine, dan entah apa lagi, membasahi kemeja putih mahal dan jas pesanan khusus milik Calvin. Aroma asam dan alkohol langsung menyerbak di ruangan yang biasanya berbau aromaterapi itu.
Nirbi, setelah mengeluarkan semua isi perutnya, justru mendesah lega dan kembali tertidur pulas di pelukan Calvin yang kini membeku seperti patung lilin.
Calvin menatap dadanya yang kotor, lalu menatap wajah damai Nirbi. Jika ini adalah orang lain, Calvin pasti sudah membuangnya ke tempat sampah. Tapi ini Nirbita.
"Nirbita Luminara..." bisik Calvin dengan nada antara ingin menangis dan ingin tertawa. "Kamu adalah satu-satunya kuman yang membuat saya tidak bisa marah meskipun kamu sudah menghancurkan hidup steril saya."
Dengan pasrah, Calvin terus menggendongnya menuju kamar mandi, siap untuk malam yang panjang untuk membersihkan "kerusuhan" ini.
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka