"Cepat cari cucuku, bagaimanapun caranya ,cucu perempuan ku harus berada disini ...." teriak kakek Suhadi pada pengawalnya...setelah mengetahui kebenarannya dan mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya.... kemungkinan besar,ia memiliki seorang cucu perempuan yang tersembunyi.
Najwa...., sepupu Rukayyah, gadis belia yang baru lulus SMA dan lulusan terbaik seorang Hafizah ternyata seorang Cucu konglomerat... almarhumah ibunya, tidak mengatakan siapa ayah Najwa. Najwa di titipkan pada kyai Rahman dan istrinya saat Najwa baru di lahirkan, setelah ibunya menghembuskan nafas terakhirnya.bahkan, Ibu Najwa sendiri tidak mengatakan siapa ayah dari Najwa...namun satu yang perlu Najwa ketahui, ia bukan anak haram, ibunya sempat menikah sirih dan kabur setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata menjadikannya istri kedua....
yuk...ikuti cerita nya Saat Najwa bertemu dengan kakek dan ayah kandungnya, serta kehidupan Najwa setelah hidup bersama keluarga ayahnya, sedangkan di sana ada ibu tirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiga puluh lima
Beberapa hari kemudian....Disebuah Gedung pencakar langit, seorang laki-laki sedang meremas kertas penting yang baru di berikan asistennya...Laki-laki itu bernama Muhammad Ishaq Mahendra, CEO dari Mahendra Group. Di usianya yang baru 27 tahun, ia telah menjadi sosok yang paling ditakuti di bursa saham Asia. Ishaq dikenal dengan julukan "The Iceberg" karena sifatnya yang dingin, arogan, dan tanpa ampun saat melibas kompetitor.
Baru-baru ini, Ishaq merasa terhina. Proyek pengadaan vendor teknologi yang seharusnya jatuh ke tangannya, justru dimenangkan oleh Suhadi Group dengan strategi yang sangat cerdik namun santun.
Brakkkkk....
Ishaq menggebrak meja kerjanya kuat-kuat.
" Sam...Aku akan mendatangi perusahaan itu, kau urus yang disini" tegas Ishaq yang tidak terima kekalahan.
" Biar saya saja Tuan " jawab Sam dengan sedikit takut, melihat wajah marah Tuannya, Sam baru kali ini melihat Tuannya kalah, dan itu membuat Tuannya itu tidak terima.
Tanpa menjawab, Ishaq menatap tajam Sam, dan itu membuat nyali Sam menciut.
" Iya, saya akan mengurusnya di sini" Ucap Sam dengan nada sedikit takut.
Dengan wajah angkuhnya, Ishaq berjalan keluar perusahaan nya sendiri.
___
Lobby Suhadi Group yang biasanya tenang mendadak terasa mencekam saat sebuah mobil sport hitam berhenti tepat di depan pintu utama. Ishaq turun dengan setelan jas custom-made berwarna abu-abu gelap. Wajahnya yang tampan namun kaku memancarkan aura dominasi yang kuat.
Tanpa membuat janji, ia melangkah masuk. Resepsionis di depan langsung berdiri dengan gugup.
"Saya ingin bertemu dengan Direktur kalian. Sekarang," ucap Ishaq, suaranya rendah namun penuh penekanan.
"Maaf, Tuan, apakah sudah ada janji? Ibu Direktur sedang..."
"Saya tidak butuh janji untuk bertemu dengan Afkar yang lembek itu. Katakan padanya, Ishaq Mahendra ada di sini."
Ia tidak menunggu jawaban. Ishaq langsung melangkah menuju lift eksekutif yang ia tahu menuju ke lantai teratas. Para staf hanya bisa terpaku, tidak ada yang berani menghalangi langkah laki-laki yang terlihat seperti bisa membeli gedung ini hanya dengan sekali jentikan jari.
Ishaq membuka pintu ruang direktur tanpa mengetuk. Ia sudah menyiapkan kata-kata pedas untuk menghina Afkar yang ia pikir telah menggunakan cara curang dalam tender kemarin.
Namun, langkahnya terhenti. Di balik meja besar itu, bukan Afkar yang duduk.
Seorang gadis mengenakan hijab berwarna pastel dan gamis yang sangat rapi sedang fokus menatap layar laptop. Wajahnya tertutup masker kain berwarna senada, hanya menyisakan sepasang mata yang jernih, tenang, namun sangat dalam.
Di samping gadis itu, Afkar sedang berdiri membawakan dokumen. Afkar terkejut melihat Ishaq.
"Tuan Ishaq ? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Afkar heran.
Ishaq tidak menjawab Afkar. Matanya terkunci pada gadis di balik meja. "Di mana direkturmu,Tuan Afkar? Kenapa kau membiarkan seorang asisten duduk di kursi utama?"
Najwa perlahan menutup laptopnya. Ia berdiri dengan tenang, memberikan isyarat pada ayahnya agar tetap tenang. Najwa menundukkan kepalanya sedikit, memberikan penghormatan tanpa menatap langsung mata Ishaq yang penuh amarah.
"Selamat siang, Tuan Mahendra," suara Najwa terdengar sangat lembut namun stabil, mengalun jernih di ruangan yang tegang itu. "Saya Najwa. Saya yang memimpin operasional perusahaan ini sekarang. Silakan duduk, maaf jika penerimaan kami kurang berkenan karena Anda datang tanpa pemberitahuan." jawab Najwa dengan tenang.
Ishaq tertegun. Ia memicingkan mata, menatap mata Najwa yang sama sekali tidak menunjukkan ketakutan.
"Kau? Gadis kecil ini yang mengalahkan tim analis saya dalam tender kemarin?" Ishaq tertawa sinis, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya terhalang meja kerja. "Apa yang kau lakukan? Merayu para vendor dengan suara lembutmu itu?" ejek Ishaq menatap remeh pada Najwa, meski dalam hatinya ada sesuatu yang menggelitik.
Mendengar itu, Afkar hendak maju karena tersinggung, namun Najwa mengangkat tangannya sedikit, menahan ayahnya. Najwa tetap tenang, bahkan matanya terlihat tersenyum kecil di balik masker.
"Tuan Mahendra, adab adalah tamu pertama yang harus hadir dalam setiap pertemuan bisnis," ucap Najwa dengan nada yang sangat sopan namun terasa seperti tamparan halus. "Tender kemarin dimenangkan karena efisiensi logistik dan kejujuran data, bukan karena rayuan. Jika Tuan datang hanya untuk menghina, maka saya mohon maaf, waktu saya terlalu berharga untuk mendengar kata-kata yang tidak membangun."
Ishaq mengepalkan tangannya kuat, ia terdiam. Belum pernah ada orang yang berani membalasnya dengan cara sesopan namun semenusuk itu. Ia merasa tertantang.
"Lepaskan maskermu," perintah Ishaq tiba-tiba. "Saya ingin melihat wajah orang yang berani bicara soal adab di depan saya."tantang Ishaq dengan ekspresi meremehkan.
Najwa tetap pada posisinya. "Maaf, Tuan. Masker ini adalah perlindungan kesehatan saya dan juga privasi saya di luar urusan profesional. Jika Tuan ingin membicarakan bisnis, saya siap. Jika tidak, pintu keluar ada di belakang Anda." balas Najwa tetap tenang.
Iqbal menyeringai, sebuah senyum tipis yang mematikan. "Menarik. Sangat menarik" gumamnya dalam hati.
Ishaq berdiri mematung sejenak setelah Najwa memintanya keluar jika tidak ingin membicarakan bisnis. Rahangnya mengeras. Sebagai CEO Mahendra Group, kata-katanya adalah hukum, namun di depan gadis bermasker ini, ia merasa kekuasaannya tidak berarti.
"Muhammad Ishaq Mahendra tidak pernah diusir dari ruangan mana pun, apalagi oleh gadis yang bahkan tidak berani menunjukkan wajahnya," ucap Ishaq dengan suara rendah yang mengancam.
Najwa tetap menundukkan pandangannya, menjaga adab ghadhul bashar /menjaga pandangan , namun tetap terlihat berwibawa. "Saya tidak mengusir, Tuan Ishaq. Saya hanya menghargai waktu Anda yang sangat mahal itu. Bukankah Anda sendiri yang sering bilang bahwa waktu adalah aset yang tidak bisa dibeli?"
Ishaq tertegun. Gadis ini bahkan tahu kutipan-kutipan yang pernah ia sampaikan di majalah bisnis internasional.
"Kau membaca profilku," simpul Ishaq dingin.
"Mengenali lawan adalah bagian dari strategi, Tuan. Tapi menjadikannya kawan adalah bagian dari ibadah," jawab Najwa lembut.
Ishaq mendengus sinis. "Ibadah tidak ada tempatnya di lantai bursa. Tuan Afkar, aku tidak tahu permainan apa yang sedang kau jalankan dengan memasang anak kecil ini di depan. Tapi katakan padanya, Mahendra Group akan mengambil alih suplai bahan baku kalian mulai bulan depan. Kita lihat seberapa lama adab bisa memberimu makan."
"Baiklah, kalau begitu nona Najwa... Tapi.... ingat ini, saya tidak pernah kalah dua kali. Saya akan melihat sejauh mana 'adab' dan kecerdasanmu bisa menyelamatkan perusahaan ini saat saya mulai bergerak."
" saya permisi" ucap Ishaq dengan wajah acuh, namun tidak bisa ia pungkiri, ia merasa penasaran dan tertarik dengan gadis kecil itu.
Setelah Ishaq keluar dengan langkah angkuhnya, Ishaq menghela napas panjang. "Najwa, berhati-hatilah. Ishaq itu kejam. Dia tidak segan menghancurkan hidup orang hanya karena egonya terusik."
Najwa kembali duduk dan membuka laptopnya. "Jangan khawatir, Pa. Selama kita berjalan di atas kebenaran, Allah akan menjadi pelindung kita. Ishaq mungkin punya harta dan kuasa, tapi dia tidak punya ketenangan hati."
Namun di dalam hatinya, Najwa menyadari bahwa tantangan kali ini jauh lebih besar daripada Raisa atau Suryo. Ishaq adalah lawan yang memiliki otak cerdas dan sumber daya tak terbatas.