Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bau Parfum
Laras dan ketiga sahabatnya memilih untuk bersantai di sebuah kafe. Laras sengaja menunda kepulangannya karena merasa enggan berhadapan dengan Bu Ajeng, ibu mertuanya. Bukan bermaksud menjadi menantu durhaka atau tidak peduli, Laras hanya mencoba menjaga kewarasan mentalnya sendiri.
Bbruugghh!
Saat berada di area parkir, Laras tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita. Benturan itu cukup keras hingga hampir membuat keduanya terjatuh. Beruntung, keseimbangan Laras cukup stabil sehingga ia tetap berdiri tegak.
"Aaoowwh! Kalau jalan pakai mata dong, jangan asal tabrak saja." ketus wanita itu dengan nada tinggi.
"Loh, kenapa jadi saya yang Mbak salahkan? Bukannya Mbak yang menabrak saya?" balas Laras tegas. Ia tak sudi disalahkan begitu saja karena jelas-jelas wanita itulah yang tidak memperhatikan jalan.
Deghhh!
Aroma parfum ini?
Laras seketika terdiam saat menghirup aroma parfum dari wanita di hadapannya. Ia merasa sangat familiar dengan wangi tersebut.
"Aroma ini sama persis dengan wangi parfum yang kutemukan di sofa rumah tempo hari."
"Hmm... aku ini berpikir apa, sih? Parfum seperti ini pasti banyak yang memakai karena dijual bebas. Mana mungkin parfum yang kemarin kutemukan adalah milik wanita ini. Memangnya dia siapa?". gumam Laras dalam hati.
"Woee...... Kenapa bengong? Baru sadar kalau kamu yang salah, makanya diam saja begitu?" cerca wanita itu, yang tak lain adalah Angel.
"Sudahlah, Ras, jangan diladeni wanita seperti ini. Ayo masuk, biarkan saja dia marah-marah sendiri. Erika dan Rani pasti sudah menunggu kita di dalam." ucap Andin sambil melirik Angel dengan tatapan aneh.
"Sstt... jangan bicara begitu. Sudah, biarkan saja, toh kita juga tidak mengenal wanita tadi." bisik Laras menenangkan.
Andin hanya berdehem kecil sambil melirik sahabatnya itu. Ia tahu betul sifat Laras yang tidak mau ambil pusing dengan hal-hal yang dianggapnya tidak penting.
**
Di tempat lain, suasana hati yang buruk juga menyelimuti kediaman Laras.
"Kurang ajar sekali si Laras itu, sudah jam segini belum pulang juga. Bukannya hari ini dia hanya kerja sampai jam dua? Pagi tadi juga tidak masak sarapan. Uang arisan pun tidak dikasih, sampai aku tidak bisa ikut arisan. Awas saja kamu, Laras." gerutu Bu Ajeng kesal.
Bu Ajeng tadi terpaksa berbohong kepada teman-temannya dengan alasan sedang tidak di rumah agar tidak malu karena tidak bisa membayar uang iuran. Itu semua karena Laras tidak memberinya uang.
"Itu Tiara? Kasihan sekali dia, pasti dia lapar dan di rumah tidak ada makanan." ucap Bu Ajeng saat melihat anak bungsunya pulang.
Bbraakk!
Tiara menutup pintu mobilnya dengan kasar. Wajahnya ditekuk. Ia gagal berkumpul dengan teman-temannya karena tidak memegang uang. Ia sempat meminta pada Arga, namun hanya diberi secukupnya untuk mengisi bensin.
"Anak Ibu sudah pulang? Kok wajahnya cemberut begitu?" tanya Bu Ajeng.
"Diamlah, Bu, aku lagi kesal. Teman-temanku pada nongkrong di kafe, sementara aku malah harus pulang. Ini gara-gara Mbak Laras aku jadi malu. Padahal dari kemarin sudah janjian mau malam mingguan, malah dia pergi tanpa kasih duit. Menyebalkan sekali." omel Tiara begitu sampai di dalam rumah.
"Ibu juga kesal. Sampai hari ini Ibu tidak bisa ikut arisan. Malu tahu sama teman-teman Ibu, pasti mereka berpikir yang tidak-tidak. Di rumah juga tidak ada makanan, uang di dompet Ibu tinggal 30 ribu saja." Bu Ajeng mendengus pasrah.
"Tiara juga lapar, Bu." keluh Tiara sambil mengusap perutnya.
Dengan malas, Tiara bangkit menuju dapur. Target utamanya adalah kulkas. Saat membukanya, ia menemukan telur, tempe, dan beberapa ikat kangkung.
"Ada telur, kangkung, sama tempe, Bu. Ibu masak ini saja dulu buat ganjal perut. Aku lapar sekali. Tadi pagi cuma makan roti sebungkus." teriak Tiara dari dapur.
Bu Ajeng bukannya tidak tahu ada bahan makanan di kulkas. Ia hanya terlalu malas untuk mengolahnya. Sejak tinggal bersama Arga dan Laras, ia merasa seluruh urusan rumah tangga adalah tanggung jawab menantunya.
"Ibu malas, Tiara. Kita di rumah ini kan tamu. Seharusnya Laras yang melayani kita. Semua pekerjaan rumah itu tanggung jawab dia. Enak saja dia mau menjadikan kita babu." ucap Bu Ajeng dengan pemikiran kolotnya.
"Iya juga sih, Bu. Tapi kalau tidak masak, kita makan apa? Uang saja tidak ada, kan? Masak saja dulu, Bu. Nanti malam baru kita suruh Mbak Laras masak yang enak." bujuk Tiara.
"Hmm, iya juga. Nanti kalau Mas Arga sudah berhasil menikahi pacarnya yang kaya itu, kita depak saja Laras miskin itu dari sini." ucap Tiara dengan sombongnya.
"Sssssttttt!". Bu Ajeng segera meletakkan jari telunjuk di bibir, memperingatkan anaknya. "Jaga ucapanmu, jangan sampai keceplosan. Kalau sampai Laras dengar, bisa kacau semuanya. Paham?"
"Iya, Bu. Paham," jawab Tiara pelan.
**
Sementara itu di kafe, Laras dan teman-temannya masih menikmati suasana. Laras tetap menyimpan rapat kenyataan bahwa mertua dan iparnya kini menumpang di rumahnya.
"Ras, kamu tidak kangen sama orang tuamu? Rasanya sudah lama kamu tidak pulang ke sana." tanya Rani.
"Memang sudah sekitar dua bulan aku tidak pulang. Ayah dan Ibu lebih banyak menghabiskan waktu di kampung halaman. Rumah yang di sini cuma diisi asisten rumah tangga dan pekerja saja. Adikku juga sibuk kuliah, tapi kami tetap rutin berkomunikasi." jawab Laras.
"Lagi sibuk mengurus kebun kakao dan cengkeh ya, Say? Ayahmu kan juragan kakao dan cengkeh kelas kakap. Kebunnya luas banget...." sahut Erika santai.
"Ya begitulah. Padahal sudah ada orang yang mengurus, tapi mereka memang lebih suka tinggal di kampung, katanya lebih tenang. Tapi dalam beberapa hari ini mereka mau balik ke kota kok, kasihan adikku kalau ditinggal terlalu lama." jelas Laras.
Kedua orang tua Laras memang pemilik perkebunan kakao dan cengkeh seluas puluhan hektar. Meski kaya raya, mereka lebih memilih hidup sederhana di kampung. Laras juga memiliki seorang adik perempuan yang kuliah di kampus yang sama dengan Tiara, meski keduanya tidak saling mengenal.
"Sudah jam empat sore nih, yuk pulang. Aku mau sekalian mampir belanja sayur di pasar." ajak Laras.
Meski kesal, Laras tidak setega itu membiarkan mertua dan iparnya kelaparan. Setidaknya ia akan menyetok bahan makanan agar mereka bisa memasak sendiri.
"Ya sudah, yuk pulang. Malam ini aku ada janji makan malam sama Andri. Mumpung dia tidak sibuk." ucap Rani sambil tersenyum malu-malu.
"Cieee, yang mau kencan. Semangat sekali persiapannya." goda Andin.
"Iya dong. Memangnya kalian berdua, jomblo terus. Hahaha." tawa Rani puas.
"Aku punya ide, bagaimana kalau kalian berdua jadian saja? Siapa tahu kalau punya pacar, Erika bisa dapat pacar juga?" seloroh Rani asal bicara.
"Ooh... TIDAK. Memang kamu pikir kami le*bi."
Sontak Andin dan Erika menjawab bersamaan, membuat Laras dan Rani tertawa terbahak-bahak.
"Kalian kompak sekali, ya." ucap Laras di sela tawanya.
"Apaan sih, Say. Sudah ah, yuk pulang. Makin lama makin rada-rada." ajak Erika
**
Kembali ke dapur rumah Laras, Bu Ajeng tetap pada pendiriannya.
"Ibu sudah masak nasi tadi. Kamu goreng telur sendiri saja sana," ucap Bu Ajeng yang tetap malas bergerak.
Tiara mendengus kesal. Ia lapar, tapi juga malas berusaha. Akhirnya ia meninggalkan dapur dan kembali duduk di depan TV bersama ibunya.
"Bu, katanya pacar Mas Arga itu kaya raya? Kenapa Mas Arga tidak minta bantuan dia saja untuk menebus rumah kita yang disita?" tanya Tiara.
"Jangan dulu, Tiara. Masmu itu kan baru tahap pacaran. Jangan terlalu kelihatan kalau kita mengincar uangnya. Kita harus main cantik." bisik Bu Ajeng licik.