NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. A Crown Prince's Decision

Aula Agung Istana Araluen

Aula Agung dipenuhi cahaya kristal dan bisikan para bangsawan. Bendera Kerajaan Kairo dan Araluen tergantung berdampingan—simbol persatuan yang seharusnya terjadi.

Kaisar berdiri di singgasananya.

Permaisuri Lunara duduk tegak, wajahnya tenang namun matanya waspada.

Archduke Cedric Aurelius berdiri sedikit di belakang—diam, penuh tekanan.

Putri Sophia Karin Kairo berdiri anggun di sisi kanan aula, senyumnya sempurna, seolah semua sudah ditentukan.

“Yang Mulia Putra Mahkota,” ucap Kaisar akhirnya, suaranya menggema.

“Kerajaan Kairo menunggu jawabanmu.”

Hening.

Semua mata tertuju pada satu sosok.

William Whiston—Liam Aurelius—melangkah maju.

Mantel panglima perangnya berkilau, punggungnya tegak, dan sorot matanya… tidak ragu.

“Aku sudah membuat keputusan.”

Nada suaranya tenang.

Terlalu tenang—hingga membuat jantung banyak orang berdegup lebih cepat.

“Aku tidak akan menerima lamaran Kerajaan Kairo.”

Aula meledak dalam bisikan terkejut.

Kaisar membeku.

Permaisuri refleks menggenggam sandaran kursinya.

Para bangsawan saling berpandangan, tak percaya.

Sophia Karin tidak bergerak. Senyumnya masih terpasang—namun retak halus.

William melanjutkan, melangkah satu langkah lagi ke depan.

“Karena aku tidak akan menjadikan pernikahan sebagai alat,” katanya tegas.

“Dan aku tidak akan menikahi seseorang tanpa memilihnya.”

Lalu—ia berbalik.

Tatapan William mengarah lurus ke satu titik.

Ke arah Anthenia Blackwood.

Waktu seakan berhenti.

“Putri Anthenia Blackwood,” ucapnya lantang, suaranya menggema di seluruh aula.

“Di hadapan Kaisar, Permaisuri, Archduke, dan seluruh bangsawan Araluen—”

Ia berlutut.

Satu lutut menyentuh lantai marmer.

“Aku, William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Araluen,

melamarmu sebagai calon permaisuriku.”

Dunia runtuh.

Reaksi yang tak bisa disembunyikan

Anthenia membeku.

“Apa…?” suaranya nyaris tak terdengar.

Duke Kaelen Blackwood di sampingnya terkejut—mata membesar, napas tertahan.

“Dia berani…” gumamnya pelan.

“Sejak kapan—”

Kaisar menutup mulutnya, bibir terkatup kaku.

Permaisuri Lunara terdiam—matanya bergetar, antara terkejut dan… bangga.

Archduke Cedric?

Tangannya mengepal keras.

Sorot matanya tajam, penuh emosi yang tidak bisa diungkapkan.

“Dia benar-benar berani,” bisiknya.

“Aku… tidak bisa menghentikannya.”

Ia berbalik dan melangkah menjauh, mantel panjangnya berayun berat.

Putri Sophia Karin akhirnya menurunkan pandangannya.

Senyum di wajahnya berubah—kecut, pahit, tapi tetap bermartabat.

“Sudahlah,” ucapnya pelan.

Kesatria Kairo di belakangnya langsung melangkah maju, wajahnya merah oleh amarah.

“Yang Mulia—!”

“Tidak,” potong Sophia lembut tapi tegas.

“Itu keputusannya.”

Ia mengangkat wajahnya kembali, menatap William.

“Dan aku menghormatinya.”

Kembali pada Anthenia

William masih berlutut.

“Aku tahu ini mengejutkan,” katanya pelan, hanya cukup untuk Anthenia dengar.

“Aku tahu kau tidak pernah memintanya.”

Ia mengangkat kepala, menatapnya lurus.

“Namun aku memilihmu—bukan karena politik,

melainkan karena aku tidak ingin hidup tanpa kejujuran.”

Anthenia gemetar.

Dadanya sesak.

Kepalanya kosong.

Dia… benar-benar memilih.

Ia menatap ayahnya.

Duke Kaelen tidak berkata apa-apa—hanya mengangguk kecil, tegas.

Air mata menggenang di mata Anthenia.

“William…” suaranya bergetar.

Aula kembali sunyi.

Semua menunggu.

Aula Agung masih sunyi.

William tetap berlutut, seolah waktu tak lagi bergerak tanpa jawabannya.

Anthenia menatap sosok di hadapannya—pria yang selama ini berdiri di antara mahkota dan perasaannya sendiri.

Bibirnya bergetar.

Air mata akhirnya jatuh, satu demi satu, tanpa bisa ditahan.

Dadanya naik turun, napasnya tercekat.

“aku…”

Suaranya nyaris hilang di antara bisikan aula.

“aku terima…”

Kalimat itu keluar begitu saja—

pelan, rapuh, namun jujur.

Seakan-akan bibirnya mengikuti kata hatinya.

Ia tidak ingin lagi menyembunyikan perasaannya.

Tidak ingin kehilangan sosok pria yang kini berlutut di hadapannya.

“Aku terima,” ulangnya lebih jelas, meski air mata masih bercucuran.

Sejenak—

tidak ada suara.

Lalu—

Reaksi yang mengguncang aula

William terdiam.

Matanya melebar, lalu bergetar.

Ia berdiri perlahan, menatap Anthenia seolah takut semua ini hanya ilusi.

“Anthenia…” ucapnya pelan.

Tangannya terangkat, ragu sejenak—lalu menggenggam tangan Anthenia dengan hormat, bukan kepemilikan.

Satu gerakan sederhana, namun cukup untuk membuat aula kembali bergemuruh.

Bisikan berubah menjadi kehebohan.

Duke Kaelen Blackwood menutup matanya sejenak, menarik napas panjang.

“Anak bodoh…” gumamnya pelan.

“Tapi… kau memilih dengan hatimu.”

Kaisar akhirnya bangkit dari singgasananya, wajahnya campuran antara keterkejutan dan kelelahan.

“William Whiston…” ucapnya berat.

“Keputusanmu akan mengguncang dua kerajaan.”

William menoleh.

“Aku siap menanggungnya.”

Permaisuri Lunara menatap Anthenia lama—lalu tersenyum tipis, hampir tak terlihat.

“Kalau begitu,” ucapnya lembut namun tegas,

“kita semua telah mendengar jawabannya.”

Putri Sophia Karin menunduk.

Senyum kecutnya kembali muncul—pahit, tapi bermartabat.

“Selamat,” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar.

“Semoga pilihanmu… tidak kau sesali.”

Kesatria Kairo di belakangnya mengepalkan tangan, namun tidak bergerak.

Perintah itu jelas:

ini telah selesai.

Archduke Cedric Aurelius

Di sudut aula, Archduke berhenti melangkah.

Ia menutup mata, napasnya berat.

“Anak keras kepala,” bisiknya.

“Benar-benar keras kepala…”

Namun sudut bibirnya terangkat samar.

“Seperti ayahmu.”

Ia melangkah pergi, membiarkan badai yang telah dilepaskan tak lagi bisa dihentikan.

Aula Agung belum sepenuhnya tenang ketika langkah berat kembali terdengar.

Archduke Cedric Aurelius masuk kembali.

Suasana langsung berubah.

Para bangsawan yang semula berbisik spontan menunduk. Bahkan Kaisar dan Permaisuri menoleh bersamaan—tidak ada yang berani memotong langkah lelaki tua itu.

“Panggil semua keluarga kerajaan,” ucap Archduke dengan suara rendah namun tegas.

“Termasuk Duke Blackwood. Dan Putri Anthenia.”

Perintah, bukan permintaan.

Tak lama kemudian, mereka berkumpul di ruang pertemuan dalam—lebih kecil, namun justru terasa lebih menekan.

William berdiri tegak.

Anthenia masih menggenggam ujung gaunnya, jantungnya belum sepenuhnya tenang.

Duke Kaelen Blackwood berdiri di sisinya, wajahnya kaku namun waspada.

Archduke berdiri di tengah ruangan.

Tatapannya menyapu semua orang.

“Kalian semua tahu,” katanya akhirnya,

“apa yang baru saja dilakukan oleh cucuku.”

Ia menoleh ke arah William.

“Keputusan itu akan mengguncang Araluen, Kairo, dan hubungan antar kerajaan.”

Hening.

Lalu Archduke melanjutkan, suaranya semakin berat.

“Karena itu,” ucapnya,

“aku yang akan menanggung semuanya.”

Kaisar terkejut.

“Cedric—”

“Keputusanku,” potong Archduke tanpa menoleh,

“tidak boleh dibantah.”

Ia menatap Kaisar, lalu Permaisuri, lalu Duke Blackwood—dan akhirnya Anthenia.

“Pernikahan Putra Mahkota William Whiston dengan Putri Anthenia Blackwood,” katanya lantang,

“akan diadakan satu minggu dari sekarang.”

Dunia seakan berhenti berputar.

“Satu… minggu?” gumam seseorang lirih.

Anthenia membeku.

Matanya membesar, napasnya tertahan.

Satu minggu…?

William sendiri terkejut—namun tidak menolak. Justru sorot matanya mengeras, menerima beban itu sepenuhnya.

Duke Kaelen menatap Archduke lama, lalu menunduk dalam.

“Jika itu keputusan Anda,” ucapnya akhirnya,

“keluarga Blackwood akan mematuhinya.”

Archduke mengangguk.

“Bagus.”

Ia menoleh pada Anthenia, suaranya sedikit melunak—hampir tak terasa.

“Putri Blackwood,” katanya,

“kau tidak hanya dipilih oleh cucuku.”

Ia berhenti sejenak.

“Kau dipilih oleh Araluen.”

Anthenia menunduk dalam-dalam.

“Terima kasih… Yang Mulia.”

Permaisuri Lunara menutup mata sejenak, lalu menghela napas panjang.

“Kalau begitu,” ucapnya pelan,

“kita akan menyiapkan segalanya.”

Archduke berbalik, langkahnya mantap.

“Kerajaan Kairo akan aku tangani,” katanya dingin.

“Dan siapa pun yang mencoba menggoyahkan keputusan ini—”

Ia berhenti di ambang pintu.

“Akan berhadapan denganku.”

Pintu tertutup.

Sunyi menyelimuti ruangan.

Anthenia akhirnya menoleh ke arah William.

Tatapan mereka bertemu.

Tak ada kata.

Namun untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—

masa depan terasa nyata.

Dekat.

Dan menakutkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!