Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Langit cerah menggantung rendah di atas jalan pegunungan yang lengang. Angin berdesir membawa bau tanah basah ketika mobil hitam yang mereka tumpangi berhenti mendadak di tengah tikungan sempit.
“Kay, ada yang menghalangi jalan kita,” ujar Noah dengan suaranya tegang, sebab ia tahu bahwa ini bukan pertanda yang baik.
Dan benar saja di depan, sebuah truk tua diparkir melintang. Terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Bahkan kini mereka menyadari bahwa tidak ada kendaraan lain yang melintas di jalanan itu selain mobil mereka dan para pengawal yang mengikuti.
“Noah, kita turun dan periksa!” perintah Kay.
Kay turun lebih dulu, begitu juga dengan Noah. Tatapan mereka menyapu hutan pinus di kiri-kanan jalan. Sunyi, bahkan terlalu sunyi untuk jalanan umum yang seharusnya di penuhi mobil berlalu lalang mengingat masih jam berangkat kerja.
Di dalam mobil, Hezlyn menggenggam boneka kelinci dengan wajah pucat. Di sampingnya berdiri tegap pengawal yang ditugaskan melindunginya, siapa lagi kalau bukan Axlyn. Rambut hitamnya diikat tinggi, matanya tajam memindai sekitar. Ia ikut turun bersama Kay dan Noah, tapi memilih posisi berada di dekat mobil tempat Hezlyn berada.
“Mereka datang,” gumam Axlyn pelan.
Seolah menjawab ucapannya, belasan pria berpakaian gelap muncul dari balik pepohonan. Langkah mereka mantap, terkoordinasi. Beberapa membawa tongkat besi, yang lain menggenggam pisau dan senjata api pendek.
Noah mendecakkan lidah. “Target mereka Hezlyn.”
“Kalian semua bersiaplah, pastikan Hezlyn tetap aman,” perintah Kay pada Axlyn dan para pengawal lainnya.
Salah satu pria maju setengah langkah. “Serahkan gadis itu. Kami hanya butuh dia.”
Axlyn berdiri di depan pintu mobil, tubuhnya menjadi tameng. “Langkahi kami dulu kalau begitu.”
“Cari mati!” Pria itu mendengus. “Serang mereka!”
Tanpa aba-aba lagi, serangan dimulai. Suara logam beradu menggema di antara batang pinus. Rekan Axlyn, lima pengawal lain yang mengikuti dengan kendaraan berbeda bergegas membentuk formasi, melindungi Kay dan Hezlyn di tengah. Noah jelas langsung membantu menahan serangan dari sisi kanan dengan tongkat kejut yang ia pinjam dari Axlyn.
Kay sendiri bergerak cepat, menjatuhkan satu pria dengan tendangan terarah. Namun jumlah mereka terlalu banyak. Axlyn menangkis tebasan pisau, berputar, lalu menghantam pelipis lawan dengan gagang senjatanya. Satu jatuh. Dua lagi datang. Nafasnya mulai berat, namun posisinya tak bergeser sejengkal pun dari Hezlyn.
Dalam keadaan tengah hamil, Axlyn masih berusaha menjalankan tugasnya dengan semaksimal mungkin. Namun, siapa sangka di tengah pertarungan perutnya tiba-tiba terasa sangat nyeri. Axlyn meringis, mencoba mengabaikan rasa sakit itu untuk bisa melindungi gadis kecil itu.
“Tuan Kay, mundur sedikit!” teriak salah satu pengawal.
“Aku tetap di sini, kalian tenang saja aku bisa mengurusnya.” Balas Kay tegas.
Serangan demi serangan datang seperti gelombang tak berujung. Salah satu pengawal terpukul mundur setelah terkena hantaman tongkat besi di bahu. Formasi mereka mulai renggang. Axlyn menyadarinya lebih dulu dan segera mengingatkan Noah untuk menutupi formasi yang renggang.
“Noah! Tutup sisi kiri!” teriaknya.
Terlambat… seorang pria bertubuh besar menerobos celah sempit di antara mereka. Gerakannya cepat, nyaris tak terlihat. Kilatan perak melesat dari tangannya, dimana sebuah pisau menuju ke arah Hezlyn.
Waktu seakan melambat. Hezlyn membeku, mata bulatnya membesar. Kay berdiri tepat di depannya. Jarak pisau itu tak lebih dari beberapa langkah. Tanpa ragu sedikitpun, Axlyn bergerak. Ia melangkah ke depan, membuka kedua tangannya, tubuhnya condong melindungi Hezlyn dan Kay sekaligus. Niatnya jelas… menjadikan dirinya perisai terakhir untuk melindungi pria yang ia cintai dan juga anak yang harus ia jaga.
Tanpa disangka tindakan Axlyn itu seolah membuka memori Kay yang terkunci. Ingatan pertarungan di Kota Xennor memaksa masuk dalam kepalanya. Dimana ia melindungi seorang wanita dari serangan seseorang yang ingin membunuhnya.
Bughh ….
“Sialan, beraninya kau menggangguku! Dasar wanita tidak berguna … mati saja kau!” umpat seorang pria yang segera meraih senjata tersembunyi dibalik lengan jaketnya. Sebuah belati yang detik itu dia lemparkan tepat mengarah ke kepalanya seorang wanita.
Kay yang menyaksikan kejadian itu, jelas dibuat panik bukan main. Tanpa pikir panjang Kay langsung berlari ke arah wanita itu untuk menyelamatkannya. Kay memeluk erat tubuh wanita itu menjadikan punggungnya sebagai sasaran belati tersebut yang kini menancap di sana. Pria itu yang melihat betapa gilanya Kay hanya untuk melindungi seorang wanita, spontan memilih mundur.
“Kau … baik-baik saja, bukan?” Padahal jelas-jelas Kay yang terluka demi melindungi wanita, tapi dia masih bertanya untuk memastikan keadaannya.
“Kay … Kenapa? Kenapa kau melindungiku sampai sejauh ini?” Air mata wanita itu sudah mengalir deras membasahi wajahnya.
“Dasar bodoh! Seharusnya kau biarkan saja wanita itu mati. Kenapa kau harus mengorbankan diri untuk melindunginya? Bahkan dia bukan siapa-siapamu, bukan?” ujar Pria itu yang terus berjalan mendekati Kay yang sudah terluka dalam pelukan wanita itu.
“Sebenarnya apa maumu? Apakah kau akan membunuhku sekarang?”
“Membunuhmu?” Pria itu sengaja menjeda ucapannya membuat gestur berpikir seolah membunuh Kay adalah hal mudah baginya untuk dilakukan, “Aku rasa tidak untuk kali ini. Namun, ini peringatan juga untukmu agar tidak ikut campur dengan apapun yang terjadi di Kota Xennor. Tanda tangani saja perjanjian yang kami persiapkan atau pergi dari Kota ini secepatnya. Karena aku akan melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan siapapun yang berani mengganggu kekuasaanku di sini.” lanjutnya.
“Ouh … Jadi, kau si … itu! Kenapa kau menutupi dirimu sampai seperti itu? Apakah kau sangat jelek sampai tidak mau menunjukkan wajah aslimu?”
“Argh… Ingatan apa ini?”
Kay meringis kesakitan sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat ingatan yang memaksa kembali masuk. Wajah pria itu tertutup helm yang ia kenakan, sedangkan wajah wanita yang ia lindungi terlihat tidak jelas dalam ingatannya. Wajahnya buram, seperti kaset film yang sudah rusak.
“Kay, cepat pergi dari sini bersama Hezlyn!”
Teriakan Axlyn seketika menyadarkan Kay dari rasa sakit di kepalanya. Dan saat pandangannya menangkap Axlyn yang berniat mengorbankan diri demi melindunginya dan juga Hezlyn, ia benar-benar sangat terkejut dengan keputusan gila wanita itu.
“Axlyn, jangan gila!” teriak Noah yang juga terkejut dengan keputusan yang Axlyn ambil.
Bersambung….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌