NovelToon NovelToon
Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Beda Usia / CEO
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
​Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
​Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Detik demi detik berganti, suara detak jam dinding di ruang praktiknya seolah berpacu dengan detak jantung Rengganis yang belum juga stabil sejak kepergian Permadi.

Akhirnya, jarum jam menunjukkan pukul dua siang dimana waktu kerjanya telah habis.

Rengganis menghela napas lega dan melepaskan jas dokter kebanggaannya.

Ia menyampirkannya di gantungan, dan menggantinya dengan kardigan rajut yang lebih santai.

Alih-alih langsung pulang untuk beristirahat, ada dorongan aneh di dalam hatinya.

Ia teringat kartu hitam di dompetnya dan ucapan Permadi tentang nafkah yang diberikannya tadi.

"Baiklah, mari kita lihat apakah 'anak ingusan' itu bisa menghargai masakan rumahan," gumamnya.

Rengganis memutuskan untuk memanggil taksi online dan memintanya untuk mengantarkannya ke supermarket.

Sesampainya di supermarket, Rengganis berdiri mematung di depan deretan rak sayur mayur.

Ia baru menyadari satu fakta konyol bahwa ia tidak tahu apa-apa tentang selera lidah suaminya.

Selama ini, dunianya hanya berisi daftar diet pasien pre-eklampsia atau asupan gizi ibu hamil.

Ia mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya 'Permadi berondong'.

Hanya dalam dua kali nada sambung, panggilan itu diangkat.

"Sayang? Tumben sekali telepon siang-siang. Kangen ya?" tanya Permadi dengan suara baritonnya.

Permadi terdengar sangat ceria, meskipun di latar belakang terdengar suara bisik-bisik orang yang sepertinya sedang mempersiapkan ruang rapat.

Rengganis menghela napas panjang, mencoba meredam rasa malu yang tiba-tiba menyerang.

"Jangan percaya diri dulu. Aku sedang di supermarket. Aku mau masak, tapi aku tidak tahu kamu mau makan apa."

Hening sejenak di seberang sana, sebelum terdengar tawa kecil yang terdengar sangat puas.

Permadi sepertinya sedang menjauh dari kerumunan orang di ruang rapatnya.

"Wah, Dokter Rengganis mau turun ke dapur? Ini keajaiban medis atau apa?" goda Permadi.

"Cepat katakan saja sebelum aku berubah pikiran dan cuma membelikanmu mie instan cup," ancam Rengganis.

"Oke, oke. Aku suka ayam kecap yang bumbunya meresap sampai ke tulang, cap jay goreng yang sayurnya masih renyah, dan salad buah dengan saus yogurt," jawab Permadi lancar.

Rengganis mulai mengambil keranjang belanja yang agak besar.

"Ayam kecap, cap jay, salad buah. Oke, dicatat."

"Dan satu lagi yang paling penting, Sayang,"

"Apa lagi?"

"Kamu. Kamu yang paling aku suka."

Rengganis nyaris menjatuhkan ponselnya ke dalam kotak brokoli.

"Permadi! Berhenti bicara mesum, kamu bilang mau meeting!"

"Aku serius, Ganis. Masak apa pun yang kamu buat, aku pasti suka. Tapi jangan lupa poin lingerie merah tadi malam, ya. Itu pencuci mulut yang paling aku tunggu."

"MATIKAN TELEPONNYA!" teriak Rengganis tertahan, langsung memutus sambungan dengan wajah seputih kertas yang mendadak berubah jadi semerah tomat.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba fokus kembali pada daftar belanjaan.

Ayam, kecap manis, wortel, brokoli, buah-buahan dan bahan lainnya.

Ia memasukkan semuanya ke dalam keranjang belanja.

"Ayam kecap, ya?" gumamnya sambil tersenyum tipis tanpa sadar.

"Akan kubuatkan ayam kecap paling enak supaya kamu berhenti memanggilku Tante."

Setelah selesai membayar semua belanjaan, Rengganis tidak langsung pulang.

Kakinya terasa sedikit penat setelah seharian berdiri di ruang operasi dan berkeliling supermarket.

Ia memutuskan untuk mampir sejenak ke sebuah kedai es krim di sudut area perbelanjaan tersebut.

Ia duduk di kursi tinggi dekat jendela, menatap jalanan kota yang mulai padat sambil menikmati satu cup es krim cokelat pekat kesukaannya.

"Permadi..." gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Nama itu kini terasa berbeda di lidahnya. Kemarin nama itu terdengar seperti beban atau gangguan yang ingin ia hapus dari catatan hidupnya. Namun sekarang, hanya dengan membisikkannya saja, ada rasa hangat yang menjalar ke dadanya.

Rengganis menyendok es krim cokelat itu, lalu tiba-tiba teringat bagaimana wajah Permadi saat menggodanya di rumah sakit tadi.

Bagaimana pria itu begitu percaya diri memamerkan lingerie merah di tengah ruang kerja dokter, namun di sisi lain bisa begitu tulus mengatakan bahwa ia telah memperhatikan Rengganis sejak sepuluh tahun yang lalu.

Tanpa sadar, sebuah senyuman terukir di bibir Rengganis.

"Dasar berondong gila," ucapnya pelan, masih dengan senyum yang melebar.

Ia membayangkan bagaimana reaksi Permadi nanti malam saat melihat meja makan penuh dengan makanan kesukaannya.

Tiba-tiba, Rengganis tersadar dari lamunannya. Ia melihat pantulan dirinya di kaca jendela supermarket.

Wajahnya merona merah, dan ia sedang senyum-senyum sendiri sambil memegang sendok es krim di udara.

"Aduh, Ganis! Sadar!" bisiknya panik.

Ia segera menundukkan kepala, pura-pura sangat sibuk mengaduk es krim cokelatnya yang mulai mencair.

Ia menoleh ke kiri dan ke kanan dengan canggung, takut ada orang atau—lebih parah lagi—rekan sejawatnya yang melihat seorang dokter spesialis kandungan yang biasanya kaku dan dingin, kini malah tampak seperti remaja yang sedang mabuk kepayang.

Rengganis berdehem kecil, berusaha mengembalikan wajah poker face-nya. Il

Ia segera menghabiskan sisa es krimnya dengan cepat, lalu berdiri dan menyambar kantong belanjaannya.

"Cukup lamunannya. Sekarang waktunya masak sebelum si tukang goda itu pulang," tekadnya dalam hati.

Meskipun ia berusaha terlihat tegas saat berjalan menuju pintu keluar, langkah kakinya terasa jauh lebih ringan.

Seolah-olah beban "usia empat puluh tahun" yang selama ini menghimpit pundaknya telah menguap, digantikan oleh debaran manis yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.

Rengganis melangkah masuk ke dalam rumah modern itu dengan kedua tangan yang penuh kantong belanjaan.

Suasana rumah masih sepi, hanya ada deru halus sistem pendingin ruangan yang menyambutnya.

Ia meletakkan belanjaannya di atas counter dapur yang terbuat dari marmer hitam, lalu segera naik ke lantai atas.

Segera ia melepaskan pakaian kerjanya yang formal dan menggantinya dengan kaos katun santai berwarna putih dan celana kulot tipis yang nyaman.

Rambut panjangnya ia cepol ke atas, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang tampak segar.

"Oke, Ganis. Fokus. Anggap saja ini operasi besar," gumamnya menyemangati diri sendiri sambil mengenakan apron berwarna krem.

Ia kembali ke dapur dan mulai menata bahan-bahan.

Kemudian ia mengambil pisau dapur milik Permadi ternyata sangat tajam, tipe pisau profesional yang biasa digunakan koki ternama.

Rengganis mulai memotong daging ayam dengan gerakan yang sangat presisi.

Sebagai dokter bedah, urusan potong-memotong bukanlah hal sulit baginya.

Setiap potongan ayam memiliki ukuran yang hampir sama persis, rapi dan efisien.

Setelah ayam siap dan bumbu-bumbu seperti bawang putih, bawang bombay, dan jahe telah ia rajang halus, Rengganis beralih ke sayuran.

Suara ketukan pisau di atas talenan kayu bergema ritmis di dapur yang sunyi itu.

Wortel, brokoli, jagung muda, dan kembang kol ia potong dengan telaten untuk menu cap jay.

"Sedikit udang dan bakso ikan untuk tambahan protein," ucapnya sambil tersenyum tipis.

Ia ingat Permadi bilang suka sayuran yang masih renyah, jadi ia memastikan urutan memasaknya nanti harus tepat agar tidak overcooked.

Setelah urusan sayur selesai, Rengganis beralih ke buah-buahan untuk salad.

Ia memotong apel, anggur, melon, dan stroberi dengan hati-hati.

Ini adalah bagian yang paling ia sukai saat membuat saus salad.

Bukannya menggunakan saus mayones instan yang biasa dijual di pasaran.

Rengganis memutuskan untuk membuat saus salad ciptaannya sendiri—sebuah resep rahasia yang ia pelajari dari mendiang neneknya.

Ia mencampurkan greek yogurt, sedikit madu murni, perasan lemon segar, dan taburan mint yang dicincang halus.

Ia mencicipi saus itu dengan ujung jarinya dimana perpaduan antara rasa asam, manis, dan segar yang meledak di lidah membuatnya yakin bahwa Permadi tidak akan bisa menolak makanan ini.

Sambil menunggu ayamnya meresap dalam bumbu kecap sebelum ditumis, Rengganis menyandarkan punggungnya di island dapur.

Ia menatap deretan bahan makanan yang sudah siap olah di depannya.

Ada rasa kepuasan yang aneh—rasa yang sangat berbeda dari saat ia berhasil menjahit luka pasien.

Tiba-tiba, ia teringat kartu hitam di dompetnya dan lingerie merah yang terkunci di tas kerjanya. Rengganis tertawa kecil, menggelengkan kepalanya pelan.

"Permadi, kamu benar-benar merusak ritme hidupku," bisiknya dengan nada yang jauh dari kata marah.

Tanpa ia sadari, tangannya bergerak menyentuh pipinya yang mendadak terasa hangat kembali.

Bayangan makan malam berdua di meja ini, dengan lampu yang temaram dan aroma masakan rumahan, mulai memenuhi imajinasinya.

Rengganis menarik napas panjang, menghirup aroma bumbu yang mulai memenuhi udara dapur

1
falea sezi
hyper ne bahaya bgt lo klo dia g puas biasa sih selingkuh
Ita Putri
hyoer seksual dapat nya Tante" umur 40 th
falea sezi
lanjut
Rais Raisya
lanjut ka
falea sezi
Permadi jaga nafsu deh istrimu bukan gadis abg di ajak. gaya gaya demi nafsu egois gk sih
Ita Putri
ya jelas la wong masih 25 th
Endang Sulistia
asem si Permadi 🤭
Endang Sulistia
modus 🤦🤦
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Fitra Sari
lanjut KK
awesome moment
👍😄👍😄
Fitra Sari
lanjut donk KK doubel
Ita Putri
seru banget thor😄😄
Fitra Sari
makasihh Thor ...update selalu ..pkoknya lope2 seneng banget 🤣🤣😍
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk 🤣😍😍😍😍
my name is pho: ok kak
sabar 🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK doubel2 up donk ..syuka banget sama karya2 KK ...seru banget pkok ya greget banget 🤣😍😍
my name is pho: ok kak
🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut lagi kk 😍😍😍
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
Sherin Loren
lanjut thor😎
Fitra Sari
lanjut KK ...serius bagus banget ..doubel2 pkoknya 🙏🙏😘
Fitra Sari
lanjut doubel donk KK
my name is pho: sudah kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!