Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengacara Nathaniel
“Stella kooperatif,” kata Riggs, suaranya tajam dan keras. “Dan yang lo lakukan cuma nuduh. Lo jelas lihat dia targetnya. Lo pasti sadar pembunuh itu fokus ke dia.”
“Coba bilang itu ke keluarga Stevanus Igor!”
Riggs menoleh ke Kayson. “Jadi ini polisi ‘baik’ yang lo ceritain ke gue? Detektif ‘super teliti’ yang sering lo puji itu?”
Kayson pernah punya hubungan dengan detektif itu.
Pernah.
Tapi sudah berlalu.
Benar-benar masa lalu. Dan Stella tidak akan memikirkan itu sekarang karena dia punya sejuta masalah lain. Dia menarik napas dalam-dalam dan menatap Detektif Hamizah.
“Apa yang harus gue bilang supaya lo percaya kalau gue enggak ada hubungannya sama kematian Igor?”
Detektif itu mengangkat bahu. “Kapan terakhir kali lo ngomong sama dia?”
“Beberapa tahun lalu. Dia kirim pesan ke gue. Minta maaf. Gue terima.”
Detektif Hamizah mengernyit. “Minta maaf buat apa?”
Stella menahan diri agar tidak melirik Riggs. “Karena dia cemburu. Karena dia jahat. Dia pikir gue selingkuh waktu kami masih pacaran. Dan dia salah.”
Tatapan detektif itu bergeser ke Riggs. “Cemburu seperti itu biasanya dilampiaskan ke seseorang. Kalau dia sampai minta maaf, berarti dia pasti pernah nyakitin orang. Dia melampiaskan ke siapa?”
Stella tahu kalau dia menceritakan detail pertemuan Igor dengan Riggs terakhir itu, Riggs pasti akan dianggap tersangka.
Padahal bukan.
Riggs tidak mungkin melakukan hal sekejam itu. Kayson juga tidak. Stella kenal mereka berdua. Dia … percaya pada mereka.
Astaga.
Dia bukan cuma percaya pada sahabatnya. Dia juga percaya pada Kayson.
Tatapannya tanpa sadar melayang ke arah Kayson. Dan dia mencoba mengingat kapan semuanya berubah di antara mereka.
“Kayson?” Nada suara detektif itu terdengar terkejut. “Kayson itu selingkuhan lo waktu itu, Stella?”
“Eh, bukan—” bantah Stellah.
“Kami sudah putus,” potong Riggs sambil berdiri. “Detektif, lo gak punya bukti apa pun terhadap klien gue. Dia udah menyerahkan HPnya. Silakan periksa sepuasnya. Setelah selesai, kembalikan dan mungkin sekalian minta maaf. Lo sama sekali enggak membantu. Lo cuma buang-buang waktu, dan kami gak punya waktu. Ada pembunuh di luar sana, dan kakak gue beserta timnya harus mulai memburunya.”
Kayson tersenyum dingin. “Bagus.” Dia berdiri dan jemarinya melingkar di siku Stella. Dengan sedikit menundukkan kepala ke arah detektif, dia berkata, “Kami selesai. Gue kira lo bakal bantu, Hamizah. Jelas ada bajingan sakit yang masih bebas. Dia terobsesi sama Stella. Dia bunuh mantan kekasihnya, dan kita berdua tahu lo nemuin bukti kalau mobil Betania Sonnata disabotase. Kalau nggak, itu terlalu kebetulan, kan? Orang ini lagi punya misi. Dia ngilangin orang-orang di hidup Stella, yang dulu maupun sekarang.”
“Kalau begitu,” balas detektif itu sambil berdiri juga, wajahnya tegang, “kalian berdua harus ekstra hati-hati. Dari yang gue lihat, kalian ini masa lalu dan masa sekarang Stella. Jadi kalau dia memang menyingkirkan orang-orang dari hidupnya, berarti lo dan Riggs bisa aja jadi target berikutnya.”
Tidak.
Mereka tidak boleh jadi target.
Rasa takut hampir membuat Stella sulit bernapas.
“Lo bakal ada di mana?” tanya detektif itu pada Stella.
“Sama gue,” jawab Kayson cepat. “Kalau mau pertemuan lagi, hubungi gue.”
Riggs mendengus. “Tapi kami enggak akan sebaik ini lain kali!”
Pintu ruang interogasi terbuka. Seorang pria kulit hitam bertubuh tinggi, tampan, berkepala plontos, mengenakan setelan yang terlihat sangat mahal, berdiri di ambang pintu. “Saya datang untuk klien saya.”
“Nathaniel Eddus?” Detektif itu tidak tampak terkesan, malah lebih seperti terganggu.
Pria itu tersenyum. “Yaps.”
“Lo telat banget,” kata detektif itu. Dia memberi isyarat agar Nathaniel minggir. “Gue sudah selesai untuk hari ini.” Dia mengambil mapnya dan HP Stella, lalu berjalan ke pintu. Namun Hamizah berhenti dan menatap Stella dengan kening berkerut, lalu berkata, “Hati-hati.” Dia mengeluarkan kartu nama dari saku dan menyodorkannya. “Simpan ini.”
Jari Stella menggenggam kartu itu. “Lo percaya sama gue?”
“Gue percaya ada masalah besar terjadi di kota gue. Gue percaya ada satu mayat yang harus gue urus. Dia korban gue. Dia prioritas gue. Gue harus kasih dia keadilan karena itu tugas gue sebagai detektif pembunuhan.” Dia mengembuskan napas kasar. “Tapi gue juga percaya lo dalam bahaya. Lo harus jaga diri dan orang-orang di sekitar lo, karena menurut gue keadaan ini bisa jadi jauh lebih buruk.”
...────୨ৎ────...
“Gue enggak ngirim email itu.” Suara Stella pelan.
Mereka sudah berada di mobil Kayson. Dia membawanya menjauh dari kantor polisi yang penuh sesak itu, dan yang paling ingin dia lakukan sebenarnya adalah menghentikan mobil dan memeluk Stella erat-erat.
“Gue enggak bohong sama lo,” Stella buru-buru menambahkan. “Gue enggak nyariin Igor. Ya Tuhan, gue enggak pingin dia disakitin.”
Kayson melirik cepat ke arahnya. Sial. Stella menangis. Dia melihat Stella mengusap air mata di pipinya.
“Gue benci ini. Gue benci bajingan itu. Igor dan Betania. Betania mati? Dia temen gue.” Air matanya jatuh. “Siapa lagi berikutnya? Dan kenapa? Kenapa sih? Gue enggak selingkuh, gue enggak pernah main-main atau—”
“Ini bukan salah lo.” Suara Kayson rendah dan tegas. “Dengerin gue, Stella. Lo enggak ngelakuin apa pun yang bikin semua ini terjadi. Semua ini salah bajingan itu. Dia yang ngelakuin. Dia yang nyakitin orang. Dia yang harus dihentikan dan dihukum. Orang kayak gitu bisa aja gila. Bisa sakit. Bisa pembunuh berdarah dingin. Tapi tindakan mereka enggak ada hubungannya sama korban. Apa yang dia lakuin enggak ada hubungannya sama lo atau apa pun yang pernah lo lakuin.”
Lampu lalu lintas berubah hijau. Kayson menginjak pedal gas. Dia mendengar napas Stella yang tak beraturan.
“Detektif itu kayaknya nyalahin gue,” gumamnya.
Cengkeramannya pada setir menguat. Hati-hati. “Dia lagi memburu pembunuh. Kita bisa percaya dia bakal ngelakuin tugasnya. Dia enggak bakal berhenti sampai nemu orangnya. Hamizah orangnya keras kepala. Dan dia enggak gampang dibodohi sama informasi palsu. Dia memang neken lo tadi ... Tapi dia bakal lihat kebenarannya. Korbannya Igor, dan dia fokus ke sana. Penyelidikannya bakal nuntun dia ke pelaku yang sama, orang yang lagi kita cari.”
“Lo … ada sesuatu sama dia. Atau dulu pernah ada, kan? Gue lihat cara dia ngeliat lo. Kalian pernah pacaran.”
Kayson sulit membaca emosi di suara itu. “Udah lama banget. Dan cuma sebentar. Kami sadar kami jauh lebih cocok jadi teman, dari pada jadi kekasih."
“Kalian enggak kelihatan kayak teman, tadi.”
Tawa kasar lepas dari Kayson. “Dia marah karena gue enggak nelepon dia dulu sebelum gue konfrontasi Igor. Karena gue masuk ke TKP, bikin dia makin naik darah. Tapi gue harus masuk. Gue harus pastiin pelakunya enggak ada di sana, atau bisa aja ada korban lain yang masih hidup.”
“Dia disiksa. Itu yang dia bilang.”
Sial.
“Iya.”
“Orang yang ngelakuin itu … menurut lo dia bakal nyakitin gue juga?”
Mereka sudah meninggalkan jalan ramai dan menuju ke rumah Kayson.
“Gue enggak bakal biarin itu terjadi.”
Sekarang Stella yang tertawa. Tawa pelan, serak, dan sedih. “Gue tahu lo pikir lo bisa mengendalikan semuanya, tapi lo enggak bisa!”
“Gue pegang kendali lebih banyak dari yang lo kira.” Kayson melirik kaca spion, memastikan mobil yang mengikuti mereka tetap di belakang.
Vanylla dan Wallen menjalankan perintahnya. Perlindungan level enam berarti pengawasan ketat tanpa celah. Vanylla dan Wallen akan tetap didekatnya, mencari tanda bahaya, dan saat giliran mereka selesai, tim lain akan menggantikan.
Igor sudah disiksa, dan nasib yang sama tidak akan menimpa Stella.
Tidak akan pernah.