Ye Xuan, pria berusia 35 tahun yang terjebak dalam kehidupan monoton dan menyedihkan sebagai pekerja minimarket, tewas mengenaskan akibat tabrak lari di tengah malam yang sedang hujan lebat. Di detik-detik terakhir hidupnya yang dipenuhi penyesalan atas takdir yang selalu menginjak-injaknya, ia memohon sebuah kehidupan yang tenang.
Namun, kesadarannya justru ditarik ke dalam Ruang Gacha raksasa yang membekukan waktu, memberinya satu tiket emas sebagai kompensasi anomali takdir, lalu melemparnya kembali ke masa SMA.
Kini, dibekali warisan Tabib Dewa kuno dan sebuah sistem Gacha, pria paruh baya di dalam tubuh remaja ini harus merancang ulang jalan hidupnya, siap memotong siapa saja yang berani menghalangi tujuannya di dunia kultivasi modern wuxia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Gacha Brutal dan Pil Pembersih Tulang 3
Pagi hari di SMA Jinghai.
Matahari bersinar cerah, menembus kaca jendela kelas 2-B. Suasana pagi selalu diwarnai oleh keributan murid-murid yang saling menyontek tugas pekerjaan rumah atau menceritakan drama keluarga mereka.
Ye Xuan duduk dengan tenang di mejanya di sudut belakang. Dia mengenakan seragam putih abu-abunya dengan sangat rapi hari ini. Meski bajunya sudah sedikit pudar, postur tubuhnya yang kini tegak lurus dan aura ketenangannya membuat seragam lusuh itu terlihat elegan di badannya. Beberapa murid perempuan yang lewat tanpa sadar melirik ke arahnya sedikit lebih lama dari biasanya, bingung mengapa anak yatim piatu miskin ini tiba-tiba terlihat... Sangat menarik.
Namun, perhatian seluruh kelas tiba-tiba teralih ke pintu depan.
Seorang gadis melangkah masuk dengan gaya yang sangat memikat. Itu adalah Lin Xia.
Pagi ini, Lin Xia berdandan lebih ekstra dari hari kemarin. Blus putihnya terlihat sangat pas di badannya, meregang sempurna di bagian dada saat dia menarik napas. Dia sengaja tidak mengancingkan satu kancing teratas, memperlihatkan kulit lehernya yang putih mulus dan sedikit belahan dada yang sangat menggoda imajinasi para remaja laki-laki yang sedang pubertas. Rok lipatnya yang pendek mengayun dengan gerakan ritmis setiap kali kaki jenjangnya melangkah, memancarkan pesona sensual yang membuat seluruh anak laki-laki di kelas langsung menelan ludah.
Wangi parfum beraroma mawar manis langsung memenuhi ruangan. Lin Xia tersenyum sangat manis ke seluruh kelas, menikmati setiap tatapan memuja yang tertuju padanya.
Namun, tatapan Lin Xia dengan cepat menyapu ruangan dan berhenti di sudut belakang, tepat ke arah Ye Xuan. Dia masih ingat penolakan kasar Ye Xuan kemarin. Hal itu melukai harga dirinya yang tinggi. Dia ingin membuat Ye Xuan menyesal dan merangkak memohon perhatiannya lagi hari ini.
Lin Xia mulai melangkah dengan gaya elegan menghampiri meja Ye Xuan.
Namun, sebelum dia sempat mendekat, suara langkah kaki berat terdengar dari lorong, disusul oleh kemunculan seorang murid laki-laki jangkung di pintu kelas.
Murid laki-laki itu mengenakan seragam sekolah yang sama, namun bagian luarnya dibalut oleh jaket kulit branded berharga puluhan ribu yuan. Rambutnya ditata rapi dengan pomade mahal. Di pergelangan tangannya, melingkar sebuah jam tangan Rolex emas yang berkilau menyilaukan.
Dia adalah Zhao Wei. Murid pindahan bulan lalu yang merupakan putra dari bos perusahaan real estate raksasa, yang menurut ingatan Ye Xuan, memiliki koneksi erat dengan faksi beladiri tingkat rendah di pinggiran kota.
"Selamat pagi, Lin Xia," sapa Zhao Wei dengan suara berat yang sengaja dibuat berwibawa. Dia mengabaikan semua orang di kelas dan berjalan lurus ke arah Lin Xia.
Zhao Wei tersenyum penuh percaya diri, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berlogo merek kosmetik internasional dari saku jaketnya. "Aku baru pulang dari luar kota semalam. Aku melihat lip cream edisi terbatas ini dan langsung teringat pada bibir manismu. Terimalah."
Mata Lin Xia langsung berbinar-binar melihat kotak mewah itu. Harga lip cream itu setara dengan uang jajan seluruh murid kelas ini selama sebulan!
Senyum di wajah Lin Xia seketika merekah lebar, jauh lebih tulus daripada senyum yang biasa dia berikan pada murid lain. Dia menerima kotak itu dengan kedua tangan, jari-jarinya dengan sengaja menyentuh punggung tangan Zhao Wei cukup lama.
"Ya ampun, Zhao Wei... ini sangat mahal. Kamu tidak perlu repot-repot," ucap Lin Xia dengan nada suara yang sangat manja dan sedikit mendesah, membuat Zhao Wei merasa sangat bangga sebagai seorang laki-laki. "Terima kasih banyak. Kamu benar-benar pria yang sangat baik."
Sambil mengucapkan terima kasih, Lin Xia dengan sengaja melirik ke arah sudut belakang kelas dari sudut matanya. Dia ingin melihat reaksi Ye Xuan. Dia berharap melihat wajah yatim piatu itu memucat karena cemburu, atau mengepalkan tangannya karena tidak mampu membelikannya barang mewah seperti itu.
Namun, apa yang dia lihat membuat senyum Lin Xia hampir membeku.
Ye Xuan sedang duduk santai, menopang dagunya dengan satu tangan. Matanya menatap lurus ke arah Lin Xia dan Zhao Wei. Tidak ada kemarahan. Tidak ada kecemburuan. Tidak ada keputusasaan.
Pria dengan jiwa berusia 35 tahun itu sedang menatap mereka dengan tatapan yang sangat datar, sedingin es, dan penuh dengan rasa geli. Sorot matanya persis seperti seorang pria dewasa yang sedang menonton sepasang anjing kampung yang berebut tulang di pinggir jalan.
Melihat tatapan merendahkan itu, dada Lin Xia bergemuruh karena kesal. "Kenapa dia menatapku seperti itu?! Dia hanyalah orang miskin yang tidak punya apa-apa!" batin Lin Xia menjerit tidak terima.
Ye Xuan hanya tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya pelan, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela luar, sama sekali tidak memedulikan drama murahan di depannya. Di kepalanya, dia sedang merencanakan cara terbaik untuk membersihkan sisa faksi pembunuh bayaran yang sebentar lagi pasti akan melacak jejaknya malam ini.