Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Di balik Senyum
Tiga minggu telah berlalu sejak insiden di parkiran yang hampir membongkar rahasia Rizky dan Ima. Heru, suami Ima kembali ke luar kota untuk proyek berikutnya. Ima kembali sendiri di rumah besar itu, dan Rizky kembali menghabiskan sore-sorenya di sana.
Tapi ada yang berbeda.
Rizky merasa Ima berubah. Lebih pendiam, lebih sering melamun. Saat mereka bercinta pun, Ima seperti setengah hati. Matanya sering kosong menatap langit-langit.
"Ima, kamu kenapa akhir-akhir ini?" Rizky bertanya suatu sore, setelah mereka selesai bercinta. Ia mengusap punggung Ima lembut.
Ima diam sejenak. "Nggak papa. Capek aja."
"Bohong. Aku tahu kamu ada masalah. Cerita."
Ima menghela napas. Ia duduk di tepi ranjang, membelakangi Rizky. "Rizky... Ima mau nanya sesuatu."
"Apa?"
"Kamu sayang nggak sama Ima?"
Rizky mengerutkan kening. "Kamu tahu jawabannya. Gue sayang."
"Iya, tapi..." Ima menjeda. "Coba jujur. Waktu kamu lihat Ima pertama kali, apa yang kamu lihat?"
Rizky bingung. "Maksud Ima?"
"Fisik Ima. Bentuk tubuh Ima. Kamu suka itu, kan?"
Rizky tak bisa menyangkal. "Iya. Tapi sekarang aku sayang Ima lebih dari itu."
Ima tersenyum getir. "Tapi kalau suatu hari Ima nggak kayak gini lagi? Gemuk, tua, jelek? Kamu masih sayang?"
"Kamu ngomong apa sih, Ma? Kamu cantik. Loh"
"Jawab, Rizky."
Rizky diam. Ia tak tahu harus menjawab apa.
Ima menghela napas. "Makasih udah jujur. Meskipun nggak jawab."
Rizky meraih tangannya. "Ima, ada apa sebenernya? Cerita dong."
Ima menatapnya lama. Matanya berkaca-kaca. "Rizky... Ima suka sama orang lain."
Dunia Rizky serasa berhenti.
"A... apa?"
Ima menunduk. "Ima malu ngakuinnya. Tapi Ima harus jujur."
"Siapa?"
Ima diam.
"Siapa, Ima?!"
"Wira."
Rizky seperti disambar petir. "Wira? Temen aku? Wira?"
Ima mengangguk pelan. "Ima tahu ini salah. Ima tahu dia sahabat kamu. Tapi Ima nggak bisa bohong."
Rizky berdiri. Tangannya gemetar. "Sejak kapan?"
"Dia sering ke sini jemput kamu, ingat? Beberapa kali kamu telat, dia nunggu di teras. Kita ngobrol. Dan Ima... Ima ngerasa ada yang beda."
"Kamu ngobrol apa?"
"Hal-hal kecil. Tentang sekolah. Tentang kamu. Tentang hidup. Dia... dia dewasa, Rizky. Cara dia lihat Ima... beda."
Rizky merasa dunianya runtuh. Sahabatnya sendiri. Orang yang paling ia percaya.
"Apa dia tahu perasaan kamu?"
Ima menggeleng. "Nggak. Dia nggak tahu. Cuma Ima yang ngerasa."
"Terus kamu ngomong ke aku buat apa? Buat nyakitin aku?"
"Buat jujur, Rizky. Ima nggak mau ada rahasia di antara kita."
Rizky tertawa getir. "Rahasia? Kamu bilang nggak mau rahasia? Selama ini kita penuh rahasia!"
Ima menangis. "Maaf... maafin Ima."
Rizky meraih jaketnya. "Akubpulang."
"Rizky, tunggu...."
"Aku BILANG PULANG!"
---
Rizky melaju kencang dengan motornya. Pikirannya kacau. Wira. Sahabatnya sendiri. Selama ini ia tak curiga sedikit pun.
Sesampainya di kost, ia melihat Wira duduk di teras, menunggunya dengan dua bungkus nasi bungkus.
"Lo kemana aja? Gue tungguin dari sore." Wira tersenyum, mengangkat nasi bungkus. "Gue beli nasi goreng langganan lo."
Rizky menatapnya tajam. "Wira, gue mau nanya sesuatu."
Wira mengerutkan kening melihat ekspresi Rizky. "Ada apa? Kok muka lo kayak gitu?"
"Masuk."
Mereka masuk ke kamar Rizky. Rizky duduk di kasur, Wira di kursi.
"Lo suka nggak sama Bu Ima?"
Wira terkejut. "Apa? Lo ngomong apa sih?"
"Jawab. Jujur."
Wira diam sejenak. Lalu menghela napas. "Zky... gue nggak tahu harus jawab apa."
"Artinya?"
Wira menunduk. "Gue... gue nggak bisa bohong. Iya, gue suka. Tapi gue tahu dia punya lo. Makanya gue diem."
Rizky merasakan dadanya sesak. "Sejak kapan?"
"Dari lama. Sejak pertama kali lo cerita tentang dia. Gue lihat foto dia, gue baca chat lo, dan... gue ngerasa iri. Iri sama lo."
"Terus lo deketin gue buat apa? Buat deket sama dia?"
Wira menggeleng keras. "Nggak, Zky! Demi apa pun, gue nggak pernah punya niat kayak gitu! Lo sahabat gue!"
Tapi Rizky sudah terlanjur sakit hati. "Lo bohong. Lo pasti udah ngarepin dia dari dulu."
"Zky, denger"
"KELUAR!"
Wira terkejut. "Zky, lo nggak bisa—"
"GUE BILANG KELUAR! SEKARANG!"
Wira berdiri, menatap Rizky dengan sedih. Ia meletakkan nasi bungkus di meja. "Gue pergi. Tapi ingat, Zky. Gue nggak pernah mau nyakitin lo. Nggak pernah."
Ia pergi. Rizky duduk di kasur, menatap kosong.
---
Keesokan harinya, Rizky tak masuk sekolah. Ima mengirim pesan, tak dibalas. Wira mencoba menelepon, ditolak.
Rizky mengurung diri di kost, memikirkan semuanya. Ima yang ia cintai, ternyata menyukai sahabatnya. Wira yang ia percaya, ternyata diam-diam menyimpan rasa.
Sore harinya, pintu kamarnya diketuk pelan.
"Rizky... buka." Suara Ima.
Rizky membuka pintu. Ima berdiri di sana, dengan gamis panjang dan hijab, wajahnya cemas.
"Kamu kenapa nggak jawab pesan Ima? Ima khawatir."
Rizky mempersilakannya masuk. Ima duduk di kursi, Rizky di kasur.
"Ima minta maaf. Ima nggak seharusnya ngomong gitu kemarin. Ima egois."
Rizky diam.
"Tapi Ima jujur, Rizky. Ima nggak mau bohong sama kamu. Dan Ima nggak akan pernah bertindak lebih dari sekadar perasaan. Ima milik kamu."
Rizky menghela napas. "Aku percaya kamu. Tapi aku sakit hati, Ima. Sakit hati tahu orang yang aku percaya juga suka sama kamu."
Ima meraih tangannya. "Maafin Ima."
"Bukan salah kamu. Kamu cuma jujur."
Mereka diam beberapa saat.
"Rizky, Ima mau bilang sesuatu." Ima menatapnya serius. "Ima mau berhenti."
Rizky terkejut. "Apa?"
"Ima mau berhenti dari hubungan ini. Ini udah terlalu rumit. Ima nggak mau hancurin persahabatan kamu sama Wira."
"Tapi—"
"Tidak ada tapi." Ima mengusap wajahnya. "Ini keputusan Ima. Ima harus perbaiki diri. Ima harus jadi guru yang baik, istri yang baik. Bukan perempuan kayak Ima sekarang."
Rizky merasa dunianya runtuh untuk kesekian kalinya. "Ima..."
"Kamu masih muda, Rizky. Masih punya masa depan. Jangan rusak masa depan kamu karena Ima."
Ima berdiri. Ia mencium kening Rizky pelan. "Makasih udah pernah sayang sama Ima. Ima nggak akan lupa."
Ia pergi. Rizky mematung, tak bisa bergerak.
---
Tiga hari kemudian, Ima resmi mengajukan pindah tugas ke sekolah lain di luar kota. Kabar itu menyebar cepat. Beberapa murid menyesali kepergiannya, beberapa lain berbisik-bisik tentang skandal yang tak pernah terbukti.
Rizky tak menghadiri hari terakhir Ima di sekolah. Ia memilih mengurung diri di kost.
Wira datang malam harinya, duduk di teras tanpa masuk. Mereka hanya duduk berdua, diam, memandangi langit malam.
"Gue minta maaf, Zky." Wira membuka suara.
Rizky diam.
"Gue nggak tahu harus ngomong apa. Tapi gue nggak mau kehilangan lo."
Lama Rizky membisu. Lalu ia berkata, "Gue juga."
Wira menoleh.
"Gue juga minta maaf. Udah marah-marah nggak jelas." Rizky menghela napas. "Gue tahu lo nggak pernah berniat jahat."
Wira tersenyum lega. "Makasih, Zky."
"Tapi jangan pernah suka sama cewek gue lagi."
Wira tertawa. "Janji. Lagian dia udah pergi."
Rizky tersenyum getir. "Iya. Udah pergi."
Mereka duduk diam lagi, bersahabat seperti dulu. Luka mungkin masih ada, tapi persahabatan mereka lebih kuat dari itu.
---