"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Fitting Baju & Insiden Masuk Angin
"GATEL! MAMI, INI BAJU SETAN! MAU COPOT!"
Teriakan Elia menggema di seluruh penjuru Maison de Estelle, butik paling eksklusif di kota yang biasanya tenang dan hanya memutar musik klasik. Para pegawai butik berseragam hitam tampak panik, berlarian membawa gantungan baju lain, sementara Hara tengah bergulat dengan bocah empat tahun yang meronta-ronta di dalam ruang ganti VIP.
"Elia, sayang, jangan ditarik! Nanti robek!" Hara menahan tangan putrinya yang berusaha menggaruk punggung dengan brutal. Gaun pesta berbahan renda Prancis itu memang cantik dan harganya setara motor sport, tapi bagi Elia, itu tak ubahnya jaring laba-laba beracun.
"Nggak mau! Ini nyucuk-nyucuk leher! Elia mau pake kaos gambar kucing aja!" jerit Elia lagi. Air matanya meleleh, merusak bedak tipis yang baru saja dipoleskan.
Di sudut lain, Elio berdiri di depan cermin besar setinggi tiga meter. Wajahnya ditekuk, bibirnya mengerucut. Ia memakai setelan tuksedo mini hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu.
"Mi," panggil Elio datar, menatap pantulannya dengan jijik. "Ini dasi apa baling-baling bambu? Aku kelihatan kayak pelayan restoran Pizza yang mau nawarin menu pepperoni promo."
"Itu namanya tuksedo, Elio. Biar gagah kayak Papa," sahut Hara dari balik tirai, suaranya terengah-engah karena masih menahan Elia yang mulai tantrum berguling-guling.
"Gagah apanya. Ini konyol. Leherku kejepit. Oksigen ke otak jadi terhambat. Nanti IQ-ku turun," protes Elio logis, tangannya siap menarik lepas dasi mahal itu.
Kekacauan itu berlangsung sepuluh menit. Di tengah badai itu, Cayvion Alger duduk tenang di sofa beludru merah. Kakinya disilangkan santai, matanya terpaku pada layar ponsel, jempolnya sibuk membalas email direksi. Ia seolah berada di dimensi lain yang kedap suara.
Hara keluar dari bilik ganti dengan rambut acak-acakan dan keringat membasahi pelipis. Melihat Elia menangis di lantai dan Elio mogok bicara, lalu beralih ke Cayvion yang asyik sendiri, darahnya mendidih.
"Bapak!" bentak Hara. Suaranya tidak keras, tapi tajam melebihi silet.
Cayvion tidak menoleh. "Hm?"
"Bapak jangan cuma duduk di situ kayak patung pameran!" Hara berkacak pinggang, masa bodoh dengan sopan santun. "Ini anak-anak Bapak juga! Bantuin bujuk dong! Saya sudah mau pingsan ini!"
Cayvion akhirnya mengangkat wajah, sedikit terkejut dibentak di depan umum. Ia melihat pegawai butik yang pura-pura sibuk melipat baju padahal memasang kuping lebar-lebar.
"Mereka kan lebih nurut sama kamu," jawab Cayvion defensif, meski ia menyimpan ponselnya ke saku jas.
"Mereka butuh Papanya, bukan cuma ATM berjalan!" semprot Hara. Ia menunjuk Elio. "Itu anak Bapak mau nyopot dasi seharga lima juta. Kalau Bapak nggak turun tangan sekarang, kita bakal datang ke konferensi pers besok pakai piyama!"
Cayvion menghela napas panjang. Ia berdiri, membetulkan jasnya, lalu berjalan mendekati Elio. Tidak berjongkok atau memeluk, ia berdiri tegak menggunakan pendekatan yang paling ia kuasai: Negosiasi Bisnis.
"Elio," panggil Cayvion.
Elio menoleh malas. "Apa, Om Papa?"
"Pakai dasi itu sampai acara selesai besok siang. Jangan dicopot, jangan dikotori," kata Cayvion to the point.
"Nggak mau. Jelek," tolak Elio.
"Kalau kamu pakai..." Cayvion merogoh saku jas bagian dalam, mengeluarkan sebuah kartu nama hitam dengan chip emas. Itu akses VIP ke toko elektronik milik anak perusahaan Alger. "Papa belikan tablet seri terbaru. Yang rilisnya masih bulan depan di Amerika. Prosesor tercepat, RAM 16 giga. Warna hitam matte."
Mata Elio membesar. Kalkulasi matematis berputar cepat di kepala jeniusnya. Dasi jelek selama 24 jam ditukar dengan gadget spek dewa yang belum ada di pasaran?
"Deal," jawab Elio cepat, langsung merapikan dasi kupu-kupunya. "Dasi ini sebenarnya lumayan artistik juga."
Cayvion menyeringai tipis, lalu menoleh ke Hara dengan tatapan 'Lihat? Gampang kan?'.
Hara memutar bola mata. Dasar kapitalis.
Setelah drama selesai dan baju-baju mahal dibungkus, mereka masuk ke mobil hitam milik Cayvion. Langit sudah gelap, angin malam bertiup kencang. Di dalam mobil, Cayvion yang tidak tahan panas langsung menyetel AC di suhu terendah.
"Pak, AC-nya jangan dingin-dingin," tegur Hara dari kursi belakang. Ia duduk di tengah, diapit Elio dan Elia yang kelelahan. Elia tertidur dengan mulut terbuka, sisa keringat tantrum masih menempel di dahi dan lehernya.
"Saya gerah, Hara. Habis debat sama anakmu itu bikin keringetan," sahut Cayvion egois, membiarkan semburan angin dingin memenuhi kabin.
Hara ingin protes, tapi terlalu lelah. Ia hanya menyelimuti Elia dengan blazer kerjanya. Namun, perubahan suhu drastis dari butik hangat, keringat dingin, lalu dihajar AC mobil sedingin kutub utara adalah resep bencana bagi balita.
"Hachim!"
Elia bersin dalam tidurnya. Tubuh kecilnya menggeliat tidak nyaman. Tiga kali bersin beruntun. Hara menyentuh kening putrinya. Hangat.
"Pak, matikan AC-nya sekarang!" seru Hara panik. "Elia masuk angin!"
Mansion Alger malam itu terasa lebih mencekam dari biasanya. Bukan karena hantu, tapi karena suara rengekan anak kecil yang terdengar pilu dari kamar tamu.
"Mami... dingin... tapi panas..."
Elia menggigil di balik selimut tebal. Wajahnya merah padam, suhu tubuhnya melonjak ke 38,5 derajat celcius. Rencana konferensi pers "Keluarga Bahagia" besok pagi terancam bubar.
Hara duduk di tepi ranjang, sibuk membalurkan minyak telon. Bau khas minyak kayu putih memenuhi ruangan mewah yang biasanya wangi lavender itu.
"Sshh... iya sayang, sebentar ya. Mami pijat biar anginnya keluar," bisik Hara lembut, mengusap punggung kecil itu dengan telaten.
Di pintu kamar yang sedikit terbuka, Cayvion berdiri mematung. Ia masih memakai kemeja kerja dengan lengan digulung. Ia memegang segelas air hangat yang diambilnya sendiri karena asisten rumah tangga sudah tidur.
Ia melihat Hara yang begitu cekatan dan sabar, meski kantung matanya menebal. Ada rasa asing yang menyelinap di dada Cayvion. Rasa bersalah. Gara-gara AC mobilnya tadi.
Ia ingin masuk, ingin membantu, tapi kakinya terasa berat. Ia CEO yang mengelola ribuan karyawan, tapi merasa bodoh dan tidak berguna di depan anak kecil yang demam. Gengsinya terlalu tinggi untuk bertanya, "Aku harus apa?"
Cayvion mengetuk pintu pelan.
"Air," kata Cayvion kaku, menyodorkan gelas. "Buat... dia."
Hara menatap gelas itu, lalu menatap wajah canggung suaminya. Tatapannya melembut sedikit. "Terima kasih, Pak. Taruh saja di meja."
Cayvion meletakkan gelas itu, namun tidak langsung pergi. Ia berdiri canggung di samping nakas, melihat Elia yang merintih.
"Apa dia... bakal sembuh besok?" tanya Cayvion. Pertanyaannya terdengar egois, seolah ia hanya peduli pada acara besok.
Hara menghela napas, menempelkan plester kompres di dahi Elia. "Tergantung. Kalau demamnya nggak turun, Bapak harus siap tampil sendirian besok dan jelasin kenapa 'putri kesayangan' Bapak nggak ada."
Cayvion terdiam. Ia melihat tangan mungil Elia yang terkepal di atas selimut. Tangan yang kemarin menumpahkan susu cokelat di celananya, kini terlihat lemah. Tanpa sadar, tangan besar Cayvion terulur, menyentuh punggung tangan anaknya. Panas. Sangat panas.
"Mami..." igau Elia dengan mata terpejam. Tangan kecilnya refleks menggenggam jari telunjuk Cayvion yang besar, meremasnya lemah mencari pegangan.
Cayvion tersentak. Ia hendak menarik tangannya, tapi genggaman lemah itu menahannya.
"Dia pikir itu tangan saya," kata Hara pelan, tetap fokus mengusap kepala Elia tanpa melihat ke arah Cayvion. "Jangan ditarik kasar, Pak. Biarkan sebentar. Dia butuh pegangan."
Malam itu, untuk pertama kalinya, Cayvion Alger berdiri mematung selama satu jam di sisi ranjang, membiarkan jari telunjuk mahalnya dijadikan guling hidup oleh bocah yang sedang demam, sementara istrinya terkantuk-kantuk menjaga di sisi lain.
Ia terjebak. Antara gengsi selangit dan naluri ayah yang baru tumbuh seujung kuku.
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri