NovelToon NovelToon
Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:118.4k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.

Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tingkatan Alam Ini

● Tingkatan Ranah Kultivasi Pendekar:

Dari yang paling lemah ke yang paling kuat.

• Pendekar Dasar adalah seseorang  telah menguasai jurus dasar beladiri. Mereka mengandalkan kekuatan fisik, namun belum mampu menggunakan tenaga dalam.

• Pendekar Pertama adalah pendekar dasar yang telah membuka dantiannya. Mereka sudah mampu menggunakan tenaga dalam dalam pertarungan.

• Pendekar Menengah adalah pendekar pertama yang telah membentuk setidaknya enam puluh lingkaran tenaga dalam.

• Pendekar Ahli adalah pendekar yang telah memperkuat dirinya hingga batas ototnya telah mencapai tingkatan kawat,  dan tulang tingkatan baja. Pendekar ahli memiliki minimal seratus dua puluh lingkaran tenaga dalam.

• Pendekar Raja adalah pendekar ahli yang telah memperkuat dirinya. Kekuatannya setidaknya menyamai sepuluh pendekar ahli.

• Pendekar Suci adalah pendekar raja yang berhasil membuka gerbang meridian pertama. Butuh sumber daya yang cukup besar untuk mencapai ranah kultivasi ini.

•Pendekar Bumi adalah pendekar suci yang telah membuka sepuluh titik gerbang meridiannya. Saat berada di ranah ini, seseorang dapat mengolah tenaga dalam jenis lain bernama qi.

• Pendekar Langit adalah pendekar bumi yang telah mengumpulkan minimal sepuluh ribu lingkaran qi. Kehadirannya dianggap mampu menggetarkan langit.

• Pendekar Alam adalah pendekar langit dengan kemampuan mengguncang dunia. Pada saat seseorang menembus ranah kultivasi ini, bumi akan bergetar hebat dan terjadi gempa dimana-mana. Seakan-akan sedang menyambut kelahiran pendekar alam.

• Pendekar Dewa adalah tingkatan pendekar di atas semua makhluk dunia. Hanya dengan tatapan mereka, makhluk hidup tunduk. Alam pun menghamba, awan-awan menutupi mereka dari matahari agar sang dewa tak terusik dan marah.

● Tingkatan Tulang Manusia.

Dari yang paling lemah ke yang paling kuat.

• Tulang Kayu

• Tulang Besi

• Tulang Baja

• Tulang Perunggu

• Tulang Perak

• Tulang Emas

• Tulang Berlian

● Tingkatan Pusaka

Dari yang paling lemah ke paling kuat

• Pusaka Kelas Tiga

• Pusaka Kelas Dua

• Pusaka Kelas Satu

• Pusaka Raja

• Pusaka Bumi

• Pusaka Langit

• Pusaka Alam

Semua tingkatan ini adalah tingkatan yang diketahui Boqin Changing di masa depan setelah berhasil berada di puncak dunia.

...********...

Pada masa ini, Boqin Changing dan Sha Nuo sedang menapaki tanah lembab di tepi hutan barat Dataran Goutian, langkah mereka tenang namun penuh keyakinan. Udara di sekitar terasa lebih berat daripada biasanya, seakan hutan ini menahan napasnya sendiri. Boqin Changing percaya, di kedalaman hutan ini tersimpan sebuah pusaka tingkat alam. Sesuatu yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang mampu menembus batas-batas biasa dunia persilatan.

Mereka baru melangkah beberapa meter ke dalam hutan ketika sesuatu mengusik kesadaran mereka. Suara-suara yang samar namun bergerak cepat terdengar dari celah-celah pepohonan, lengkingan, gesekan, dan desir sayap kecil. Sha Nuo berhenti sejenak, matanya menyapu seluruh sekeliling, tangan secara naluriah mengepal di sisi pedangnya.

“Sesuai informasi sebelumnya,” ucapnya pelan, “tempat ini memang dihuni cukup banyak siluman.”

Ia mengangkat kedua tangannya sedikit ke depan, mengerahkan aura kematiannya yang pekat. Energi itu mengalir keluar dari tubuhnya seperti kabut hitam, menelan cahaya yang menyentuh daun-daun, dan segera terdengar suara lengkingan siluman di sekeliling mereka. Suara itu kacau, mengiris telinga, namun perlahan mereda.

Boqin Changing mengamati dengan cermat. Jelas, para siluman itu merasakan bahaya yang bukan sekadar peringatan. Mereka berdua bukanlah ancaman yang bisa dihadapi oleh makhluk-makhluk ini. Satu per satu, bayangan gelap yang bergerak di antara pepohonan memudar, siluman-siluman itu memilih untuk menghilang, menghindari konfrontasi dengan kedua pendekar itu.

Sha Nuo menatap Boqin Changing dengan sedikit tersenyum, nada suaranya kasar namun penuh kepuasan.

“Sepertinya mereka tahu, kita bukan lawan yang bisa mereka ganggu.”

Boqin Changing hanya mengangguk tipis. Tidak ada kata-kata yang diperlukan. Keheningan hutan kembali menguasai mereka, hanya terdengar suara langkah kaki dua pendekar yang menyusuri jalan setapak yang jarang dilalui. Setiap langkah membawa mereka lebih jauh ke dalam rahasia hutan barat. Rahasia yang tersembunyi di antara bayangan pepohonan dan aura alam yang belum pernah disentuh oleh tangan manusia biasa.

Mereka berdua kini bergerak dalam keselarasan sempurna, Boqin Changing dengan tatapan tajam yang menembus gelap, Sha Nuo dengan aura kematian yang tetap siap membungkam setiap ancaman. Hutan ini bukanlah tempat untuk sembarang orang, namun bagi mereka, ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Langkah mereka terdengar ringan, namun setiap daun yang jatuh dan ranting yang patah seakan memperingatkan bahwa pusaka tingkat alam itu tidak akan menyerahkan dirinya begitu saja. Namun bagi Boqin Changing dan Sha Nuo, tak ada keraguan. Mereka akan menembus setiap rahasia, menaklukkan setiap penghalang, hingga pusaka itu berada di tangan mereka.

Keheningan hutan barat kini bukan lagi menakutkan. Ia menjadi saksi bagi kedatangan dua pendekar yang bukan hanya kuat, tetapi juga penuh tekad. Yang bahkan para siluman pun tahu, lebih baik menghindar daripada menantang.

Boqin Changing dan Sha Nuo terus melangkah lebih dalam ke hutan barat, menyusuri tanah lembab yang beraroma tanah basah dan dedaunan. Sesekali, Boqin Changing berhenti, menundukkan tubuhnya, menyalurkan fokus yang tajam, dan membuka Teknik Mata Dewa miliknya.

Tatapannya menembus rimbunan pepohonan, mencoba mendeteksi fluktuasi energi yang tidak kasat mata, aura pusaka yang mungkin tersisa, atau bahkan jejak pusaka alam yang tersembunyi jauh di dalam tanah. Ia juga menyapu sekeliling, menoleh ke atas cabang-cabang dan celah-celah akar, mencari tanda-tanda keberadaan makam kuno atau altar tersembunyi yang bisa menjadi tempat pusaka itu bersemayam.

Sha Nuo bergerak di sampingnya dengan waspada, matanya mengamati bayangan-bayangan yang mungkin bergerak di antara pepohonan. Ia tetap siap, pedangnya berada di genggaman, aura kematiannya samar-samar bergetar menandakan kewaspadaan tinggi.

Namun, hari itu, pencarian mereka tetap tak membuahkan hasil. Tidak ada tanda fluktuasi energi yang bisa dilacak, tidak ada makam kuno yang muncul di penglihatan mereka, seakan hutan ini menutup rapat rahasianya terhadap mata manusia.

Malam mulai merayap ke langit ketika keduanya memutuskan untuk beristirahat. Mereka memilih sebuah area terbuka yang cukup lapang, menyalakan api unggun dari ranting dan kayu kering, panasnya menembus dinginnya malam hutan. Api menari-nari, memantulkan cahaya ke wajah-wajah mereka yang lelah tapi tak kehilangan fokus. Makanan sederhana yang mereka bawa dimasak di atas api, aroma hangat menguar di udara malam.

Sambil makan, suasana menjadi lebih tenang. Boqin Changing menatap api unggun yang berkobar, pikirannya tetap berputar.

"Hari ini belum ada petunjuk," ucapnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Sha Nuo menatapnya, kemudian menimpali dengan nada sedikit bercanda tapi penuh makna.

"Hutan ini memang tak mau mengaku kalah begitu saja. Pusaka tingkat alam bukanlah sesuatu yang bisa kita temui hanya dengan langkah kaki."

Boqin Changing mengangguk, senyum tipis terlukis di bibirnya.

"Ini baru hari pertama. Besok, kita akan masuk lebih dalam, memeriksa daerah yang lebih tersembunyi. Aku yakin, sesuatu di sini pasti meninggalkan jejak, baik di tanah, udara, maupun energi yang bergetar di antara pepohonan."

Sha Nuo mengunyah sebentar, lalu menambahkan.

"Kau selalu percaya pada mata dan perasaanmu. Semoga kali ini juga tetap benar."

Malam itu, di tengah kegelapan hutan yang pekat namun dihiasi nyala api unggun, dua pendekar yang sudah menembus batas biasa dunia persilatan itu beristirahat. Di dalam diam, tekad mereka menguat, dan pikiran tentang pusaka yang tersembunyi tetap membara. Memberi mereka energi untuk hari-hari pencarian berikutnya.

Keheningan hutan malam kini menjadi saksi bagi kesabaran dan ketekunan dua pendekar yang tak hanya kuat, tapi juga penuh ketelitian, kesabaran, dan tekad untuk menaklukkan rahasia alam yang tersembunyi.

...********...

Selama seminggu berikutnya, Boqin Changing dan Sha Nuo terus menapaki jalan setapak yang membelah rimbunnya hutan barat Dataran Goutian. Setiap hari, mereka menyusuri hutan, memeriksa pepohonan tua yang menjulang, menyingkap semak-semak tebal, dan menelusuri aliran sungai yang berkelok, berharap menemukan sedikit petunjuk tentang keberadaan pusaka alam.

Namun, semakin dalam mereka melangkah, semakin jelas bahwa hutan ini menutup rapat rahasianya. Jejak-jejak energi yang samar pun tak kunjung muncul. Pusaka tingkat alam, yang seharusnya memancarkan aura yang dapat dirasakan oleh mata dan indera kuat mereka, tetap tersembunyi. Tidak ada altar kuno, tidak ada patung penjaga, bahkan tidak ada fluktuasi energi yang bisa ditangkap. Setiap usaha mereka seakan sia-sia.

Pada siang hari yang ketujuh, keduanya memilih untuk berhenti sejenak di sebuah tempat di dalam hutan yang dikelilingi pohon-pohon tua. Tanahnya lembab, dan cahaya matahari menembus celah-celah daun, menciptakan pola bayangan yang bergerak perlahan di atas rumput. Boqin Changing duduk bersandar pada akar pohon besar, sementara Sha Nuo menatap kosong ke kejauhan, wajahnya menunjukkan sedikit rasa bosan dan frustrasi.

“Sampai kapan kita akan di tempat ini?” tanya Sha Nuo dengan nada setengah bosan.

Boqin Changing tersenyum tipis, mengetahui bahwa Sha Nuo pasti mulai merasa jenuh dengan pencarian yang tampaknya tak berujung.

“Kalau kau mau, kau bisa pergi dulu dari sini. Nanti aku akan menyusul setelah menemukan tujuanku,” ucapnya, suaranya tenang namun penuh keyakinan.

Sha Nuo menggeleng.

“Tidak bisa begitu… Aku juga tidak tahu harus kemana jika pergi dari hutan ini. Yang ada, aku malah tersesat.”

Boqin Changing tertawa kecil mendengar jawaban itu, rasa ringan di hatinya. Namun tawa itu belum sempat hilang ketika tiba-tiba sesuatu mengguncang keheningan hutan.

Sebuah auman terdengar, keras, dalam, dan menggetarkan tanah. Posisi suaranya tidak jauh dari tempat mereka duduk. Sha Nuo seketika menegang, matanya melebar.

“Itu… binatang suci!” bisiknya dengan nada serius, suaranya nyaris tak terdengar di antara gemuruh auman yang bergema di hutan.

Boqin Changing mengangguk, merasakan getaran energi yang sama. Aura yang terpancar dari makhluk itu jauh melampaui batas normal, menandakan bahwa mereka tidak menghadapi sekadar siluman atau binatang biasa. Suara auman itu seperti panggilan alam, mengingatkan keduanya bahwa hutan ini masih menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada yang bisa mereka bayangkan.

Mata Boqin Changing dan Sha Nuo bertemu, tanpa kata, mereka memahami bahwa pencarian mereka baru saja memasuki babak yang lebih berbahaya. Setiap langkah kini harus lebih waspada, setiap napas harus seirama dengan hutan, dan setiap gerakan harus memperhitungkan kemungkinan hadirnya kekuatan pusaka alam yang sejati.

Boqin Changing menatap pepohonan yang bergetar karena auman itu, sebuah senyum tipis namun penuh tekad terbentuk di wajahnya.

“Sepertinya, kita mungkin bisa menemukan jejaknya,” gumamnya pelan, suara yang hanya bisa didengar Sha Nuo.

Sha Nuo menggenggam pedangnya lebih erat, langkahnya perlahan bangkit.

“Aku siap. Apa pun yang muncul, akan kuhadapi.”

1
y@y@
👍🏾⭐👍🏻⭐👍🏾
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
gak jadi buat daging naga goreng tepung buat lauk sahurnya boqin
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
mari kita buat daging naga goreng tepung
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
Ngabuburit
Iqbal Zein
pokokee joss..
Eka Haslinda
sebelum bola pemanggil datang.. Boqin Changing dah merekrut kembali pasukan nya
Rinaldi Sigar
lnjut
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Waooow pendekar langit 🌽🔥
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
angin kelana
lanjuuuuuttt
Akhmad Baihaki
😍😍😍
Ahmad Ridwan
yok yok besok sudah 5 tahun . waktu nya berngkat ke alam yng lebih tinggi🤣
Raju
meng ngemeng !!
udh lulus mesin scanning NT g thor ??
rate novel mu udh Top 3 besar di fiksi pria...
Raju
walaupon si bogin prnh breinkarnasi...
tpi mencapai ranah pendekar langit di usia semuda itu...!!
itu WAAAAH pakai BANGET.,...
tariii
👍👍👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Akhirnya Paman Nuo berhasil duluan
Zainal Arifin
joooooooosssss 🤲🤲🤲
yayat
mungkinkah boqin akan mendapatkn semua bola2 yg ada terutama bola pemanggil untuk mengumpulkn semua pasukan lamanya dikehidupn pertamanya
syarif ibrahim: kayaknya tidak, karena diambil kaisar xin.... 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!