Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.
Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.
Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.
Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.
Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 1: Perjalanan Dimulai
KEESOKAN PAGINYA
Matahari baru terbit saat Fariz sudah berdiri di depan rumah dengan tas di punggung.
Kecil. Hanya berisi dua pasang baju ganti, sarung untuk shalat, dan Al-Quran kecil pemberian Kyai Salman yang selama ini ia simpan.
Rahman sudah datang sejak subuh. Duduk di teras sambil memeriksa bekal yang ia siapkan semalam. Roti kering. Ubi rebus. Air dalam botol bambu. Cukup untuk beberapa hari sampai mereka menemukan desa transit.
Aisyah berdiri di samping Fariz. Tas kecil di bahunya. Wajahnya pucat. Mata sedikit sembab seperti habis menangis semalam.
Ratna keluar dari dalam rumah. Mata merah. Sudah menangis sejak tadi. Tapi ia berusaha tersenyum.
Sucipto berdiri di ambang pintu. Tubuhnya masih lemah. Tapi ia memaksa berdiri untuk melihat anaknya berangkat.
"Pak... Bu, aku pamit."
Fariz melangkah maju. Berlutut di depan ayahnya. Mencium tangan Sucipto. Lalu beralih ke Ratna. Mencium tangannya juga.
Ratna langsung memeluk Fariz. Erat. Seperti tidak mau melepas.
"Ibu doakan kamu, Nak. Setiap shalat. Setiap malam. Semoga Allah jaga kamu di mana pun."
Suaranya pecah. Fariz merasakan air mata ibunya jatuh di bahunya.
"Aamiin, Bu. Doakan kami selamat sampai tujuan. Dan doakan kami diberi kekuatan untuk belajar."
Fariz melepas pelukan perlahan. Menatap ibunya. Lalu tersenyum.
"Aku akan pulang, Bu. Dengan ilmu. Untuk selamatkan desa ini."
Ratna mengangguk. Mengusap air matanya.
Aisyah melangkah maju. Berlutut di depan Sucipto dan Ratna.
"Pak, Bu, maafkan keluargaku."
Suaranya gemetar.
"Semoga perjalanan ini bisa jadi amal baik untuk keluargaku. Dan semoga Allah terima dan ampuni kesalahan kami semua."
Ia menunduk dalam.
Sucipto menatap Aisyah cukup lama. Lalu mengulurkan tangan. Mengusap kepala Aisyah dengan lembut.
"Lupakan semuanya, Nak. Hari ini kamu dan Fariz akan pergi untuk membuat desa ini lebih baik. Itu sudah cukup."
Jeda sebentar. Sucipto menatap ke arah jalan. Seperti mengingat sesuatu.
"Semoga bapakmu... bisa kembali ke jalan yang benar."
Nada suaranya berubah. Lebih pelan. Seperti ada yang ia sembunyikan.
Aisyah mengangkat kepala. Menatap Sucipto dengan mata yang bertanya. Tapi Sucipto hanya tersenyum tipis. Lalu menepuk pundak Aisyah.
"Jaga dirimu. Jaga Fariz. Kalian berdua saling jaga."
Aisyah mengangguk. Air mata mengalir.
Fariz memeluk ayahnya sekali lagi. Erat. Merasakan tubuh ayahnya yang kurus. Tulang terasa jelas di bawah baju.
"Bapak bangga padamu, Nak."
Sucipto berbisik di telinga Fariz.
"Jaga shalatmu di mana pun kamu berada. Jangan tinggalkan. Itu satu-satunya yang bisa melindungimu."
Fariz menarik napas. Menahan air mata yang mulai keluar.
"Iya, Pak. Aku janji."
Ia melepas pelukan. Mundur selangkah. Menatap ayah dan ibunya terakhir kali.
Lalu berbalik. Berjalan menuju pagar keluar rumah bersama Rahman dan Aisyah.
Ratna berdiri di teras. Melambaikan tangan dengan air mata yang terus mengalir.
Sucipto hanya berdiri diam. Menatap punggung anaknya yang semakin jauh. Tangannya terkepal di sisi tubuh. Gemetar sedikit.
Ini pertama kali Fariz pergi jauh meninggalkan rumah.
Dan Sucipto tidak tahu apakah ia akan melihat anaknya kembali.
Sepanjang jalan menuju gerbang desa, Fariz terus menoleh ke belakang.
Menatap rumah yang semakin kecil. Menatap ibunya yang masih berdiri di teras. Melambaikan tangan sampai tidak terlihat lagi.
Dadanya sesak. Seperti ada yang menarik dari dalam. Seperti ada yang bilang: Jangan pergi. Tinggal di sini. Jaga keluargamu.
Tapi ia tahu. Kalau ia tinggal, tidak ada yang bisa ia lakukan. Desa akan terus hancur. Dewi Rengganis akan terus bangun. Dan semua orang akan mati.
Ia harus pergi. Harus belajar. Harus kembali lebih kuat.
"Iz."
Rahman bicara dari samping. Suaranya lembut.
"Kamu tidak apa-apa?"
Fariz terdiam sebentar. Lalu bicara pelan.
"Aku... aku belum pernah pergi jauh meninggalkan keluargaku."
Suaranya gemetar.
"Apalagi setelah kejadian kemarin. Aku takut Bapak atau Ibu terjadi apa-apa saat aku tidak ada."
Rahman berhenti berjalan. Menatap Fariz. Lalu merangkulnya.
"Kita ini sedang berjihad di jalan Allah, Iz. Untuk memperbaiki keadaan di desa ini. Untuk melindungi orang-orang yang kita cintai."
Ia menepuk dada Fariz pelan.
"Di dalam dadamu, ada warisan dari Kyai Salman. Doa yang ia titipkan akan melindungi semua orang di sekitarmu. Termasuk keluargamu."
Fariz menatap Rahman. Lalu mengangguk pelan.
Aisyah berdiri di samping mereka. Tidak bicara. Hanya menyentuh lengan Fariz sebentar. Lembut.
"Tenang, Iz. Aku yakin kamu pasti bisa melewati semuanya."
Suaranya pelan tapi penuh keyakinan.
Fariz mengusap air matanya yang keluar. Menarik napas dalam.
"Terima kasih."
Lalu mereka melanjutkan perjalanan.
Desa Sumberarum terlihat berbeda pagi ini.
Sawah-sawah yang dulu hijau subur, sekarang hanya hamparan tanah kering. Retak-retak. Padi yang seharusnya masih muda, sekarang menguning sebelum waktunya. Batangnya layu. Seperti kehilangan nyawa.
Air di saluran irigasi hampir habis. Hanya genangan kecil yang keruh. Berlumpur.
Tanaman di pekarangan rumah-rumah mulai layu. Daun yang biasanya hijau segar, sekarang coklat dan rontok. Beberapa pohon bahkan sudah mati. Batangnya hitam. Seperti terbakar dari dalam.
Bau tanah basah yang biasa tercium di pagi hari setelah embun turun, sekarang digantikan bau tanah kering yang menyengat. Seperti debu yang sudah lama tidak tersentuh air. Membuat hidung gatal.
Udara yang biasanya sejuk dengan hembusan angin lembut, sekarang terasa dingin menusuk tulang. Bukan dingin yang menyegarkan. Tapi dingin yang membuat kulit merinding. Seperti ada sesuatu yang salah. Seperti ada sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Tidak ada suara burung. Tidak ada suara ayam berkokok. Hanya angin yang bertiup pelan. Membawa debu dan daun kering yang bergulung di tanah.
Sunyi.
Terlalu sunyi untuk pagi hari di desa.
Beberapa warga terlihat berdiri di depan rumah. Menatap mereka lewat. Tapi tidak menyapa.
Tatapan mereka dingin. Sinis. Seperti menyalahkan.
Salah satu warga, Pak Wahyu, berdiri di ujung jalan dengan tangan dilipat di dada. Wajahnya merah. Mata tajam menatap Fariz.
Tapi ia tidak bicara. Hanya menatap. Lalu meludah ke tanah saat Fariz lewat.
Rahman melirik ke arah warga-warga itu. Lalu berbisik pelan.
"Mereka sepertinya tidak bisa terima kalau desa ini kembali seperti semula."
Fariz tidak menjawab. Hanya terus berjalan. Menatap lurus ke depan.
Aisyah berjalan di sampingnya. Menunduk. Tidak berani menatap warga.
Mereka tahu. Ini baru awal. Dan perjalanan ini akan jauh lebih berat dari yang mereka bayangkan.
Akhirnya mereka sampai di ujung desa.
Gerbang dengan bambu yang sudah menguning. Beberapa batang sudah patah. Atap sirap berlubang-lubang. Di atas gerbang, ada tulisan kayu tua:
SELAMAT JALAN DARI DESA SUMBERARUM
Tulisan yang sudah memudar. Hampir tidak terbaca.
Mereka berhenti di depan gerbang. Menatap jalan tanah di depan yang membelah hutan.
Rahman menarik napas. Wajahnya serius.
"Dulu, tidak ada seorangpun yang bisa keluar dari desa ini."
Suaranya pelan.
"Pagar gaib yang dibuat Ratu Kalaputih sangat kuat. Siapa pun yang coba keluar akan tersesat di hutan. Atau hilang. Tidak pernah kembali."
Ia melirik ke Fariz dan Aisyah.
"Bahkan Kyai Salman harus keluar lewat jalan lain. Jalan rahasia yang hanya ia sendiri yang tahu. Dengan karamah yang Allah berikan padanya, ia bisa terlepas dari sihir Ratu Kalaputih."
Aisyah menelan ludah.
"Sekarang... perjanjian sudah putus. pagar gaib seharusnya sudah hilang, kan?"
Rahman terdiam sebentar. Lalu bicara lebih pelan.
"Seharusnya. Tapi..."
Ia menatap sekitar. Merasakan sesuatu.
"Aku masih merasakan sesuatu. Seperti ada yang mengawasi. Seperti sisa-sisa kekuatan lama masih ada."
Fariz menatap gerbang cukup lama.
Merasakan udara yang berat. Dingin. Seperti ada yang tidak rela mereka pergi.
Ia menarik napas. Lalu bicara pelan.
"Bismillah."
Menutup mata sebentar.
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu. Hari ini kami akan pergi menuju Desa Tirta Mulya. Semoga kami ada dalam lindungan-Mu. Semoga Engkau beri kami jalan yang lurus. Dan semoga Engkau jaga keluarga yang kami tinggalkan."
Lalu ia membuka mata. Melangkah maju.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Sepuluh langkah.
Lima puluh langkah.
Tidak ada yang menghalangi. Tidak ada halangan fisik. Tapi udara terasa berat. Seperti berjalan di dalam air. Setiap langkah butuh usaha lebih.
Napas jadi lebih berat. membuat dada sesak.
Tapi Fariz tidak berhenti. Terus berjalan.
Rahman dan Aisyah mengikuti di belakang. Wajah mereka pucat. Tapi mereka terus melangkah.
Akhirnya mereka melewati gerbang.
Berdiri di luar. Di jalan tanah yang membelah hutan.
Udara tiba-tiba berubah. Lebih ringan. Lebih hangat. Seperti beban di dada terangkat.
Fariz berhenti. Menarik napas panjang. Merasakan perbedaannya.
"Kenapa hawanya jauh berbeda?" Ia berbalik. Menatap gerbang Desa Sumberarum yang sekarang di belakang mereka.
Dari sini, desa terlihat gelap. Seperti ada kabut tipis yang menyelimuti. Padahal di luar cerah. Matahari bersinar.
"Ada apa, Iz?" Aisyah bertanya sambil menatap Fariz.
Fariz terdiam. Merasakan sesuatu di ujung mata. Seperti ada bayangan hitam samar bergerak di balik gerbang. Tapi saat ia fokuskan pandangan, tidak ada apa-apa.
Bulu kuduknya berdiri.
Ada yang mengawasi. Ia yakin.
Tapi bukan untuk menghalangi. Hanya untuk... memantau.
Seperti ada yang ingin tahu ke mana mereka pergi. Apa yang mereka lakukan.
Fariz menelan ludah. Lalu menggeleng pelan.
"Aku masih merasakan sesuatu. Tapi sudahlah... aku tidak ingin perjalanan di hari pertama ini malah membuat pikiranku kacau."
Ia berbalik. Menatap jalan di depan yang membelah hutan.
"Ayo. Kita harus sampai Desa Tirta Mulya sebelum malam."
Mereka berjalan menyusuri jalan tanah.
Fariz dan Aisyah berjalan berdampingan. Dengan jarak yang cukup. Tidak terlalu dekat. Tapi juga tidak terlalu jauh. Seperti ada jarak yang dipahami tanpa kata.
Rahman berjalan di belakang. Tas besar di punggung. Berisi bekal dan beberapa buku dari perpustakaan pondok.
Sepanjang jalan, hening. Hanya suara langkah di tanah dan angin yang bertiup pelan.
Aisyah sesekali melirik ke Fariz. Tapi saat mata mereka bertemu, ia cepat mengalihkan pandangan. Pipinya sedikit memerah.
Fariz juga melakukan hal yang sama. Melirik. Lalu cepat memalingkan muka saat ketahuan.
Rahman di belakang hanya menggelengkan kepala. Tersenyum tipis.
Dua orang yang sudah lama menyimpan rasa. Tapi terhalang tembok besar. Sekarang tembok itu sudah runtuh. Tapi mereka masih canggung. Masih belum tahu harus bicara apa.
"Kalau tasmu berat, biar aku yang bawa."
Fariz akhirnya bicara. Mengulurkan tangan ke arah tas Aisyah.
"Tidak apa, Iz. Lagipula aku hanya membawa beberapa lembar pakaian yang diberikan ibumu."
Aisyah menjawab sambil tetap memegang tasnya.
Fariz mengangguk. Lalu diam lagi.
Canggung.
Aisyah menarik napas. Mencoba mencari topik.
"Kamu... pernah pergi jauh sebelumnya?" tanya Fariz
"Tidak. Ini pertama kali." Aisyah menjawab seadanya.
"Aku juga." jawab Fariz singkat
"Oh." Aisyah tidak tahu lagi harus bicara apa.
Diam lagi.
Rahman tidak tahan lagi. Bicara dari belakang.
"Dulu kalau lewat cuma diliatin dari jauh. Sekarang udah jalan bareng malah pada diam aja. Piye toh, Iz?"
Nada sindiran jelas terdengar.
Fariz melirik ke belakang. Wajahnya kesal.
"Cangkemmu, Man. Sssttt!"
Rahman tertawa pelan.
Aisyah tersenyum tipis. Lalu bicara sambil membuang muka ke kanan.
"Dulu mungkin dia takut Bapakku marah. Karena anaknya dideketin sama pemuda desa biasa."
Nada sedikit menyindir. Tapi membuat Fariz salah tingkah.
Fariz tersentak. Lalu mempercepat langkah. Wajahnya memerah.
"Hmm... ya sudah. Sekarang kita bisa ngobrol sepuasnya. Tapi jangan sampai kamu kesengsem sama aku ya."
Aisyah tertawa kecil. Suara yang jarang Fariz dengar.
"Kesengsem? Kamu percaya diri sekali."
"Lah, kamu yang duluan lirik-lirik tadi."
"Siapa yang lirik-lirik? Kamu yang lirik-lirik!"
"Iya iya, aku yang salah." Fariz tersenyum lebar. Merasa lebih ringan sekarang.
Rahman di belakang menggeleng-gelengkan kepala. Tapi senyum tidak hilang dari wajahnya.
Dua orang yang sudah lama saling menyukai. Akhirnya mulai berani membuka diri.
Dengan cara yang canggung. Tapi tulus.
Dan di tengah perjalanan yang berbahaya ini, momen kecil seperti ini terasa sangat berharga.
Mereka terus berjalan.
Meninggalkan Desa Sumberarum di belakang. Memasuki hutan yang gelap.
Tidak tahu apa yang menunggu di depan.
Tapi mereka berjalan bersama. Dan itu sudah cukup.