Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.
Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.
Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.
Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.
Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Yang Terkutuk
FLASHBACK (Lanjutan)
Darma Wijaya mengangkat cawan dari tanah.
Tangannya gemetar saat memegang cawan itu. Bukan karena berat. Tapi karena apa yang cawan ini wakili. Ratusan tahun menunggu. Ratusan tahun terkubur di bawah tanah. Dan sekarang di tangannya.
Ia merasakan sesuatu. Seperti ada yang bergetar di dalam cawan. Seperti ada yang hidup.
Napasnya terengah. Jantung berdetak keras.
Lalu perlahan, senyum muncul di wajahnya. Tipis dulu. Lalu lebih lebar.
Bukan tertawa. Tapi senyum yang penuh dengan sesuatu antara takut dan puas. Antara semangat dan menakutkan.
"Kanjeng Ratu, kula sampun siap nampi dhawuhipun panjenengan."
(Yang Mulia Ratu, aku sudah siap menerima perintah Anda.)
Suaranya keluar pelan. Hormat. Sambil menunduk dalam dan mengangkat cawan di atas kepala dengan dua tangan.
Ratu Kalaputih tersenyum. Dingin.
Lalu bayangan-bayangan hitam yang tadinya berdiri diam, mulai bergerak. Membentuk lingkaran di sekeliling mereka. Seperti pagar. Seperti sangkar yang tidak bisa ditembus.
Sucipto tersentak. Mencoba mundur. Tapi kakinya tidak bergerak. Seperti tertanam di tanah.
"Aturaken getihipun panjenengan," kata Ratu Kalaputih sambil menatap Darma Wijaya. "Lajeng kula badhe maringi punapa kemawon ingkang panjenengan nyuwun."
(Berikan darahmu. Maka aku akan memberikan apa pun yang kamu minta.)
Darma Wijaya mengangguk cepat. "Inggih, Kanjeng."
(Baik, Yang Mulia.)
Ia menatap sekeliling. Mencari sesuatu yang tajam. Matanya berhenti di ujung area makam. Ada bambu runcing. Tua. Ujungnya masih tajam.
Ia mengambilnya dengan tangan yang gemetar.
Lalu menatap telapak tangannya. Tangan kiri. Garis-garis di kulit. Urat yang terlihat.
Ia ragu sebentar.
Bambu runcing di atas telapak. Tapi belum menyentuh.
Menarik napas. Dalam. Lalu menghembuskan pelan.
Lalu menggores.
Cepat. Keras.
"Akh!"
Ia meringis. Darah mengalir. Tapi ia tidak berhenti.
Menggerakkan tangan di atas cawan. Membiarkan darah menetes masuk. Satu tetes. Dua tetes. Sepuluh tetes.
Sampai cawan setengah penuh.
"Kula aturaken getih punika minangka pengabdian kula lan bukti bilih kula badhe setya dhumateng panjenengan."
(Aku persembahkan darah ini sebagai pengabdianku dan bukti bahwa aku akan setia kepadamu.)
Darma Wijaya menyerahkan cawan dengan dua tangan. Masih gemetar. Darah masih menetes dari luka di telapak.
Salah satu prajurit Ratu Kalaputih melangkah maju. Tinggi. Besar. Kulit kehitaman. Mata merah menyala.
Mengambil cawan dari tangan Darma Wijaya dengan tangan yang jauh lebih besar.
Lalu berjalan ke makam Eyang Pandilarang. Berdiri di depan nisan batu yang sudah berlumut.
Mengangkat cawan. Lalu menggoyangkan pelan. Darah bergerak di dalam.
Lalu menuangkan.
Darah mengalir keluar dari cawan. Jatuh ke atas nisan. Mengalir di permukaan batu. Masuk ke celah-celah. Meresap ke dalam tanah.
Dan sesuatu terjadi.
Tanah bergetar. Pelan dulu. Lalu lebih keras. Seperti ada yang bergerak di bawah.
Cahaya putih keluar dari dalam tanah. Dari tempat darah meresap. Naik pelan ke udara. Berputar. Membentuk pilar yang tinggi.
Lalu wujud Ratu Kalaputih berubah.
Bukan lagi siluet putih yang transparan. Bukan lagi bayangan yang tidak stabil.
Tapi nyata.
Benar-benar nyata.
Kulit putih porselen yang bisa dilihat dengan jelas. Rambut hitam panjang yang mengalir sampai ke tanah. Mata tajam yang menatap dengan fokus. Bibir merah yang tersenyum dingin.
Mahkota emas di kepala bersinar lebih terang. Pakaian putih panjang bergerak seperti ada angin meski tidak ada angin.
Ia berdiri di sana. Di depan mereka. Dalam wujud penuh. Seperti ratu yang baru saja bangun dari tidur panjang ratusan tahun.
Darma Wijaya terpana. Menatap dengan mata yang melebar. Napas tertahan.
Ini yang ia tunggu. Ini yang ia impikan sejak ayahnya cerita puluhan tahun lalu.
Dan sekarang, Ratu Kalaputih berdiri di hadapannya. Nyata.
Ratu Kalaputih berjalan mendekat. Langkahnya pelan. Anggun. Kaki hampir tidak menyentuh tanah.
Berdiri tepat di depan Darma Wijaya.
Lalu tangan pucatnya terangkat. Menyentuh kepala Darma Wijaya dengan lembut.
"Panjenengan badhe dados abdhi kula salaminipun."
(Kamu akan menjadi abdiku selamanya.)
Seketika, kedua bola mata Darma Wijaya berubah.
Warna iris memudar. Digantikan putih yang menyebar dari tengah. Sampai seluruh bola mata jadi putih.
Seperti boneka. Seperti sesuatu yang tidak punya jiwa sendiri.
Tapi ia masih berdiri. Masih bernapas. Masih sadar.
Hanya ditandai. Ditandai sebagai abdi. Terikat selamanya.
Darma Wijaya tidak melawan. Tidak berteriak. Hanya berdiri diam dengan mata yang putih. Tersenyum tipis. Seperti ini yang ia inginkan sejak awal.
Lalu Ratu Kalaputih berbalik.
Berjalan ke arah Sucipto dan Ratna.
Sucipto langsung mundur selangkah. Tapi bayangan hitam di belakangnya menghalangi. Ia tidak bisa kemana-mana.
Ratu Kalaputih membungkuk sedikit. Menatap Ratna yang terbaring lemas di tanah.
"Sinten asmanipun panjenengan?"
(Siapa namamu?)
Sucipto terdiam sebentar. Bingung kenapa ditanya.
"Ini istri saya, Nyai... Ratna." Suaranya gemetar. Tubuhnya gemetar melihat wujud Ratu Kalaputih yang pucat dengan mata yang dingin dan rambut yang mengambang di udara.
"Kula mboten nyuwun asma garwanipun panjenengan."
(Aku tidak menanyakan nama istrimu.)
Ratu Kalaputih tersenyum. Lalu tangannya bergerak. Menyentuh perut Ratna.
"Nanging jabang bayi ingkang wonten ing guwa garbaning garwanipun panjenengan."
(Tapi bayi yang ada di dalam kandungan istrimu.)
Jari-jarinya menekan pelan. Merasakan. Ada gerakan di dalam. Gerakan kecil. Janin yang masih hidup meski ibunya sekarat.
Lalu tiba-tiba Ratu Kalaputih tertawa.
Keras. Bergema. Kepala mendongak ke atas. Seperti mendengar sesuatu yang sangat menggembirakan.
"Panjenengan badhe nglampahi punapa kemawon kangge putra panjenengan?"
(Kamu akan melakukan apa pun untuk anakmu)
Ia menatap Sucipto dengan mata yang tajam.
Sucipto menatap Ratna. Lalu ke perut istrinya. Lalu kembali ke Ratu Kalaputih.
"Apapun, Nyai Ratu. Yang penting anak dan istri saya selamat."
Air matanya jatuh. Suara pecah.
"Kalau perlu aku akan berikan nyawaku. Asalkan mereka bisa hidup."
Ratna meronta pelan di tanah. Tubuhnya mulai terlihat lebih banyak benjolan. Belatung mulai berkumpul di sisi tubuhnya. Seperti siap untuk menghabiskan tubuhnya kapan saja.
Sucipto menangis melihat itu. Tidak bisa berbuat apa-apa.
Ratu Kalaputih berdiri. Melayang sedikit. Berdiri tepat di depan Sucipto.
"Kula badhe ngabulaken pandonga panjenengan. Nanging kanthi sawijining syarat."
(Aku akan mengabulkan permintaanmu. Tapi dengan satu syarat.)
Ia berbisik. Suaranya masuk ke telinga Sucipto. Dingin. Seperti es yang menyentuh kulit.
"Lilakna kula mendhet setetes getih jabang bayi ingkang wonten ing guwa garba garwanipun panjenengan."
(Izinkan aku mengambil setetes darah bayi yang ada di dalam kandungan istrimu.)
Jeda sebentar.
"Getih punika kula betahaken kangge mbikak lawang ingkang sampun kasegel atusan taun."
(Darah itu aku butuhkan untuk membuka pintu yang sudah tertutup ratusan tahun.)
Ia tertawa pelan. Seperti ada rencana tersembunyi. Seperti darah ini sudah ditunggu untuk membangkitkan sesuatu yang jauh lebih gelap dari dirinya sendiri.
Sucipto terdiam. Menatap perut Ratna.
Setetes darah. Dari anaknya yang belum lahir.
Untuk membuka pintu.
Pintu apa? Ia tidak tahu. Tapi ia tidak punya pilihan.
Pisau muncul di udara.
Melayang pelan. Turun ke depan Sucipto.
Pisau dengan bilah yang panjang. Gagang diukir indah. Di ujung gagang, ada kepala wanita. Wajahnya cantik tapi ekspresinya menakutkan. Mata terbuka lebar. Mulut terbuka seperti berteriak. Mahkota kecil di kepala. Permata merah di dahi.
Sucipto tersentak. Mundur selangkah melihat pisau itu melayang sendiri.
Lalu cawan yang tadi sudah kosong dari darah Darma Wijaya, sekarang bergerak. Melayang ke hadapan Sucipto. Bersih. Siap diisi lagi.
Sucipto menatap pisau. Lalu cawan. Lalu beralih Ratna.
Tidak ada jalan keluar.
"Getihipun panjenengan lan jabang bayi punika saged nylametaken sedaya warga Sumberarum."
(Darahmu dan bayi ini bisa menyelamatkan semua warga Sumberarum.)
Ratu Kalaputih bicara dengan suara yang lembut. Tapi ada ancaman di baliknya.
"Asal panjenengan ngiket prajanjian kaliyan kula."
(Asalkan kamu mengikat perjanjian denganku.)
Buku tua muncul di tangan Ratu Kalaputih. Sampul kulit coklat. Tulisan emas yang pudar. Halaman-halaman yang menguning.
Buku perjanjian.
Sucipto menatap buku itu cukup lama.
Lalu ke Ratna yang semakin lemah. Napasnya semakin pendek.
Lalu ke pisau di depannya.
Ia mengambil pisau dengan tangan yang gemetar.
"Maafkan aku." Bisiknya pelan. Ke Ratna. Ke anaknya yang belum lahir.
Lalu ia menggores.
Bukan telapak tangannya. Tapi ujung jarinya. Pelan. Hati-hati.
Darah menetes. Jatuh ke cawan.
Lalu ia menyentuh perut Ratna dengan ujung pisau. Sangat pelan. Hanya ujungnya. Tidak melukai. Hanya menyentuh.
Dan sesuatu terjadi.
Cahaya merah keluar dari perut Ratna. Tipis. Seperti asap. Masuk ke bilah pisau. Lalu mengalir turun. Menetes ke cawan bersama darah Sucipto.
Darah janin. Tanpa harus melukai.
Sucipto menarik napas lega. Setidaknya ia tidak harus melukai istri atau anaknya.
Tapi darah sudah diambil.
Perjanjian sudah dimulai.
Ratu Kalaputih mengambil cawan. Menatap darah di dalamnya. Tersenyum.
"Prajanjian punika badhe ngiket panjenengan lan keturunan panjenengan salaminipun."
(Perjanjian ini akan mengikatmu dan keturunanmu selamanya.)
Ia membuka buku. Halaman kosong. Lalu menulis dengan jari. Tulisan muncul sendiri. Merah. Seperti ditulis dengan darah.
Nama Sucipto. Nama Ratna. Dan nama yang belum ada: Fariz.
"Nalika wektunipun sampun dumugi, kula badhe nyuwun pembayaran."
(Ketika waktunya tiba, aku akan meminta pembayaran.)
Ratu Kalaputih menutup buku.
"Nanging saiki, garwanipun panjenengan lan jabang bayi badhe slamet."
(Tapi sekarang, istrimu dan bayimu akan selamat.)
Ia menuangkan sedikit darah dari cawan ke tanah. Lalu sisanya diminum. Semuanya. Sampai habis.
Seketika, benjolan di tubuh Ratna mulai mengempis. Warna kulit kembali normal. Napas jadi lebih teratur.
Ratna selamat.
Dan janin di dalam perutnya juga selamat.
Tapi sudah ditandai. Sudah terikat. Sejak dalam kandungan.
Sucipto menangis. Lega tapi juga takut. Karena ia tahu, ini bukan akhir.
Ini baru awal.
KEMBALI KE SEKARANG
Fariz terkesiap.
Memori itu menghilang. Ia kembali ke ruang ritual. Kembali ke saat ini.
Napasnya terengah. Seperti baru saja berlari jauh.
Sekarang ia mengerti.
Kenapa ia selalu merasa ada yang mengawasi sejak kecil.
Kenapa Sucipto selalu melarangnya pergi ke pondok.
Kenapa ayahnya selalu takut kalau ia belajar agama.
Karena ia sudah ditandai. Sejak dalam kandungan. Darahnya sudah diambil. Untuk membuka pintu.
Pintu untuk sesuatu yang jauh lebih gelap dari Ratu Kalaputih sendiri.
"Sekarang kamu tahu kenapa aku ingin kamu menjadi pendampingku, Fariz."
Ratu Kalaputih melayang mendekat. Jari tangannya membelai wajah Fariz. Dingin. Tidak ada hawa hangat seperti manusia normal.
"Jika kamu bersekutu dengan saya, maka kita akan menjadi pasangan yang abadi."
"Bahkan dia pun tidak akan bisa mengalahkan kita."
Ia berbisik. Ada sesuatu dalam kata-katanya. Seperti ia takut pada "dia". Seperti ia pernah membangkitkan sesuatu di masa lalu dan sekarang takut pada ciptaannya sendiri.
Fariz terdiam sejenak.
Menatap ayahnya yang masih terangkat ke udara. Para pengawal Ratu Kalaputih mengarahkan tombak ke tubuh Sucipto. Ujung tombak hanya beberapa senti dari dada. Menunggu perintah.
Ia menarik napas.
Lalu bicara. Pelan. Gemetar.
"Demi ayahku... aku bersedia."
Suaranya keluar seperti orang yang kalah. Seperti orang yang menyerah.
Ratu Kalaputih tersenyum. Lebar. Puas.
Tapi di dalam hati Fariz, ada sesuatu yang berbeda.
Ada tekad yang ia sembunyikan di balik suara yang gemetar. Ada rencana yang ia simpan di balik mata yang tertunduk.
Ia ingat kata-kata di kertas Kyai Salman.
Berdiri di tempat persembahan. Nyatakan penolakan dengan niat tulus.
Ia harus sampai di altar. Harus masuk ke dalam ritual. Baru di sana, di tengah ikatan yang paling sakral, ia bisa memutusnya.
Dari dalam.