Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Tamatan SMP
Arga terdiam, dia melempar pandangan sesaat ke arah lain. "Tapi, Pak kades. Apa Bapak yakin saya mampu?" tanya Arga, ragu.
"Selama ini, saya kerja cuma sebatas asisten tukang. Tidak punya pengalaman, dan... pendidikan saya hanya tamatan SMP."
Pak kades tertawa kecil. Ia memberikan tepukan di bahu Arga. "Pendidikan dan pengalaman itu bisa didapat dari jam terbang, Arga."
"Seorang pengawas nggak harus berpendidikan tinggi atau punya wawasan luas, yang paling penting dia harus orang jujur dan giat kayak kamu. Saya yakin, di bawah pengawasan kamu, bendungan itu bisa selesai dalam waktu tepat."
"Saya percaya kamu orang yang bisa dipercaya."
Arga terdiam cukup lama, sebelum kembali bertanya, "Kalo saya terima, tugas saya apa aja ya, Pak kades?" tanya Arga masih merasa ragu dengan dirinya sendiri.
"Hanya mengawasi pekerja, memastikan bahan sesuai dan melaporkan perkembangannya setiap minggu. Selebihnya, sudah ada yang mengurusnya," kata Pak kades.
Arga menghela napas dalam.
"Baik, Pak. Kalo gitu, saya akan mencobanya," angguk Arga.
Pak kades tersenyum puas. "Bagus. Jangan sungkan menegur orang yang kerjanya males-malesan," pesannya.
Arga hanya mengangguk singkat. Dalam hati, dia masih merasa tak percaya diberi tanggung jawab yang begitu besar.
"Kalo begitu saya pamit. Semoga anak kamu cepat sembuh, ya," ujar Pak kades.
"Aamiin. Terima kasih, Pak," ucap Arga.
Ia berdiri tegak, menatap kepergian Pak kades dengan tatapan sendu namun penuh tekad.
"Kalo aku berhasil dalam proyek ini, aku bisa beliin Andini baju bagus dan makanan yang bergizi setiap hari."
"Bismillahirrahmanirrahim... semoga ini rezeki untuk kita, Dini," bisik Arga lalu tersenyum tipis.
Pria itu kembali melanjutkan kegiatannya, dengan perasaan tak sabar untuk bercerita pada putri kecilnya.
Sore itu, Arga pulang lebih cepat. Senyuman lebar tak surut sedetikpun dari wajah pria itu. Ia begitu tak sabar dan bersemangat untuk memberitahu Andini jika ayahnya akan dapat pekerjaan yang lebih bagus.
"Mas Arga, udah pulang?"
Pertama kali yang menyambut kedatangannya adalah Rini. Gadis berusia 24 tahun itu nampak cantik memakai rok berwarna putih dan sweater kebesaran, dipadukan dengan hijab berwarna biru.
"Andini mana, Rin?" tanya Arga, tak memiliki waktu untuk terpesona meskipun dia sadar, daun muda itu begitu menarik untuk dilihat.
"Di dalam, Mas. Andini lagi baca buku," sahut Rini.
Arga mencuci tangan di keran depan rumah, lalu segera masuk, menghampiri Andini yang masih duduk di atas ranjang.
"Sekarang gimana? Apa panasnya sudah turun?" tanya Arga sambil meletakkan punggung tangan di kening putrinya.
"Sudah lebih baik, Mas. Infusannya juga sudah saya lepas. Kondisinya sudah stabil," jawab Rini, ia menatap Arga dengan tatapan kagum.
Jarang sekali melihat seorang pria mau repot-repot ngurus anak. Meskipun dia tahu, Arga melakukan itu karena tidak ada yang bisa diandalkan selain dirinya sendiri.
"Mas Arga sore ini keliatan senang sekali," ucap Rini, bisa melihat binar di mata Arga.
Arga tersenyum lebar dan menganggukkan kepala. "Saya ditawari jadi pengawas proyek bendungan di desa kita, Rin. Alhamdulillah."
"Masha Allah. Selamat, Mas. Mas Arga memang pantas mendapatkan posisi itu. Mas Arga orang yang jujur," kata Rini tulus.
"Saya sebenarnya gugup dan ragu menerima tawaran ini. Saya takut buat kesalahan. Tapi, kalo dilewatkan sayang juga. Kedepannya, saya pasti akan membutuhkan banyak biaya untuk masa depan Andini," tutur Arga sambil mengusap rambut putrinya yang tampak sibuk membaca cerita dongeng.
"Saya sih yakin, Mas Arga pasti sanggup," ucap Rini penuh dukungan.
"Pak kades nggak mungkin nunjuk sembarang orang kalo dia nggak percaya sama Mas Arga."
"Dan lagi, bendungan ini sangat penting untuk warga desa kita yang mata pencahariannya sebagai petani. Di saat musim kemarau, mereka jadi bisa bertani tanpa khawatir kekurangan air."
"Dan di saat musim hujan, bendungan itu juga bisa membantu menampung air dan mengatur debit air, supaya nggak banjir," tutur Rini panjang lebar.
Arga mengangguk mengerti. "Bidan Rini sangat pintar. Dari cara bicaranya, orang sudah bisa menebak jika dia wanita berpendidikan," batin Arga, namun tatapan matanya mengarah pada putrinya, menyembunyikan kekaguman.
"Semoga suatu hari nanti Andini juga bisa sepertinya."
Teng-teng-teng
Andini yang sedang fokus membaca, langsung menolehkan wajah ke arah pintu saat mendengar suara ketukan mangkuk di luar.
"Ayah, itu ada yang jualan apa?" tanya Andini, matanya berbinar.
Arga melongokkan kepala keluar. "Yang jualan bubur kacang. Kamu mau?" tanya Arga.
Andini mengangguk dengan cepat.
Arga menoleh terlebih dahulu pada Rini. "Andini boleh makan bubur kacang, Rin?" tanyanya.
"Hah?" Rini malah melongo.
"Kenapa Mas Arga malah nanya sama aku?" batinnya.
Namun, dia segera mengangguk. "Boleh, Mas. Nggak papa," jawabnya cepat.
Arga melesat keluar, dan tak seberapa lama dia kembali dengan tiga cup bubur kacang di tangannya.
"Ini, satu buat Dini."
"Ini buat Bu bidan."
"Dan ini buat Ayah."
Arga membagikan bubur kacangnya.
"Loh, saya kebagian juga, Mas? Padahal nggak usah repot-repot," kata Rini, namun tetap menerima pemberian Arga.
"Bukan apa-apa. Anggap aja ucapan terima kasih karena kamu udah jagain Andini," kata Arga merasa kikuk.
Secup bubur kacang itu tidak sebanding dengan jasa Rini yang telah menjaga putrinya.
"Ah, ya. Terima kasih, Mas. Tapi Andini sama sekali nggak ngerepotin. Dia bahkan makan sendiri. Nggak mau disuapin, dia sangat patuh sama Mas Arga," ucap Rini merasa kagum dengan ayah dan anak itu.
Arga mengangguk singkat, lalu memandang putrinya yang sudah lahap memakan bubur kacang.
"Buburnya enak, Ayah. Perut Dini jadi hangat sekarang," kata Andini.
Ia makan dengan sangat cepat, hingga sebelum Arga menyuapkan bubur kacangnya, gadis itu sudah menghabiskan bagiannya.
"Ayah, Andini mau lagi," kata Andini, menyodorkan cup plastik miliknya ke arah sang ayah.
Arga tertawa kecil.
"Ini, buat kamu aja. Habiskan."
Arga menyerahkan miliknya. Tapi, Andini menolak.
"Itu punya Ayah. Andini minta sedikit aja," ucap Andini sambil cengengesan.
"Ini, ambil punya Bu bidan aja." Rini menyodorkan miliknya.
"Jangan, Rin. Ini punya kamu. Sudah saya bilang, ini tanda terima kasih. Jangan diberikan pada Dini," cegah, sembari Arga mendorong cup bubur perlahan.
"Ya udah, kalo gitu... kita bagi dua aja. Bu bidan kasih setengahnya buat Dini." Rini menuangkan sebagian buburnya ke wadah milik Dini.
Arga tertegun sambil mengamati. Akhirnya, dia ikut menuangkan setengah bubur miliknya ke cup Andini.
"Tuh, Ayah tambahin biar penuh. Biar kamu cepet sembuh," kata Arga.
Ketiganya pun saling melempar tawa.
---
Di rumah keluarga Bima.
"Bima, sudah sejauh mana persiapan pernikahan kamu dan Nadira?" Mardi, yang biasanya tak peduli kini mengangkat suara.
Mereka baru tiba di rumah dan duduk di ruang keluarga. Sementara Nadira, wanita yang sudah memutuskan menjadi asisten rumah tangga itu, tengah menyajikan kopi di atas meja.
Nadira duduk berlutut di atas karpet sambil melirik ke arah Bima dengan tatapan tajam, dan menunggu jawaban. Kesepakatan mereka, masih belum diketahui siapapun.
Bima tidak langsung menjawab. Dia menghela napas panjang, sebelum berkata, "Masih banyak yang perlu dipersiapkan, Pa."
Ia menjawab sambil menatap Nadira dengan sorot mata penuh rencana. Bagi Bima, tidak mungkin dia mengungkap kebenaran tanpa persiapan. Keluarganya pasti akan sangat marah karena dibohongi.
"Segera tentukan tanggal pernikahan. Jangan ditunda-tunda lagi. Nadira sudah cukup lama di rumah kita," desak Mardi.
Bima mengangguk mengerti. "Baik, Pa."
Nadira tersenyum sinis. "Dasar pecundang!" hardiknya dalam hati.
Wanita itu segera pergi ke kamar, berniat beristirahat sejenak. Baru saja akan merebahkan tubuh, pintu tiba-tiba terbuka dan Bima muncul dengan seringai yang menyebalkan.
"Ngapain kamu ke sini, Mas?!" bentak Nadira, menatap Bima dengan mata melotot.
Bima berjalan mendekat. Ekspresinya angkuh. "Apa kamu lupa, Nadira? Di rumah ini aku majikannya. Kamu hanya pembantu. Jadi, aku bebas pergi ke manapun aku mau."
"Apa yang kamu mau?!" sentak Nadira, berusaha menunjukkan keberaniannya yang terlihat menggelikan di mata Bima.
Bima merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sesuatu yang membuat wajah Nadira sumringah.
Itu ponselnya.
"Hpku. Kembalikan, Mas!" Nadira menyambar benda pipih itu dengan cepat dan menggenggamnya erat.
"Masih hidup," bisik Nadira, setelah menekan tombol powernya.
"Karena kamu sudah bukan lagi calon istriku. Jadi aku bebaskan kamu menghubungi calon suami dan anakmu, Nadira," ucap Bima, dan tanpa ada percakapan lain, dia segera pergi meninggalkan kamar tersebut. Matanya berkilat licik.
"Aku bisa membawamu masuk ke rumah ini. Aku juga bisa menyingkirkanmu dari rumah ini dengan cara yang hina," bisik Bima, keji.
Bersambung...