Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayaran "Tubuh"
Banyu menekan tombol panggil di layar HP-nya.
"Halo? Siapa nih?" Suara cewek asing terdengar dari seberang.
Banyu mengernyit. Sepertinya bukan suara Sonia. "Halo, ini Banyu. Mau cari Sonia, bisa..."
Belum selesai Banyu bicara, cewek di seberang sana berteriak cempreng menjauh dari gagang telepon.
"WOY SONIA! Ada cowok nyariin lo nih! Ciye... dasar pelakor! Diem-diem nyimpen 'gadun' di luar ya lo?!"
Banyu yang mendengar teriakan itu cuma bisa menyeka keringat dingin. Buset, mulut cewek asrama sadis bener, batinnya.
Tak lama, terdengar suara keributan kecil, lalu suara Sonia yang familiar mengambil alih.
"Berisik lo, Mawar! Iri bilang bos!" semprot Sonia ke temannya, lalu beralih ke telepon. "Halo? Ini Sonia. Siapa ya?"
Banyu berdeham, menormalkan suaranya. "Halo, Son. Ini Banyu. Yang di kereta."
"Banyu?!" Nada suara Sonia langsung naik satu oktaf, kaget tapi senang. Lalu dia terdengar berbisik panik menjauhkan HP-nya, "Eh, diem lo pada! Jangan bikin malu gue!"
Kembali ke Banyu, dia tertawa canggung. "Temen sekamar lo... asik juga ya."
"Ah, abaikan aja. Mereka emang kurang asupan obat," Sonia mencoba terdengar santai, walau aslinya salting. "Tumben nelpon? Katanya sibuk jadi Juragan Tani? Pasti ada maunya nih."
"Yaelah, jangan suudzon napa. Gue nelpon karena kangen aja," goda Banyu iseng.
"Pret! Jangan gombalin gue. Gue udah kebal," Sonia tertawa renyah. "Langsung aja deh, ada perlu apa?"
"Haha, ketahuan deh. Gini, Son. Gue denger di kampus lo ada dosen namanya Prof. Surya? Katanya beliau pakar ikan langka?"
"Oh, Prof. Surya? Kenal banget lah! Gue sering bolak-balik lab beliau," jawab Sonia bangga. "Kenapa? Mau konsultasi?"
"Iya. Gue lagi riset soal budidaya Ikan Empurau. Katanya beliau lagi ngembangin teknologi pembenihannya. Bisa tolong kenalin nggak?"
"Bisa banget. Gampang itu mah," jawab Sonia enteng.
"Serius? Wah, makasih banget Son! Gue berhutang budi nih."
"Eits, enak aja gratisan," potong Sonia cepat. "Di dunia ini nggak ada makan siang gratis, Bos. Lo harus bayar jasanya."
Banyu pura-pura sedih. "Yah... kita kan temen seperjuangan di kereta. Masa itungan sih? Mau gue traktir makan? Atau gue bawain sayur satu truk?"
"Nggak butuh sayur!" tolak Sonia. "Gue butuhnya... lo."
"Hah?"
"Bayar pake tubuh lo," lanjut Sonia dengan nada misterius. "Gue mau lo 'menyerahkan diri' ke gue besok."
Banyu keselek ludahnya sendiri. "Son... lo jangan bikin gue mikir yang iya-iya. Gue masih polos."
Sonia tertawa ngakak. "Otak lo tuh yang ngeres! Maksud gue, gue butuh lo buat jadi Pacar Pura-pura gue besok!"
"Pacar pura-pura? Klasik banget skenarionya. Emang buat apaan?"
Sonia menghela napas panjang. "Ada cowok rese di kampus, namanya Raka (dia bukan sultan). Dia stalker parah, ngejar-ngejar gue mulu padahal udah gue tolak berkali-kali. Besok dia mau nekat nembak gue di depan umum pas acara bazar kampus. Gue butuh tameng hidup buat bikin dia mundur teratur. Dan lo... kandidat yang pas."
"Oh, jadi gue dijadiin tumbal nih?" Banyu pura-pura merajuk. "Gue kira lo beneran mau 'pake' gue."
"Udah, jangan banyak protes! Mau ketemu Prof. Surya nggak?" ancam Sonia.
"Iya, iya, Nyonya Besar. Siap laksanakan," Banyu menyerah. Demi Ikan Empurau, jadi aktor dadakan pun dia jabanin.
"Oke, deal! Besok jam 10 pagi, ketemuan di depan Gedung Bale Santika (Gedung Serbaguna UNPAD). Awas telat! Dan... dandan yang ganteng! Jangan malu-maluin gue!"
Klik. Telepon ditutup sepihak.
Banyu menatap layar HP-nya sambil geleng-geleng kepala.
"Nasib... nasib. Demi cuan, harga diri pun digadaikan jadi pacar sewaan."
---
Keesokan paginya.
Banyu sadar dia tidak bisa datang dengan kaos oblong dan celana kargo belel seperti biasanya. Dia harus masuk ke kawasan UNPAD Jatinangor yang terkenal sebagai sarangnya "Cici-cici geulis" dan "Koko-koko modis".
Dia mampir ke mall sebentar, menghabiskan beberapa juta untuk makeover. Kemeja Uniqlo biru muda yang pas badan, celana chino krem, sepatu sneakers putih bersih, dan jam tangan G-Shock baru.
Saat dia bercermin di kamar pas, Banyu tersenyum puas.
"Ganteng juga gue kalau didandanin. Pantesan Sonia milih gue."
Efek "uang" memang nyata. Mbak-mbak kasir yang melayaninya tersenyum manis sekali, beda jauh saat Banyu belanja pakai baju gembel.
Banyu memesan GrabCar dan meluncur ke Jatinangor.
Begitu sampai di gerbang utama UNPAD, Banyu turun dan berjalan kaki menikmati suasana. Kampus ini luas dan asri. Mahasiswa-mahasiswi berseliweran dengan gaya fashionable.
Hati Banyu berdesir sedikit. Dulu, dia juga punya mimpi kuliah di tempat seperti ini. Tapi nasib berkata lain. Kematian kakeknya dan penyakit jantung bawaannya memaksanya mengubur mimpi itu.
"Ah, sudahlah. Jadi petani sukses juga nggak kalah keren," hibur Banyu pada dirinya sendiri.
Banyu yang sekarang, dengan setelan rapi dan aura percaya diri, menarik banyak perhatian. Beberapa mahasiswi yang berpapasan dengannya curi-curi pandang, berbisik-bisik menebak jurusan mana "Kating Ganteng" ini berasal.
Banyu menikmati perhatian itu sambil mencari Gedung Bale Santika. Tapi karena kampusnya segede gaban, dia nyasar.
Jam sudah menunjukkan pukul 09.50.
"Waduh, bisa diamuk Sonia kalau telat," gumam Banyu panik.
Dia melihat dua mahasiswi sedang duduk di bangku taman. Banyu menghampiri mereka.
"Permisi, Neng. Boleh tanya?"
Kedua mahasiswi itu mendongak, kaget disapa cowok ganteng asing. Pipi mereka langsung merona.
"I-iya, Kak? Ada apa?" jawab yang berambut pendek malu-malu.
"Gedung Bale Santika sebelah mana ya? Saya agak nyasar," tanya Banyu sopan dengan senyum maut andalannya.
"Oh! Bale Santika?" Si cewek berambut pendek langsung semangat. "Lurus aja lewat jalan ini, terus belok kanan di pertigaan kedua. Gedungnya warna putih."
"Lurus, pertigaan kedua, belok kanan. Oke, makasih ya," Banyu mengulang rute itu.
Temannya yang berwajah bulat menyenggol lengan si rambut pendek, lalu memberanikan diri. "Kakak bukan anak sini ya? Kalau bingung, kita anterin aja yuk? Kebetulan kita lagi kosong nih."
Banyu tertegun. Wah, ramah sekali mahasiswi di sini. Baru saja dia mau menjawab sopan, sebuah suara cempreng nan galak terdengar dari arah belakangnya.
"HEH! Baru ditinggal bentar, udah tebar pesona sama cewek lain ya!"