desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12: Pertemuan Penentu
Jakarta pagi itu cerah. Matahari bersinar terik, seolah ingin membakar habis sisa-sisa hujan semalam. Tapi di dalam apartemen The Rosewood, udaranya dingin. Bukan karena AC, tapi karena ketegangan yang menggantung.
Raka duduk di ruang tamu. Ia sudah siap sejak jam setengah sembilan. Kemeja putih lengan panjang, celana bahan hitam. Formal. Seperti akan menghadiri rapat penting. Padahal ini bukan rapat. Ini pertemuan yang akan menentukan masa depan—masa depan Arka, masa depannya, dan mungkin masa depan Aira.
Di hadapannya, dua kursi kosong. Satu untuk Aira. Satu untuk Lita.
Pukul sembilan kurang sepuluh menit, bel apartemen berbunyi. Bi Inah membuka pintu. Lita masuk.
Hari itu Lita tampil berbeda. Tak ada gaun mahal, tak ada riasan menor. Ia memakai dress polos warna abu-abu, rambut diikat rapat. Wajahnya tanpa riasan tebal, bahkan terlihat sedikit pucat. Seperti sengaja ingin menunjukkan kerendahan hati.
"Selamat pagi, Rak," sapanya lirih.
Raka mengangguk. "Duduk."
Lita duduk di kursi yang disediakan. Matanya menatap Raka, mencari tanda-tanda apa yang akan terjadi. Tapi wajah Raka datar. Tak terbaca.
Beberapa menit kemudian, bel apartemen berbunyi lagi. Aira datang.
Aira memakai kemeja putih lengan panjang dan rok span hitam. Sederhana. Seperti biasa. Tapi matanya sedikit sembab. Semalam ia tak tidur. Memikirkan pertemuan ini.
"Selamat pagi, Pak," sapa Aira sopan. Ia menatap Lita sebentar, lalu mengalihkan pandangan.
"Selamat pagi, Nona. Silakan duduk."
Aira duduk di kursi sebelah Lita. Jarak mereka hanya sekitar satu meter. Cukup dekat untuk saling menatap. Cukup jauh untuk menjaga jarak.
Raka menghela nafas. Memulai.
"Terima kasih sudah datang. Saya minta maaf harus mengadakan pertemuan seperti ini. Tapi saya rasa ini perlu. Untuk Arka. Untuk kita semua."
Lita dan Aira diam. Menunggu.
Raka mengeluarkan ponselnya. Meletakkan di meja.
"Kita punya dua bukti. Pertama, rekaman dari Lita. Rekaman percakapan Lita dan Aira di balkon, saat pesta Arka. Kedua, screenshot pesan dari Aira. Pesan-pesan yang katanya dikirim Lita ke Aira, berisi ancaman."
Ia menatap mereka bergantian.
"Sekarang, saya ingin dengar langsung dari kalian. Lita, mulai."
Lita menarik nafas. Air mata langsung mengalir. Cepat. Seperti sudah dipersiapkan.
"Rak, aku sudah bilang. Rekaman itu asli. Itu percakapan kami di balkon. Aira bilang Arka butuh dia, bukan aku. Aku sedih, tapi aku terima. Aku bahkan minta maaf padanya, karena aku cemburu. Tapi soal pesan-pesan itu... aku tak pernah kirim. Itu rekayasa. Pasti Aira punya musuh lain, atau dia sengaja edit untuk menjatuhkanku."
Aira mendengar. Dadanya panas. Tapi ia tahan.
Raka menatap Aira. "Nona Aira, giliran Nona."
Aira menghela nafas. Suaranya tenang. Tak seperti Lita yang langsung nangis.
"Pak Raka, saya tidak pernah bilang 'Arka butuh aku, bukan Lita'. Saya hanya bilang Arka butuh ibunya. Saya bilang saya senang Lita kembali. Itu saja. Soal rekaman itu, saya yakin sudah diedit. Zaman sekarang, suara bisa dipotong, disambung, dibuat seolah-olah kita bilang sesuatu yang tak pernah kita bilang."
Ia menatap Lita. "Dan soal pesan-pesan itu, saya punya bukti lain. Bukan cuma screenshot."
Aira mengeluarkan ponselnya. Membuka sesuatu.
"Ini rekaman percakapan saya dengan Lita. Saat pertama kami bertemu di kafe Menteng. Saya rekam diam-diam. Maaf, Pak, saya memang sengaja merekam. Karena saya curiga."
Lita berubah wajah. Pucat.
Aira memutar rekaman itu. Suara Lita terdengar jelas:
"Kau cantik. Tapi cantik saja tak cukup untuk mempertahankan pria seperti Raka."
"Aku di sini untuk bilang: keluar dari kehidupan mereka. Sekarang. Sebelum kau terluka."
"Ingat, Nona Aira. Aku ini ibu kandung Arka. Aku punya hak yang tak bisa kau beli dengan kebaikan palsumu."
Raka mendengar. Wajahnya berubah. Dari datar menjadi marah.
Lita gemetar. "Itu... itu..."
"Itu suaramu, Lita," potong Raka dingin. "Suaramu jelas."
Lita menangis. Kali ini sungguhan. Tapi tangisannya berbeda. Bukan tangis minta maaf. Tapi tangis ketakutan.
"Rak, dengar... aku... aku cuma..."
"Apa, Lita? Cuma apa? Cuma mau hancurkan Aira? Cuma mau usir dia dari kehidupan Arka? Padahal dia yang selama ini jaga Arka, saat kau pergi?"
Lita tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menangis.
Raka berdiri. Berjalan ke jendela. Membelakangi mereka. Ia menarik nafas panjang.
"Lita, aku sudah beri kesempatan. Aku sudah percaya padamu. Tapi kau bohong. Kau fitnah. Kau ancam wanita baik ini. Untuk apa?"
Lita terisak. "Aku... aku takut, Rak. Takut kehilangan Arka. Takut kau lebih pilih dia."
"Kau pikir dengan memfitnah, kau bisa dapatkan Arka? Kau pikir dengan ngancem, aku akan luluh?"
Lita diam.
Raka berbalik. Matanya merah. Bukan karena sedih, tapi karena marah yang ditahan.
"Lita, mulai hari ini, jangan datang ke sini lagi. Jangan telepon Arka. Jangan coba-coba hubungi dia. Kau boleh jadi ibunya, tapi kau tak punya hak merusak hidupnya. Dan kau sudah merusak cukup banyak."
Lita terkesiap. "Rak, jangan! Aku ibunya! Aku punya hak!"
"Hak?" Raka tertawa getir. "Kau tinggalkan dia saat demam. Tiga tahun kau tak ada. Lalu kau datang, bukan minta maaf sungguhan, tapi bawa agenda jahat. Itu hak? Itu bukan hak, Lita. Itu kejahatan."
Lita jatuh tersungkur di sofa. Menangis keras. Tapi Raka tak bergeming.
"Bi Inah! Antar Lita keluar."
Bi Inah datang. Membantu Lita berdiri. Lita meronta, tapi Bi Inah kuat.
"Rak, jangan! Aku janji akan berubah! Sungguh!"
Raka tak menjawab. Ia hanya menatap Lita dengan pandangan dingin.
Pintu apartemen tertutup. Suara tangis Lita hilang.
Hening.
Aira masih duduk di kursinya. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Raka yang berdiri di dekat jendela, membelakanginya.
Beberapa menit berlalu. Raka akhirnya berbalik. Ia mendekati Aira. Duduk di sofa di hadapannya.
"Nona Aira, saya minta maaf."
Aira menggeleng. "Bukan salah Bapak."
"Saya sudah menuduh Nona. Saya sudah ragu pada Nona. Padahal Nona hanya baik. Hanya tulus. Saya... saya malu."
Aira tersenyum tipis. "Pak Raka, Bapak hanya ingin melindungi Arka. Itu wajar. Saya paham."
Raka menatap Aira. Lama. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang tak terucap.
"Nona Aira, saya... saya ingin bilang sesuatu. Tapi saya takut."
Aira mengernyit. "Takut apa?"
Raka menarik nafas. "Saya takut Nona akan pergi. Setelah semua ini. Saya takut Nona trauma. Saya takut Nona berpikir dua kali untuk tetap dekat dengan Arka. Dengan... saya."
Aira diam. Jantungnya berdetak kencang.
"Pak Raka, saya... saya tidak akan pergi."
Raka menatapnya. Matanya berbinar.
"Sungguh?"
"Sungguh. Saya sayang Arka. Dan saya... saya juga..."
Ia tak bisa melanjutkan. Kata-kata itu sulit keluar.
Raka tersenyum. Senyum yang hangat.
"Terima kasih, Nona. Itu sudah cukup."
Mereka saling menatap. Ada kehangatan di ruangan itu. Setelah badai yang baru berlalu, mentari mulai muncul.
Tiba-tiba, suara kecil dari lorong.
"Aira! Bapak!"
Arka berlari. Ia baru bangun tidur. Rambutnya masih berantakan. Tapi ia langsung memeluk Aira.
"Aira, Arka kangen!"
Aira tertawa. Memeluk Arka erat.
"Bapak bilang, Aira bakalan dateng. Beneran! Aira dateng!"
Raka mengacak rambut Arka. "Iya, Nak. Aira dateng."
Arka menatap Aira. "Aira, jangan pergi-pergi ya? Janji?"
Aira menatap Raka sekilas. Lalu menatap Arka.
"Janji, Ark. Aira enggak akan pergi."
Arka tersenyum lebar. "Aira hebat!"
Ia menarik tangan Aira. "Ayo lihat kamar! Arka punya mainan baru! Dinosaurus!"
Aira tertawa. Ia menoleh ke Raka. Raka mengangguk, mempersilakan.
Aira mengikuti Arka ke kamar. Raka duduk di sofa, memandangi mereka.
Untuk pertama kalinya dalam minggu-minggu terakhir, ia merasa damai.
---
Di luar apartemen, Lita duduk di mobil taksi. Air matanya masih mengalir. Tapi di matanya, bukan kesedihan. Tapi kemarahan.
Ia mengeluarkan ponsel. Menekan satu nomor.
"Halo, Sayang. Gawat."
Suara pria di seberang. "Kenapa?"
"Mereka tahu. Raka tahu semuanya. Aku diusir."
Pria itu diam. Lalu berkata, "Tenang. Kita punya rencana cadangan."
"Apa?"
"Kau ingat dokumen-dokumen perusahaan Raka? Yang kau foto diam-diam waktu di apartemen?"
Lita tersenyum tipis. "Iya. Aku simpan."
"Bagus. Itu senjata kita. Kita bisa hantam perusahaannya. Atau jual ke kompetitor. Raka akan jatuh. Dan saat dia jatuh, kau bisa datang lagi. Sebagai penyelamat."
Lita mengangguk. "Oke. Aku tunggu instruksi."
"Jangan lakukan apa-apa dulu. Tenang. Biarkan mereka bahagia dulu. Semakin bahagia, semakin sakit saat jatuh."
Lita tersenyum jahat. "Oke, Sayang. Aku tunggu."
Taksi melaju meninggalkan apartemen mewah itu. Membawa Lita kembali ke sarangnya.
Ular itu belum mati. Hanya bersembunyi. Menunggu waktu yang tepat untuk menerkam.
---
Di kamar Arka, Aira sedang bermain dinosaurus dengan Arka. Mereka tertawa bersama. Raka datang membawa jus dan susu.
"Ini minumnya."
"Makasih, Pak."
Raka duduk di lantai. Ikut main. Untuk pertama kalinya, ia merasa seperti keluarga. Keluarga yang utuh.
Aira menatap Raka. Pria itu tersenyum. Aira membalas senyum itu.
Di luar, Jakarta sore itu cerah. Matahari bersinar lembut. Seperti memberi restu pada kebahagiaan kecil ini.
Tapi di balik cerahnya sore, ada badai yang sedang berkumpul. Badai yang tak terlihat. Badai yang suatu saat akan datang, menghantam tanpa ampun.
Dan mereka tak tahu.
---