Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu ronde?
"Yakin kalian sudah amankan semuanya?" tanya Kalandra setelah menghampiri kumpulan enterpreneur muda yang sudah membantu Jetro. Emir dan Alexander juga ikut bersamanya
"Beres, om," sahut Quin cepat.
"Jangan khawatir, om." Theo juga ikut menyahut.
"Kalian mau mau aja bantu Jetro. Kurang kerjaan banget," canda Emir.
Fazza dan Nathan yang ada di sana tertawa mendengarnya.
"Lagi gabut aja, om," sahut Sean santai.
"Butuh hiburan, om. Biasa, tiap hari pusing baca proposal klien" tambah Ziyan membela diri.
"Tapi sempat deg degan waktu ngasih tau pengantin prianya datang, padahal bohong," sela Abiyan ngakak
Masih ingat di benaknya ekspresi kebingungan papanya Cakra.
"Dosa loh," cuit Dewa.
"Nanggungnya, kan, bareng bareng," balas Quin.
"Tenang. Jetro yang mau nanggung semua dosanya." Malik menyahut kalem.
"Anakmu bisa oleng juga, Fazza," tawa Alexander. Malik adalah anak tunggal Fazza.
"Udah lama juga dia ngga iseng kayak gini." Fazza-daddynya Malik menyahut tenang.
"Sebenarnya kurang seru. Ngga ada adegan ala laki lakinya. Kita malah ngurusin orang mabok aja, pi." Erland memberitau.
"Padahal aku ngarepin kita bakal kebut kebutan di jalan," cuit Deva.
"Apalagi yang bakal kita gangguin poli si," sambung Quin.
"Seru banget, kan," lanjutnya lagi.
"Oknum, Quin. Oknum." Theo lagi lagi mengoreksi ucapan kembarannya.
"Iya, iya."
"Kita juga menawarkan diri buat bantu Baim dan Dave, Om," kekeh Sean dengan topik berbeda.
"Biar jangan terlalu lama menjomblo, ya," timpal Nathan.
"Boleh, itu. Boleh banget," sahut Emir penuh semangat.
Tawa mereka berderai lagi.
*
*
*
"Teman temanku menemui kamu?" Walaupun sudah menduganya, Febi tetap kaget juga dengan keberanian mereka yang diberitau Jetro. Febi pun jadi ingat saat keempatnya pergi tanpa mengajak dirinya.
Jadi waktu itu mereka pergi ke sana? batinnya sulit untuk percaya.
"Aku sempat mengira saat itu kamu juga ada bersama mereka," kenang Jetro. Dia tersenyum geli karena sempat deg degan dan ingin tampak lebih maskulin di mata Febi waktu itu.
Tapi sayangnya Febi tidak datang, padahal dia sudah berdandan maksimal.
"Mereka tidak mengajakku. Katanya ada kerjaan di luar. Aku bahkan membantu mengerjakan laporan laporan mereka saat itu." Febi tersenyum. Dia memperhatikan ke arah teman temannya yang sudah berbaur dengan yang tamu tamu yang lain.
Jetro menatap lekat wajah cerah Febi ketika melihat lengkung tipis di bibir gadis itu.
"Mereka sempat kesal karena mengira aku ngga serius mengejar kamu."
DEG DEG
Febi merasakan debaran cepat di jantungnya.
Kenapa, sih, mereka iniiii.....? batin Febi gugup dan malu.
Jetro tersenyum.
"Mereka bilang kamu menyukai aku."
Apa?
Febi speechless.
Febi yakin pipinya warnanya sudah seperti udang rebus.
Awas, ya, mereka nanti, rutuknya kesal dalam hati. Dia benar benar malu banget sekarang. Jetro sepertinya senang sekali.
"Mereka mengkhawatirkan kamu," sambung Jetro seolah membela kelakuan keempat temannya.
Ngga usah dibahas lagi, mohon Febi dalam hati.
Jetro seolah tak peduli dengan permintaan tak tersirat Febi.
"Tapi karena itu aku jadi lebih semangat untuk menikahi kamu," sambung Jetro tenang.
DEG DEG
Jantung Febi seolah dipompa makin cepat.
"Jadi beberapa hari kamu ngilang, kamu lagi nyusun rencana ini?" tuduh Febi berusaha tetap tenang dan cool.
"Iya. Tapi sia sia karena calon suami kamu malah mabok mabokan di club."
Febi tersenyum samar.
"Nanti malam kita satu ronde aja, ya." Jetro mengedipkan sebelah matanya.
Maksudnya?
Jantung Febi langsung kelabakan. Pikirannya sudah terbang kemana mana.
"Tapi lihat nanti aja." Jetro kini mengeluarkan suara tawanya yang terdengar menyeramkan di pendengaran Febi. Tubuhnya mendadak kaku.
*
*
*
"Kamu di sini rupanya. Tadi papa sudah mencari kamu kemana mana." Suara Anggareksa terdengar lega ketika menemukan putrinya sedang duduk di kursi kursi yang ada di luar gedung resepsi.
Wajah putrinya tampak kusut.
Fiola tidak menjawab teguran papanya. Hatinya masih sakit karena papanya berlaku tega padanya.
Saat ini dia sedang melakukan pemulihan diri atas luka yang tak terduga akan dia dapatkan dari orang orang yang dia cintai.
Anggareksa duduk di samping putrinya.
"Mengapa papa ngga di dalam aja sama anak kesayangan papa," decih Fiola tanpa mau menatap papanya
Anggareksa menarik nafas dalam.
"Kamu juga anak kesayangan papa."
Fiola melirik papanya kesal dan langsung membuang muka ketika tabrakannya bertemu dengan netra papanya.
Anggareksa tersenyum melihat wajah marah putri pertamanya.
"Jetro menyukai Febi, papa tidak mungkin menolak. Adikmu juga menyukainya."
"Tapi Jetro mau menemuiku di kencan kami. Aku yakin Jetro merasa kasian saja pada Febi. Harusnya papa halangi. Jetro dan Febi pasti ngga akan bahagia, Pa," sungut Fiola benar benar kecewa.
Anggareksa tidak mau mendebat putri sulungnya lagi. Karena dia tau, jika dia melakukannya, putrinya akan terus membalasnya dengan semua argumentasi yang menguntungkannya.
"Papa mau membicarakan hubunganmu dengan Cakra."
Kembali Fiola melirik kesal papanya.
"Aku ngga punya hubungan apa apa dengan Cakra, Pa."
"Papa akan bicara dengan mamanya Cakra, tante Marlena, agar dia mau menerima kamu," bujuk papanya tanpa peduli penolakannya.
Fiola menggelengkan kepalanya.
"Aku mau papa bicara dengan orang tua Jetro. Aku ngga apa apa jadi istri kedua Jetro."
Anggareksa tertegun. Lidah dan mulutnya terasa kaku setelah mendengarkan ucapan putr sulungnya tadi.
"Papa mau, kan?" tanya Fiola penuh harap dan ngga sabar karena papanya belum memberikan tanggapan apa apa.
Anggareksa menarik nafas dalam dalam.
"Papa tidak bisa melakukannya."
Fiola mendelik mangkel.
"Kenapa, Pa?"
"Kamu terlalu berharga untuk itu."
Fiola mendengus meremehkan ketika mendengarkan ucapan papanya.
"Aku bahagianya hanya sama Jetro, Pa. Lagi pula hanya sementara saja, kok, jadi istri kedua Jetro."
Anggareksa terbelalak.
"Jangan ganggu rumah tangga adikmu," sentak Anggareksa yang bisa menebak apa yang akan dilakukan putrinya.
"Dia yang duluan nyari gara gara," balas Fiola berani.
Anggareksa menghembuskan nafas dengan kasar.
"Papa mohon padamu, Fiola. Jangan seperti ini."
"Papa tidak pernah adil. Selalu memihak Febi."
"Kalian berdua kesayangan papa."
Fiola mendengus dan bangkit dari duduknya.
"Fio, kamu mau kemana?" Anggareksa ikutan berdiri.
"Kalo papa ngga mau melakukannya, anggap saja anak papa hanya Febi saja."
Fiola bahkan menepis tangan papanya yang akan menahannya pergi.
Anggareksa menghela nafas panjang.
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,