"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."
Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.
Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : TUMBUH BERSAMA DALAM KESEDERHANAAN
Pertemuan itu menjadi titik yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Duduk berhadapan langsung dengan Nisa membuat segalanya terasa lebih nyata. Jika sebelumnya aku hanya mengenalnya dari tulisan-tulisan dan foto di layar ponsel, kini aku bisa melihat bagaimana sorot matanya ketika berbicara tentang sesuatu yang ia cintai. Lesung pipitnya muncul setiap kali ia tersenyum, dan senyum itu bukan sekadar indah, tetapi juga menenangkan.
Kami memilih duduk di sebuah kedai kopi sederhana yang tidak terlalu ramai. Aku sengaja memilih tempat yang nyaman untuk berbincang, bukan tempat yang terlalu mewah. Bagiku, kenyamanan jauh lebih penting daripada kesan berlebihan.
“Terima kasih sudah datang,” kataku membuka percakapan.
“Terima kasih juga sudah mengajak,” jawabnya lembut.
Awalnya suasana terasa sedikit canggung, wajar bagi dua orang yang sebelumnya hanya berkomunikasi lewat pesan. Namun tak butuh waktu lama, obrolan kami kembali mengalir seperti biasanya. Kami membicarakan kegiatan kampusnya, proyek di kantorku, bahkan hal-hal kecil seperti makanan favorit dan kebiasaan unik masing-masing.
Aku memperhatikan bagaimana ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh ketika aku bercerita. Tidak memotong, tidak sibuk dengan ponselnya. Ia benar-benar hadir. Itu membuatku merasa dihargai.
“Aku salut dengan caramu merawat motor itu,” katanya tiba-tiba.
Aku tersenyum kecil. “Motor itu mungkin biasa saja bagi orang lain, tapi bagiku itu hasil perjuangan.”
“Justru itu yang membuatnya istimewa,” balasnya.
Kalimat sederhana itu kembali membuatku berpikir. Nisa bukan tipe orang yang menilai dari luar. Ia melihat usaha, proses, dan konsistensi. Nilai-nilai yang selama ini kupegang ternyata juga ia hargai.
Waktu terasa berjalan cepat. Tak terasa hampir dua jam kami berbincang. Sebelum pulang, kami sepakat untuk tetap saling berkomunikasi dan sesekali bertemu jika ada waktu. Tidak ada janji berlebihan, tidak ada kata-kata manis yang dibuat-buat. Semuanya terasa natural.
Dalam perjalanan pulang, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan hanya rasa senang karena pertemuan berjalan baik, tetapi juga rasa tanggung jawab yang mulai tumbuh. Jika aku ingin mengenalnya lebih jauh, aku harus menjadi versi terbaik dari diriku sendiri.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, namun dengan warna baru. Aku semakin bersemangat bekerja. Aku ingin karierku berkembang, bukan semata untuk diriku, tetapi juga agar suatu hari nanti aku siap memikul tanggung jawab lebih besar.
Di kantor, suasana tetap hangat. Kami mengerjakan proyek baru yang cukup menantang. Atasanku mempercayaiku untuk memimpin tim kecil. Awalnya aku ragu, tapi dukungan rekan-rekan membuatku yakin.
“Tenang saja, kita kerjakan sama-sama,” kata salah satu senior padaku.
Di kantor kami memang tidak ada perbedaan yang mencolok antara senior dan junior. Semua saling membantu. Tidak ada yang menjilat demi naik jabatan. Prestasi diukur dari kerja nyata, bukan dari kedekatan pribadi.
Aku belajar banyak tentang kepemimpinan dari situ. Bahwa memimpin bukan soal memberi perintah, tetapi tentang memberi contoh. Aku berusaha datang tepat waktu, menyelesaikan tugas dengan disiplin, dan tetap rendah hati.
Di sela-sela kesibukan itu, Nisa tetap menjadi bagian dari hariku. Kadang kami saling mengirim pesan singkat di pagi hari. Kadang berbagi cerita di malam hari. Ia pernah mengirimkan foto kegiatannya mengajar anak-anak di sebuah desa binaan kampusnya. Melihatnya tersenyum bersama anak-anak itu membuatku semakin kagum.
“Aku ingin mereka punya mimpi besar,” tulisnya.
Aku membaca pesan itu berulang kali. Ada ketulusan di sana. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri, apa mimpiku? Apakah aku sudah cukup berani bermimpi besar?
Suatu malam, setelah menikmati bakwan buatan kakak dan teh manis dari mama, aku duduk lebih lama di ruang tengah. Mama memperhatikanku.
“Kamu terlihat banyak berpikir,” katanya.
Aku tersenyum. “Cuma memikirkan masa depan, Ma.”
Mama mengangguk pelan. “Kalau ingin masa depan yang baik, kamu harus menyiapkannya dari sekarang. Kerja yang baik, jaga sikap, dan pilih pasangan yang bisa mendukung.”
Aku terdiam sejenak. Kata “pasangan” membuat wajahku sedikit memanas. Mama tersenyum seolah tahu sesuatu, meski aku belum bercerita tentang Nisa secara detail.
Beberapa minggu berlalu. Hubunganku dengan Nisa semakin dekat. Kami mulai berbagi cerita tentang keluarga masing-masing. Ia bercerita tentang orang tuanya yang selalu mendukungnya aktif di organisasi. Aku pun menceritakan tentang mama yang selalu menyiapkan teh manis setiap sore, tentang kakak yang gemar memasak, dan tentang kebiasaanku membawa cemilan setiap pulang kerja.
“Aku suka kebiasaan itu,” tulisnya suatu malam. “Kedengarannya hangat sekali.”
Hangat. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan hidupku.
Suatu hari, kantor kami mengadakan kegiatan sosial ke panti asuhan. Aku terlibat sebagai salah satu panitia. Tanpa ragu, aku mengajak Nisa untuk ikut jika berkenan.
Ia menyambut ajakanku dengan antusias.
Hari kegiatan itu menjadi salah satu momen yang tak akan kulupakan. Melihat Nisa berinteraksi dengan anak-anak, membimbing mereka belajar, dan bercanda dengan penuh kesabaran membuat hatiku semakin mantap.
Di sela kegiatan, aku berkata pelan, “Aku senang kamu ada di sini.”
Ia tersenyum. “Aku juga senang bisa ikut.”
Momen itu sederhana, tapi penuh makna.
Seiring waktu, aku mulai memikirkan langkah yang lebih serius. Aku tidak ingin hubungan ini hanya sebatas obrolan santai. Aku ingin mengenalnya dalam konteks yang lebih jelas, lebih terarah.
Namun aku sadar, untuk melangkah lebih jauh, aku harus memastikan diriku siap. Dari sisi finansial, karier, dan mental. Aku mulai menyusun rencana. Menabung lebih disiplin. Meningkatkan keterampilan di kantor. Bahkan mempertimbangkan mengambil kursus tambahan untuk mendukung pengembangan diri.
Motor bekasku tetap setia menemaniku. Setiap kali mengendarainya, aku teringat bagaimana semua ini dimulai dari keberanian kecil menekan tombol kirim di Instagram.
Suatu malam, setelah berbincang cukup lama, aku berkata pada Nisa, “Aku ingin mengenalmu dengan lebih serius. Bukan hanya sebagai teman diskusi. Tapi sebagai seseorang yang ingin berjalan bersama ke depan.”
Beberapa menit tak ada balasan. Jantungku kembali berdebar seperti pertama kali mengirim pesan.
Lalu muncul notifikasi.
“Aku menghargai keberanianmu mengatakan itu,” tulisnya. “Aku juga merasa nyaman sejauh ini. Tapi mari kita jalani perlahan dan saling mengenal lebih dalam.”
Aku tersenyum lega. Jawabannya dewasa dan penuh pertimbangan. Tidak terburu-buru, namun tidak menutup pintu.
Hari-hari setelah itu terasa lebih bermakna. Aku tidak lagi sekadar menjalani rutinitas, tetapi membangun masa depan sedikit demi sedikit. Di kantor, aku semakin dipercaya. Di rumah, aku semakin dekat dengan keluarga. Dan di hatiku, ada seseorang yang sedang tumbuh perlahan.
Aku belajar bahwa cinta bukan tentang euforia sesaat. Ia tentang konsistensi—seperti merawat motor agar tetap prima. Ia tentang tanggung jawab—seperti memimpin tim di kantor. Ia tentang kehangatan—seperti teh manis buatan mama dan bakwan goreng kakak.
Perjalanan ini masih panjang. Mungkin akan ada tantangan, perbedaan pendapat, atau jarak yang menguji. Tapi aku tidak lagi takut. Karena aku tahu, selama aku menjaga niat, berusaha menjadi lebih baik, dan tidak melupakan nilai-nilai yang kupegang, maka apa pun hasilnya nanti akan menjadi bagian dari proses pendewasaan.
Suatu sore, saat matahari mulai tenggelam dan aku memarkirkan motor di dalam rumah seperti biasa, aku tersenyum pada diriku sendiri. Hidupku tetap sederhana. Namun kini, di balik kesederhanaan itu, ada mimpi yang mulai terbentuk lebih jelas.
Dan semua itu berawal dari satu pesan sederhana: salam kenal.