Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02
Malam harinya.
Setelah makan malam usai, Kevin memutuskan untuk berjalan-jalan di taman mansion, sementara Ashley langsung kembali ke kamarnya. Kevin melangkah ke arah danau. Di sana, ia melihat sosok pria yang sedang merokok sembari duduk di kursi bawah pohon. Kevin pun menghampirinya.
"Hai."
"Oh, hai..."
Kevin duduk di sebelahnya, menatap permukaan danau yang berkilau diterpa cahaya bulan. "Um, kau Alex, kan?"
"Iya. Kau Kevin, ya?"
"Iya." Keheningan menyelimuti mereka sesaat sebelum Alex kembali bersuara.
"Kudengar dari Kay, kau juga menikah karena dipaksa, ya?"
"Huh? Oh, yah... bukan dipaksa, sih. Awalnya aku memang menikah demi keluargaku, tapi sebenarnya kehidupanku setelahnya tidak buruk."
"Hm, apa Ashley memperlakukanmu dengan baik?"
"Kami bahkan jarang bicara. Tapi dia tidak merasa terganggu dengan kehadiranku di mansion-nya. Dia membiarkanku melakukan apa pun."
"Di mansion? Damn, kau beruntung. Di sana pasti banyak pelayan, kan?"
"Iya. Bukannya kau dan Kayra juga tinggal di mansion? Kudengar anak-anak Giovano memiliki mansion sendiri."
"Tidak. Mansion Kayra ada di pinggiran ibu kota. Karena dia sibuk mengurus bisnis kosmetiknya, kami tinggal di griya tawang miliknya di pusat kota."
"Oh, aku penasaran bagaimana rasanya tinggal di griya tawang. Pasti seluruh kota terlihat jelas, ya?"
"Yah... begitulah. Tapi di sana Kayra tidak mempekerjakan satu pun pelayan. Katanya, semua pelayan dipindahkan ke mansion setelah dia menikah denganku. Sekarang, akulah yang membersihkan seisi griya tawang sendiri. Aku mencuci, memasak... sudah seperti ibu rumah tangga. Dia bahkan akan marah tidak jelas jika makanannya asin atau tidak sesuai selera. Alih-alih suami, aku merasa seperti pelayan pribadinya saja."
"Kau hebat bisa bertahan. Sepertinya anak-anak perempuan keluarga Giovano memang bertemperamen buruk," Kevin mendesah pelan. "Ashley kalau marah selalu mengerutkan alis seperti ini," sambungnya sambil menirukan ekspresi istrinya.
Alex tertawa. "Oh, Kay juga begitu!"
"Apa kau menikah dengan Ashley karena keluargamu berutang?" tanya Alex kemudian.
"Kau juga?"
"Iya. Ayahku kena tipu investasi bodong. Bodohnya, dia juga mengajak teman-temannya. Begitu uangnya dibawa kabur, teman-temannya menyalahkan Ayah. Akhirnya dia berutang ke banyak rentenir untuk menutup kerugian mereka. Di saat yang sama, bisnisnya bangkrut sementara bunga pinjaman terus naik. Karena itulah dia 'menjualku' kepada Kayra. Kau sendiri?"
"Ayahku kecanduan judi," jawab Kevin singkat. Raut wajah Alex tampak terkejut.
"Hm, walau begitu, ternyata ayahku sedikit lebih baik."
"Yah... aku tidak bisa membantah itu."
Alex tertawa kecil lalu menawari Kevin sebatang rokok.
"Aku tidak merokok."
"Sudah berhenti?"
"Tidak, memang dari dulu tidak merokok."
"Wah, baguslah. Aku pernah berniat berhenti, tapi susah sekali."
Kevin kembali ke kamar setelah berbincang cukup lama dengan Alex. Ashley masih terjaga, bersandar di kepala tempat tidur sambil membaca buku.
"Hei, um... itu..." Kevin membuka suara dengan ragu.
"Hm? Ada apa?"
"Kapan kita kembali ke rumah?"
"Lusa. Kenapa?"
"Kalau begitu, apa besok aku boleh pergi ke kota?"
Ashley menurunkan bukunya. "Huh? Untuk apa?"
"Sebenarnya aku bertemu Alex di danau tadi. Dia mengajakku jalan-jalan di kota karena katanya besok film yang dia tunggu tayang di bioskop."
"Alex? Suami Kay?"
"Iya."
"Ya sudah, pergi saja. Aku akan memberi tahu Samuel untuk menyiapkan sopir dan pengawal."
"Tidak bisakah kami pergi tanpa pengawal?"
"Tidak bisa. Jika kau merasa risih, aku akan instruksikan mereka untuk mengikutimu dari jauh secara diam-diam."
Kevin mengangguk pasrah. "Baiklah..."
"Beri tahu aku jika kau butuh uang tambahan."
"Tidak, uangku masih sangat banyak." Kevin tidak berbohong. Jumlah uang yang masuk ke rekeningnya setiap bulan sangat besar. Awalnya ia mengira ada salah transfer, namun ternyata itu memang uang bulanan dari Ashley.
Keesokan paginya, setelah Kevin dan Alex pergi, Ashley dan Kay sedang bersantai di ruang tamu setelah mengunjungi ayah mereka. Kay membaca majalah mode sembari sesekali mengunyah keripik kentang.
"Hei, apa Ayah meminta cucu padamu?" tanya Kay tanpa mengalihkan pandangan dari majalah.
"Hm. Kau juga?" jawab Ashley malas sembari terus mengganti siaran TV.
"Iya. Dia mengoceh kalau energinya akan kembali pulih setelah melihat bayi."
"Logika macam apa itu? Itu jelas hanya racauan orang tua, abaikan saja."
"Tapi, bagaimana kau bisa mengontrol suamimu sampai dia sangat penurut? Metode penyiksaan apa yang kau gunakan?" Kay akhirnya menatap kakaknya.
"Aku bukan iblis. Aku juga tidak menyiksanya. Pada dasarnya dia memang pria pendiam; dia tidak pernah mengeluh selama aktivitasnya tidak diganggu."
"Begitu? Iri sekali. Ayah memilihkanmu suami yang bagus, sementara aku diberi pria pemalas seperti Alex. Kau tahu, tidak ada pekerjaannya yang benar, bahkan untuk tugas mudah seperti memasak," keluh Kay sembari menghela napas panjang.
"Kalau begitu, kenapa kau memindahkan semua pelayan ke mansion?"
"Tentu saja agar Alex bisa berguna. Dia tidak bisa tinggal bersamaku secara gratis, apalagi aku sudah mengeluarkan lebih dari 100 juta dolar untuk melunasi utang ayahnya."
"Yah, kau tidak salah. Sudah berapa lama kau menikah dengannya?"
"Enam bulan. Aku mengadakan upacara di gereja dan sengaja tidak mengundang siapa pun. Tapi orang tua Alex malah marah-marah dan menyebutku pelit."
"Lalu, kau apakan mertuamu?"
"Aku membiarkannya saja, karena setelah itu Ayah datang tanpa diduga."
"Cih. Dia bahkan tidak datang ke upacara pernikahanku."
"Bukannya saat itu Ayah sedang di Prancis?"
"Iya, tapi dia juga sedang di Kroasia saat hari pernikahanmu. Dia langsung naik pesawat pertama demi datang ke upacara kalian tanpa pulang ke mansion dulu."
Ashley mematikan TV karena merasa tidak ada acara yang menarik.
"Ngomong-ngomong, kemarin Danny ke sini, ya?" tanya Kay.
"Iya, dia sudah di sini saat aku tiba. Kau tidak melihatnya?"
"Tidak. Aku sengaja tetap di kamar agar tidak perlu bertemu dengannya ataupun wanita itu."
Sore harinya, Kevin dan Alex kembali dengan ekspresi ceria. Alex tampak sangat menikmati kebebasannya sesaat di dunia luar. Sementara itu, Ashley berada di ruang kerja ayahnya, membantu membereskan beberapa dokumen mendesak bersama Samuel.
"Nona Muda, seperti biasa, Anda sangat teliti," puji Samuel setelah selesai merapikan map-map di meja kerja.
"Begitulah. Ngomong-ngomong, apa kata dokter?"
"Dokter bilang keadaan Tuan Besar stabil, namun beliau masih terlalu lemah untuk banyak bergerak."
"Itu tugasmu untuk menghentikannya jika dia nekat."
"Tentu saja, saya tidak akan melepaskan pandangan dari Tuan Besar."
"Lalu, apa ada hal lain?"
"Ah... saya mendengar ini dari sekretaris. Beliau bilang para pemegang saham mulai bergerak untuk mengambil alih Giotech Corp."
Ashley menghentikan gerakannya. "Mereka... apa?"
"Ini masih belum pasti, Nona. Sekretaris hanya mendengarnya sekilas di salah satu ruang rapat."
"Begitu..." Ashley menghela napas panjang. "Akhirnya para orang tua itu mulai bergerak, ya."
"Sampai saat ini, Tuan Besar belum mengumumkan siapa pewaris takhta setelah Tuan Muda Danny mundur. Nona Muda, bagaimana jika Anda yang mengambil alih perusahaan?"
"Entahlah, aku harus mendiskusikannya dulu dengan Ayah. Lagipula masih ada Kay, jadi aku tidak bisa memutuskannya sendiri."
"Anda benar. Namun, menurut penglihatan saya, Nona Kay sepertinya hanya tertarik pada bisnis kosmetiknya."
"Mungkin saja. Tapi siapa tahu kalau sebenarnya Kay juga mengincar posisi Presiden Direktur selanjutnya."
"Kalau begitu, saya akan tetap bersikap netral sampai Tuan Besar membuat keputusan."