Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan
Body Tempering
Qi Gathering
Qi Foundation
Core Formation
Soul Realm 2 pengikut nya
Earth Realm
Sky Realm cici
Nirvana Realm arkan
Dao Initiate
Dao Master Dao arkan& cici
Sovereign
Divine
Universal (Kaisar Drak)
Eternal Ruin (Puncak Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual Penghancuran dan Singgasana Sang Dewi
Malam di Paviliun Barat bukan lagi sekadar kegelapan; malam itu adalah saksi bisu dari sebuah dosa dan kebangkitan. Angin pegunungan yang biasanya menderu pelan kini terhenti, seolah-olah alam semesta sedang menahan napas, menolak untuk bergerak sebelum badai yang sebenarnya pecah. Arkan berdiri terpaku di depan mulut sumur tua yang dikelilingi oleh puing-puing rantai emas yang baru saja ia hancurkan. Sisa-sisanya masih berpendar redup, mengeluarkan aroma logam terbakar yang menyengat.
Cici berdiri di sana, siluetnya diterangi oleh cahaya bulan yang pucat. Senyum manis yang biasanya menghiasi wajahnya kini lenyap, digantikan oleh ekspresi dingin yang hampir menyerupai baja. "Jangan menatapku seperti itu, Arkan. Dunia ini tidak pernah memberikan kekuatan kepada mereka yang hanya bisa bertanya."
Sebelum Arkan sempat membalas, gerakan Cici menjadi kabur. Gadis itu bergerak dengan kecepatan yang melampaui logika Arkan. Sebuah tangan lembut namun kuat mencengkeram rahangnya, memaksa mulutnya terbuka.
"Makan ini, atau matilah sebagai sampah!"
Slup.
Pil ungu gelap dengan guratan emas itu meluncur masuk ke kerongkongan Arkan. Rasanya bukan seperti menelan obat, melainkan seperti menelan sebongkah lava cair yang masih membara. Arkan tersedak, matanya melotot, dan tangannya secara insting mencengkeram lehernya sendiri.
"Ugh... Arghhh...!"
Detik pertama, perut Arkan terasa seperti disobek oleh ribuan belati tak kasat mata. Pil itu tidak sekadar mencair; ia meledak. Energi panas yang luar biasa menyebar ke seluruh organ dalamnya. Arkan jatuh berlutut, menghantam lantai batu hingga lututnya berdarah. Namun, rasa sakit di lututnya sama sekali tidak terasa dibandingkan dengan apa yang terjadi di dalam pembuluh darahnya.
"Ci... kau..." suara Arkan terputus oleh jeritan yang menyayat malam.
"Diam dan bertahanlah!" teriak Cici. "Pil itu sedang mencari semua kotoran di dalam tubuhmu. Jika kau tidak kuat, jantungmu akan meledak dalam sepuluh hitungan!"
Fase penghancuran dimulai. Kulit Arkan yang tadinya halus mulai pecah-pecah, mengeluarkan uap hitam pekat yang berbau busuk—limbah dari tahun-tahun ia hidup sebagai manusia fana tanpa kultivasi. Darah merembes keluar dari pori-porinya, mewarnai jubah jingganya menjadi merah gelap yang mengerikan. Tulang-tulangnya mulai mengeluarkan bunyi krak... krak... yang nyaring. Satu per satu, tulang rusuk dan persendiannya patah secara sengaja oleh energi pil, hanya untuk disambung kembali dalam hitungan milidetik dengan struktur yang lebih padat dan sekeras baja meteorit.
Arkan merasa otaknya mendidih. Di dalam kegelapan matanya yang terpejam, ia melihat aliran lima elemen—Merah, Biru, Kuning, Emas, dan Hijau—saling mencabik di dalam Dantian-nya. Pusaran Black Hole miliknya mencoba menelan mereka semua, namun energi pil itu terus memaksanya untuk meledak.
"ARGHHHHH! IBU! AYAH!"
Jeritan Arkan memicu reaksi pada sumur tua di belakangnya. Aroma wangi bunga yang tadi tercium kini berubah menjadi tarikan gravitasi yang luar biasa. Tubuh Arkan yang berlumuran darah ditarik paksa, terseret di atas tanah, menuju lubang gelap yang menganga itu. Cici hanya berdiri diam, matanya berkaca-kaca namun ia tidak bergerak untuk menolong. Ia tahu, ini adalah jembatan menuju keilahian atau liang lahat.
BYURRRRR!
Tubuh Arkan menghantam air di dasar sumur. Namun, rasa dinginnya bukan berasal dari air, melainkan dari energi murni yang membekukan jiwa.
Visi di Kedalaman Sumur: Dimensi Lima Penjuru
Arkan tidak tenggelam. Ia merasa dirinya jatuh menembus lapisan realitas. Ia terbangun di sebuah hamparan luas yang tak berujung, di mana langitnya adalah pusaran galaksi lima warna dan lantainya adalah air setinggi mata kaki yang jernih seperti kristal.
Di tengah-tengah hamparan itu, berdirilah seekor makhluk yang kemegahannya melampaui segala imajinasi manusia. Qi Lin. Tubuhnya sebesar bukit kecil, ditutupi oleh sisik permata yang berkilauan. Setiap napas yang dikeluarkannya menciptakan percikan listrik ungu di udara. Dan di atas punggung makhluk itu, duduk seorang wanita yang kecantikannya terasa begitu suci sekaligus mematikan.
Dialah Dewi Qi Lin, sang penguasa elemen purba.
"Ribuan tahun aku menunggu di dalam kehampaan ini," suara wanita itu tidak terdengar oleh telinga, melainkan bergaung di setiap sel tubuh Arkan. "Banyak yang datang membawa bakat langit, tapi mereka semua hancur karena kesombongan. Kau... kau datang membawa dendam dan kekosongan. Kenapa aku harus memberimu kekuatanku?"
Arkan berdiri dengan susah payah. Meski ini hanya jiwanya, rasa sakit dari dunia nyata masih merambat di sini. Ia menatap Dewi itu dengan mata yang membara. "Aku tidak butuh bakat langit. Aku butuh keadilan. Jika dunia ini hanya mendengarkan kekuatan, maka biarkan aku menjadi kekuatan yang paling ditakuti!"
Dewi Qi Lin tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sanggup meruntuhkan gunung. "Keadilan adalah kata yang mahal bagi seorang semut. Mari kita lihat apakah kau sanggup membayar harganya."
Wanita itu mengangkat tangannya. Sebuah Bunga Teratai Berlian muncul, memancarkan aura yang begitu berat hingga Arkan merasa jiwanya akan hancur hanya dengan menatapnya. Inti bunga itu adalah kristal lima warna yang berputar dengan kecepatan cahaya.
"Ini adalah Inti Ilahi Lima Elemen. Telanlah, dan kau akan menjadi perpanjangan tanganku di dunia fana. Gagal, dan kau akan menjadi nutrisi bagi sumur ini selamanya."
Tanpa keraguan sedikit pun, Arkan melangkah maju. Ia meraih bunga itu. Saat tangannya menyentuh teratai tersebut, seluruh dimensi itu bergetar hebat. Arkan memasukkan inti kristal itu ke dalam mulutnya.
BOOM!
Informasi dan energi raksasa meledak di dalam kesadarannya. Arkan melihat sejarah terciptanya elemen, ia merasakan panasnya matahari pertama dan dinginnya es abadi. Tubuhnya di dunia nyata mulai melayang keluar dari sumur, diselimuti oleh kepompong cahaya emas yang membelah langit malam.
Kelahiran Kembali: Sang Penguasa Elemen
Di atas sumur, Cici jatuh terduduk. Tekanan udara di sekitarnya menjadi begitu berat hingga ia sulit bernapas. Pilar cahaya emas melesat ke atas, menembus awan dan membuat seluruh Sekte Awan Putih yang tertidur mendadak terbangun dalam ketakutan.
Dari dalam cahaya itu, Arkan muncul. Namun, dia bukan lagi remaja yatim piatu yang menyedihkan.
Rambutnya kini memanjang hingga ke pinggang, berubah menjadi warna perak dengan ujung-ujung berwarna ungu gelap. Di dahinya, muncul tanda samar berbentuk kepala Qi Lin. Matanya terbuka, memancarkan lima warna yang berputar secara sinkron. Setiap embusan napasnya mengeluarkan uap emas yang wangi.
Arkan mendarat dengan anggun. Kakinya yang tidak beralas menyentuh tanah, dan seketika, bunga-bunga liar bermekaran di sekitarnya, sementara pohon-pohon besar di kejauhan merunduk seolah memberikan penghormatan.
Ia mengepalkan tangan kanannya. KREK! Ruang di sekitar tinjunya tampak retak, sebuah pertanda bahwa kekuatan fisiknya kini sudah mampu merusak tatanan ruang.
"Kekuatan ini..." Arkan berbisik. Suaranya kini memiliki lapisan gema yang berwibawa. "Aku bisa mendengar detak jantung setiap murid di sekte ini. Aku bisa merasakan ketakutan Mahesa yang sedang bersembunyi di balik selimutnya..."
Cici bangkit dengan gemetar, wajahnya pucat pasi. "Arkan... kau... kau benar-benar melakukannya. Kau telah menyatu dengan Dewi Qi Lin."
Arkan menoleh pada Cici. Tatapannya tidak lagi mengandung kehangatan polos seperti dulu. Ada jarak yang lebar, sebuah jurang antara manusia dan dewa. "Cici, kau mempertaruhkan nyawaku malam ini. Tapi kau juga memberiku kunci untuk menghancurkan musuh-musuhku. Terima kasih."
Arkan melayangkan satu pukulan ringan ke udara di depannya.
BOOM!
Sebuah gelombang kejut berwarna emas melesat, menghantam sebuah bukit di kejauhan hingga bukit itu terbelah menjadi dua. Suara ledakannya menggelegar ke seluruh penjuru pegunungan, membuat para Penatua sekte keluar dari kediaman mereka dengan wajah pucat.
"Besok," ucap Arkan sambil menatap Puncak Utama yang megah. "Besok, Sekte Awan Putih akan tahu bahwa mereka tidak membuang sampah ke Paviliun Barat. Mereka baru saja membuang seekor naga, dan naga itu kini telah kembali untuk menuntut hutang darah."
Arkan berdiri di tengah kegelapan, namun ia sendiri adalah sumber cahaya. Di belakang punggungnya, samar-samar terlihat bayangan raksasa Qi Lin yang sedang mengaum ke arah langit, menantang para dewa.