NovelToon NovelToon
Dia Masih Tetap Anaku

Dia Masih Tetap Anaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.

Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."

Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?

Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.

Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 Budi lahir

 

Hari ke-830. Risma sekarang 2 tahun 8 bulan. Perut Dewi sudah sangat besar. Hamil 9 bulan. Dokter bilang kapan saja bisa lahir.

Aryo bangun pagi itu dengan perasaan campur aduk. Ada senang, ada deg-degan, ada takut. Senang karena sebentar lagi punya anak kedua. Deg-degan karena nunggu momennya. Takut... takut kejadian dua tahun lalu terulang. Waktu Risma lahir diam. Waktu Risma lahir tanpa suara.

Ia duduk di kursi bambu. Memandangi istri dan anak-anaknya yang masih tidur. Dewi miring ke kiri. Perutnya besar. Risma di sampingnya. Risma tidur dengan mulut sedikit terbuka. Tangannya di samping badan, kaku seperti biasa. Tapi dadanya naik turun. Bernapas. Hidup.

Aryo tersenyum.

Ingat dua tahun lalu. Risma lahir diam. Tubuh mungil itu nyaris tak bergerak. Dokter bilang asfiksia. Cerebral palsy. Perjuangan seumur hidup.

Sekarang? Risma 2 tahun 8 bulan. Masih belum bisa apa-apa. Tak bisa tengkurap. Tak bisa duduk. Tak bisa merangkak. Hanya matanya yang hidup. Hitam, bulat, dan selalu mengikuti ke mana pun Aryo pergi.

Tapi itu cukup. Lebih dari cukup.

"Mas, udah bangun?"

Dewi buka mata. Suaranya masih serak kantuk. Tapi senyumnya langsung merekah begitu lihat Aryo.

"Iya, Ri. Nggak bisa tidur."

"Kenapa?"

Aryo pindah duduk ke pinggir dipan. Pegang tangan Dewi. Tangannya hangat. Bengkak karena hamil.

"Deg-degan, Ri. Nunggu anak kita lahir."

Dewi tersenyum. "Iya, Mas. Aku juga."

Risma di samping, matanya terbuka. Ia lihat Aryo. Lalu lihat Dewi. Lalu matanya... matanya ke perut Dewi. Lama.

Aryo lihat itu. "Nak, kamu lihat adik? Sebentar lagi adikmu lahir."

Risma diam. Tak bisa jawab. Tapi matanya... matanya seperti bertanya. Seperti ingin tahu.

 

Pagi itu, mereka sarapan bersama. Mbah Kar masak bubur. Wangi.

"Ayo makan. Biar kuat," kata Mbah Kar.

Mereka makan berempat. Risma di kursi khususnya. Disuapi Dewi.

"Risma, buka mulut," rayu Dewi.

Risma buka mulut. Sedikit. Makanan masuk. Tertelan. Pelan. Tapi mau.

Mbah Kar lihat. "Dia maju, Bu. Dulu susah banget. Sekarang mau."

Dewi mengangguk. "Iya, Mbah. Alhamdulillah."

Aryo tambah, "Perlahan. Tapi ada."

Mereka sarapan. Hangat. Penuh syukur.

 

Pagi itu, Aryo tetap ke pasar. Mandor Badrun sudah nunggu.

"Pak Aryo, istri mau lahiran ya? Istirahat aja."

Aryo geleng. "Nggak apa-apa, Pak. Daripada di rumah deg-degan."

Badrun tertawa. "Ya udah. Tapi kalau ada kabar, langsung pulang."

"Iya, Pak."

Aryo angkat karung. Satu, dua, tiga. Tapi pikirannya ke mana-mana. Ke Dewi. Ke Risma. Ke bayi yang akan lahir.

Slamet, teman kerjanya, lihat.

"Pak Aryo, pikiran ke istri?"

Aryo mengangguk. "Iya, Pak. Deg-degan."

Slamet pegang pundaknya. "Sabar. Doain. Anak itu rezeki."

"Iya, Pak."

 

Siang itu, Aryo dapat kabar. Dari Mbah Kar lewat telepon warung.

"Mas, Dewi sakit. Mules-mules. Cepet pulang!"

Aryo panik. Lapor Badrun. Langsung pulang.

Sampai di rumah, Dewi sudah duduk di kursi. Wajahnya pucat. Keringat dingin.

"Ri, gimana?"

"Mas... kayaknya... udah..."

Aryo bingung. "Mbah! Mbah! Siapkan kendaraan!"

Mbah Kar sudah siap. "Pak Jono, tetangga, udah siapkan mobil."

Aryo bantu Dewi bangun. Risma di kursi, matanya ke Dewi. Matanya... matanya panik.

"Risma, Nak... Ibu mau lahiran. Bapak anter dulu ya. Mbah Kar jagain."

Risma tak bergerak. Tak bisa. Tapi matanya basah. Tangannya bergetar. Gerakan tak terkontrol.

Dewi lihat itu. "Risma... Nak... Ibu balik... jagain Ibu ya dari sini..."

Risma diam. Tapi matanya terus ke Dewi. Sampai Dewi keluar pintu.

 

Di rumah sakit, Aryo nunggu di luar. Gelisah. Jalan mondar-mandir.

Ingat dua tahun lalu. Lorong rumah sakit yang sama. Lampu neon mendengung. Ia duduk di lantai, nunggu kabar Dewi yang sekarat. Nunggu kabar Risma yang lahir diam.

Sekarang? Dewi di dalam. Mau lahiran. Aryo takut. Bukan takut Dewi kenapa-kenapa. Tapi takut kejadian dua tahun lalu terulang.

"Ya Allah... tolong... jangan apa-apain mereka..."

Jam 2 siang. Jam 3. Jam 4 sore.

Pintu terbuka.

Dokter keluar. Wajahnya capek. Tapi tersenyum.

"Pak, selamat. Ibu selamat. Bayi laki-laki. Sehat. Normal. Menangis keras."

Aryo jatuh berlutut. Lututnya gemetar. Tangannya menutup muka. Nangis.

"Alhamdulillah... alhamdulillah..."

Ia masuk ruang bersalin. Dewi terbaring. Capek. Tapi tersenyum.

Di sampingnya, bayi mungil. Merah. Dibungkus kain. Menangis keras.

"Ini anak kita, Mas."

Aryo pegang tangan Dewi. Cium keningnya. Kening basah. Tapi hangat.

"Makasih, Ri... makasih..."

Bayi itu terus nangis. Kencang. Kuat.

Aryo ingat Risma. Risma lahir diam. Hanya suara "wow" pendek. Adiknya menangis keras.

Ia pandangi bayi itu. Air matanya jatuh.

"Kau sehat ya, Nak? Kau nangis keras."

Dokter tersenyum. "Bayinya sehat, Pak. Semua normal."

Aryo cium kening bayi itu. "Budi. Namamu Budi."

 

Malam harinya, Aryo pulang sebentar. Jemput Risma.

Di rumah, Risma di gendongan Mbah Kar. Matanya sembab. Capek nangis.

"Risma, Nak... Bapak jemput. Ayo lihat adik."

Risma lihat Aryo. Matanya berkaca. Tangannya meraih. Ingin digendong.

Aryo gendong. Risma peluk lehernya. Erat. Seperti takut ditinggal lagi.

"Udah, Nak... Bapak di sini. Nggak pergi lagi. Bapak jemput kamu."

Mereka ke rumah sakit. Risma lihat Dewi. Matanya... matanya senang. Tangannya meronta. Ingin ke ibunya.

Dewi terima Risma. Letakkan di sampingnya.

"Nak, Ibu kangen."

Risma diam. Tapi tangannya meraih wajah Dewi. Menyentuh pipinya. Lembut.

"Nak, lihat... ini adikmu."

Aryo gendong Budi. Dekatkan ke Risma.

"Ini Budi. Adikmu."

Risma menatap bayi itu. Lama. Matanya bergerak. Dari kepala sampai kaki. Dari tangan mungil sampai jari-jari kecil.

Lalu... tangannya bergerak tak terkontrol. Ingin meraih.

Aryo bantu. Tangan Risma di pipi Budi. Lembut.

Budi bergerak. Sedikit. Seperti merespons.

Risma... tersenyum.

Senyum lebar. Senyum yang paling lebar yang pernah Aryo lihat.

Dewi nangis. "Mas... Mas... lihat..."

Aryo nangis. Mbah Kar yang ikut nangis.

"Risma... Nak... kamu sayang adik ya?"

Risma tak jawab. Tak bisa. Tapi senyumnya... senyumnya bicara.

 

Pulang, mereka berempat. Aryo, Dewi, Risma, Budi.

Naik angkutan desa. Berdesakan. Tapi bahagia.

Sepanjang jalan, Risma lihat Budi terus. Matanya nggak lepas. Sesekali tangannya meraih. Ingin pegang lagi.

"Nak, Budi tidur. Nanti aja mainnya."

Risma diam. Tapi matanya tetap ke Budi.

Sampai di rumah, Mbah Kar siapkan kamar. Sederhana. Tapi bersih.

"Untuk cucu baru saya," kata Mbah Kar.

Aryo peluk Mbah Kar. "Mbah... makasih... makasih udah jadi keluarga buat kami."

Mbah Kar terharu. "Mas, saya yang makasih. Hidup saya sepi. Sekarang ramai. Ada Risma, Budi, Dewi, kamu. Ini berkah."

Mereka berpelukan. Keluarga kecil yang utuh.

 

Malam harinya, Aryo duduk di samping Risma. Risma di kursinya. Matanya ke Budi yang tidur di samping Dewi.

"Risma, Nak... kamu lihat adikmu? Dia kecil. Mungil. Nanti kalau udah gede, kamu jadi kakak ya."

Risma diam. Tapi matanya... matanya ke Aryo.

"Nak, Bapak tahu kamu nggak bisa apa-apa. Tapi kamu punya hati yang besar. Kamu bisa lihat, bisa dengar, bisa rasakan. Kamu bisa sayang. Itu sudah lebih dari cukup."

Risma diam. Tapi sudut bibirnya terangkat. Sedikit. Senyum tipis.

Aryo pegang tangannya. "Makasih, Nak. Makasih udah jadi anak Bapak."

 

Malam makin larut. Aryo masuk kamar.

Dewi sudah tidur. Budi di sampingnya. Risma di sisi lain. Semua tidur. Nyenyak.

Aryo duduk di lantai. Pandangi mereka bertiga.

Risma, anak pertama. Lahir dengan perjuangan berat. Cerebral palsy. Tak bisa apa-apa. Tapi ia ada. Bernapas. Melihat. Merasakan. Dan ia tersenyum.

Budi, anak kedua. Lahir normal. Sehat. Menangis keras. Harapan baru.

Dewi, istrinya. Yang setia. Yang tak pernah menyerah.

"Nak, Bapak janji. Bapak akan jagain kalian. Sampai kapan pun."

Air matanya jatuh. Tapi bukan sedih. Tapi syukur.

Ia ingat perjalanan dua tahun lebih ini. Dari rumah bambu yang bocor. Dari UGD yang dingin. Dari utang yang mencekik. Dari pelarian di malam gelap. Dari kecelakaan dan koma. Dari semua air mata.

Dan sekarang? Ia di sini. Di rumah sederhana. Dengan keluarga yang utuh.

Ia pandangi Budi.

"Nak, kamu lahir di saat yang tepat. Utang udah lunas. Hidup mulai tenang. Kamu akan tumbuh dengan cinta. Dengan kakak yang sayang kamu."

Ia pandangi Risma.

"Nak, kamu adalah guru buat Bapak. Kamu ngajarin Bapak arti sabar. Arti perjuangan. Arti cinta yang nggak butuh kata-kata."

Ia pandangi Dewi.

"Ri... makasih... makasih udah mau sama aku. Makasih udah kuat. Makasih udah kasih aku dua anak yang luar biasa."

Malam tenang. Suara jangkrik dari luar. Angin sepoi.

Aryo tidur di lantai. Beralas tikar. Tapi hangat.

Karena ia tahu, besok pagi, ia akan bangun dengan keluarga yang utuh.

Risma, Budi, Dewi.

Hartanya yang paling berharga.

 

[BERSAMBUNG KE BAB 16]

--

1
Ibu Watik
bukanya di cerita sebelumnya aryo pernah beli tanah pernah bangun rumah, lha kemana rumah itu
Nurgusnawati Nunung
Ya Allah yang Maha Kuasa... semangat thor
Nurgusnawati Nunung
mewek lagi.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
keluarga yang kuat.. semangat.
Nur Syamsiah
certNy bagus menyentuh
Nurgusnawati Nunung
semangat thor...
Ayaelsa: Terima kasih dukungannya😄
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
cerita di dunia nyata itu sangat mengerikan jika ada orang seperti Joko
Nurgusnawati Nunung
orang jahat banyak akal iblis
Nurgusnawati Nunung
Ada ada saja orang gila harta orang lain.,
Nurgusnawati Nunung
Mbah Kar sudah tiada.. semoga ada lagi orang baik sepertinya. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
berjuang lah Risma untuk orang tuamu yang tak henti berjuang untukmu.. sedih baca cerita ini. semangat thor
Ayaelsa: terimakasih sudah Sudi membaca
total 1 replies
Siti Dede
Semangaaaat👍
Nurgusnawati Nunung
kecil amat gaji sebulan
Nurgusnawati Nunung
kasihan sekali hidup mereka.. semoga selalu diberi kemudahan
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah masih ada orang baik.
Nurgusnawati Nunung
Yaa Allah..
Ayaelsa: terima kasih sudah membaca kisah ini
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
sedih yaaa. alhamdulillah susternya pada baik. semangat
Nurgusnawati Nunung
Thor.. belum apa2 sudah lemas hatiku. sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!