NovelToon NovelToon
GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / CEO / Romantis / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:61.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.

Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.

Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.

"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"

Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Distraksi indah Sang CEO

Gedung pusat Ardiansyah Group berdiri angkuh di tengah kawasan bisnis Jakarta, sebuah menara kaca yang mencerminkan kekuasaan dan ketegasan. Di lantai paling atas, di dalam ruang rapat utama yang kedap suara, suasana terasa sangat formal dan dingin. Ares duduk di kepala meja panjang berbahan jati, dikelilingi oleh jajaran direksi dan pemegang saham yang sedang memaparkan laporan kuartal ketiga.

​Biasanya, Ares adalah orang yang paling fokus. Matanya akan menajam pada setiap angka yang dianggapnya janggal, dan suaranya akan memotong presentasi jika ada argumen yang tidak logis. Namun siang ini, pikirannya seolah memiliki sayap dan terbang kembali ke meja makan pagi tadi.

​Setiap kali Direktur Pemasaran berbicara tentang target pasar, ingatan Ares justru tertuju pada jemari Gia yang sengaja menyentuh tangannya saat mengoper selai. Ia bisa merasakan kembali sensasi hangat dan halus dari kulit Gia, sebuah godaan kecil yang ternyata efeknya jauh lebih destruktif bagi konsentrasinya daripada krisis ekonomi mana pun.

​Drrtt... drrtt...

​Ponsel Ares yang tergeletak di atas meja bergetar pelan. Ia melirik layar yang menyala. Sebuah pesan masuk dari istrinya.

​Ares mencoba tetap tenang, namun jemarinya tidak bisa menahan diri untuk membuka pesan itu. Begitu ia membaca kalimat...

“Semangat rapatnya, Mas. Jangan sampai terdistraksi ya” Sudut bibir Ares berkedut. Ia tidak bisa menahan senyum tipis yang perlahan merekah di wajahnya yang biasanya kaku seperti batu granit.

​Para direksi di ruangan itu saling pandang. Mereka tertegun melihat sang CEO, yang biasanya terlihat siap menghancurkan karier seseorang, kini sedang menatap layar ponsel sambil tersenyum-senyum sendiri.

​"Ehem... Tuan Ares? Apakah ada bagian dari laporan ini yang menurut Anda menarik?" Tanya salah satu pemegang saham senior dengan ragu.

​Ares tersentak, ia segera mendeham dan mematikan layar ponselnya, kembali memasang wajah dingin yang menjadi topengnya.

"Lanjutkan. Saya hanya melihat... ada perkembangan menarik di sektor lain" Jawab Ares ambigu.

​Sekretaris pribadinya, yang berdiri di belakang Ares, hanya bisa menahan napas. Ia tahu persis siapa yang baru saja mengirim pesan itu. Hanya Nyonya Gia yang bisa membuat singa Ardiansyah berubah menjadi kucing penurut dalam sekejap.

​Sementara itu, di mansion, sore hari terasa begitu damai. Gia memutuskan untuk menghabiskan waktunya di taman belakang, dekat kolam ikan koi yang dikelilingi pohon-pohon kamboja putih. Ia telah menyiapkan kanvasnya. Dengan pakaian rumah yang nyaman—salah satu kemeja kebesaran milik Ares yang sengaja ia pinjam karena aromanya yang menenangkan—Gia mulai menggoreskan warna.

​Ia tidak melukis pemandangan. Ia melukis sebuah abstrak tentang apa yang ia rasakan, perpaduan biru dongker yang dalam seperti mata Ares, dan sapuan warna emas yang terang seperti harapan baru yang diberikan suaminya.

​Setiap goresan kuasnya terasa seperti luapan emosi. Gia sesekali berhenti, menatap langit yang mulai berubah jingga, lalu tersenyum mengingat ancaman konsekuensi dari Ares. Ia merasa tidak sabar, namun juga berdebar. Ia sengaja tidak mandi sore terlalu awal, ia ingin Ares melihatnya dalam keadaaan berantakan karena cat, keadaan di mana ia merasa menjadi dirinya yang paling jujur.

​Pukul enam sore, suara raungan mesin mobil convertible perak milik Ares terdengar memasuki gerbang. Gia segera meletakkan paletnya, mengusap tangannya yang terkena noda cat biru ke sebuah kain lap, lalu berjalan menuju teras belakang yang terhubung dengan lobi utama.

​Ares melangkah masuk dengan jas yang sudah tersampir di lengannya dan dasi yang sudah dilonggarkan. Begitu matanya menangkap sosok Gia yang berdiri menunggunya dengan rambut sedikit acak-adakan dan noda cat di pipinya, langkah Ares terhenti.

​"Kamu menunggu Mas pulang?" tanya Ares, suaranya terdengar lebih dalam dan serak dari biasanya.

​Gia berjalan mendekat, berdiri tepat di hadapan Ares.

"Iya. Mas bilang ada konsekuensi yang harus Gia hadapi kalau berani menggoda Mas tadi pagi. Jadi, Gia berdiri di sini untuk menagihnya"

​Ares meletakkan jasnya di sofa terdekat, lalu maju selangkah hingga tubuhnya hampir bersentuhan dengan Gia. Ia mengangkat tangannya, menggunakan ibu jarinya untuk mengusap noda cat biru di pipi Gia.

​"Kamu nakal sekali hari ini, Gia" bisik Ares. Matanya menatap lekat ke bibir Gia, lalu turun ke arah kemeja miliknya yang dikenakan istrinya.

"Dan memakai kemeja Mas... itu benar-benar bukan cara yang baik kalau kamu ingin Mas melepaskanmu malam ini"

​Gia mendongak, matanya berkilat penuh keberanian yang baru.

"Lalu, apa Mas akan memberikan konsekuensinya sekarang?"

​Ares tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melingkarkan tangannya di pinggang Gia dan menariknya mendekat, menghilangkan semua jarak yang ada. Aroma parfum kantor Ares yang bercampur dengan aroma keringat tipis dan aroma cat di tubuh Gia menciptakan perpaduan yang memicu adrenalin.

​"Rapat tadi terasa seperti seribu tahun karena pesanmu" Ucap Ares di depan wajah Gia.

"Sekarang, Mas tidak akan membiarkan ada telepon atau gangguan apa pun lagi!"

​Ares merunduk, mengecup kening Gia lama, lalu turun ke hidungnya, dan berakhir tepat di depan bibir Gia. Keheningan sore itu di mansion Ardiansyah seolah menjadi saksi bahwa konsekuensi yang dijanjikan Ares bukanlah sebuah hukuman, melainkan sebuah bentuk kasih sayang yang akan membawa hubungan mereka ke tingkat yang jauh lebih dalam malam ini.

1
astr.id_est 🌻
cieee celembu 🤭😄😄😄
astr.id_est 🌻
romantis bgtt ares 🥰🥰🥰
Shee_👚
gpp di posesif suami sendiri, toh posesif juha kebutuhan dan ke ingin gia terpenuhi jadi nikmati aja di cintain sebegitu besarnya sama suami
Shee_👚
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Shee_👚
ada yang kebakaran tapi bukan karena api🤭
Shee_👚
aduh cilaka ini di pasangin sama satria, bisa-bisa ares berasap 🤣🤣🤣
Hanima
Lanjut Gia
Hanima
👍👍
Esther
Ares bener2 ya😄
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Gia semoga kamu selalu bahagia 🥰🥰
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tahu yang lembut?
Maharani Rani
lanjuttt😍
astr.id_est 🌻
sukaaaaaa
Nar Sih
tuh kan jdi pusat perhatian gia yg yg sdh ketahuan istri ceo ares ardiansyah pasti bnyk mahasiswa yg patah hti nih
Hanima
Lanjut Aress
Shee_👚
gpp lah di posesif selama itu untuk kebaikan, selama tidak mengekang pa pun ke bahagian gia.
merry yuliana
crazy up kak 💪🙏
Shee_👚
satria lngsung kicep dah liat ares, sabar ga satria belum jodoh🤣
Maharani Rani
lanjutt❤️❤️❤️❤️❤️
Nar Sih
punya suami yg baik perhatian nya yg kelwatan posesif tpi ngk mengekang bersyukur ya gia untung kmu dpt suami seprti ares
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!