NovelToon NovelToon
GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cintamanis / Tamat
Popularitas:554.5k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.

Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.

Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.

"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"

Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Distraksi indah Sang CEO

Gedung pusat Ardiansyah Group berdiri angkuh di tengah kawasan bisnis Jakarta, sebuah menara kaca yang mencerminkan kekuasaan dan ketegasan. Di lantai paling atas, di dalam ruang rapat utama yang kedap suara, suasana terasa sangat formal dan dingin. Ares duduk di kepala meja panjang berbahan jati, dikelilingi oleh jajaran direksi dan pemegang saham yang sedang memaparkan laporan kuartal ketiga.

​Biasanya, Ares adalah orang yang paling fokus. Matanya akan menajam pada setiap angka yang dianggapnya janggal, dan suaranya akan memotong presentasi jika ada argumen yang tidak logis. Namun siang ini, pikirannya seolah memiliki sayap dan terbang kembali ke meja makan pagi tadi.

​Setiap kali Direktur Pemasaran berbicara tentang target pasar, ingatan Ares justru tertuju pada jemari Gia yang sengaja menyentuh tangannya saat mengoper selai. Ia bisa merasakan kembali sensasi hangat dan halus dari kulit Gia, sebuah godaan kecil yang ternyata efeknya jauh lebih destruktif bagi konsentrasinya daripada krisis ekonomi mana pun.

​Drrtt... drrtt...

​Ponsel Ares yang tergeletak di atas meja bergetar pelan. Ia melirik layar yang menyala. Sebuah pesan masuk dari istrinya.

​Ares mencoba tetap tenang, namun jemarinya tidak bisa menahan diri untuk membuka pesan itu. Begitu ia membaca kalimat...

“Semangat rapatnya, Mas. Jangan sampai terdistraksi ya” Sudut bibir Ares berkedut. Ia tidak bisa menahan senyum tipis yang perlahan merekah di wajahnya yang biasanya kaku seperti batu granit.

​Para direksi di ruangan itu saling pandang. Mereka tertegun melihat sang CEO, yang biasanya terlihat siap menghancurkan karier seseorang, kini sedang menatap layar ponsel sambil tersenyum-senyum sendiri.

​"Ehem... Tuan Ares? Apakah ada bagian dari laporan ini yang menurut Anda menarik?" Tanya salah satu pemegang saham senior dengan ragu.

​Ares tersentak, ia segera mendeham dan mematikan layar ponselnya, kembali memasang wajah dingin yang menjadi topengnya.

"Lanjutkan. Saya hanya melihat... ada perkembangan menarik di sektor lain" Jawab Ares ambigu.

​Sekretaris pribadinya, yang berdiri di belakang Ares, hanya bisa menahan napas. Ia tahu persis siapa yang baru saja mengirim pesan itu. Hanya Nyonya Gia yang bisa membuat singa Ardiansyah berubah menjadi kucing penurut dalam sekejap.

​Sementara itu, di mansion, sore hari terasa begitu damai. Gia memutuskan untuk menghabiskan waktunya di taman belakang, dekat kolam ikan koi yang dikelilingi pohon-pohon kamboja putih. Ia telah menyiapkan kanvasnya. Dengan pakaian rumah yang nyaman—salah satu kemeja kebesaran milik Ares yang sengaja ia pinjam karena aromanya yang menenangkan—Gia mulai menggoreskan warna.

​Ia tidak melukis pemandangan. Ia melukis sebuah abstrak tentang apa yang ia rasakan, perpaduan biru dongker yang dalam seperti mata Ares, dan sapuan warna emas yang terang seperti harapan baru yang diberikan suaminya.

​Setiap goresan kuasnya terasa seperti luapan emosi. Gia sesekali berhenti, menatap langit yang mulai berubah jingga, lalu tersenyum mengingat ancaman konsekuensi dari Ares. Ia merasa tidak sabar, namun juga berdebar. Ia sengaja tidak mandi sore terlalu awal, ia ingin Ares melihatnya dalam keadaaan berantakan karena cat, keadaan di mana ia merasa menjadi dirinya yang paling jujur.

​Pukul enam sore, suara raungan mesin mobil convertible perak milik Ares terdengar memasuki gerbang. Gia segera meletakkan paletnya, mengusap tangannya yang terkena noda cat biru ke sebuah kain lap, lalu berjalan menuju teras belakang yang terhubung dengan lobi utama.

​Ares melangkah masuk dengan jas yang sudah tersampir di lengannya dan dasi yang sudah dilonggarkan. Begitu matanya menangkap sosok Gia yang berdiri menunggunya dengan rambut sedikit acak-adakan dan noda cat di pipinya, langkah Ares terhenti.

​"Kamu menunggu Mas pulang?" tanya Ares, suaranya terdengar lebih dalam dan serak dari biasanya.

​Gia berjalan mendekat, berdiri tepat di hadapan Ares.

"Iya. Mas bilang ada konsekuensi yang harus Gia hadapi kalau berani menggoda Mas tadi pagi. Jadi, Gia berdiri di sini untuk menagihnya"

​Ares meletakkan jasnya di sofa terdekat, lalu maju selangkah hingga tubuhnya hampir bersentuhan dengan Gia. Ia mengangkat tangannya, menggunakan ibu jarinya untuk mengusap noda cat biru di pipi Gia.

​"Kamu nakal sekali hari ini, Gia" bisik Ares. Matanya menatap lekat ke bibir Gia, lalu turun ke arah kemeja miliknya yang dikenakan istrinya.

"Dan memakai kemeja Mas... itu benar-benar bukan cara yang baik kalau kamu ingin Mas melepaskanmu malam ini"

​Gia mendongak, matanya berkilat penuh keberanian yang baru.

"Lalu, apa Mas akan memberikan konsekuensinya sekarang?"

​Ares tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melingkarkan tangannya di pinggang Gia dan menariknya mendekat, menghilangkan semua jarak yang ada. Aroma parfum kantor Ares yang bercampur dengan aroma keringat tipis dan aroma cat di tubuh Gia menciptakan perpaduan yang memicu adrenalin.

​"Rapat tadi terasa seperti seribu tahun karena pesanmu" Ucap Ares di depan wajah Gia.

"Sekarang, Mas tidak akan membiarkan ada telepon atau gangguan apa pun lagi!"

​Ares merunduk, mengecup kening Gia lama, lalu turun ke hidungnya, dan berakhir tepat di depan bibir Gia. Keheningan sore itu di mansion Ardiansyah seolah menjadi saksi bahwa konsekuensi yang dijanjikan Ares bukanlah sebuah hukuman, melainkan sebuah bentuk kasih sayang yang akan membawa hubungan mereka ke tingkat yang jauh lebih dalam malam ini.

1
Violet
Disuruh minta apapun, hal yg Gia hrus lakukan adl meneruskan pendidikan kalo perlu extra panggil guru les bahasa asing, les coding, bljar sdkit bela diri atau kursus apapun biar ga di bodoh2in oleh org2 culas & siap memantaskan diri sbg pendamping suaminya!
Praised26
Pertama kuliah kok langsung suruh gambar? bukannya awal kuliah belajar Mata Kuliah Dasar Umum dulu satu semester dan baru di semester 3 dst baru belajar sesuai jurusannya, itu kalau kuliah di negeri Konoha ya tak tahu kalau kuliah di paman USA mungkin langsung suruh gambar
Praised26: bahkan sebelum menggambar juga akan diajarkan beberapa teori pendukung nya dan baru ke praktek nya, masa iya langsung praktek tanpa belajar teori dulu
total 2 replies
Qaisaa Nazarudin
Tadi aja baru berminggu-minggu, Sekarang udah berbulan aja, Masih belum dapat menemukan jejak Gia..good Job Gia..
Qaisaa Nazarudin
Keliatan kan disini dengan Ares gak bisa menemukan Gia,Itu berarti Ares gak punya kuasa yg tinggi, Pasti ada seseorang yang melindungi kepergian Gia,Dan orang itu lebih berkuasa dari Ares..
Qaisaa Nazarudin
Bagus Gia tdk datang kesini,Mungkin dia tau kalo dia kesini,Ares dengan mudah menemukannya..👏👏👍👍
Qaisaa Nazarudin
Hilman Hilman..Selama ini kau bertahan juga karena HARTA Sarah, Sudah Bangkrut baru mau bersikap TEGAS..Dasar PENGECUT dan LICIK, Sekarang dia milih anaknya yg KAYA MENANTU KELUARGA ARDIANSYAH,Walau harus menurunkan harga dirinya didepan keluarga Ardiansyah, Yang bisa nyicipin harta Ares lewat Anak yg tdk dia Anggap..benaran LICIK Hilman gak punya urat malu, Dan Gia dgn senang hati MEMAAFKAN..ckkk
Qaisaa Nazarudin
Aelah harta alanyay,Udah bangkrut juga,Gak sadar kah..
Qaisaa Nazarudin: Harta apanya,Udah bangkrut juga
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Potong aja burung mu pake rok leboh COCOK buat kamu Hilman..
Qaisaa Nazarudin
Kata2 yang TIDAK BISA BERBUAT APA-APA bikin aku muak..
Qaisaa Nazarudin
Hah hiduplah kamu dengan PENYESALAN Ares..
Qaisaa Nazarudin
Mantap mampos kau Ares..
Qaisaa Nazarudin
Tapi cara kamu itu SALAH,Gia punya Trauma dengan masa lalunya sebagai anak haram anak yg tdk diinginkan, Sekarang kamu juga seakan tidak menginginkan nya lagi, makanya dia kabur,ngapain juga bertahan dengan orang yang sudah tidak PERCAYA kita lagi..
Qaisaa Nazarudin
Ngapain mikirin Gia,Urus aja Ego dan Cemburu mu itu..
Qaisaa Nazarudin
Lumayan
Qaisaa Nazarudin
Kenapa baru nyadar sekarang,Udaj terlambat, Katanya CEO tp BODOH percaya gitu aja dgn orang yg tdk dikenal,udah jelas2 itu ulah nya Siska..🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Dia mendapat kan secara Instant, sekarang biarkan dia berjuang untuk mendapatkan kamu Gia,Bukannya gak terimakasih dengan pengorbanan Mertua dan Ares selama ini, Tapi kamu juga punya harga diri..
Qaisaa Nazarudin
Aku dukung kamu, pergi aja Gia,biar dia NYESEL..sama2 berpikir ulang utk hubungan KALIAN..
Qaisaa Nazarudin
udah tuir juga,Tapi Lebay..
Qaisaa Nazarudin
Keterlaluan,Mana bisa kayak gitu Aneh, CINTA sudah berubah jadi OBSESI..
Qaisaa Nazarudin
Orang BUCIN kalau CEMBURU menyeramkan..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!