NovelToon NovelToon
Pengantin Genderuwo

Pengantin Genderuwo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Dunia Lain / Suami Hantu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siasat Broto

​Setelah kepergian Pak Jono dan rombongan rentenirnya, kepanikan di rumah itu sempat memuncak sebelum akhirnya berubah menjadi sebuah rencana yang dingin dan terhitung. Broto dan Sumi duduk berhadapan di ruang tengah yang remang-remang. Harapan mereka untuk hidup normal sudah pupus, digantikan oleh naluri bertahan hidup yang paling rendah. Mereka tidak lagi berpikir tentang moral; yang ada di kepala mereka hanyalah bagaimana caranya agar uang enam puluh juta itu ada besok siang, dan bagaimana caranya agar mereka bisa terus hidup mewah tanpa harus bekerja keras.

​"Ayo, Pak. Jangan menunda lagi. Sebelum matahari benar-benar hilang, kita harus sudah sampai di rumah Mbah Garmo," bisik Sumi dengan nada mendesak.

​Broto menyeka darah kering di sudut bibirnya. Rasa sakit di tubuhnya akibat pukulan anak buah rentenir seolah hilang, tertutup oleh adrenalin dan bayangan tumpukan uang. "Iya, Bu. Siapkan kain jarik baru dan sedikit uang sisa di dompet untuk syarat pembuka. Kita berangkat sekarang lewat jalan belakang supaya tidak dicurigai tetangga."

​Mereka berangkat dengan tergesa-gesa. Mereka sengaja tidak lewat jalan utama desa, melainkan memutar melewati pematang sawah dan masuk ke jalan setapak yang menanjak ke arah lereng hutan larangan. Di sana, di sebuah gubuk yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu hitam dan atapnya tertutup lumut, tinggallah Mbah Garmo, seorang dukun yang namanya hanya dibisikkan dalam kegelapan oleh orang-orang yang putus asa.

​Udara di lereng hutan itu terasa lebih dingin beberapa derajat. Bau kemenyan sudah tercium bahkan sebelum mereka mengetuk pintu kayu yang sudah lapuk itu.

​"Masuk," suara parau dari dalam terdengar sebelum Broto sempat mengetuk.

​Di dalam gubuk, suasana sangat menyesakkan. Hanya ada sebuah lampu tempel yang apinya menari-nari ditiup angin yang menyelinap dari celah dinding. Mbah Garmo duduk bersila di atas tikar pandan yang sudah usang. Wajahnya penuh kerutan, dan matanya tampak keruh, namun tatapannya seolah bisa menembus jantung siapa pun yang menatapnya.

​"Ada apa, Broto? Sumi? Wajah kalian seperti orang yang sedang dikejar malaikat maut," ucap Mbah Garmo sambil terkekeh pelan, menampakkan giginya yang hitam karena aspal tembakau.

​Broto mendekat, suaranya gemetar namun penuh harap. "Mbah, tolong kami. Kami terhimpit hutang besar. Esok siang nyawa saya taruhannya. Kami butuh uang banyak, Mbah. Kekayaan instan yang tidak habis-habis."

​Mbah Garmo terdiam sejenak, lalu menghisap rokok klobotnya dalam-dalam. "Kekayaan instan itu harganya mahal, Broto. Alam tidak memberi cuma-cuma. Kamu punya apa untuk ditukar?"

​Sumi menyikut suaminya, memberi kode agar Broto segera mengatakan tawaran utama mereka.

​"Kami punya seorang gadis perawan, Mbah," ucap Broto dengan suara rendah, seolah takut ada telinga ghaib yang mencuri dengar. "Keponakan saya. Dia masih suci, belum tersentuh laki-laki mana pun. Wajahnya cantik, kulitnya bersih. Dia adalah harta kami yang paling berharga."

​Mata keruh Mbah Garmo tiba-tiba berkilat. Ia meletakkan rokoknya dan menegakkan duduknya. "Perawan, katamu? Kalau begitu, urusannya akan jauh lebih mudah. Penguasa hutan ini, Ki Ageng Gumboro, sudah lama tidak mendapatkan 'pengantin' yang segar. Dia adalah Genderuwo kuno yang sangat sakti. Kalau dia senang, uang enam puluh juta itu hanyalah butiran debu baginya."

​Broto dan Sumi saling pandang. Ada binar kegembiraan di mata mereka yang haus harta.

​"Tapi ingat," Mbah Garmo melanjutkan dengan nada yang berubah serius, "ini bukan sekadar pesugihan biasa. Ini adalah Pernikahan Ghaib. Artinya, gadis itu akan menjadi istrinya secara sah di alam sana. Seminggu sekali, setiap malam Selasa, dia harus melayani Ki Ageng. Dia tidak boleh menolak, tidak boleh mengeluh, dan tidak boleh dekat dengan laki-laki lain. Ki Ageng itu sangat cemburuan. Sekali dia melihat pengantinnya dilirik laki-laki lain, nyawa laki-laki itu taruhannya."

​Sumi mengangguk-angguk cepat. "Tidak masalah, Mbah! Mirasih itu penurut. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain kami. Kami bisa mengaturnya."

​"Lalu, apa yang akan kami dapatkan?" tanya Broto, mulai tidak sabar.

​"Setiap kali Ki Ageng selesai mendapatkan haknya dari pengantinnya, dia akan meninggalkan 'mahar'. Bisa berupa kepingan emas, berlian, atau uang tunai di bawah bantal kalian. Dan selama gadis itu tetap melayaninya, rejeki rumah kalian akan mengalir deras seperti air terjun. Toko yang kalian bangun akan laris, judi yang kamu mainkan akan selalu menang, dan semua orang akan tunduk pada kalian," jelas Mbah Garmo secara detail.

​Mbah Garmo juga menjelaskan bahwa sebagai tanda perjanjian, Broto harus membawa Mirasih ke tengah hutan pada malam Selasa Kliwon nanti yaitu lusa malam untuk dilakukan ritual ijab kabul ghaib. Gadis itu harus dimandikan dengan kembang tujuh rupa dan mengenakan pakaian khusus yang akan diberikan oleh Mbah Garmo.

​Mendengar penjelasan itu, Broto dan Sumi sudah tidak memikirkan lagi bagaimana penderitaan Mirasih nantinya. Di pikiran mereka sudah terbayang mobil baru, perhiasan emas yang melingkar di leher Sumi, dan bagaimana mereka akan meludahi wajah rentenir Pak Jono saat mereka membayar hutang besok.

​"Kami setuju, Mbah. Apapun syaratnya, kami lakukan!" seru Broto tanpa keraguan sedikit pun.

​Mbah Garmo memberikan sebuah bungkusan kecil berisi kemenyan dan minyak srimpi. "Bawa ini pulang. Bakar sedikit di pojok kamar gadis itu malam ini. Biar aromanya memancing Ki Ageng untuk datang mengenali calon pengantinnya. Dan ingat, perlakukan gadis itu dengan baik mulai sekarang. Jangan sampai dia lari atau mati sebelum hari Selasa. Dia adalah tambang emasmu."

​Broto dan Sumi keluar dari gubuk Mbah Garmo dengan langkah yang sangat ringan. Beban enam puluh juta yang tadi terasa seperti gunung di pundak mereka, kini terasa seenteng kapas. Mereka berjalan menuruni lereng hutan sambil bercanda, seolah-olah mereka baru saja memenangkan lotre besar.

​"Pak, kita harus baik-baikin si Mirasih dulu," kata Sumi saat mereka sampai di pinggir desa. "Jangan sampai dia curiga. Kalau dia tahu mau dinikahkan dengan Genderuwo, bisa-bisa dia lari ke rumah tetangga atau lapor polisi."

​"Benar, Bu. Kita kasih dia makan enak malam ini. Kasihan juga dia tadi sudah kupukuli sampai lebam," jawab Broto dengan nada bicara yang seolah-olah ia adalah paman yang penuh kasih, padahal itu semua hanya siasat.

​Mereka mampir ke pasar desa yang masih buka di bagian depan. Dengan uang beberapa puluh ribu terakhir di kantongnya, Broto membeli sebuah kotak martabak manis spesial dengan taburan cokelat dan kacang yang banyak. Martabak itu adalah makanan mewah bagi Mirasih yang selama ini hanya diberi makan nasi sisa.

​Sesampainya di rumah, hari sudah benar-benar gelap. Mirasih sedang duduk di dapur, mencoba mengompres lebam di lengannya dengan air hangat saat pintu terbuka. Ia sempat berjengit ketakutan, mengira akan dipukul lagi.

​Namun, yang ia lihat justru di luar dugaan. Paman Broto masuk dengan wajah sumringah, disusul Bibi Sumi yang tersenyum lebar hingga matanya menyipit.

​"Mirasih, sini, Nduk," panggil Bibi Sumi dengan nada yang sangat lembut, nada yang sudah setahun lebih tidak pernah Mirasih dengar.

​Mirasih berdiri dengan ragu. "I-iya, Bi?"

​"Pamanmu bawa oleh-oleh. Lihat ini, martabak manis kesukaanmu," kata Sumi sambil meletakkan kotak martabak itu di atas meja dapur yang kusam.

​Broto mendekat dan menepuk bahu Mirasih pelan. "Paman minta maaf ya soal tadi sore. Paman lagi pusing karena ditagih hutang. Tadi Paman dapat rejeki sedikit, jadi langsung ingat kamu. Ayo dimakan, dihabiskan ya. Jangan sedih lagi."

​Mirasih terpaku. Ia menatap kotak martabak itu, lalu menatap wajah paman dan bibinya bergantian. Ada rasa haru yang mendalam menyeruak di dadanya. Apakah doa-doanya dikabulkan? Apakah hati paman dan bibinya akhirnya melunak?

​"Terima kasih, Paman... Bibi..." bisik Mirasih dengan suara gemetar. Ia merasa sangat bersyukur. Di saat ia merasa paling terpuruk, ternyata keluarganya masih peduli padanya.

​Mirasih memakan martabak itu dengan air mata yang menetes. Rasanya sangat manis, namun ia tidak tahu bahwa manisnya martabak itu adalah umpan dari sebuah kail pancing yang akan menyeretnya ke dalam jurang kegelapan yang paling dalam. Ia tidak tahu bahwa setiap suapan yang ia telan adalah bayaran awal atas tubuh dan jiwanya yang telah dijual kepada penghuni hutan.

​Sumi memperhatikan Mirasih yang makan dengan lahap sambil tersenyum licik. Di dalam hatinya, ia membatin, "Makanlah yang banyak, Mirasih. Biar tubuhmu terlihat segar dan cantik. Lusa malam, tugasmu akan dimulai. Kamu yang akan bekerja di tempat tidur, dan kami yang akan menikmati hasilnya."

​Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mirasih tidur dengan perut kenyang. Ia memegang gelang pemberian Aditya dan berbisik dalam hati bahwa segalanya mungkin akan membaik. Ia tidak mencium bau kemenyan yang mulai dibakar diam-diam oleh Paman Broto di kolong rumah, tepat di bawah posisi tidurnya.

​Ia tidur dengan harapan, tanpa menyadari bahwa esok hari adalah hari terakhirnya menjadi manusia seutuhnya.

1
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
kelamaan kamu mnjadi bodoh Mirasih ,
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
Halwah 4g: ashiapppppppppp kaa...lagi pasang kuda-kuda dia..masih bucin akut dulu 🤭
total 1 replies
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
hukuman yang seperti apa akan di terima Broto dan Sumi
manusia busukk
Asphia fia
mampir
Halwah 4g: trimksih kaa 😍
total 1 replies
Evi Anjani
mampir🥰
Halwah 4g: terima ksih kka cantikkkkkk 😍
total 1 replies
Amiera Syaqilla
pengantinnya seram tapi kok juga cantik banget sih😅
Halwah 4g: iya ka🤭 biar gek jlek2 bnget
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis amat thor sama gendruwo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!