Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Apa yang Akan Terjadi???
Suasana di taman belakang yang tadinya tenang kini berubah menjadi mencekam. Arlan berdiri menjulang dengan napas yang memburu, memeluk Kenzo yang menangis histeris karena dipisahkan secara paksa dari kehangatan Amara. Tatapan Arlan seolah ingin membakar gadis yang kini bersimpuh di atas rumput dengan pakaian yang masih berantakan.
"Masuk ke kamarmu sekarang! Jangan keluar sebelum aku memerintahkannya!" bentak Arlan dengan suara rendah yang penuh ancaman.
Amara tidak sanggup berkata-kata. Dengan tangan gemetar, ia merapikan kancing seragamnya yang sempat terbuka. Air mata mengalir deras di pipinya. Tanpa berani menatap wajah majikannya, ia berdiri dan berlari sekencang mungkin menuju paviliun pekerja, meninggalkan suara tangisan Kenzo yang semakin menyayat hati.
Arlan melangkah lebar memasuki mansion. "Lasmi! Panggil Dokter spesialis anak sekarang juga! Suruh dia datang ke sini dalam sepuluh menit!" teriaknya saat melewati ruang tengah.
Mbak Lasmi yang sedang berada di dapur tersentak. Ia melihat wajah Arlan yang merah padam dan Kenzo yang menjerit-jerit. "Ada apa, Tuan? Apa Tuan Muda sakit?"
"Jangan banyak tanya! Cepat telepon dokter!" potong Arlan kasar sambil terus berjalan menuju kamar bayi di lantai atas.
Di dalam kamarnya yang, Amara menjatuhkan diri di balik pintu yang ia kunci rapat. Ia memeluk lututnya, terisak sejadi-jadinya. Ketakutan terbesarnya menjadi kenyataan. Ia tidak hanya terancam kehilangan pekerjaan yang menjadi tumpuan hidup ibu dan adik-adiknya, tapi ia juga takut dianggap sebagai wanita yang tidak benar atau bahkan dituduh mencelakai Kenzo.
"Maafkan Amara, Bu... Amara hanya ingin Kenzo tenang," bisiknya di sela tangis.
Dadanya masih terasa berdenyut, namun kali ini rasa sesaknya bercampur dengan rasa malu yang luar biasa karena Arlan telah melihat sisi paling pribadinya. Ia membayangkan kemarahan pria itu; seorang penguasa kota yang tak akan sudi anaknya diberi asupan dari tubuh seorang gadis desa tanpa penjelasan medis yang jelas.
***
Sementara itu, di lantai atas, Dokter spesialis keluarga Aditama baru saja selesai memeriksa Kenzo. Bayi itu akhirnya tertidur karena kelelahan menangis, meskipun sesekali masih terisak dalam tidurnya.
"Bagaimana, Dok? Apa ada sesuatu yang beracun di dalam tubuhnya? Apa dia diberi zat berbahaya?" tanya Arlan dengan nada menuntut, matanya tak lepas dari putranya.
Dokter itu melepas stetoskopnya dengan dahi berkerut heran. "Tuan Arlan, tenanglah. Secara fisik, Kenzo justru sangat sehat. Detak jantungnya stabil, pencernaannya sangat baik, dan berat badannya mulai naik secara signifikan dalam beberapa hari terakhir."
"Tapi saya melihatnya sendiri, Dok! Gadis itu... dia menyusui Kenzo! Bagaimana mungkin gadis perawan dari desa punya ASI?" Arlan menyugar rambutnya dengan frustrasi.
Dokter tersebut terdiam sejenak, lalu menjawab dengan tenang, "Secara medis, itu disebut Galaktorea. Kondisi di mana tubuh memproduksi ASI karena lonjakan hormon tertentu, bahkan tanpa kehamilan. Dan sejujurnya, Tuan... ASI adalah asupan terbaik di dunia untuk bayi. Itulah alasan kenapa Kenzo menolak semua susu formula mahal yang Anda berikan. Tubuhnya mengenali nutrisi yang ia butuhkan."
Arlan tertegun. Amarahnya yang meluap-luap tiba-tiba seperti membentur dinding es. Ia menatap Kenzo yang tertidur lelap dengan wajah yang kini tampak jauh lebih sehat dan segar daripada hari-hari sebelumnya.
"Jadi... dia tidak meracuni anakku?" tanya Arlan pelan, suaranya kini terdengar serak.
"Sama sekali tidak. Justru sepertinya, gadis itu telah menyelamatkan putra Anda dari dehidrasi dan malnutrisi karena Kenzo menolak botol," jawab Dokter itu sambil mengemasi peralatannya. "Saran saya, jika Anda ingin Kenzo tumbuh sehat, jangan hentikan asupan itu. Hanya saja, pastikan pengasuh tersebut menjaga asupan makanannya sendiri."
Setelah dokter pergi, Arlan duduk di tepi ranjang Kenzo. Kamar itu kembali sunyi. Ia teringat kembali pemandangan di taman tadi; bagaimana Amara dengan lembut mengusap rambut Kenzo, bagaimana wajah Amara tampak begitu tulus dan penuh kasih sayang.
Rasa bersalah mulai merayap di hati Arlan, namun ego dan gairah aneh yang ia rasakan tadi justru menciptakan konflik baru di benaknya. Ia berdiri, melangkah menuju pintu. Ia harus menemui Amara.
***
Malam semakin larut, namun atmosfer di dalam mansion Aditama justru semakin memanas. Arlan melangkah menyusuri lorong menuju paviliun belakang. Setiap langkah sepatunya yang berat seolah mengirimkan sinyal ancaman bagi siapapun yang mendengarnya. Di tangannya, ia memegang kunci cadangan, namun kali ini ia memilih untuk menggedor pintu kamar Amara dengan keras.
BRAK! BRAK!
"Amara! Buka pintunya!" perintah Arlan, suaranya menggelegar di lorong yang sepi.
Di dalam kamar, Amara tersentak. Dengan mata yang bengkak karena terlalu banyak menangis, ia membuka kunci pintu dengan tangan gemetar. Begitu pintu terbuka, sosok tinggi besar Arlan langsung mendominasi ruangan kecil itu. Amara mundur beberapa langkah, membiarkan majikannya masuk dengan aura yang begitu menekan.
Arlan menutup pintu dengan sekali sentakan kasar. Ia berdiri tepat di depan Amara, menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia datang untuk memaki, untuk menuntut penjelasan medis, namun saat matanya jatuh pada sosok Amara, fokusnya mendadak buyar.
Amara hanya mengenakan kaos tidur tipis yang sudah agak melar. Karena pengaruh hormon yang sedang aktif, ukuran ÐåÐå gadis itu terlihat begitu menonjol dan kencang, seolah-olah kain kaos itu tak lagi sanggup menahan bebannya. Arlan menelan ludah dengan susah payah. Pikirannya tanpa sadar melayang kembali ke kejadian di taman sore tadi.
Bayangan saat seragam Amara tersingkap kembali berputar di otak Arlan seperti film êrð†ï§ yang tak diinginkan. Ia mengingat dengan sangat jelas bagaimana kµlï† putih mulus itu terpapar sinar matahari, dan yang paling membuatnya sesak napas adalah penampakan þµ†ïñg þåɏµÐårå Amara yang berwarna merah muda cantik—begitu kontras dengan milik mantan istrinya yang pucat dan terasa palsu.
"T-Tuan?" suara lirih Amara memecah lamunan kotor Arlan.
Arlan tersentak. Ia menyadari dirinya baru saja menatap ÐåÐå pengasuh anaknya selama beberapa detik terlalu lama. Untuk menutupi rasa malunya yang bercampur gåïråh, ia justru meledak dalam kemarahan yang dibuat-buat.
"Kau berani sekali bertanya ada apa?!" bentak Arlan, membuat Amara memejamkan mata ketakutan. "Kau sudah sangat lancang, Amara! Kau menggunakan tubuhmu untuk memberi asupan pada putraku tanpa izin dariku! Kau pikir kau siapa? Kau pikir kau punya hak untuk menyentuhkan bagian tubuhmu itu pada ahli waris Aditama?!"
Amara langsung menunduk dalam, bahunya terguncang hebat karena isak tangis yang kembali pecah. "Maafkan saya, Tuan... Saya mohon maaf. Saya hanya tidak tega melihat Kenzo terus menangis. Dia menolak botolnya, dan saya... saya punya kelebihan ini. Saya hanya ingin membantu..."
"Membantu?!" Arlan mendekat, memangkas jarak hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Ia bisa mencium aroma susu yang manis bercampur wangi sabun mandi dari tubuh Amara. "Kau tahu betapa berbahayanya itu jika kau memiliki penyakit? Kau mempertaruhkan nyawa anakku demi egomu yang ingin terlihat seperti pahlawan!"
"Saya sehat, Tuan... saya berani bersumpah saya sehat," isak Amara sambil memegangi dadanya yang mulai terasa nyeri lagi karena penuh. "Maafkan saya... tolong jangan pecat saya. Ibu dan adik-adik saya di desa hanya punya saya..."
Melihat Amara yang begitu rapuh dan memohon di bawah kakinya, amarah Arlan perlahan mulai bersinggungan dengan rasa lapar yang lain. Matanya kembali tak bisa lepas dari ÐåÐå Amara yang naik-turun karena napas yang tersengal. Ada bagian dari dirinya yang ingin menghancurkan gadis ini, namun ada bagian lain yang ingin merasakan sendiri keajaiban yang diberikan Amara pada Kenzo.
"Kau minta maaf?" bisik Arlan, suaranya kini berubah menjadi rendah dan berat, memberikan sensasi dingin yang menggelitik di tengkuk Amara.
"I-iya, Tuan... saya minta maaf," jawab Amara tanpa berani mengangkat wajah.
Arlan mengulurkan tangannya, ujung telunjuknya menyentuh dagu Amara dan mengangkat wajah gadis itu dengan þåk§å agar mata mereka bertemu. "Maaf saja tidak cukup untuk kelancangan sebesar ini, Amara. Kau harus menebusnya."