Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.
Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biarkan Sha Nuo Memasak
Hari itu dilewati Boqin Changing dalam ketenangan yang nyaris tidak terusik. Sejak kembali dari berkeliling bersama Sha Nuo, ia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah kayu. Energi dalam tubuhnya mengalir perlahan, bergerak seperti sungai yang baru saja melewati badai. Luka akibat sambaran petir siksaan dunia masih meninggalkan sensasi perih samar, terutama di jalur meridian utama dan tulang-tulangnya. Tidak sampai menghambat gerak, namun cukup untuk mengingatkannya bahwa hukum langit bukan sesuatu yang bisa diremehkan.
Boqin Changing duduk bersila di atas kasur sederhana. Udara dunia kecil Pagoda Serpihan Surga tenang, hampir terlalu tenang. Tidak ada hiruk-pikuk dunia persilatan, tidak ada tatapan penuh perhitungan, tidak ada niat membunuh yang tersembunyi di balik senyum. Hanya hembusan angin lembut, aroma rerumputan bercahaya, dan denyut energi alam yang stabil.
Ia menarik napas perlahan. Menghembuskannya kembali. Siklus itu berulang tanpa suara. Waktu berjalan tanpa terasa.
Sha Nuo beberapa kali mengetok pintu kamarnya hanya untuk memastikan kondisinya, namun Boqin Changing selalu memberi isyarat bahwa semuanya baik-baik saja. Tidak perlu kata-kata panjang. Mereka sudah cukup memahami bahasa diam satu sama lain.
Cahaya dunia kecil itu perlahan berubah warna. Dari keemasan lembut menjadi jingga pucat. Lalu berangsur redup. Malam kembali turun.
Boqin Changing akhirnya membuka mata. Langit malam Pagoda Serpihan Surga dihiasi bintang-bintang berpendar lembut. Tidak terlalu gelap, namun cukup sunyi untuk membuat pikiran manusia tenggelam ke dalam dirinya sendiri.
Ia berdiri perlahan. Tubuhnya sudah jauh lebih ringan dibanding pagi tadi. Meski belum pulih sepenuhnya, setidaknya energi internalnya kembali stabil. Jika harus bertarung, ia tidak akan berada dalam kondisi berbahaya.
Namun malam ini… ia tidak berniat melakukan apa pun. Boqin Changing berjalan ke arah ranjang kayu. Langkahnya ringan. Tanpa suara.
Ia duduk di tepi ranjang sejenak, lalu merebahkan tubuhnya. Langit-langit kayu sederhana terbentang di atasnya, memancarkan kehangatan yang aneh bagi seseorang yang terbiasa tidur dimanapun.
Keheningan malam perlahan menyelimuti. Seperti sering terjadi pada saat-saat sunyi, pikirannya mulai bergerak sendiri.
Satu ingatan muncul. Bukan tentang pertarungan. Bukan tentang musuh. Melainkan tentang tempat. Tempat di mana ia dan Sha Nuo mendarat kali ini.
Tatapan Boqin Changing menajam tipis. Sejak awal memasuki Pagoda Serpihan Surga bersama Sha Nuo, ada sesuatu yang terasa tidak selaras dalam memorinya. Perasaan samar yang tidak bisa dijelaskan, seperti melihat wajah yang dikenal namun berada di tubuh orang lain.
Karena itulah ia mengajak Sha Nuo berkeliling tadi. Bukan sekadar memperingatkan binatang suci. Bukan sekadar memastikan keamanan. Namun untuk memastikan satu hal yang lebih penting. Apakah tempat ini… sama dengan tempat kedatangannya pertama kali.
Ingatan itu kembali terbuka. Saat itu, ia datang bersama muridnya, Gao Rui.
Hamparan tanah tempat mereka mendarat dulu jauh lebih luas. Pepohonan tidak sepadat ini. Ada tebing kristal di sisi barat, dan sebuah air terjun berwarna kebiruan di utara. Udara terasa lebih dingin. Energi alamnya pun memiliki getaran berbeda.
Sementara tempat ini… Lebih hangat. Lebih padat. Lebih hidup.
Boqin Changing telah menyusuri pegunungan, lembah, hutan, bahkan jalur aliran energi bawah tanah. Ia mengamati pola bintang di langit. Mengukur arah angin. Mengingat kontur tanah.
Dan hasilnya hanya satu. Berbeda. Tempat ini bukan titik kedatangannya dulu.
Kesimpulan itu tidak membuatnya terkejut. Namun cukup untuk menimbulkan rasa penasaran tipis.
Pagoda Serpihan Surga jelas bukan ruang sederhana. Dunia di dalamnya memiliki struktur yang lebih kompleks daripada sekadar ruang terpisah. Bisa jadi setiap kedatangan mengarah ke serpihan wilayah berbeda. Bisa pula pagoda itu sendiri berubah mengikuti hukum yang belum ia pahami.
Boqin Changing menutup mata perlahan. Tidak memaksakan jawaban. Ada terlalu banyak misteri di dunia ini untuk diselesaikan dalam satu malam. Lagipula, ia tidak terburu-buru.
Selama masih berada di dalam Pagoda Serpihan Surga, ia memiliki waktu. Dan kekuatan untuk menjelajahinya nanti.
Tangannya bergerak ringan.
Srrrr…
Pedang Neraka Kegelapan muncul di samping ranjang. Bilah hitamnya berkilau redup dalam cahaya malam, memancarkan aura kelam yang tenang, seperti penjaga setia yang tidak pernah tidur.
Boqin Changing meletakkan menancapkan bilah pedang itu di lantai kamar. Bukan karena takut. Bukan karena gelisah. Namun karena kebiasaan seorang pendekar yang telah hidup terlalu lama di ambang kematian.
Dengan pedang itu di sisinya, dunia terasa sedikit lebih stabil. Napasnya perlahan melambat. Pikirannya mereda.
Di luar rumah kayu, angin malam berhembus lembut melewati rerumputan bercahaya. Sementara di dalam kamar sederhana itu, Boqin Changing akhirnya tertidur. Tenang, namun tetap dijaga oleh bilah kegelapan yang tidak pernah benar-benar beristirahat.
...*******...
Keesokan harinya, dunia kecil Pagoda Serpihan Surga kembali diselimuti cahaya pagi yang lembut. Sinar keemasan menembus celah jendela kayu, jatuh tipis di lantai kamar Boqin Changing. Udara terasa hangat, membawa aroma rerumputan bercahaya yang khas dari dunia itu. Tidak ada suara riuh burung atau langkah manusia, hanya gemerisik angin yang menggesek daun-daun energi.
Kelopak mata Boqin Changing bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka. Kesadarannya pulih dalam satu tarikan napas. Tubuhnya terasa ringan. Jalur meridian yang kemarin masih menyisakan sensasi terbakar kini hanya meninggalkan bekas samar, seperti luka lama yang hampir terlupakan.
Ia duduk perlahan di atas ranjang. Qi-nya berputar stabil. Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Sudah pulih,” gumamnya dalam hati.
Tak lama kemudian, indera penciumannya menangkap sesuatu. Aroma… makanan.
Boqin Changing mengernyit tipis. Aroma itu hangat, ringan, dan memiliki sentuhan herbal yang lembut. Tidak berasal dari alam sekitar. Aroma itu jelas berasal dari dapur.
Ia berdiri dan berjalan keluar kamar. Begitu memasuki ruang utama rumah kayu, langkahnya terhenti.
Di atas meja sederhana, beberapa hidangan telah tertata rapi. Semangkuk sup hangat dengan uap tipis mengepul, sayuran tumis berwarna cerah, serta roti kukus lembut yang masih memancarkan panas.
Di sisi meja… ada Sha Nuo. Pria berbadan besar itu berdiri dengan punggung sedikit tegang, tangan masih memegang sendok kayu. Rambutnya terikat sederhana, membuat ekspresinya tampak jauh lebih manusiawi dibanding biasanya.
Boqin Changing memandangnya beberapa detik. Kejutan samar muncul di matanya.
“Kau… memasak?” tanyanya.
Sha Nuo menoleh cepat, sedikit terkejut karena tidak menyadari kedatangannya. Namun ia segera menenangkan diri.
“Apa kau sudah enakan?” tanyanya balik.
Boqin Changing berjalan mendekat sambil mengamati hidangan di meja.
“Aku sudah sembuh.”
Tatapannya berpindah ke makanan di depannya. Ia tersenyum. Reaksi sederhana itu justru membuat Sha Nuo semakin gugup.
“Kupikir kau masih sakit,” ucapnya cepat. “Jadi aku mencoba memasak.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih pelan.
“Rasanya pasti tidak seenak makananmu… tapi aku sudah belajar memasak dari Nona Shang Ni dan Nyonya Zhiang Chi. Berjaga-jaga jika situasi buruk terjadi.”
Boqin Changing tertawa ringan. Tawa itu tidak keras, namun cukup untuk melonggarkan ketegangan yang tak terlihat di ruangan.
“Ayo kita makan.”
Mereka berdua duduk berhadapan. Suasana pagi itu terasa aneh. Bukan sunyi karena kewaspadaan. Bukan hening karena tekanan. Melainkan keheningan sederhana dua orang yang duduk di meja makan tanpa tujuan lain selain sarapan.
Boqin Changing mengambil sendok. Matanya jatuh pada semangkuk sup di depannya. Uap tipis naik perlahan, membawa aroma herbal yang bersih. Ia menyendok sup itu. Gerakan sederhana. Namun bagi Sha Nuo, momen itu terasa seperti penentuan takdir.
Sendok bergerak mendekati bibir Boqin Changing dan masuk. Ia menelannya.
Sha Nuo diam. Benar-benar diam.
Matanya menatap Boqin Changing tanpa berkedip. Tubuhnya tegak, namun jemarinya tanpa sadar mencengkeram meja.
Bulir keringat kecil muncul di dahinya. Ia tidak tahu kenapa. Ia pernah menghadapi binatang suci. Pernah bertarung melawan pendekar tingkat tinggi. Pernah berjalan di ambang hidup dan mati tanpa perubahan ekspresi.
Namun sekarang… ia merasa seperti seorang peserta kompetisi memasak yang berdiri di depan juri masak. Menunggu keputusan yang tidak bisa ia kendalikan.
Satu detik berlalu.
Dua detik.
Tiga.
Boqin Changing masih diam. Sha Nuo hampir membuka mulut ketika akhirnya, sudut bibir Boqin Changing terangkat. Ia mengambil satu sendok lagi dan satu lagi.
Sha Nuo berkedip. Ekspresi tegangnya perlahan berubah menjadi kebingungan.
Boqin Changing menurunkan sendoknya, lalu menatap Sha Nuo.
“Enak.”
Satu kata yang sederhana. Namun cukup membuat bahu Sha Nuo yang tegang sejak tadi perlahan turun.
Ia bahkan tidak sadar bahwa dirinya telah menahan napas.
“Benarkah? Hahahaha...” ia tertawa puas seperti biasanya.
Boqin Changing tersenyum tipis.
“Jika tidak enak, aku tidak akan menambah.”
Sha Nuo menatapnya beberapa detik. Lalu tanpa sadar, sudut bibirnya ikut terangkat.
Suasana pagi itu kembali hening. Namun kali ini, bukan hening yang canggung. Melainkan hening yang hangat.
Dua orang yang duduk berhadapan, menikmati sarapan sederhana di dunia kecil yang terpisah dari hiruk-pikuk dunia luar.
Untuk sesaat, Boqin Changing tidak memikirkan musuh. Tidak memikirkan rencana. Tidak memikirkan takdir. Ia hanya makan. Bersama seseorang yang diam-diam belajar memasak demi dirinya.
udh lulus mesin scanning NT g thor ??
rate novel mu udh Top 3 besar di fiksi pria...
tpi mencapai ranah pendekar langit di usia semuda itu...!!
itu WAAAAH pakai BANGET.,...