NovelToon NovelToon
SIAN TARUTUNG TU MEDAN : LUKA DIBALIK JABU

SIAN TARUTUNG TU MEDAN : LUKA DIBALIK JABU

Status: tamat
Genre:Keluarga / Tamat
Popularitas:498
Nilai: 5
Nama Author: Raymond Siahaan

"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."

Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.

Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : JAGOAN TANPA ALAS KAKI

Hari pendaftaran itu terasa begitu hangat. Bapak menemaniku ke SMP Swasta Katolik Tri Sakti 2. Kami pergi bersama membeli seragam baru, buku-buku, dan segala perlengkapan sekolah. Saat itu, aku sempat berpikir bahwa mungkin Bapak sudah berubah, mungkin ia ingin menjadi pahlawan bagi pendidikanku.

Di hari pertama sekolah, aku melangkah dengan semangat membara. Di lingkungan baru ini, aku tak menyangka akan menjadi pusat perhatian. Entah karena sifatku yang pendiam atau wajahku yang tulus, banyak teman perempuan yang menyukaiku.

Puncaknya saat Hari Valentine, seorang kakak kelas memberiku sebuah jam weker sebagai hadiah. Karena aku anak yang "biasa saja" dan tidak terlalu paham urusan cinta, jam itu kuberikan begitu saja pada teman sekelasku. Tak disangka, ia mengira itu balasan cintaku. Ia menembakku, dan karena kepolosanku, aku mengiyakan. Namun, hanya bertahan satu hari. Esoknya aku memutuskan hubungan itu karena hatiku hanya tertuju pada satu hal: buku pelajaran.

Prestasi akademisku di Tri Sakti 2 melejit cepat. Guru-guru menyayangiku, dan namaku masuk dalam daftar kelas unggulan yang rencananya akan dibentuk sekolah. Aku merasa berada di atas angin, sampai sebuah panggilan menghancurkan segalanya.

"Anakku, silakan ke ruang administrasi," ucap seorang guru.

Di ruangan yang dingin itu, aku diberitahu bahwa uang pembangunan dan uang sekolahku belum dibayar sepeser pun sejak pendaftaran. Petir serasa menyambar di siang bolong. Pulang sekolah, aku langsung melapor pada Mama.

Wajah Mama pucat pasi. "Tapi... Mama sudah titipkan semua uang itu ke Bapak waktu kalian daftar sekolah," bisik Mama gemetar.

Sore itu, rumah kembali menjadi neraka. Saat Bapak pulang, Mama menagih penjelasan. Keributan pecah lagi. Uang yang seharusnya menjamin masa depanku, habis ditelan meja judi Bapak.

Hari-hari berikutnya adalah siksaan mental. Setiap pagi aku datang dengan hati dag-dig-dug. Setiap kali melewati kantor guru, aku harus wajib lapor soal tunggakan itu. Rasa maluku tak tertahankan lagi. Aku merasa teman-temanku memperhatikan setiap kali namaku dipanggil.

Akhirnya, aku menyerah pada rasa malu. Seminggu penuh aku tidak masuk sekolah. Aku mengurung diri di rumah, tertunduk lesu di hadapan kenyataan. Hingga suatu sore, wali kelas dan guru BP datang ke rumah.

Mama menemui mereka dengan mata berkaca-kaca, sementara aku hanya bisa menunduk, menahan tangis yang sudah di ujung mata. Mama menjelaskan semuanya—kejujuran pahit tentang kondisi keluarga kami. Para guru terdiam, mereka iba melihat anak didik berprestasi mereka hancur karena ulah orang tua. "Besok sekolah ya, Nak. Urusan itu nanti kita bicarakan lagi," hibur guruku.

Melihatku yang hampir kehilangan sekolah, kekuatan Mama muncul. Ia tak lagi mengandalkan gaji Bapak yang hanya mampir sebentar sebelum lenyap di tempat judi. Mama mencari kerja dan diterima di sebuah lembaga survei.

Mama bekerja keras, berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mengumpulkan data. Hasilnya nyata. Pendapatan Mama yang lumayan perlahan bisa menutupi lubang yang dibuat Bapak. Uang pembangunan sekolahku akhirnya lunas. Uang sekolahku terbayar.

Bahkan, ada sisa uang yang membuat kami bisa membeli sebuah televisi. Setelah sekian lama rumah kami sunyi dan suram, akhirnya ada suara tawa dari kotak ajaib itu. Kami bisa menonton TV lagi, sebuah kemewahan sederhana yang menjadi simbol kemenangan kecil Mama atas egoisme Bapak.

Aku kembali ke sekolah dengan kepala tegak. Rasa malu itu kini berganti menjadi rasa syukur yang mendalam pada Mama. Di SMP Tri Sakti 2, aku berjanji: setiap keringat Mama yang jatuh di lapangan survei harus dibayar dengan nilai merah di raporku—tapi merah yang berarti nilai sempurna.

Sore itu, teras rumah kami menjadi tempat Kakak dan teman-temannya bersantai. Tawa mereka pecah, obrolan mengalir begitu saja layaknya remaja pada umumnya. Namun, sebuah kesalahpahaman muncul saat sepasang kekasih lewat di depan rumah. Laki-laki itu, yang tampaknya sedang dalam pengaruh zat atau alkohol—alias sedang "tinggi"—merasa tawa Kakak adalah sebuah hinaan.

Keributan pecah dalam sekejap. Teriakan dan makian mereka menembus hingga ke kamar belakang, tempat aku dan Bapak sedang terlelap. Bapak yang memang berdarah panas langsung terjaga. Tanpa banyak bicara, ia keluar dan menghantam mereka karena mulai bertindak anarkis terhadap Kakak.

"Tunggu kau di sini! Jangan lari kalian!" ancam mereka sambil berlalu.

Hanya butuh beberapa menit bagi mereka untuk kembali. Kali ini, mereka tidak datang berdua. Gerombolan kawan-kawannya yang juga dalam kondisi "tinggi" mengepung rumah kami. Hujan batu mulai menghantam atap dan kaca jendela. Suara pecah berkeping-keping memekakkan telinga.

Aku berlari ke pintu depan. Kekuatan badanku yang masih remaja kukerahkan sepenuhnya untuk menahan pintu agar mereka tidak merangsek masuk. "Nugrah! Bangun! Jangan di situ!" teriakku membangunkan adikku yang tertidur di kamar depan, khawatir batu yang melesat menembus kaca mengenai kepalanya.

Di saat aku berjuang menahan pintu yang terus digedor dari luar, Bapak mengambil langkah taktis. Ia melompat lewat pintu belakang, berlari secepat mungkin mencari bantuan polisi dan para pemuda setempat. Esoknya, suasana mencekam itu berganti menjadi proses mediasi. Polisi, Kepling, dan pihak mereka berkumpul di rumah kami. Jalur damai diambil dengan syarat mereka mengganti seluruh kerugian. Kaca rumah yang hancur diperbaiki, namun trauma di hati kami bertambah satu lagi.

Masalah seolah mengantre di depan pintu rumah kami. Di depan rumah, ada keluarga bersuku Padang yang mengontrak. Awalnya, kami hidup rukun sebagai tetangga. Namun, sebuah kesepakatan bisnis soal penjualan mesin antara Bapak dan ayah tetangga tersebut merusak segalanya. Aku tak tahu detail pastinya, tapi mesin itu menjadi awal mula kebencian. Hubungan yang tadinya kompak berubah menjadi ajang sindir-menyindir setiap kali kami berpapasan.

Lucunya, sebelum keluarga itu datang, rumah tersebut pernah dihuni oleh keluarga Padang lain yang jauh lebih asyik. Kenangan itu lebih manis di ingatanku. Mereka adalah penghobi ayam bangkok super.

Di situlah hobi masa kecilku muncul. Aku memiliki beberapa ayam jago kampung yang sangat aku sayangi. Meski ayam tetangga adalah jenis bangkok yang besar dan perkasa, nyaliku tak ciut. Berkali-kali ayam kampungku dilaga dengan ayam bangkok mereka. Meski seringnya ayamku kalah telak, semangatku tak pernah pudar.

Gayaku saat itu sangat khas. Aku sering membawa ayam jago kesayanganku berkeliling kampung untuk mencari lawan tanding. Dengan bertelanjang dada, tanpa alas kaki, dan memegang ayam di ketiak, aku merasa seperti penguasa jalanan. Di balik beban hidup sekolah dan perilaku Bapak yang gemar judi, mengadu ayam menjadi cara sederhanaku untuk merasa kuat dan bebas.

Di bawah terik matahari Medan, aku berjalan di atas aspal panas, mengejar kemenangan demi kemenangan kecil, sementara di rumah, badai lain selalu siap menanti.

1
Aisyah Suyuti
nenarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!