NovelToon NovelToon
San Sekai No Koi Monogatari

San Sekai No Koi Monogatari

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Anime / Tamat
Popularitas:380
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
​Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
​Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang Psikologis

Pagi menyambut dengan suasana yang kaku dan dingin di koridor Akademi Sakura. Meski ikatan di dalam ruang klub sastra telah menguat setelah pengakuan jujurku, suasana di luar sana justru semakin beracun. Setiap siswa yang berpapasan dengan kami seolah-olah sedang menyaksikan sebuah sirkus yang menunggu untuk runtuh. Namun, yang paling mencolok adalah kehadiran Kaito Shindo yang kini tidak lagi berdiri di luar gerbang.

Ia berada di dalam gedung, mengenakan ban lengan bertuliskan "Pengawas Tamu Prefektur". Dengan senyumnya yang asimetris dan dokumen di tangan, ia seolah-olah telah menjadi penguasa baru di sekolah ini.

[Keahlian Analitis: Master]

[Status: Mendeteksi Perubahan Otoritas Lingkungan]

[Bahasa Sistem: Protokol Intimidasi Pihak Ketiga Sedang Berlangsung]

Aku melangkah menuju lokerku, diikuti oleh kelima gadis Nakano yang berjalan dalam formasi rapat. Kehadiran mereka di sekitarku kini bukan lagi sekadar murid, melainkan sebuah pernyataan perlawanan. Namun, Kaito sudah menunggu di sana, bersandar pada deretan loker dengan gaya yang sangat teatrikal.

"Selamat pagi, Ren. Dan para 'subjek' setiamu," sapa Kaito, suaranya sengaja dikeraskan agar didengar oleh siswa lain yang sedang berganti sepatu. "Aku baru saja selesai berbicara dengan Dewan Sekolah. Mereka merasa bahwa membiarkan kalian belajar secara tertutup adalah sebuah risiko besar bagi integritas sekolah. Jadi, kami telah menyiapkan sesuatu yang spesial."

Aku berhenti tepat di depannya, menatapnya dengan tatapan datar yang menusuk. "Kau sangat sibuk untuk seseorang yang hanya seorang 'tamu', Shindo. Apa lagi yang direncanakan oleh tuanmu, Maruo Nakano?"

Kaito tertawa, suara tawa yang penuh dengan rasa puas diri. "Tuan Maruo ingin transparansi. Hari ini, di aula kecil pada jam istirahat kedua, akan diadakan 'Simulasi Ujian Terbuka'. Lima soal tingkat lanjut untuk masing-masing dari mereka, dikerjakan di depan perwakilan dewan dan siswa. Jika mereka benar-benar berkembang di bawah bimbinganmu, mereka tidak akan keberatan membuktikannya, bukan?"

Nino melangkah maju, wajahnya memerah karena geram. "Itu konyol! Ujian tengah semester masih dua minggu lagi. Kenapa kami harus melakukannya sekarang di depan semua orang?!"

"Karena reputasi kalian sedang dipertanyakan, Nakano-san," Kaito menjawab dengan nada manis yang palsu. "Jika kalian menolak, semua orang akan menganggap bahwa naskah sastra kalian kemarin hanyalah kebetulan, dan bahwa Saiba memang hanya memanipulasi nilai kalian. Ini adalah kesempatan kalian untuk membersihkan nama mentor kesayangan kalian ini."

Kaito kemudian menoleh padaku, matanya berkilat penuh kemenangan. "Atau kau takut, Ren? Takut karena kau tahu bahwa pondasi yang kau bangun untuk mereka hanya terbuat dari pasir?"

[Bahasa Sistem: Perangkap Psikologis Terdeteksi]

[Analisis: Target ingin menghancurkan kepercayaan diri subjek melalui tekanan publik]

Aku bisa merasakan getaran di tangan Miku yang berdiri di sampingku. Itsuki juga tampak pucat. Kaito tidak menyerang intelektualitas mereka; ia menyerang trauma mereka akan kegagalan di masa lalu. Ia ingin mereka membeku di bawah lampu sorot.

Aku mengembuskan napas panjang, menenangkan frekuensi emosional di sekitarku. "Simulasi ujian, ya? Sebuah metode primitif untuk mengukur kecerdasan, tapi cukup efektif untuk membungkam mulut yang terlalu banyak bicara."

Aku berbalik menatap kembar lima. Aku tidak memberikan mereka tatapan kasihan. Aku memberikan mereka tatapan penuh ekspektasi yang tinggi—sebuah variabel yang membuat mereka merasa dianggap sebagai orang dewasa yang mampu.

"Bagaimana?" tanyaku pada mereka. "Apakah kalian ingin terus membiarkan orang ini mendikte siapa kalian, atau kalian ingin menggunakan panggung yang ia buat untuk mengakhiri rumor ini?"

Miku menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskan cengkeraman pada tali tasnya. "Aku... aku bosan dianggap lemah. Mari kita lakukan."

"Aku juga!" Yotsuba menyahut dengan kepalan tangan, meski matanya masih menunjukkan sedikit kegelisahan.

Nino menatap Kaito dengan benci, lalu kembali menatapku. "Kalau ini cara untuk membuat pria menyebalkan ini pergi dari sekolah kita, aku akan melakukannya. Jangan berani-berani meragukan kami, Saiba."

Kaito menyeringai lebar. "Bagus. Sangat dramatis. Sampai jumpa di aula kecil. Aku sendiri yang menyusun soalnya, Ren. Pastikan mereka sudah sarapan otak pagi ini."

Setelah Kaito pergi, aku segera menggiring mereka ke ruang klub yang sepi. Aku tidak punya banyak waktu. Jam istirahat kedua hanya tersisa empat jam lagi.

"Dengar," ujarku, suaraku menjadi sangat fokus dan tajam. "Kaito akan menggunakan soal-soal dengan jebakan logika. Dia ingin kalian panik. Tapi ingat apa yang kita pelajari kemarin: matematika dan sains adalah bahasa. Jangan lihat angkanya, lihat polanya."

Aku mengeluarkan spidol dan mulai menggambar diagram cepat di papan tulis. Sifat analitisku bekerja pada tingkat 120%. Aku mulai memetakan gaya soal Kaito Shindo—pria yang selalu ingin terlihat lebih pintar dari orang lain. Soal-soalnya pasti akan bersifat trick questions.

"Itsuki, dia akan menyerangmu dengan soal pemahaman bacaan yang ambigu. Miku, kau akan mendapatkan soal sejarah yang memutarbalikkan kronologi. Nino, kimia organik dengan rantai karbon yang sengaja dibuat rumit..."

Aku terus menjelaskan, membedah setiap kemungkinan serangan yang akan dilakukan Kaito. Aku tidak hanya mengajari mereka pelajaran; aku sedang mengajari mereka strategi perang intelektual.

[Status: Mempersiapkan Subjek untuk Pertempuran Psikologis]

[Hadiah: Membuka 'Fokus Absolut' untuk Subjek selama 2 jam]

Di sela-sela penjelasanku, aku menyadari bahwa kelima gadis itu menatapku dengan cara yang berbeda. Tidak ada lagi rasa takut akan masa laluku yang diceritakan Kaito. Yang ada hanyalah kepercayaan mutlak bahwa pria di depan mereka ini akan menjadi kompas yang menuntun mereka melewati badai.

"Waktu kita tinggal sedikit," ujarku sembari menutup spidol. "Apapun yang terjadi di aula nanti, jangan lihat penonton. Jangan lihat Kaito. Lihat naskah yang sudah kita bangun di kepala kalian masing-masing. Kalian bukan sedang menghadapi ujian; kalian sedang memberikan penutup bagi rumor murahan ini."

Bel sekolah berbunyi, menandakan jam pelajaran pertama dimulai. Namun bagi kami, ini adalah hitung mundur menuju sebuah eksekusi atau sebuah kebangkitan.

Aula kecil Akademi Sakura yang biasanya digunakan untuk seminar klub kini terasa seperti ruang sidang yang dingin. Lampu-lampu auditorium diarahkan tajam ke tengah panggung, di mana lima meja belajar telah disusun berjajar. Di barisan kursi penonton, sekitar lima puluh orang—terdiri dari perwakilan OSIS, dewan guru, dan beberapa antek Kaito Shindo—duduk dengan tatapan menghakimi.

Aku berdiri di pinggir panggung, bersandar pada pilar beton yang gelap. Dari sini, aku bisa melihat Kaito Shindo berdiri di podium utama sebagai penguji. Ia mengenakan senyum kemenangan, seolah-olah hasil dari ujian ini sudah ia tulis di telapak tangannya.

"Selamat datang semuanya," suara Kaito menggema melalui sistem audio. "Hari ini kita bukan untuk menghukum, melainkan untuk membuktikan kebenaran. Kelima siswi Nakano akan mengerjakan satu soal 'Elite' yang mewakili subjek kelemahan mereka masing-masing. Waktu pengerjaan: sepuluh menit per soal."

[Keahlian Analitis: Master]

[Status: Mengamati Beban Psikologis Subjek]

[Bahasa Sistem: Deteksi Peningkatan Detak Jantung pada Subjek Miku dan Itsuki]

Satu per satu, kembar lima naik ke panggung. Langkah mereka terdengar berat di atas lantai kayu. Saat Miku duduk di mejanya, aku bisa melihat jemarinya bergetar. Ia menatap lembar soal yang masih tertutup, lalu matanya secara tidak sadar mencari keberadaanku di kegelapan pinggir panggung.

Aku tidak melambaikan tangan. Aku hanya memperbaiki letak kacamataku dan memberikan satu anggukan kecil—sebuah kode "Sinkronisasi" yang kami latih di ruang klub. Tetap pada pola, bukan pada angka.

"Mulai!" teriak Kaito.

Kertas-kertas dibalik serentak. Suara goresan pulpen mulai terdengar, namun dalam hitungan detik, Itsuki tampak tertegun. Ia menatap soal bahasa Inggris yang diberikan. Kaito tidak memberikan soal tata bahasa biasa; ia memberikan sebuah paragraf filosofis yang penuh dengan kiasan ambigu.

[Bahasa Sistem: Upaya Sabotase Intelektual Terdeteksi]

[Status: Kaito Shindo Menggunakan Soal Tingkat Universitas]

Aku melihat Itsuki mulai berkeringat. Ia mulai terjebak dalam membaca ulang kalimat yang sama berkali-kali—sebuah tanda bahwa ia sedang masuk ke dalam spiral kepanikan. Aku harus melakukan sesuatu tanpa melanggar aturan pengawasan.

Aku berdehem cukup keras, lalu melangkah perlahan di sepanjang pinggir panggung, memastikan Kaito melihatku namun tidak curiga. Aku berhenti tepat di titik koordinat yang searah dengan pandangan Itsuki. Aku mengangkat tangan kananku, menyentuh pelipisku dengan tiga jari, lalu menunjuk ke arah naskah yang tergeletak di meja juri.

Itu adalah kode untuk: "Gunakan logika narasi. Jangan artikan kata per kata, lihat alur pesannya."

Itsuki melihat gerakanku. Ia menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak, dan saat ia membukanya kembali, keraguannya menghilang. Jemarinya mulai bergerak cepat di atas kertas.

Di meja lain, Nino menghadapi soal kimia organik yang sengaja dibuat rumit dengan struktur molekul yang tidak beraturan. Kaito memperhatikan Nino dengan tatapan mengejek. Namun, Nino justru tersenyum tipis. Ia teringat analogi yang kuberikan tentang "faksi karakter". Ia mulai mengelompokkan fungsional molekul itu seolah-olah sedang membagi faksi dalam sebuah cerita drama.

"Tiga menit tersisa," Kaito mengumumkan dengan nada yang sengaja dibuat menekan.

Penonton mulai berbisik-bisik. Beberapa siswa yang pro-Maruo mulai tertawa kecil, menunggu kehancuran mereka. Namun, atmosfer di atas panggung justru semakin tenang. Keheningan yang tercipta bukan lagi keheningan ketakutan, melainkan keheningan fokus absolut.

[Bahasa Sistem: Efek 'Fokus Absolut' Mencapai Puncak]

[Kelebihan Beban Kognitif: Teratasi]

Miku adalah yang pertama menyelesaikan soalnya. Ia meletakkan pulpennya dengan bunyi klik yang mantap. Ia menatap Kaito dengan pandangan menantang, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Disusul oleh Ichika, Yotsuba, dan akhirnya Itsuki dan Nino secara bersamaan.

Kaito tampak sedikit terganggu dengan ketenangan mereka. Ia melangkah menuju meja Miku dan mengambil lembar jawabannya. Ia memeriksanya dengan cepat, matanya membelalak saat melihat setiap langkah pengerjaan sejarah yang disusun secara kronologis dengan sangat sempurna—bahkan mencantumkan referensi silang yang tidak ada di buku teks sekolah.

Ia beralih ke meja Nino, lalu ke Itsuki. Wajah Kaito yang tadinya penuh kemenangan kini mulai memucat. Ia mencoba mencari celah, mencoba menemukan satu kesalahan kecil untuk menjatuhkan mereka.

"Ini... ini tidak mungkin," gumam Kaito, namun suaranya tertangkap oleh mikrofon podium. "Kalian tidak mungkin bisa memecahkan logika soal nomor empat ini tanpa bantuan luar."

Aku melangkah keluar dari kegelapan, berjalan perlahan menuju tengah panggung dengan aura yang sangat dominan. "Bantuan luar? Shindo, kau yang menyusun soalnya, kau yang mengawasinya, dan kau yang menentukan waktunya. Jika kau masih meragukan hasilnya, maka kau bukan sedang meragukan mereka. Kau sedang meragukan kompetensimu sendiri sebagai penguji."

Penonton mulai bertepuk tangan pelan, yang kemudian meledak menjadi riuh rendah. Anggota dewan sekolah yang hadir mulai saling mengangguk, terkesan dengan pembuktian di bawah tekanan tersebut.

Kaito meremas lembar jawaban di tangannya. "Ren Saiba... kau pasti melakukan sesuatu pada otak mereka."

"Aku tidak melakukan apa pun selain mengembalikan kepercayaan diri yang telah kau dan Maruo-san coba curi dari mereka," jawabku dengan nada yang sangat dewasa dan tenang. "Ujian ini sudah berakhir. Dan kurasa, kau sudah mendapatkan jawabannya."

Aku menatap kelima gadis itu. Mereka berdiri dari kursi mereka, dan untuk pertama kalinya, mereka tidak mencari perlindungan di belakangku. Mereka berdiri sejajar denganku, menghadap audiens sebagai individu yang mandiri.

[Status Pekerjaan: Kemajuan Belajar +15%]

[Hubungan: Kelompok Nakano (Solidaritas Baja - Terkunci)]

[Bahasa Sistem: Rencana Sabotase Kaito Shindo Gagal Total]

Saat kami keluar dari aula, Shizuka-sensei sudah menunggu di depan pintu. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding dengan senyum lebar, sebatang rokok yang belum dinyalakan terselip di jemarinya.

"Kau benar-benar membuat pertunjukan yang luar biasa, Saiba," ujar Shizuka. "Maruo akan murka mendengar ini. Tapi dewan sekolah... mereka sudah tidak punya alasan lagi untuk meragukanmu."

"Ini baru latihan, Sensei," balasku sembari melihat kembar lima yang sedang berpelukan merayakan kemenangan kecil mereka. "Perang yang sesungguhnya adalah ujian tengah semester nanti. Dan Kaito... dia tidak akan berhenti hanya karena kalah di satu simulasi."

Namun, di balik kelegaan itu, aku melihat Miku berjalan ke arahku. Ia mengambil tangan kananku dan menggenggamnya erat di depan semua orang.

"Terima kasih karena tetap ada di sana, Ren," bisiknya. "Meskipun kau hanya diam di pinggir panggung, aku bisa merasakan suaramu di kepalaku."

Aku menatap mata Miku, menyadari bahwa variabel emosional ini kini telah menjadi bahan bakar yang jauh lebih kuat daripada sistem mana pun. Kami telah melewati satu badai, namun aku tahu, Maruo Nakano sedang menyiapkan badai yang jauh lebih besar di rumah mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!