NovelToon NovelToon
Dia Masih Tetap Anaku

Dia Masih Tetap Anaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.

Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."

Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?

Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.

Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: GUGATAN BARU 50 JUTA

"Pak Aryo, saya dari pengadilan. Ini surat gugatan untuk Bapak."

Pagi itu, baru jam 7, seorang pria berseragam datang ke rumah. Wajahnya datar. Di tangannya, amplop cokelat tebal.

Aku terima surat itu. Tanganku gemetar. Di depan mataku, angka 50 juta tercetak jelas. Tuntutan ganti rugi. Atas nama Joko dan keluarga.

Pencemaran nama baik. Fitnah. Kerugian immateriil.

Aku baca lagi. Tak percaya. Aku yang difitnah, mereka yang menuntut? Aku yang diteror, mereka yang minta ganti rugi?

Dari dalam, suara Risma. "Pa... Pa..." panggilnya lirih. Ia bangun. Menungguku.

Aku lihat ke dalam. Risma di kursi. Matanya ke arahku. Tersenyum. Senyum tipis itu.

Aku pegang surat itu. 50 juta. Aku tak punya 50 ribu pun saat ini.

Tapi Risma tersenyum. Dan senyumnya membuatku lupa semua angka.

Aku masukkan surat itu ke saku. Masuk kamar. Gendong Risma.

"Pagi, Nak. Bapak di sini."

Risma pegang jariku. Erat. Seperti bilang, "Aku tahu, Pa. Aku percaya."

---

Sidang digelar di pengadilan negeri. Gedung yang sama. Ruangan yang sama. Tapi kali ini lebih dingin. Atau mungkin hanya perasaanku.

Aku datang dengan baju putih satu-satunya. Masih layak, meski sudah kusut disetrika berulang. Dewi di samping. Budi dititip tetangga. Risma di rumah, dijaga perawat sukarelawan—mahasiswa kedokteran yang kebetulan kenal dengan Bu Tini.

Joko sudah di sana. Dengan pengacara mahal. Jas rapi. Sepatu mengilap. Wajahnya senyum puas. Di belakangnya, kerabat bawa bekal—nasi kotak, somay, es teh—seperti mau piknik.

Aku duduk di bangku pesakitan. Sendiri dengan Pak Rahmat.

Hakim masuk. Palu diketuk. Sidang dimulai.

Pengacara Joko angkat bicara. Suaranya lantang. Penuh percaya diri.

"Yang Mulia, klien kami adalah korban fitnah keji. Tergugat dengan sengaja menyebarkan tuduhan bahwa klien kami dalang di balik pembakaran rumah kontrakan. Tuduhan ini tidak berdasar dan mencemarkan nama baik keluarga besar almarhum Mbah Kar. Klien kami mengalami kerugian immateriil—nama baik tercoreng, usaha terganggu, tekanan psikologis. Untuk itu, kami menuntut ganti rugi sebesar 50 juta rupiah."

Aku pengen teriak itu bohong. Tapi Pak Rahmat pegang lenganku. "Tenang, Pak."

Saksi pertama dipanggil. Seorang tetangga. Aku kenal wajahnya. Ia tinggal di ujung gang, jarang bergaul.

"Saudara saksi, apakah Anda pernah mendengar tergugus berbicara buruk tentang Joko?"

Saksi itu mengangguk. "Pernah. Beberapa kali. Saya dengar sendiri beliau bilang Joko dalang kebakaran. Di warung. Waktu ngobrol sama warga."

Pak Rahmat bangkit. Cross-check.

"Kapan persisnya Saudara dengar?"

"Saya... lupa tanggalnya."

"Bulan apa?"

"Saya lupa."

"Lokasi warung yang mana?"

"Warung Bu Siti."

"Bu Siti sudah meninggal 2 bulan lalu. Jadi tidak bisa dikonfirmasi?"

Saksi itu gelisah. "Ya... pokoknya saya dengar."

Hakim mengangguk. Tapi ragu di wajahnya.

Aku lihat Joko. Ia tersenyum tipis. Percaya diri.

Saksi kedua. Ketiga. Semua sama. Hafal skenario. Tapi tak bisa sebut detail. Semua "lupa" tanggal, "lupa" waktu, "lupa" konteks.

Tapi cukup untuk meragukan hakim. Cukup untuk membuatku terlihat bersalah.

---

Di tengah persidangan, HP-ku bergetar.

Aku lihat layar. Nomor rumah.

Aku bisik ke Pak Rahmat. "Pak, saya terima telepon sebentar."

Pak Rahmat mengangguk.

Aku keluar ruangan. Angkat.

"Assalamualaikum?"

"Pak Aryo? Ini Bu Tini. Risma jatuh sakit lagi. Demam tinggi. Harus opname."

Dunia serasa berhenti.

"Bu... opname lagi?"

"Iya, Pak. Saya antar ke rumah sakit. Bapak tenang dulu, urus sidang. Saya jaga Risma."

Aku diam. Tak bisa berpikir.

"Pak Aryo? Pak?"

"Iya, Bu... makasih... makasih banyak..."

Telepon ditutup. Aku berdiri di lorong pengadilan. Orang-orang lalu lalang. Ada yang liher heran. Ada yang cuek.

Aku masuk kembali. Dewi lihat wajahku. Langsung tahu.

"Mas, Risma?"

Aku angguk.

Dewi bangkit. "Aku pulang. Kamu di sini."

"Ri..."

"Aku kuat, Mas. Urus sidang. Risma butuh kita menang."

Dewi pergi. Meninggalkan aku di ruang sidang. Dengan hati hancur.

Aku kembali ke kursi. Sidang masih berjalan. Saksi keempat bicara. Aku tak dengar. Pikiranku di Risma. Di rumah sakit. Di tubuh mungilnya yang terbaring dengan selang oksigen lagi.

Pak Rahmat lihat aku. "Pak, Bapak nggak apa-apa?"

Aku geleng. "Nggak apa-apa, Pak. Lanjut."

Tapi mataku basah. Di depan hakim. Di depan Joko yang tersenyum. Di depan semua orang.

---

Malam harinya, Dewi jaga Risma di rumah sakit.

Aku di pengadilan sampai sore. Sidang baru selesai jam 5.

Budi di rumah, umur 3 tahun, sendirian lagi.

Tetangga jaga bergantian siang. Tapi malam itu, tak ada yang bisa jaga. Mereka punya keluarga masing-masing. Ada yang punya bayi. Ada yang jaga orang tua sakit.

Aku telepon Budi jam 8 malam.

"Halooo?" Suara kecil itu menjawab. Imut. Tapi sendu.

"Nak, ini Pa. Udah mandi?"

"Udah, Pa. Udah makan. Bu RT anter nasi."

"Pinter. Udah siap tidur?"

"Udah. Budi di kamar Kakak. Budi pakai boneka Kakak buat temen."

Aku nangis. Tahan.

"Nak, Pa minta maaf. Pa belum bisa pulang."

"Pa di mana?"

"Pa masih di pengadilan. Urus surat-surat."

"Pa kapan pulang?"

Aku diam. Tak bisa jawab. Risma di rumah sakit. Aku di pengadilan besok lagi. Kapan bisa pulang?

"Nak, Pa usahakan cepet. Nak tidur dulu ya. Doa biar Kakak cepet sembuh."

"Iya, Pa. Pa, Budi takut."

"Takut apa, Nak?"

"Takut ditinggal sendirian lagi."

Aku hancur. "Nak, Pa nggak akan tinggalin Budi. Pa cuma... Pa cuma urus ini dulu. Nak kuat ya."

Budi nangis. "Pa cepet pulang ya. Budi janji mau jagain Kakak."

Aku tutup telepon. Nangis di lorong pengadilan yang kosong.

---

Besoknya, sidang lanjutan.

Aku datang dengan mata sembab. Kurang tidur. Dewi kabarin Risma demamnya turun naik. Tapi stabil. Syukur.

Usai sidang, Pak Rahmat ajak aku bicara di kantin pengadilan.

"Pak, ini berat."

Aku diam. Tahu. Sudah merasa.

"Saksi mereka kuat. Mereka diatur rapi, memang. Tapi hakim tidak tahu itu. Yang hakim lihat: ada 5 saksi bilang Bapak fitnah Joko. Bapak? Nggak punya saksi sama sekali."

"Tapi, Pak, saya yang diteror!"

"Bapak punya bukti?"

Aku ingat foto-foto di HP. "Foto coretan. Foto rumah kebakaran. Foto Risma di rumah sakit."

"Itu bukti kebakaran, bukan bukti Joko pelakunya. Beda."

Aku diam.

Pak Rahmat hela napas. "Kita butuh saksi kunci. Saksi yang lihat sendiri teror Joko. Saksi yang berani bicara di pengadilan. Ada?"

Aku mikir keras. Tetangga? Semua takut. Warga? Mereka menjauh sejak teror makin menjadi. Ada yang kasihan, tapi takut kena imbas.

Tak ada.

"Kalau nggak ada, Pak... kita bisa kalah. 50 juta. Rumah bisa disita."

Aku pegang kepala. Putus asa.

---

Malam itu, aku jenguk Risma di rumah sakit.

Ruang rawat kelas tiga. Ramai. Bau obat. Suara monitor di mana-mana. Risma di pojok, tidur dengan selang oksigen.

Aku duduk di sampingnya. Pegang tangannya. Tangannya panas. Demam masih ada.

"Nak, Pa minta maaf. Pa nggak bisa jagain kamu terus."

Risma tak bergerak. Tapi tangannya... tangannya bergerak sedikit. Merespon.

Aku nangis. "Nak, Pa takut. Takut kalah. Takut rumah diambil. Takut kita nggak punya tempat tinggal."

Risma diam. Napasnya teratur.

Aku lanjut, "Tapi Pa lihat kamu berjuang. Kamu kuat. Pa harus kuat juga, ya?"

Mata Risma bergerak. Terbuka sedikit. Menatapku.

Lalu bibirnya bergerak. "Pa... Pa..."

Aku peluk tangannya. "Iya, Nak. Pa di sini."

Kami diam. Berdua. Di ruangan penuh pasien lain.

Tiba-tiba, seseorang masuk. Seorang pria. Wajahnya familiar.

"Pak Aryo?"

Aku menoleh. "Siapa?"

Pria itu maju. Usia sekitar 30-an. Pakai seragam satpam. Badan tegap. Tapi wajahnya ramah.

"Saya Heri. Satpam di kompleks perumahan dekat rumah Bapak."

Aku ingat. Ia sering jaga malam di pos dekat gang. Kadang aku lihat ia lewat kalau jaga malam.

"Ibu Tini yang kasih tahu saya. Katanya Bapak perlu saksi."

Aku kaget. "Bapak... mau jadi saksi?"

Heri mengangguk. "Saya lihat semuanya, Pak. Malam-malam itu. Teror yang Joko lakukan. Saya jaga malam, pos saya persis di ujung gang. Saya lihat mereka datang. Saya lihat mereka lempar batu. Saya lihat mereka coret-coret pagar. Saya lihat mereka bawa bensin waktu kebakaran."

Aku diam. Tak percaya.

"Bapak... berani?"

Heri tersenyum. "Saya nggak takut, Pak. Saya lihat perjuangan Bapak. Saya baca berita di media sosial. Saya tahu Bapak cuma korban. Saya juga punya anak. Umur 4 tahun. Saya tahu rasanya takut kalau anak kita dalam bahaya."

Aku nangis. "Pak Heri... terima kasih... terima kasih banyak..."

Heri pegang pundakku. "Saya bukan orang baik, Pak. Tapi saya nggak tega lihat keluarga Bapak dihancurkan preman. Saya siap bersaksi. Kapan pun."

Risma di ranjang, matanya terbuka. Lihat Heri. Lalu lihat aku. Tersenyum tipis.

Seperti bilang, "Pa, ada harapan."

---

Sidang lanjutan. Hari yang menentukan.

Heri maju sebagai saksi. Pakai seragam satpam. Wajahnya tenang. Tak gentar.

Hakim bertanya, "Saudara saksi, apa hubungan Saudara dengan tergugat?"

Heri jawab tegas, "Tidak ada, Yang Mulia. Saya hanya satpam di kompleks perumahan. Saya lihat kejadian dari pos saya."

"Ceritakan apa yang Saudara lihat."

Heri mulai cerita. Detail. Satu per satu.

"Malam pertama teror, tanggal 5 bulan lalu, jam 2 dini hari. Saya lihat 4 orang naik motor. Mereka berhenti di depan rumah Pak Aryo. Saya lihat jelas, salah satunya Joko—saya kenal karena sering lewat. Mereka lempar batu ke jendela. Setelah itu pergi."

Joko di kursi terdakwa gelisah.

"Malam kedua, tanggal 6. Saya lihat lagi. Kali mereka bawa cat semprot. Coret-coret pagar. Tulis kata-kata ancaman. Saya rekam pakai HP."

Heri keluarkan HP. Serahkan ke panitera. Foto-foto dan video diputar di layar pengadilan.

Ruangan gempar. Joko pucat.

"Saksi keempat, malam kebakaran, tanggal 10. Saya lihat mereka bawa botol bensin. Saya mau lapor polisi, tapi takut. Saya sendiri. Mereka preman. Tapi malam itu, saya lihat jelas Joko yang perintahkan anak buahnya."

Joko berdiri. "BOHONG! ITU REKAYASA!"

Hakim ketuk palu keras. "Terdakwa, DUDUK!"

Joko dipaksa duduk oleh pengacaranya. Tapi matanya liar. Ke arahku. Ke arah Heri. Penuh kebencian.

Pengacara Joko coba cross-check. Pertanyaan tajam. Tapi Heri tetap tenang. Jawab dengan fakta. Tak goyah.

Hakim mengangguk-angguk. Tampak percaya.

Usai sidang, hakim umumkan putusan ditunda. Pekan depan.

Tapi Pak Rahmat bilang, "Kita punya peluang besar, Pak. Saksi Heri kuat."

Aku lega. Tapi belum menang. Masih ada satu sidang lagi.

---

Di luar pengadilan, Joko sudah menunggu.

Dengan dua preman. Wajahnya merah. Matanya liar.

"Pak Aryo, kau pikir menang? Pengadilan cuma mainan. Di luar, kau hadapi aku."

Aku diam. Tak gentar. Tapi takut juga.

Heri di sampingku. "Pak, saya antar Bapak pulang."

Joko tertawa. "Satpam murahan mau jadi pahlawan? Hati-hati, kau juga bisa celaka."

Heri tak menjawab. Ia tarik aku pergi. Naik ojek. Tinggalkan Joko yang masih melotot.

---

Di rumah, Risma sudah pulang. Demam turun. Tapi masih lemah.

Budi di sampingnya. Mereka main—sebisanya. Risma pegang boneka. Budi cerita-cerita. Risma senyum-senyum.

Aku pandangi mereka. Hatinya hangat. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ada sedikit tenang.

Dewi keluar. "Mas, gimana sidang?"

Aku cerita tentang Heri. Tentang video. Tentang harapan menang.

Dewi nangis. Peluk aku.

"Kita bisa, Mas. Kita pasti bisa."

Aku balas peluknya. "Iya, Ri. Kita bisa."

Malam itu, kami makan malam bersama. Mie instan. Telur ceplok. Tapi terasa mewah. Karena kami bersama.

Risma makan sedikit. Tapi matanya senang. Budi makan lahap. Cerita soal sekolah minggu.

Untuk pertama kalinya, kami tertawa. Lelah. Tapi tertawa.

---

Jam 10 malam. Semua tidur.

Aku duduk di teras. Di kursi kayu Mbah Kar. Pandangi langit.

Tiba-tiba.

Bruk!

Batu. Lagi. Kali ini lebih besar. Jendela samping pecah.

Aku bangkit. Lari ke dalam. Risma dan Budi bangun. Nangis.

Dewi gendong Budi. Aku gendong Risma. Bawa ke kamar belakang—satu-satunya yang tak ada jendela ke luar.

Dari luar, suara preman. Banyak. Mungkin 5-6 orang. Mereka teriak.

"KELUAR, PAK! JANGAN MENGINTAI DI DALAM!"

"KAU PIKIR SAKSI BISA SELAMATIN KAU?"

Batu lagi. Kali ke pintu depan.

Aku ambil HP. Telepon Pak RT. Telepon Heri. Telepon Bu Tini.

Mereka janji datang.

10 menit. 20 menit. Suara motor mulai berdatangan. Warga. Banyak. Bawa apa saja.

Preman-preman itu lihat warga datang. Mereka mundur. Tapi tak pergi. Masih di ujung gang. Teriak-teriak.

Pak RT maju. "JOKO! KALAU MAU LAWAN, LAWAN SAMA ORANG DEWASA! JANGAN GANGGU ANAK-ANAK!"

Suara Joko dari kejauhan. "INI URUSAN SAYA DIA! JANGAN IKUT CAMPUR!"

"Ini urusan kami juga! Ini kampung kami! Jangan macam-macam di sini!"

Akhirnya, preman itu pergi. Tapi ancaman di udara masih terasa.

Aku keluar rumah. Risma dan Budi aman di dalam bersama Dewi.

Pak RT datangi aku. "Pak Aryo, ini makin parah. Mereka nggak takut polisi. Nggak takut warga. Mereka preman bayaran."

Aku diam. Tahu.

"Kita harus lindungi keluarga Bapak. Malam ini, warga jaga bergantian. Besok kita pikirkan langkah selanjutnya."

Aku pegang tangan Pak RT. "Terima kasih, Pak. Saya... saya nggak tahu harus bilang apa."

Pak RT usap pundakku. "Bapak sudah berjuang sendirian terlalu lama. Sekarang biar warga yang bantu."

Malam itu, 15 warga jaga di depan rumahku. Bergantian. Ronda sampai subuh.

Aku di dalam. Duduk di samping Risma dan Budi. Mereka tidur gelisah. Tapi akhirnya terlelap.

Aku lihat ke luar jendela. Lampu-lampu teras menyala. Bayangan warga mondar-mandir.

Tapi di balik semua itu, aku tahu. Joko tak akan menyerah. Malam ini gagal, besok coba lagi. Lusa coba lagi.

Kami harus siap.

Aku pegang tangan Risma. "Nak, Bapak janji. Bapak akan lindungi kalian. Sampai mati."

Risma bergerak. Tangannya meraih tanganku. Menggenggam.

Seperti bilang, "Aku tahu, Pa. Aku percaya."

Di luar, angin malam berhembus. Dingin. Tapi di dalam, ada hangat. Hangat keluarga. Hangat perjuangan.

Kami akan bertahan.

Berapa pun harganya.

1
Nurgusnawati Nunung
Ya Allah yang Maha Kuasa... semangat thor
Nurgusnawati Nunung
mewek lagi.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
keluarga yang kuat.. semangat.
Nur Syamsiah
certNy bagus menyentuh
Nurgusnawati Nunung
semangat thor...
Ayaelsa: Terima kasih dukungannya😄
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
cerita di dunia nyata itu sangat mengerikan jika ada orang seperti Joko
Nurgusnawati Nunung
orang jahat banyak akal iblis
Nurgusnawati Nunung
Ada ada saja orang gila harta orang lain.,
Nurgusnawati Nunung
Mbah Kar sudah tiada.. semoga ada lagi orang baik sepertinya. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
berjuang lah Risma untuk orang tuamu yang tak henti berjuang untukmu.. sedih baca cerita ini. semangat thor
Ayaelsa: terimakasih sudah Sudi membaca
total 1 replies
Siti Dede
Semangaaaat👍
Nurgusnawati Nunung
kecil amat gaji sebulan
Nurgusnawati Nunung
kasihan sekali hidup mereka.. semoga selalu diberi kemudahan
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah masih ada orang baik.
Nurgusnawati Nunung
Yaa Allah..
Ayaelsa: terima kasih sudah membaca kisah ini
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
sedih yaaa. alhamdulillah susternya pada baik. semangat
Nurgusnawati Nunung
Thor.. belum apa2 sudah lemas hatiku. sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!